
Pagi ini setelah beberapa pagi sudah berlalu semenjak pagi yang menyedihkan sekarang ketika suaminya baru saja pergi kuliah satu setengah jam yang lalu di depannya kini sudah ada sang mertua yang duduk bersebrangan dengannya.
"Deefa sudah ajak Mas Raffan ke rumah Ayah dan Ibu tapi Mas Raffan.."
Deefa tidak melanjutkan perkataannya ketika setiap kata yang dia ucapkan terus seolah terintimidasi oleh tatapan sang mertua yang mendadak saja sudah ada di depan pintu rumah yang dia tinggali saat dia akan membuang sampah, entah ibu mertuanya itu baru saja datang atau memang sudah sejak tadi tapi dia tidak mendengar salam atau memang mertuanya itulah yang enggan mengucapkan salam?
Deefa sangat merasa tidak enak dan bersalah ketika mertuanya mempertanyakan dirinya yang sudah kembali dari kampung namun malah tidak mengunjungi dirinya sama sekali padahal dia sudah berada di Jakarta dari empat hari yang lalu, sungguh saat pulang dari restoran beberapa hari lalu diapun sebenarnya sudah mengajak suaminya itu untuk berkunjung ke rumah sang mertua akan tetapi suaminya menolak memberi berbagai alasan hingga akhirnya Deefa pun tak bisa berkata, bahkan semalam pun dia kembali mengajak suaminya itu namun lagi-lagi mendapat jawaban yang sama, Raffan mengatakan kalau banyak tugas kuliah yang harus dia selesaikan dan sekarang dia seperti di jadikan tersangka oleh ibu mertuanya, padahal anaknya sendirilah yang terus menolak.
"Kamu itu seorang istri Deefa, wanita yang mengerti agama dan tahu sopan santun sudah seharusnya kamu mengunjungi mertuamu melihat keadaannya mertuamu apakah sehat atau sakit, jika suamimu menolak bukankah seharusnya kamu bisa memaksanya, menasehatinya agar tidak melupakan orang tuanya sendiri."
Dari cara bicara dan pemilihan kata yang keluar dari mulut ibu mertuanya Deefa bisa merasakan bahwa mertuanya itu marah padanya, ibu mertua yang bahkan dulu sangat baik padanya kini berubah bagaikan orang lain terhadapnya, benar-benar menganggapnya sebagai menantu yang ingin membangun jarak antara putranya.
Sungguh mendengar setiap penuturan itu yang entah sengaja atau tidak hati Deefa tetap terasa teriris oleh pisau yang tumpul yang memberi luka secara perlahan, bukankah itu lebih menyakitkan?
"Maaf Bu," Deefa tidak berani untuk menjawab setiap tudingan yang mertuanya katakan, sungguh dia tidak mengerti kalau secepat ini mertuanya berubah sikap terhadapnya.
Memangnya menantu mana sih yang senang melihat suami berjarak dengan orang tuanya, apalagi dengan latar belakang dia yang tinggal di pondok pesantren jelas diajarkan bagaimana memperlakukan orang tua dari suaminya, tidak ada ajaran dari agama manapun yang akan mengajarkan seorang istri menjauhkan suami dari orang tuanya.
Sang Ibu mertua menghela napas lalu menatap tanpa berkedip pada sang menantu yang sedari tadi menunduk tak berani untuk membalas tatapannya, dia sebenarnya sayang pada menantunya itu terlebih lagi dirinya sendirilah yang memilih dan meminta Deefa untuk menikah dengan anaknya, tapi entah kenapa dia menjadi sangat egois terlalu memikirkan perasaan dan keinginannya sendiri tanpa mau memikirkan bagaimana dengan orang lain ketika terus dituntut untuk sesuai pada apa yang dia inginkan, terkesan menjadi sangat pemaksa tanpa mau peduli sekitar.
Untuk beberapa saat keduanya saling diam menyelami pikiran mereka masing-masing tentang apa dan bagaimana pembicaraan mereka selanjutnya sampai kemudian salah satu diantara mereka pun memperdengarkan tarikan napas yang begitu berat menandakan adanya beban perasaan yang tengah di derita.
