Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Malah Bangun!


__ADS_3

"Kami pamit ya Pak, Emak," tutur Deefa pada kedua orang tuanya.


Mereka hanya mampir sebentar saja di rumah itu hanya sekitar satu jam lalu kembali berangkat menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke Jakarta.


"Hati-hati di jalan," kata pria paruh baya itu seraya menepuk pundak anak perempuannya yang tidak pernah dia sangka akan menikah dengan orang dari luar kota.


Dulu dia selalu berharap agar anaknya itu mendapat jodoh yang satu kota saja, agar tidak jauh jikalau mereka ingin menengoknya mengingat sedari kecil mereka memang tidak merawat Deefa karena memasukkannya ke pondok pesantren, tapi nyatanya kuasa Allah mentakdirkan hal lain.


Emak sepertinya masih sangat berat hati melepas anaknya meski beberapa hari kemarin anaknya itu sudah menginap di rumahnya, menemani dirinya dan mengobati kerinduan tapi yang namanya orang tua tetap saja itu tidak cukup membuatnya sekarang tak ingin melepaskan pelukan.


Melihat itu Raffan dan Ayah mertuanya tidak bisa melakukan apapun, hanya bisa menunggu membiarkan keduanya berpuas diri sebelum tak lagi bisa saling memeluk, meski masih bisa saling mendengar suara dan melihat wajah dengan bantuan handphone.


"Raffan."


Panggilan sang mertua membuat Raffan yang berdiri menunggu di dekat mobil pun menoleh pada pria yang sudah berada di sampingnya.


"Jangan pernah sakiti Deefa, baik hati ataupun fisiknya, jika memang sudah tidak suka dan merasa pernikahan tidak bisa lagi dipertahankan tolong kembalikan Deefa pada Bapak dan Emak, atau Umi dan kiyai Burhan," pesan sang mertua.


Raffan mengatupkan bibirnya tidak bicara hanya menatap kedua sorot mata pria yang begitu bersungguh-sungguh dengan perkataannya.


"Ayo Mas."


Belum juga Raffan memberikan jawaban Deefa sudah berjalan menuju mobil mengajaknya untuk berangkat dengan mata yang sedikit masih basah, Raffan tahu kedua wanita itu tadi menangis.


Raffan mengangguk lalu melihat pada Bapak mertuanya, "Raffan akan ingat pesan Bapak," kata Raffan lalu berpamitan pada pria yang tersenyum lalu menepuk pelan punggungnya.


"Bismillah."


Akhirnya mobil pun kembali menjauh diiringi dengan lambaian tangan dari kedua orang tua yang masih enggan untuk beranjak sebelum mobil yang membawa anak serta menantu mereka benar-benar tak lagi terlihat.


Sepanjang jalan di mereka di suguhi oleh pemandangan dari sawah-sawah milik para warga, pemandangan yang dulu hanya Raffan lihat saat dia akan pulang ke Bandung kampung halaman Ayahnya guna mengunjungi rumah mendiang Nenek dan Kakeknya yang hanya di rawat oleh penjaga rumah saja, sedangkan saudara Ayahnya tinggal di kota lain bersama keluarganya sama seperti Ayahnya yang memilih tinggal di Jakarta ketimbang menetap di kampung halamannya sendiri, kampung halaman yang tentunya banyak sekali kenangan tersendiri, itulah namanya pilihan hidup yang mau tidak mau di ambil.

__ADS_1


Sedangkan Ibunya sendiri adalah orang Padang, sudah sangat jarang bahkan mungkin hampir tidak pernah lagi pulang ke Padang entah apa alasannya Raffan sendiri tidak tahu, yang jelas sudah empat tahun ini mereka tidak pulang ke kota kelahiran sang ibu.


Raffan menghirup dalam-dalam udara segar yang masuk dari kaca yang sengaja dia turunkan, terasa begitu alami sebab tidak ada polusi dari kendaraan, kota kecil di sudut Jawa timur ini memang begitu memukau dengan pohon-pohon besar yang rimbun serta terlihat mengagumkan kala matahari sudah terbit dan akan terlihat begitu mencekam ketika malam tiba.


