Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Kelelahan


__ADS_3

Paman Seto segera membuatkanku seporsi pecel lele dan aku langsung menyantap nasi juga sayurnya, saat selesai aku menaruh piring itu di meja dan paman Seto merasa heran saat melihat lele yang ada di piringku belum tersentuh sama sekali, tapi sepertinya dia sudah paham makanya aku tidak menjelaskan, dia hanya tersenyum melihatku.


"Eneng gak suka ikan yah?" tanya paman Seto,


"iya paman maaf yah, bukannya apa apa tapi Lita memang tidak bisa memakan ikan, Lita punya alergi paman, seandainya tidak ada alergi Lita pasti akan memakannya karena kelihatannya ikan lele buatan paman sangat enak" ucapku menjelaskan,


"ahh....eneng ini bisa saja" jawab paman Seto tersipu,


Aku berterimakasih lalu membayar dan segera bergegas pergi sebelum waktu semakin senja, beberapa saat kemudian akhirnya sampailah aku di ujung jalan pedesaan dan aku lihat memang banyak sekali toko dan warung besar di sepanjang jalan raya, tapi bodohnya aku saat pertama kali melewati jalanan ini aku tidak memperhatikannya sama sekali, mungkin karena saat itu tengah malam sehingga suasananya sedikit berbeda dan jelas tidak seramai saat ini, di beberapa warung aku lihat banyak pemuda pemudi yang duduk di sana sekedar nongkrong atau memesan makanan ringan.


Aku segera pergi ke salah satu warung yang tidak terlalu ramai, aku membeli semua makanan ringan yang aku suka, di warung itu cukup kumplit semua kebutuhan yang aku mau tersedia hingga aku membeli banyak makanan dan beberapa barang untuk persediaan ku selama seminggu, setidaknya agar aku tidak perlu berjalan jauh hanya untuk membeli beberapa hal saja, tak terasa ternyata belanjaanku memakan 2 kantung kresek yang besar, aku sendiri lumayan kesulitan saat membawanya, berat dan begitu merepotkan, belum lagi aku harus menempuh perjalanan yang jauh dengan membawa semua belanjaan ini.


Jalanku menjadi semakin lamban karena belanjaan ini benar benar berat, saat aku kesulitan berjalan tiba tiba ada seorang perempuan baik yang mau membantuku, meski dia tidak mengenalku.


"Wahh ..belanjaanmu banyak sekali, apa kau tidak berat, sini biar aku bantu dimana rumahmu?" ucapnya tiba tiba datang dari sampingku dan mengambil salah satu belanjaanku begitu saja.


Jujur aku sedikit kaget dan berprasangka buruk pada perempuan itu, habisnya dia mengambil belanjaanku begitu saja, bagaimana aku tidak ketakutan, saat aku bertanyapun dia malah cengengesan membuatku semakin heran dan bingung.

__ADS_1


"Eh..eh...eh..kau siapa kembalikan belanjaanku" ucapku dengan tegas,


"hhaa...wajahmu lucu, santai saja aku bukan orang jahat yang akan mencuri belanjaanmu, aku hanya mau membantumu jangan khawatir" ucapnya dengan santai sambil berjalan mendahuluiku,


"hei...tunggu...aishhh kenapa dia berjalan begitu cepat, lagi pula memangnya dia tau dimana rumahku" ucapku merasa kesal dan berjalan menyusulnya.


Walau aku sudah berjalan secepat yang aku bisa untuk mengejar perempuan itu tapi dia berjalan sungguh terlalu cepat, aku meneriakinya beberapa kali tapi dia hanya menoleh dan tersenyum saja, membuatku semakin takut, kesal dan khawatir.


Hingga di persimpangan jalan dia berhenti dan menungguku yang cukup tertinggal jauh, dengan nafas terengah engah aku menghampirinya dan duduk sebentar di bawah sebuah pohon.


"hah....hah...hah...kau ini sebenarnya siapa sih, mengambil belanjaanku lalu pergi begitu saja" ucapku sambil terengah engah,


"hah....baiklah termakasih....hah...hah..aku benar benar tidak mengerti denganmu" ucapku yang sudah pasrah.


Dia malah cengengesan menertawai ku yang kelelahan dan bersandar di pohon.


"Kau warga desa baru yah, sepertinya aku tidak pernah melihatmu disekitar sini" ucapnya bertanya,

__ADS_1


"iya aku baru saja sampai di sini tadi malam" jawabku dan dibalas anggukan olehnya.