"Apa Raffan sudah memberitahu hasil pemeriksaan kalian?"
Pertanyaan yang lantas tidak membuat hati Deefa menjadi tenang untuk menjawabnya, pasti ketika dia memberi jawaban akan muncul lagi pertanyaan lainnya mengiringi pertanyaan pertama, tapi apabila dia tidak menjawab bukankah dia seperti manusia tuli? hingga mau tak mau akhirnya dia memberikan jawaban pasrah akan pertanyaan yang nantinya datang kembali.
"Sudah Bu." Deefa mencoba menjawab singkat saja.
Mendengar jawaban dari sang menantu, wanita yang memakai pakaian gamis lebar beserta dengan bergo nya itupun mencondongkan tubuhnya, "lalu apa tanggapan kamu?"
Benar kan apa yang Deefa perkirakan, setelah pertanyaan pertama akan muncul pertanyaan kedua dan mungkin masih akan ada yang ketiga keempat kelima dan seterusnya.
Deefa mengecilkan pandangan matanya kala sang mertua bertanya tanggapannya, tanggapan yang bagaimana yang harus dia katakan? dia ini hanya seorang istri dan bukan seorang komentator yang perlu memberikan tanggapan atas apa yang dia ketahui.
"Deefa harus memberi tanggapan apa Bu? bukankah yang terjadi ini sudah atas kehendak Allah, kita sebagai umatnya hanya bisa menerima meskipun tidak dibenarkan juga untuk berpasrah setiap yang Allah berikan pasti ada maksud dibaliknya, ada hikmah yang mungkin harus kita ambil," tutur Deefa berbicara panjang sepertinya dia hanya ingin membantu ibu mertuanya itu untuk mau menerima bahwa semua yang terjadi Allah lah yang menentukan, bukan berniat menggurui karena dia tahu ilmu agama mertuanya tentu jauh lebih tinggi di banding dirinya yang baru berusia 25 tahun yah meskipun tua mudanya usia itu bukankah sebuah patokan untuk sifat seseorang tapi dia sebagai yang lebih muda terlebih hanya seorang menantu saja harus tahu bagaimana menempatkan diri.
"Ibu mengerti dan tahu itu Deefa, tapi sebagai seorang wanita yang sudah melahirkan Raffan tentu ibu sangat tahu bagaimana sifat Raffan, dia bisa melakukan apapun untuk dirinya tanpa peduli dengan orang lain," beber sang ibu mertua yang terdengar sedikit pedas bagi Deefa.
Bukankah seorang ibu juga belum tentu mengetahui semua tentang anaknya karena setelah menikah seorang pria akan selalu menampakkan semua sifat dan segala perilakunya yang orang lain tidak tahu termasuk ibu serta keluarganya, semua sifat yang tersembunyi dari yang baik sampai yang buruk sekalipun akan diperlihatkan kepada istrinya.
__ADS_1
Sedikit tidak benar kalau seorang ibu mengatakan lebih mengerti anaknya ketimbang istri sang anak tersebut.
"Jadi menurut ibu apa yang sedang Raffan lakukan hingga ibu berkata begitu?" Deefa memberanikan diri bertanya tanpa melupakan statusnya sebagai seorang menantu yang harus menghormati mertuanya.
"Raffan berbohong." suara sang ibu membuat Deefa menatapnya dengan tatapan teduh tapi penuh pertanyaan.
"Apa yang membuat ibu berpikir kalau Mas Raffan berbohong?" tentu dia harus bertanya apa maksudnya dan apa yang ada di dalam pikiran ibu mertuanya itu hingga menuduhnya anaknya sendiri berbohong.
"Maaf sebelumnya, ibu bukan ingin memojokkan kamu sebagai seorang wanita ibu pun pernah berada dalam posisi seperti mu, menantikan anak yang tak kunjung diberikan dan harus berusaha kemanapun untuk bisa mendapatkan nya."
