Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Di antar pulang


__ADS_3

Aku langsung menggelengkan kepala dengan gugup dan canggung.


"Tidak..tidak perlu kak, aku kan juga bisa datang ke sini sendirian atau bersama Audy tidak perlu merepotkanmu..hehehe" ucapku menegaskan sambil berusaha tersenyum garing.


Kak Bara hanya menanggapi ucapanku dengan anggukan dan alis yang dinaikkan secara spontan.


Cukup lama aku berada di cafe itu kak Bara juga banyak membicarakan mengenai dirinya juga teman teman seangkatannya di OSIS bahkan dia juga mengajakku untuk ikut gabung menjadi pengurus OSIS di sekolah, tapi aku berusaha menolak dengan mengatakan tidak tertarik dan tidak bisa mengemban amanah juga tanggung jawabnya yang cukup besar, padahal aku hanya takut kalau mereka tidak sebaik yang terlihat dari luar, saat tengah mendengarkan cerita dari kak Bara dan aku hanya menanggapinya dengan tertawa garing serta mengangguk, jujur saja aku tidak terlalu mendengarkan ucapan kak Bara dia hanya asyik bercerita sendiri padaku sedangkan aku lebih banyak diam sambil sesekali meminum cofie pesananku, sampai tiba tiba kak Bara mendapatkan panggilan telpon dan dia seperti tidak mau mengangkat telpon tersebut, ponsel berdering berkali kali namun kak Bara terus mematikan panggilan tersebut dengan wajah kesal.


"Kak lebih baik kakak angkat dulu telponnya, siapa tau itu penting" ucapku memberi saran pada kak Bara.


"Tidak perlu, itu tidak penting!!" jawab kak Bara dengan tegas dan wajah yang berubah drastis.


Melihat perubahan ekspresi kak Bara yang begitu cepat dan nampak seperti penuh emosi juga tatapannya yang tajam dengan tangan menggenggam erat pada ponselnya aku sedikit merasa takut dan menyesal sudah memberikan saran seperti itu padanya.


Aku bingung harus bersikap seperti apa di saat seperti ini, mau bicara takut salah dan membuat kak Bara makin marah tapi tidak bicara juga membuat suasana begitu canggung dan sangat tidak nyaman untuk kita berdua, dan akhirnya aku berusaha membuka suara untuk mencairkan suasana,


"Kak, Lita......" ucapku bersamaan dengan kak Bara yang memanggil namaku,


Baru juga mau bicara malah dua duanya yang mengeluarkan bicara bersamaan, aku jadi makin canggung dan bingung sedangkan wajah kak Bara masih terlihat penuh emosi, sehingga aku mempersilahkan kak Bara untuk bicara lebih dulu.


"Ada apa kak?" ucapku bertanya,


"aku minta maaf sepertinya ada hal penting yang harus aku urus, aku harus pergi tapi tidak bisa mengantarmu pulang, apa kau bisa pulang sendiri...eu....kalau tidak aku akan menyuruh temanku untuk menjemputmu di sini" ucap kak Bara.

__ADS_1


"Tidak....tidak....tidak perlu kak, aku bisa pulang sendiri kok, kakak pergi saja" ucapku sedikit kesal.


Kak Bara pun segera pergi setelah berpamitan padaku dan entah kenapa aku kesal saat kak Bara tidak bisa mengantarku pulang, aku duduk sendirian sambil menatap ke luar jendela dan menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan sekaligus karena kesal, kembali ku minum cofie pesananku sampai habis dan segera pergi dari cafe tersebut, aku berdiri di dekat cafe sambil memainkan ponselku menunggu pesanan gojek yang sudah aku pesan di aplikasi, tapi sialnya aku sudah menunggu selama setengah jam gojek itu tidak datang juga, tiba tiba saja ada jambret yang memaksa merampas ponsel dari tanganku untunglah saat itu aku memegang ponsel dengan cukup kuat, sehingga terjadilah tarik menarik di pinggir jalan, aku berteriak meminta tolong tapi orang orang di sana justru malah cuek dan biasa saja tidak ada satupun yang mau membantuku mempertahankan ponsel agar tidak di ambil oleh jambret itu, sampai tiba tiba seseorang pria menendang jambret itu hingga tersungkur ke tanah dan aku juga hampir jatuh terhuyung ke belakang karena tidak menginjak dengan besar.