Kami pun mengobrol dan saling berkenalan satu sama lain, dan ternyata dia warga desa sebelah yang sedang berjalan jalan dan kebetulan bertemu aku, aku juga tidak tau pasti kenapa dia mau membantuku yang sama sekali tidak dia kenal, tapi aku bersyukur karena dia mau membantuku, setelah berkenalan kami melanjutkan perjalanan sambil berbincang bincang, saat berbicara dengannya di perjalanan ternyata dia adalah orang yang asik dia banyak bercerita dan memperkenalkan desa di sini padaku, dia juga memperingatkan ku agar tidak pergi seorang diri ke jalan raya saat malam karena itu berbahaya masih banyak preman dan begal di sekitaran jalanan ini, aku hanya mengangguk dan sesekali tertawa mendengar semua ceritanya, dia benar benar orang yang ramah, baik juga mudah bergaul, berbeda sekali denganku yang bahkan sulit untuk menerima orang baru, apalagi berkomunikasi dengan orang asing, namun entah mengapa bersamanya aku merasa aman dan baik baik saja, mungkin karena dia terlihat begitu tulus saat membantuku membawakan belanjaan sampai kedepan rumah, padahal kita tidak saling kenal dan desanya dan desaku berbeda meski bersebelahan tetap saja menurutku jaraknya lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki.


Saat sampai di rumah aku mempersilahkannya untuk masuk dulu ke rumah namun dia menolak dan beralasan karena waktu hampir malam, akupun tidak bisa memaksanya dan kami berpisah dari situ, aku sedikit senang karena punya seseorang yang aku kenal dan bisa aku mintai tolong kedepannya jika aku kesulitan, kelihatannya dia benar benar orang yang baik.


Oh ya aku lupa memperkenalkan pada kalian nama perempuan baik yang menolongku membawakan belanjaan tadi adalah Audy, dia berparas cantik meski dengan kulit sawo matang dan pakaian yang sederhana, namun berhati berlian.


Tiba lah pada hari yang sudah aku tunggu tunggu, yakni hari pertama masuk sekolah di jenjang menengah, suasana baru, lingkungan baru, sekolah baru juga seragam baru, semuanya menyelimuti kehidupanku, dan kisahku dimulai dari sini.


Aku begitu bersemangat hingga tadi malam hampir tidak tidur sama sekali, ya saking tidak sabarnya untuk segera memulai kehidupan dan lembaran baru di sini, mulai dari sekolah, jujur aku sangat rindu sekali duduk di bangku dan mendengarkan penjelasan dari guru, tentunya aku juga rindu dengan suasana sekolah, ku harap di sekolah nanti aku bisa dengan mudah mendapatkan teman baru, karena ini hari pertama aku masuk sekolah akupun diantar oleh bi Ade katanyasih sekalian bi Ade mau berangkat berbelanja kepasar dan kebetulan jalannya searah denganku jadi kami berjalan bersama sambil berbincang dan sesekali bercanda ria, aku merasa setelah beberapa hari tinggal di rumah nenek seorang diri dan hanya ada bi Ade yang menemaniku, sepertinya sekarang aku mulai terbiasa dengan keadaan ini, aku juga sudah mengurangi keluhanku, tapi di sisi lain aku tetap rindu dengan ayah dan ibuku.


Tapi aku harus menahannya, situasi tidak memungkinkan untuk saat ini, akupun sudah menganggap bi Ade sama seperti nenekku sendiri, dia begitu lemah lembut mengurusku dan bahkan mengantarku sampai ke depan gerbang, aku senang ada bi Ade yang menghiburku dan bisa mengantarku layaknya seorang nenek yang mengantar cucunya ke sekolah, aku melangkahkan kaki dan menghirup udara segar yang membuat hati begitu tenang dan damai.


"Hmmm....hari yang indah aku harus lebih semangat lagi, ayo Talita kamu pasti bisa!" ucapku menyemangati diri sendiri.


Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam halaman sekolah dan ku tatap banyak siswa siswi yang berjalan beriringan sambil bercanda gurau ada yang berjalan kaki sama sepertiku ada juga yang memakai sepeda, bahkan yang memakai mobil pun ada namun nampaknya hanya beberapa saja.

__ADS_1


Memang sekolah ini berada di pinggir jalan raya yang tidak terlalu pelosok sehingga mudah saja untuk akses kendaraan masuk kedalamnya, gedungnya juga begitu luas dan cukup menyaingi sekolah yang ada di kotaku, saking senangnya aku menatap sekeliling yang riuh, aku tak memperhatikan jalanku hingga seorang pria berpakaian serba hitam dengan mengenakan topi lengkap dengan kacamata hitamnya menabrakku cukup keras sampai membuat tas yang aku gendong putus dan jatuh kelantai.


__ADS_2