Deefa ini malah semakin tak mengerti apa sebenarnya yang ingin mertuanya itu katakan, kenapa tidak terus terang saja?
"Ibu tidak percaya kalau Raffan yang bermasalah, dia masih sangat muda diusianya yang sekarang tentu masih sangat produktif untuk bisa memiliki anak, bahkan seorang pria meski sudah berusia 50 tahun pun masih bisa memiliki anak, jadi kalau Raffan mengatakan dia bermasalah ibu sangat tidak bisa percaya," jelas sang ibu mertuanya yang meski tadi sudah mengatakan dia tidak bermaksud untuk menyinggung menantunya itu tapi dari setiap tutur kata yang dia ucapkan dan kalimatnya terdengar begitu melukai.
"Ibu tahu Allah lah sang pemilik kehendak tapi untuk hal yang seperti ini ibu rasanya sulit untuk menerima," sambung ibu mertua yang meskipun tadi mengatakan mengerti seperti apa perasaan menantunya tapi tetap saja berbicara yang sangat jelas melukai hati istri dari anaknya.
Deefa beristighfar dalam hati menahan diri untuk tidak mengeluarkan tutur kata yang nantinya malah tidak diterima oleh sang ibu mertua, takut kalau dia di bilang sok tahu atau yang lainnya, sungguh dia sebagai menantu sangat tidak ingin bermasalah dengan mertuanya apalagi sampai menyakiti wanita yang sudah melahirkan suaminya ke dunia, wanita yang menjadi perantara Allah atas pertemuannya dengan sang suami, pun dia memilih untuk merapatkan bibir guna menjaga lisannya dari setiap kata yang tidak baik.
Bukankah perkataan dari mertuanya itu secara tidak langsung menuduh kalau dirinyalah yang pasti ada masalah, bahwa dirinyalah yang kemungkinan tidak bisa memberikan keturunan, siapapun orangnya tentu akan bisa merasakan setelah kata demi kata yang dia dengar.
"Tolong kamu ajak Raffan untuk melakukan pemeriksaan ulang, ibu akan mencarikan Dokter yang bagus untuk kalian," dan akhirnya maksud dari kedatangannya itupun dia sampaikan, diutarakan kepada sang menantu tanpa ada anaknya karena dia memang sengaja datang ketika anaknya tidak ada di rumah, dia itu sudah hafal hari apa dan jam berapa anaknya pergi kuliah, tentu dia tidak akan bisa bicara dengan bebas apabila ada sang anak.
Deefa menatap sang mertua dengan tatapan yang sama sekali tidak menampakkan kemarahan apalagi marah setelah semua yang ibu mertuanya itu katakan sejak tadi.
Terdengar tarikan napas lega dari wanita yang duduk di depannya, "syukurlah kalau begitu, ibu sangat yakin kalau Raffan tidak bermasalah mungkin ada kesalahan dan bisa saja hasilnya yang tertukar atau memang sengaja di tukar."
Deg!
Jantung Deefa berdetak membuat suhu tubuhnya berubah dengan cepat, keringat dingin pun perlahan keluar melalui pori-porinya saat telinganya mendengar kalimat terakhir dari mulut sang mertua.
Sengaja di tukar? apa maksudnya? apakah sekarang ibu mertuanya itu tengah menuduh dirinya? berprasangka yang tidak-tidak tentang dirinya? wajah Deefa pun makin menjadi pias dengan bibirnya yang kembali menjadi sangat rapat seolah tidak sanggup untuk mengeluarkan perkataan guna bertanya apa maksud dari mertuanya barusan.
Ya Allah baru setengah tahun menikah tapi dia seolah sudah terlihat sangat buruk di mata ibu mertuanya itu, sungguh tidak menyangka dulu dia kira ibu mertuanya itu adalah wanita yang baik dengan segala ucapan yang tertata rapi dan terdengar santun tapi setelah hari ini dia semakin mengerti bahwa kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya saja apalagi ketika baru mengenalnya, karena semua akan terlihat baik pada awal dan semakin lama akan semakin terlihat sifat aslinya.
