Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Tampan


__ADS_3

Sesampainya di sana suasana sangat ramai dan berisik, aku terpukau melihat indahnya lampu kora kora yang berkelap kelip dalam kegelapan malam, semuanya indah di pandang mata membuatku ingin menaiki semua permainan yang ada di sana, belum sempat aku memilih mana yang akan aku naikki lebih dulu, Audy sudah menarik lenganku pergi ke loker pembelian karcis untuk naik wahana kora kora, cukup lama kami mengantri untuk bisa menaiki wahana tersebut karena kebetulan wahana itulah yang paling banyak dikerubuni pengunjung, tapi aku ngeri melihat orang orang yang berteriak saat menaiki wahana tersebut, belum lagi aku tidak pernah menaikki wahana itu, aku memang suka dengan lampu lampunya tapi sungguh tidak tertarik untuk ikut bermain di sana, bagiku melihat orang orang yang naik permainan tersebut sebelumnya nampak menyeramkan, nyaliku sedikit menciut belum lagi aku punya pobia ketinggian berada di sana dan di ombang ambingkan begitu pasti akan sangat menakutkan, namun karena aku tidak mau mengecewakan Audy yang begitu antusias ingin naik wahana tersebut akupun menurutinya dan mencoba memberanikan diri berharap dengan naik wahana ini aku bisa melepaskan pobiaku, kalaupun tidak paling aku akan berteriak sangat kencang sama seperti para pengunjung lainnya.


Aku dan Audy mulai menaiki wahana tersebut tapi sialnya karena kami berdesakkan dan saling berdempet dengan pengunjung lain aku dan Audy jadi duduk terpisah cukup jauh, di saat itulah aku mulai panik mencari cari keberadaan Audy dan ternyata justru Audy belum sempat naik ke atas wahana karena tempat di sana sudah memenuhi batasnya, aku sungguh terkejut saat melihat tidak ada Audy di dalam wahana itu, aku mencoba melepaskan diri dan meminta tolong pada penjaga wahana itu kalau aku tidak ingin naik wahana ini lagi, tapi sayangnya semua terlambat bahkan penjaga itu tidak menghiraukan aku dan dia malah mengencangkan sabuk pengaman di badanku lalu mencoba meyakinkanku agar aku tidak cemas, tapi tetap saja aku khawatir masalahnya aku pobia ketinggian ditambah tidak ada Audy di sampingku, lalu jika nanti terjadi sesuatu siapa yang akan membantuku, itulah yang aku khawatirkan sejak tadi, wahana mulai melaju dengan perlahan dan badanku sudah bergetar aku menggigit jari tanganku mencoba menenangkan diri dan terus mengatur nafas, aku tidak berani melihat kebawah ataupun ke atas, aku mulai memejamkan mata dan berpegangan sangat erat pada sabuk pengaman, sungguh aku tidak tau lagi seberapa kencangnya aku berpegangan juga berteriak sampai hampir kehabisan tenaga, sepanjang berjalannya permainan itu aku terus menutup mata, samar samar terdengar suara Audy yang meneriaki ku memberikan semangat, aku ingin membuka mata dan melihat di mana posisi Audy tapi keberanianku sungguh sudah menghilang sepenuhnya karena permainan itu berjalan semakin cepat hingga akhirnya berhenti, kakiku sangat lemas aku tak sanggup berdiri wajahku aku sudah tidak tau lagi bagaimana ekspresi diriku sendiri yang pasti aku sungguh bergetar hebat dan sangat lemas, tiba tiba ada Audy yang membantuku berdiri dan mendudukanku di salah satu bangku dekat wahana yang tadi aku naikki.


"Talita apa kamu baik baik saja?" tanya Audy dengan wajah khawatir.


Tak sanggup berbicara aku hanya menganggukkan kepala lalu mengatur nafas dan mulai menenangkan diri.


"Audy aku baik baik saja, sudah cepat kamu ke sana, bukankah kamu sangat ingin naik wahana itu" ucapku sambil mendorong pelan Audy,


"aku tidak jadi naik, biar aku menjagamu di sini saja, dan maaf sudah memaksamu untuk naik wahana itu" ucap Audy merasa bersalah


"sudahlah aku baik baik saja, cepat kamu naik ke sana kalau masih mau berteman denganku" ucapku mengancam sambil tersenyum.


Audy membalas senyumanku dan akhirnya diapun mau naik ke wahana itu, selepas Audy pergi aku langsung lemas kembali dan merasa sangat pusing, aku merebahkan badanku ke belakang kursi dan menutup mataku sejenak berharap tenagaku bisa kembali.

