
"Loh nggak bisa gitu dong Bah, Deefa ini istri Raffan, kalau Raffan pulang ke Jakarta ya Deefa juga harus ikut pulang, mana ada Deefa tetap disini." tentang Raffan.
Tadi dia dan Deefa sudah mengatakan apa keputusan yang mereka ambil, tapi Kiyai Burhan malah menyampaikan hal yang membuatnya kesal dan tak terima, meminta Deefa untuk tinggal di tempatnya dulu.
"Tidak lama Raffan, hanya satu Minggu agar kalian saling introspeksi diri masing-masing, perkara pernikahan ini bukan hal yang main-main dan seenaknya, tadi meminta untuk memilih lalu malah sepakat untuk berbaikan, dalam hal ini saja kamu tidak konsisten dengan ucapan mu," jelas sang Ayah memberi pengertian pada sang anak yang nampak tidak senang dengan keputusan yang kiyai Burhan sampaikan.
"Tidak lama? satu Minggu Ayah bilang tidak lama? Ayah yang benar saja, bagaimana kalau dalam satu Minggu itu Abah malah mengenalkan Deefa dengan lelaki lain atau bahkan malah memanggil Agam dan memintanya menikahi istri Raffan?! apapun bisa saja terjadi Ayah!" sentak Raffan tidak terima, selalu saja dengan pikiran negatifnya.
Kiyai Burhan menggeleng-gelengkan kepalanya lambat mendengar setiap penuturan dan tuduhan yang Raffan utarakan, sungguh anak muda di depannya ini terlalu bersemangat dalam berpikir meski kadang pikirannya melantur dan terkesan bersuudzhon atau berburuk sangka.
"Mas." suara lembut Deefa membuat Raffan yang tengah ngotot pada Ayahnya beralih padanya.
"Apa?! lo setuju dengan Abah? mau tinggal disini?" bertanya ketus dengan sorot tajam tidak mengindahkan nasihat yang tadi Ayahnya katakan.
"Apa Abah tidak salah mencarikan suami untuk Deefa?" tanya ibu kandung Deefa pada istri sang kiyai.
Wanita yang di tanya hanya mengulas senyum seraya mengelus lengan ibu dari anak asuh yang sangat dia sayangi, seperti sedang memintanya untuk bertenang diri, karena suaminya tentu tidak akan sembarangan dalam menilai seseorang, Raffan meskipun penampilannya sangat berantakan dan urakan serta kadang selalu tidak terkontrol namun memiliki hati yang baik, hanya perlu seseorang saja yang bisa untuk merubahnya sedikit demi sedikit dan orang itu adalah Adeefa Ranaya.
Telinga Raffan pun tak sengaja menangkap bisik-bisik dua wanita itu, mertuanya yang tak banyak bicara kini malah seperti menyerang dirinya, meragukan dia sebagai seorang lelaki dan suami bagi anaknya.
Pria dengan pergelangan tangan dengan tiga gelang melingkar itu mendengus tak terima.
"Abah tidak akan melakukan hal yang kamu katakan Mas," kata Deefa dengan kelopak mata yang mengerjap.
"Ya kalau sampai Abah melakukan itu sama saja merusak pernikahan orang dan itu dosa!" sahut Raffan tajam dengan tatapan yang tidak senang.
Semua yang ada di ruangan itu menarik napas berat mendengar ucapan demi ucapan yang pemuda 19tahun itu katakan.
Mereka pun kadang saling memandang satu sama lain seraya mengingat bahwa dulu saat masih muda rasanya mereka tidak seperti Raffan ini, masa muda mereka habiskan dengan mempelajari dan mendalami ilmu agama di pondok pesantren, beribadah mendekatkan diri dengan sang pemilik semesta agar kelak bisa mengajari anak-anak mereka.
****
"Anak mu ini sungguh membuatku tidak bisa berkata-kata lagi," kata kiyai Burhan pada temannya yang membuang napas berat.
Mereka sedang berbicara berdua selepas sholat isya setelah akhirnya Raffan setuju untuk membiarkan Deefa berada di pesantren itu selama satu Minggu meski hati pemuda itu belum cukup lapang untuk menerima, terbukti saat Raffan yang langsung membawa Deefa pergi entah kemana.
Sedangkan orang tua Deefa sudah pulang ke rumahnya setelah memberikan pesan-pesan pada menantu berandalan mereka.
"Aku sudah sering mengatakan padamu Han, anakku yang hanya satu-satunya itu menjadi ujian terberat yang Allah berikan untukku," sahut Imran tentang sang anak.
"Tenang saja, anakmu itu sudah memiliki istri yang tepat, aku yakin Deefa sangat mampu untuk merubahnya, selama ini kan kamu katakan anakmu itu hanya sering keluar malam lalu balapan serta nongkrong dengan teman-temannya, beruntung dia masih bisa mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal yang lebih buruk lagi," kata kiyai Burhan mengingat cerita Imran tentang Raffan.