Aku jatuh terduduk di tanah dan meringis kesakitan.


"Awwww.....aduhhh... sakit sekali, dasar jambret si*lan" ucapku menggerutu kesal sambil memegangi badanku yang sakit,


Seorang pria yang membantuku tadi mengulurkan tangannya untuk membantuku dan aku kaget saat tau ternyata pria yang membantuku adalah Haiden Alvaro, ya anak baru yang duduk di sampingku.


"Ka..kamu, kenapa bisa ada di sini?" tanyaku heran tanpa membalas uluran tangannya yang mau membantuku.


"Kau akan mengambil tanganku atau tidak?" ucapnya bertanya dengan cuek dan menyebalkan.


Dia membawaku duduk di bangku samping jalan dan dia melihat kakiku yang pernah terkilir sebelumnya, sedangkan aku sibuk menggerutu tak habis habis.


"Menyebalkan baru saja aku sembuh, dan bisa berjalan sekarang sudah sakit lagi, ditambah bokongku ikut sakit, bagaimana aku bisa ke sekolah besok, masih banyak pelajaran yang belum aku salin, semuanya gara gara kak Bara si*lan itu, ah.....dia sungguh menjengkelkan" ucapku menggerutu kesal.


Saat aku puas menggerutu aku baru sadar Alvaro masih bersamaku samar samar aku lihat senyum kecil terpancar dari wajahnya aku sontak langsung menggoda dia.


"Hei... kalau mau tertawa ya tertawa saja, aku tau kau ingin menertawai ku kan?, jangan so cool begitu itu membuatku semakin kesal" ucapku sambil menatapnya tajam.


Bukannya tertawa atau apa dia malah balik menatapku tajam dan tak lama dia tiba tiba saja menggendongku tanpa aba aba dan berkata kata dahulu, aku kaget dan takut bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Hei...heii...apa apaan kau ini, mau membawaku ke mana hei... cepat turunkan....apa kau tidak malu banyak orang melihat kita tau" ucapku kaget dan kesal karena dia tidak menurunkanku juga.


"Kalau kau merasa malu, lebih baik kau diam dan tutup wajahmu yang jelek itu" ucap Alvaro yang semakin membuatku naik pitam.


"Haiden Alvaro kau sialan!!" ucapku dengan suara kecil tapi dia masih tetap bisa mendengarnya.


"Kalau mau marah, marah saja jangan ditahan begitu, kau semakin jel*k" ucap Alvaro lagi lagi membuatku emosi.


Aku hanya bisa diam dengan emosi yang masih di ubun ubun aku tidak bisa meredakan emosiku pada Alvaro bahkan sampai di dalam taxi aku tetap saja kesal dan enggan menatap wajah Alvaro, aku masih ingat jelas bagaimana dia terus mengataiku jelek saat menggendongku di jalanan tadi.


"Hei di mana rumahmu?" tanya Alvaro,


"Untuk apa kau bertanya rumahku?, mau mengantarku?, tidak kan jadi kau tidak perlu tau!!" jawabku dengan kesal tanpa melihat wajahnya.


"Ya sudah kalau kau bisa pergi sendiri, jadi tidak perlu merepotkanku lagi, ahhhh....aku bisa bersantai di rumah mewahku" ucapnya sambil menyandarkan tubuh ke belakang,


"Ishhh....dia benar benar menjengkelkan" ucapku kesal dan segera meminta supir untuk menghentikan taxi nya,


"Pak...berhenti di depan"


"Bukannya rumahmu di desa yang dekat sekolah, kenapa berhenti di sini?"


"Aku tidak mau berada di satu ruangan dengan pria menyebalkan sepertimu, bye" ucapku sambil memasang wajah kesal dan segera keluar dari taxi, aku menutup pintu taxi dengan kencang saking kesalnya dan segera pergi ke pinggir jalan menunggu bus yang datang.

__ADS_1


__ADS_2