Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Lima Bulan Pernikahan


__ADS_3

Tidak terasa sudah hampir setengah tahun pernikahan Raffan dan Deefa, keduanya mulai saling mengerti satu sama lain meski kadang tetap saja Raffan yang kerap kali melakukan drama berkepanjangan hanya agar kemauannya dituruti, sungguh sifat drama Raffan ini masih kerap mendominasi dalam rumah tangga mereka tapi tetap saja Raffan mulai belajar dan terus belajar menjadi suami bertanggung jawab.


"Marco nih gila atau emang otaknya nggak ada?"


Raffan yang baru saja sampai di kampus malah sudah di sambut oleh ocehan Gumay tentang sosok Marco yang dari dua bulan lalu terus menantang Raffan untuk balapan, tidak pantang menyerah sekalipun Raffan sudah menolak dengan sangat tegas, tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali, rupanya otaknya masih cukup bagus untuk tidak mengulang kesalahan dan jelas tidak mau kualat lagi karena membohongi istrinya.


"Ck, nggak usah di gubris kan bisa," celetuk Raffan yang mengambil tempat di samping Agam.


Tentang Agam, sepertinya mereka berdua sudah mulai kembali dekat dengan catatan Agam tidak akan menyebut nama Deefa lagi, sungguh Raffan akan sangat kesal kalau Agam tak sengaja menyebut nama istrinya itu, dan dalam sekejap seorang Raffan akan langsung marah-marah, hingga Agam akhirnya akan sangat hati-hati untuk tidak keceplosan lagi menyebut nama Deefa.


Gumay pun menuruti permintaan Raffan untuk tidak menggubris pesan yang temannya Marco kirimkan, ini bukan yang pertama tapi sudah berkali-kali Marco berusaha untuk mengajak Raffan balapan setelah pertemuan mereka di mall dulu dan selalu Raffan tolak.


Handphone Gumay kembali bersuara menandakan ada lagi pesan yang masuk membuat Gumay gegas membacanya dari orang yang sama.


"Jangan di kasih tahu," bisik Rio yang ternyata turut membaca pesan yang masuk di handphone Gumay.


"Jangan kasih tahu siapa?"


Dan sialnya orang yang tidak ingin diberitahu perihal pesan itu malah bertanya dengan gurat curiga di wajahnya.


Raffan memicingkan mata penuh keingintahuan pada dua orang temannya yang sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

__ADS_1


Agam yang tadi tengah membaca buku lantas ikut melihat Rio dan Gumay dengan keheranan yang sama.


"Siapa yang nggak boleh di kasih tahu?" tanya Raffan lagi, saat ini dia mulai tidak sabar dan rasa penasarannya makin menggunung terlebih lagi mendapati ekspresi wajah dua temannya yang tidak biasa, bukankah itu artinya ada hal yang mereka sembunyikan?


"Gerry." akhirnya Rio menyebut nama Gerry yang kebetulan memang masih belum sampai di kampus.


Apa Rio yakin seorang Raffan akan percaya begitu saja di saat raut wajah yang mereka tunjukkan begitu mencurigakan? rasanya tidak mungkin sebab siapapun tahu bagaimana seorang Raffan yang sangat sulit untuk percaya terhadap siapapun, bahkan mungkin kepada dirinya sendiri.


Gumay ingin menghapus pesan itu namun Raffan sudah keburu merampas handphonenya lalu membaca pesan yang tadi membuat Rio dan Gumay cemas.


Tangan Raffan menggenggam benda pipih itu dengan sangat erat menunjukkan urat-urat di punggung tangannya serta rahang yang mengeras dengan suara gigi yang saling beradu.


Sudah dipastikan saat ini emosi Raffan langsung meninggi dan tak terbendung lagi.


Istrinya memang lebih tua darinya tapi bukan berarti wanita itu tidak laku hingga harus dia nikahi, bukan hanya itu saja ada juga baris kata yang mengatakan kalau istrinya adalah wanita murahan.


Astaghfirullahaladzim, mereka tidak mengenal istrinya lalu kenapa bisa mengatakan hal seperti itu?


"Istighfar," kata Agam pada sang teman yang dari napasnya saja sudah sangat terlihat ada luapan emosi yang tidak akan bisa terbendung.


Raffan mengabaikan permintaan Agam untuk beristighfar.

__ADS_1


"Si brengsek tahu dari mana tentang Deefa?" tanya Raffan dengan tatapan tajam membunuh, pertanyaan yang jelas menyiratkan tuduhan terhadap teman-temannya, sebab hanya mereka lah yang tahu siapa wanita yang menjadi istrinya, teman-teman kampusnya yang lain hanya tahu dia sudah menikah tanpa tahu siapa dan seperti apa istrinya itu.


Rio Gumay dan Agam saling pandang lalu mengedikkan bahunya karena memang mereka tidak pernah membicarakan tentang Deefa pada siapapun, toh memang tidak ada kepentingan bukan?


Hari sudah mulai gelap saat Raffan belum juga pulang ke rumah membuat Deefa mulai mencoba untuk menghubungi suaminya.


"Nggak aktif, apa ke bengkel? tapi kan biasanya Mas Raffan selalu bilang kalau mau ke bengkel," ucap Deefa seraya mengintip dari balik jendela berharap melihat suaminya yang sedang membuka pagar, tapi kenyataannya tidak selalu seperti yang diinginkan, di depan sana tidak ada siapapun yang membuka pagar.


"Mungkin ada urusan mendadak," katanya kemudian lalu mengunci pintu karena sebentar lagi adzan Maghrib.


Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu begitu mendengar suara adzan berkumandang.


Deefa menyelesaikan sholatnya lalu tidak lupa dia berdoa, meminta pada sang pemilik siang dan malam untuk menjaga suaminya dimana pun pria itu berada.


Waktu terus saja bergerak dengan cepat tanpa sadar sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam namun suami yang Deefa tunggu tak kunjung pulang, apa yang dia lakukan memangnya? kenapa belum pulang dan tidak menghubunginya sama sekali?


Deefa mulai cemas dan tidak lagi bisa duduk dengan tenang setelah menyelesaikan bacaannya wanita itu gegas turun ke lantai bawah dengan handphone di telinga mulai menghubungi suaminya yang ternyata belum juga bisa dihubungi.



"Kamu dimana Mas," lirih Deefa dengan kulit wajah yang memucat mencemaskan suaminya.

__ADS_1


********


__ADS_2