****
"Mas," memanggil suaminya yang sedang mengerjakan tugas kuliah yang seharusnya dia selesaikan kemarin.
"Hm."
__ADS_1
Hanya deheman saja yang terdengar sedangkan perhatian dari sang suami masih tetap pada layar laptop yang sejak 20menit lalu menampilkan begitu banyaknya ketikan dari sang mahasiswa yang semoga saja bisa cepat lulus kuliah menjadi sarjana hingga tidak perlu lagi dipusingkan oleh tugas-tugas kuliah yang kadang membuat otak kepalanya terasa sangat penuh.
"Kapan kita akan melakukan pemeriksaan lagi?" Deefa yang tadi berdiri pun menggeser sofa kecil agar dia bisa duduk di samping suaminya.
Jari Raffan yang tengah berada di atas keyboard laptop dan sedang mengetik pun mendadak berhenti gak bergerak, meski matanya tetap menatap lurus pada layar monitor yang menyala namun apa yang tadi ditanyakan oleh istrinya sedikit mengusik perhatian dan mengganggu konsentrasi.
"Aku sedang mengerjakan tugas kuliah sekarang, bisa kita bicarakan setelah ini selesai?" Raffan menoleh lalu menatap pada wanita yang sejak dia pulang kuliah sore tadi terlihat dari raut wajahnya seperti tengah menyimpan sesuatu, entah apa itu yang jelas Raffan bisa merasakannya.
Deefa memang tidak mengatakan pada Raffan tentang kedatangan ibu mertua dan pastinya juga tidak akan memberitahu semua yang mertuanya itu bicarakan, sungguh dia tidak mau membuat ibu dan anak itu malah menjadi semakin rumit hubungannya karena dia.
"Iya," angguk Deefa setuju dengan permintaan suaminya membuat pria itu tersenyum lalu mendaratkan kecupan hangat di keningnya.
"Tapi Mas.."
Raffan yang ingin kembali fokus pun akhirnya menghela napas lalu pandangan yang sudah akan menatap pada layar pun beralih lagi kepada wanita yang menatapnya sedikit aneh.
"Apa lagi Deefa? kan tadi sudah aku bilang bicarakan nanti saat aku sudah selesai, kenapa malah ingin bicara lagi." Raffan menjadi gemas dengan sikap sang istri.
"Hanya ingin bertanya satu saja, setelah itu silahkan Mas selesaikan tugas kuliahnya," jelas Deefa dengan suara yang pelan dan lambat.
"Ya sudah mau tanya apa cepat tanyakan," putus Raffan akhirnya memberi kesempatan ketimbang di ganggu oleh sang istri dan tugasnya tidak akan selesai, satu pertanyaan tidak akan memakan waktu sampai berjam-jam, kan?
Deefa meremas ujung baju tidur yang dia pakai dengan kedua netra yang menatap pada pria yang tengah menunggu apa yang ingin dia tanyakan.
"Mas tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?" tanyanya yang dia akui pertanyaan itu jadi mengganggu pikirannya setelah mendengar semua yang dibicarakan oleh sang mertua tadi, dia sungguh jadi tidak tenang dan merasa mungkin memang benar apa ibu mertuanya pikirkan, kebenaran yang mungkin saja memang sengaja disembunyikan oleh suaminya itu dari dia.
Deefa bisa melihat bola mata suaminya bergetar dan juga tangan sang suami yang tadi berada di atas mouse pun mendadak mengepal erat benda berwarna gelap itu.
__ADS_1
Melihat ini membuat hati Deefa makin penasaran dan ingin segera mendengar jawaban dari suaminya, tapi sekian menit menunggu suaminya itu tidak kunjung membuka mulut untuk mengeluarkan suara memberikan jawaban meski hanya satu kalimat saja membuat ruangan yang tadi terasa hangat berubah menjadi sangat dingin layaknya kutub Utara, apa dia salah bertanya?
****