
"Ah yang benar saja kamu Sya, jangan ngaco deh."
Sepulang dari belanja dan menghabiskan waktu bersama dengan teman lamanya, sekarang Rovia malah dipusingkan dengan keinginan dari anaknya.
"Loh Raisya ini serius loh Mi, lagian sejak kapan Raisya ini main-main? Mami tahu sendiri bagaimana seriusnya Raisya kalau sudah menginginkan sesuatu."
"Ya ya ya, kamu itu ambisius sama seperti Papi mu, saking ambisiusnya dengan pekerjaan sampai jarang sekali pulang melupakan anak dan istrinya, ckckck," sela sang Mami lalu mulutnya berdecak.
Rovia terdiam sesaat lalu kemudian bersuara lagi dengan memasang ekspresi curiga, "jangan-jangan Papi mu itu punya istri muda, kok ya betah banget nggak pulang-pulang," celetuknya mulai menerka-nerka sehingga membuat pikirannya jadi tak karuan.
"Gimana ini Sya?" katanya pada sang anak meminta pendapat.
Raisya mengedikkan bahunya, "ya nggak tahu lah, lagian biarin aja sih kalau misalnya Papi emang nikah lagi kan Mami juga nggak kekurangan apa-apa nafkah dari Papi setiap bulannya juga lancar jumlahnya juga gede," celoteh Raisya membuat sang Mami menyorot tajam padanya.
"Jadi kamu ini senang kalau Papi kamu punya istri muda?"
Dengan ringannya Raisya menganggukkan kepala, "yang berkuasa di rumah ini kan Papi, asal uang bulanan Raisya lancar ya nggak masalah."
"Dasar anak kurang ajar, Papinya nikah lagi malah setuju nggak ada belain Mami malah jadi kayak dukung pelakor!" celetuk Rovia menunjuk kening sang anak yang seenaknya saja berkata.
"Sepertinya mulai sekarang Raisya akan berada di pihak istri kedua." oceh wanita yang sedari tadi tertelungkup nyaman di atas tempat tidur orang tuanya.
Rovia mengerutkan kening memicingkan kedua mata memberi tatapan penuh pertanyaan akan maksud perkataan dari anaknya barusan.
"Tadi kan Mami dengar sendiri apa yang Tante Hayati katakan, dia itu membicarakan permasalahan Raffan, Mami tahu kan Raffan itu siapa?" bertanya dengan mata yang berbinar dan penuh semangat membara.
Tadi dia mencuri dengar pembicaraan Mami dan temannya yang ternyata adalah Ibu dari pria yang dia sukai, mendengar dengan baik karena dia yang duduk bersama kedua wanita itu meskipun dia sengaja berpura-pura bermain handphone namun telinganya mengikuti setiap cerita yang dua wanita itu tengah bicarakan.
__ADS_1
"Pria yang kamu sukai tapi sudah punya istri," kata sang Mami mencebikkan bibir.
Raisya mengangguk cepat dengan bibir yang membentuk lengkungan, dia mengumbar senyumnya sejak tadi merasa mendapat angin segar yang benar-benar membuatnya teramat sejuk.
"Istrinya itu tidak bisa punya anak, kasihan Raffan sudah istrinya lebih tua darinya eh sekarang malah nggak bisa punya anak, kayaknya dari omongan ibunya tadi itu dia sedang mencari istri untuk Raffan, Mi," ucap Raisya mengasihani Raffan, bukankah seharusnya dia itu mengasihani dirinya sendiri? karena masih saja seperti orang gila mengejar orang yang bahkan tidak sekalipun menoleh padanya, lalu sekarang ingin memanfaatkan kedekatan Maminya dengan ibunya Raffan agar dia bisa dekat bahkan menikah dengan Raffan.
Mata Rovia melebar sempurna, "kamu ngomongin gini maksudnya apa nih?" mulai curiga dengan anaknya yang melempar senyum penuh misteri.
"Kan sudah jelas Raisya akan berada di pihak istri kedua, bukankah itu artinya.."
"Otak kamu ini tidak waras kah? mana ada perempuan yang mau jadi istri kedua? kamu jangan sinting!" omel Rovia mengerti maksud sang anak.
Saat ini rasanya dia ingin membenturkan kepala anaknya itu ke tembok agar otaknya kembali benar, dia saja tidak mau jadi istri kedua bahkan dia dulu bercerai dengan suami pertamanya karena pria itu ingin menikah lagi, lalu sekarang anaknya malah terang-terangan ingin jadi istri kedua.
Rovia menghela napas lalu menepuk kepalanya sendiri dari rasa pusing yang menyergap tak karuan mendengar celotehan dari mulut anaknya.