__ADS_1


Selang beberapa saat bukannya membaik aku malah semakin pusing dan mual, aku segera pergi mencari toilet terdekat karena sudah tidak tahan ingin muntah namun karena pusing dan tidak tau dimana letak toilet akhirnya terpaksa aku malah muntah di pinggir jalan, sudah tidak berpikir bagaimana orang memandangku atau apapun itu yang penting aku sudah memuntahkan beban dalam perutku, aku benar benar merasa lemas dan sudah tidak ada lagi tenaga, mataku berkunang kunang hingga tak lama menjadi kabur, sebelum mataku benar benar tertutup masih sempat aku lihat seseorang yang mengangkat tanganku dengan lembut setelah itu aku tidak tau apapun lagi, dalam pikiranku mungkin itu adalah Audy.


Selang beberapa saat aku mulai mendapatkan kembali kesadaranku, dan saat membuka mata tiba tiba saja aku berada di sebuah kamar yang cukup luas nan rapi, dekorasinya di dominasi warna hitam juga abu abu, semua barang yang ada disana sungguh tidak berwarna, aku buka selimut yang menutupi badanku dan mencoba bangkit dari tidur tapi kepalaku masih terasa cukup pusing hingga agak sulit untuk bangkit berdiri dengan tegak, aku terus mencoba dan berjalan perlahan melihat sekeliling ruangan untuk mencari tau di tempat siapa aku berada sekarang, usahaku sia sia karena tidak mendapatkan petunjuk apapun, tidak ada foto, atau apapun hanya terdapat beberapa lukisan horor yang terpajang di tembok dinding bernuansa gelap.


"Apa ini kamar Audy, tapi kelihatannya walaupun dia tomboy, Audy tidak se seram ini" ucapku memikirkan.


Aku mencoba berjalan perlahan menuju pintu untuk mencari tau keadaan diluar kamar namun saat hendak memegang gagang pintu, pintunya sudah terbuka lebih dulu dan muncul seorang pria yang sangat tampan, memakai kaos oblong berwarna putih, rambut basah dan celana panjang berwarna putih bersih, aku termenung menatapnya.


"Tampan" ucapku keceplosan dengan suara lumayan keras.


"Ahhhh....enggak....gak papa, tadi kamu salah denger heee" jawabku gelagapan.


"Aishhh sialan bikin malu saja kenapa mulut ini tidak ada rem nya sih" gumamku dalam hati.


Aku mendadak gugup karena wajahnya yang tampan tapi sayangnya sikap dia terlihat sangat cuek dan dingin sekali, pasti akan sulit untuk di dekati, pria itu menghampiriku dan mulai bertanya mengenai keadaanku juga alamat rumahku.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu?" ucap pria itu dingin sambil menaruh handuk ke dalam lemarinya.


"AA..aaku baik baik saja, terimakasih sudah menolongku" jawabku gelagapan,


"kalau begitu di mana rumahmu, biar aku antar kau pulang sekarang" ucap pria itu dengan wajah yang datar,


"hah?...apa?, tidak....tidak usah aku bisa pulang sendiri, a..aku..akan pulang segera" jawabku refleks.


Padahal saat ini aku tidak tau sedang berada di daerah mana, tapi aku jelas tidak mau merepotkan pria dingin itu, walaupun dia yang menawarkan diri tapi melihat wajahnya aku merasa dia hanya basa basi saja, sayang sekali punya wajah tampan tapi karakternya begitu membosankan, kamarnyapun tidak berwarna sama sekali, aku menghilangkan semua pemikiran aneh tentang pria itu dan segera bergegas pergi keluar, saat aku pergi pria itu bahkan tidak mengantarku keluar dari rumahnya, aku sampai kebingungan mencari pintu keluar karena rumahnya begitu besar dan luas, untung saja ada seorang asisten rumah tangga di sana yang menunjukkan jalan padaku.


Saat sudah keluar dari gerbang rumah pria tersebut aku bingung menatap ke sekitar sana, jalanan yang sepi dan hanya ada beberapa rumah mewah di sana, aku benar benar tidak tau aku ada di mana saat ini, saat aku hendak memeriksa keberadaanku lewat ponsel, batrai ponselku sudah mati, aku lupa mengisi baterai nya, akhirnya aku duduk termenung di bangku itu tanpa tujuan, mau kembali masuk dan meminta bantuan pria itu aku malu karena tadi sudah menolak tawarannya dengan tegas, tapi kalau aku terus berdiam diri aku juga tidak bisa pulang.


Tiba tiba sebuah mobil mewah keluar dari rumah itu dan berhenti tepat di hadapanku saat kaca mobil terbuka ternyata yang mengemudi adalah pria yang menolongku.


"Cepat masuk, sampai kapan kau akan duduk di situ" ucap pria itu mendominasi.

__ADS_1


Aku bingung hingga mengerutkan kedua alisku dan entah kenapa dalam situasi kebingungan seperti itu aku malah refleks mengikuti ucapan pria tadi dan segera masuk ke dalam mobil, lagi lagi pria itu menanyakan alamat rumahku tapi aku enggan memberitahunya, sebab pria itu terlalu dingin dan aneh aku takut kalau dia bukan pria baik baik, meskipun aku akui bahwa wajahnya sangat tampan dan berkarisma namun tetap saja aku tidak akan terbuai dengan visualnya itu.


__ADS_2