"Maka dari itu aku nikahkan dia sebelum makin terjerumus dengan dosa-dosa lainnya," aku ustad Imran yang khawatir anaknya itu melakukan zina akibat godaan setan.
__ADS_1
Bukankah setan selalu memiliki cara untuk menghasut manusia agar bisa menemaninya di neraka kelak.
"Kamu harus ingat juga, setan-setan akan tetap melakukan pekerjaannya sekalipun Raffan sudah menikah."
Ustad Imran mengangguk setuju dengan perkataan temannya itu, memang setan tidak akan berhenti begitu saja tapi kita sebagai manusia tentunya harus senantiasa menjaga diri dari semua itu.
"Aku lihat anakmu itu baik hanya saja sedikit liar, hanya butuh kesabaran saja dan aku sangat yakin Deefa bisa melakukan itu," tambah kiyai Burhan.
****
"Agam ada eh si Raffan malah yang nggak ada sekarang," cerocos Gumay pada ketiga temannya.
Malam ini mereka sudah sibuk di bengkel yang semakin hari memang semakin ramai sebab makin banyak saja anak-anak muda yang hobi balapan.
"Sip-sipan mereka," timpal Rio dengan tangan yang cemong akibat oli dari motor yang sedang di perbaiki.
Gerry yang memang sangat dekat dengan Agam pun mendekati pria itu lalu menepuk punggungnya, dari gerak-geriknya Gerry seperti mengetahui sesuatu karena mungkin memang Agam yang sudah bercerita kepadanya.
"Perasaan sejak di kampus sampai ke bengkel Lo diem aja Gam," celetuk Gumay merasakan ada yang tak biasa dari salah satu temannya itu.
Meski Agam memang yang tidak banyak omong diantara mereka berlima tapi tetap saja hari ini temannya itu tampak jauh berbeda dari biasanya.
"Sariawan Gam?" lagi-lagi Rio jadi orang yang akan selalu menimpali ocehan Gumay.
Agam hanya tersenyum, senyum miris yang hanya disadari oleh Gerry seorang yang langsung mengalihkan perhatian temannya agar tidak lagi memikirkan tentang wanita yang kenyataannya sudah menjadi istri dari teman mereka.
Sepasang kaki jenjang berbalut celana selutut warna putih lantas turun menginjak halaman yang di lapisi dengan aspal.
"Fara," kata Gerry pelan.
"Palingan nyariin Raffan," tebak Rio sembari tetap sibuk tidak menghentikan apa yang sedang dia kerjakan.
"Raffan mana?"
__ADS_1
Dan benar saja tanpa basa-basi wanita itu langsung saja bertanya entah pada siapa karena tidak ada nama yang secara spesifik dia sebut.
"Jawa timur," sahut Gerry acuh pada wanita yang dia tahu sudah menjadi kekasih temannya itu.
Inilah yang membuat dia dan Agam tak habis pikir, sudah punya istri tapi tidak mengakuinya sekarang malah menjalin hubungan dengan wanita lain.
Gerry tahu mereka memang tipe-tipe lelaki buaya yang bisa dekat dengan wanita lain saat sudah memiliki kekasih, selama belum ada ikatan resmi mereka menganggap itu wajar.
Tapi yang dilakukan Raffan saat ini sangat berbeda, dia berhubungan dengan wanita lain saat sudah menikah.
"Bego lu Raf," maki Gerry tak habis pikir.
"Ngapain ke sana?" tanya Fara tak bisa santai.
Pesan yang di kirim oleh Raffan sungguh membuatnya marah dan tak terima, seenaknya saja pria itu memutuskan dirinya padahal selama ini begitu giat mendekati dirinya, Fara merasa dipermainkan.
"Mana gue tahu!" sahut Gerry mulai tak sabar.
"Gue di putusin sama dia!" kata Fara seperti memberi laporan.
Perkataannya itu terang membuat Gumay, Rio, Agam serta Gerry menatapnya serempak ada rasa tidak percaya mengingat mereka tahu dengan jelas Raffan yang sejak dulu mengejar Fara.
Sungguh tidak yakin hingga Gumay pun mengajukan pertanyaan, "Lo lagi bercanda?" tanyanya menatap wanita yang berdiri dengan wajah tak bersahabat sangat berbeda dari biasanya yang tampak ramah pada mereka, atau memang inilah Fara yang sebenarnya?
"Wajah gue terlihat sedang bercanda? Lo pikir gue orang yang senang bercanda?" geram Fara tak suka seraya menunjuk wajahnya sendiri.
__ADS_1
Agam memilih tak berbicara, mendengarkan saja sudah cukup baginya karena rasa kecewa masih tetap mendominasi di dalam hatinya.
******