"Buktinya Raisya mau, kan sifat dan pribadi setiap manusia itu beda-beda, ada yang santai menjadi istri kedua dan ada yang tidak terima, nah Raisya termasuk bagian yang pertama santai dan tenang mau dijadikan istri yang ke berapa pun asalkan jadi istrinya Raffan," tegas Raisya memutar posisi tidurnya jadi terlentang menatap langit-langit kamar yang berwarna putih serta lampu gantung kristal yang luar biasa indah.
"Bukan aneh Mi, itu yang dinamakan kekuatan cinta, rela berkorban menjadi apapun asalkan bisa bersama dengan pria tercinta," kata Raisya membela diri dengan segala pernyataan yang membenarkan dirinya.
"Lagian bisa-bisanya mikir mau jadi istri kedua padahal Raffan nya saja belum tentu mau, ah Raffan kan memang tidak mau ya sama kamu, buktinya sampai sekarang pun kamu sibuk sendiri deketin dia sedangkan dia sibuk kabur."
Raisya mengerucutkan bibirnya tertohok dengan perkataan dari sang Mami yang malah terdengar tidak memihak padanya sama sekali.
"Raisya jadi ragu, apakah Mami ini Mami kandung Raisya?"
Rovia menghentikan apa yang dia lakukan lalu menoleh pada sang anak, "hei! kamu itu lahir dari rahim Mami, seenaknya saja meragukan wanita yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan kamu!" sentak Rovia seraya menunjuk pada anaknya yang sepertinya sifatnya itu menurun dari suaminya yang kadang memang kalau sudah berbicara akan selalu membuat orang kesal.
__ADS_1
Raisya mencibir, "lagian omongan Mami itu menjatuhkan semangat Raisya, harusnya Mami itu mendukung apa yang ingin Raisya gapai, bukan malah mengomel panjang lebar yang membuat Raisya ragu kalau Mami ini Mami kandung Raisya, soalnya dukungan Mami itu nggak ada." oceh Raisya tidak suka ketika sejak tadi Maminya itu seolah membuat dia untuk berhenti mendekati Raffan.
"Bukannya tidak mau mendukung Raisya, karena Mami pikir kamu itu cantik manfaatkan wajahmu untuk mencari pria singel kan bisa, Mami yakin banyak kok pria yang mau sama kamu, bukannya malah sama pria beristri," kelas Rovia, sebagai seorang ibu tentu dia tidak mau anaknya diduakan apalagi jadi istri kedua, punya wajah cantik sangat yakin putrinya itu pasti akan dengan mudah mendapatkan pria singel sekaligus kaya, kenapa malah mau sama suami orang.
Raisya bergerak bangun lalu duduk bersila di atas tempat tidur, ini sudah ketiga kalinya dia berubah posisi ketika berbicara dengan Maminya.
"Pokoknya Raisya mau Raffan, Mi!" Raisya berkata merengek layaknya anak kecil yang meminta permen.
Rovia memutar bola matanya, kalau sudah begini dia tidak mungkin bisa lagi melarang karena kalau di larang anaknya itu malah akan makin menjadi, "terserah kamu lah, lagian kamu juga nggak bakal masuk kriterianya Hayati kok," celetuk Rovia kemudian.
"Kriteria?" Raisya menautkan kedua alis.
Rovia mencebikkan bibir, "iya kriteria, kamu lihat sendiri kan penampilan Tante Hayati tadi seperti apa?"
"Tertutup dari atas sampai bawah dan hanya menyisakan wajah serta tangannya saja," jawab Raisya.
"So, kamu tidak masuk kriterianya, Mami tahu seperti apa Tante Hayati itu, tentu dia akan mencari menantu yang juga tertutup seperti dia," jelas Rovia berkata acuh tak peduli wajah anaknya menampakkan sedikit kecewa, hanya sesaat karena detik berikutnya Raisya kembali berbicara.
"Ooh pantas si cewek nggak bisa punya anak tertutup banget, itu rupanya." Raisya mengangguk-angguk mengerti.
Raisya turun dari tempat tidur lalu berlari kecil menuju cermin dan mulai menggerakkan tubuhnya, berputar-putar seperti sedang memperhatikan dengan detail bentuk tubuhnya serta pakaian yang dia pakai saat ini.
"Lihat pakaianmu saja kurang bahan begini, hingga melekat erat membentuk tubuh lalu kamu berharap jadi menantunya Hayati? seharusnya kamu masuk pesantren dulu," celoteh Rovia memperhatikan tingkah sang anak.
"Besok antar Raisya ke butik pakaian muslim kalau begitu," cetus wanita yang otaknya mendadak mendapatkan ide agar bisa mengambil hati orang tuanya Raffan terutama ibunya.
"Hah? mau apa kamu?" bingung Rovia melemparkan kapas yang sudah kotor ke tempat sampah di dekat kakinya.
__ADS_1
"Menjadi wanita muslimah demi Raffan."
****