Semalam pun Raffan melewati jalan ini bahkan dia membunyikan klaksonnya sepanjang jalan, dan tak berani membuka kaca mobil, bukan pengecut hanya saja menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, sebab Ayahnya sudah sering menjelaskan padanya bahwa di dunia ini kita hidup berdampingan, makhluk tak kasat mata itu ada dan Allah pun sudah menjelaskan dalam Al-Quran.


"Nanti kalau sudah setengah jalan kita mampir hotel dulu," ucap Raffan saat Deefa tengah menikmati sejuknya udara pagi menjelang siang ini.


"Badan aku pegal, kan tadi sudah bilang minta pijit," sambung Raffan.


"Loh, tadi kan saat di rumah Bapak, Deefa sudah tawarkan Mas Raffan untuk pijit tapi Mas bilang nggak usah," terang Deefa masih ingat jelas kalau tadi Raffan menolak saat dia menawarkan diri untuk memijit sebelum berangkat.


Raffan menggerak-gerakkan lehernya meregangkan otot lehernya mendengar jawaban sang di berikan sang istri.


Jelas saja Raffan menolak sebab yang dia inginkan sebenarnya bukanlah pijitan yang hanya berkisar pada punggung tangan ataupun kaki, dia ingin pijit yang lain tapi tidak tahu kenapa istrinya malah tidak mengerti.


"Pijit plus-plus!" berkata gemas tak peduli dengan raut wajah Deefa yang langsung berubah merah.


Ah tidak! sepertinya bukan malam pertama tapi mungkin siang pertama atau sore pertama?


Raffan melirik wanita yang sekarang malah menggigit bibirnya yang tadi subuh menjadi sarapan menyambut pagi, sarapan brutal yang dia lakukan sebab sampai memberikan gigitan-gigitan gemas tak tertahan.


"Sabar Raffan sabar." berkata dalam hati meminta dirinya untuk sabar dengan kelakuan Deefa.


Raffan mengatur napasnya, menarik lalu menghembuskan nya perlahan dan tak lagi berani melirik wanita di sampingnya, menjaga diri untuk tidak memutar mobil masuk ke dalam hutan lalu menerkam istrinya itu.


"Kuat-kuat, tahan-tahan, selama 19 tahun Lo bisa nahan Raf masa cuma beberapa jam aja nggak bisa," membatin lagi memprotes dengan nalurinya sebagai lelaki yang seakan terus menuntut.


Raffan merasakan tubuhnya berkeringat padahal angin masih terus menerpa wajahnya.


__ADS_1


"Mas Raffan gerah?" tanya Deefa dengan lugunya mendapati suaminya itu mengibas-ngibaskan tangannya.



"Nyalain aja AC nya," kata Deefa lagi lalu menaikkan kaca mobil di sampingnya.



Tanpa kata Raffan pun menurut dia juga menutup kaca lalu menyalakan AC, tapi nyatanya setelah AC mobil menyala tetap tidak bisa membantu malah makin memperparah suhu tubuhnya.


Panas di luar serta dalam tubuhnya dan..


"Sialan, malah bangun!" mengomel ketika melirik bagian bawah tubuhnya.



Deefa yang mendengar Omelan suaminya pun bertanya, "siapa yang bangun Mas?" tanyanya menatap tak mengerti.



"Polisi tidur," menjawab asal.



Deefa mengernyit lalu menatap jalanan yang mereka lewati seingatnya di jalanan ini tidak ada polisi tidurnya dan kalau pun ada apakah bisa polisi itu bangun? sedangkan dia tahu polisi tidur yang di maksud oleh suaminya adalah speed bump atau pengurang kecepatan di jalan, sungguh tidak akan mungkin benda mati itu bisa bangun.



Deefa pun melirik polos pada suaminya yang menatap lurus ke depan, mengira suaminya tengah berkonsentrasi menyetir mobil tanpa dia tahu suaminya itu terus mengumpat pada bagian tubuhnya sendiri yang seolah tidak memiliki kesabaran lagi untuk menunggu padahal majikannya tengah berusaha mencari hotel.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2