Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Rumah Audy


__ADS_3

Aku merasa hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagiku, menyenangkan sekali rasanya bisa berbelanja dan memakan es cream bersama orang yang kita cintai, bersama kak Bara aku merasakan kembali apa itu kehangatan dan merasakan bagaimana rasanya dicintai dan di perlakukan dengan lembut.


Saat tengah asik menikmatinya aku baru ingat mengenai Audy yang mau ikut bersama kami aku pun segera memberitahu kak Bara soal itu.


"Kak, apa aku boleh membawa temanku ikut ke acara kakak juga, habisnya aku tidak ada teman" ucapku meminta izin,


"Tentu saja boleh, siapapun boleh hadir kamu ajak saja dia" jawab kak Bara dengan senyuman.


Aku mengangguk dan sangat lega ternyata begitu mudah meminta izin pada kak Bara dia bahkan langsung memperbolehkannya.


Setelah selesai berbelanja dan makan bersama aku memutuskan untuk pergi ke rumah Audy karena aku belum memberitahunya masalah keberangkatan yang begitu mendesak, aku pergi ke sana diantar oleh kak Bara, karena awalnya kak Bara juga ingin ikut denganku ke rumah Audy sekaligus memintakan izin pada kedua orangtuanya.


Namun aku segera melarang dia karena aku yakin kedua orangtua Audy pasti mengijinkan tanpa perlu kak Bara langsung yang memintakan izin kepada mereka, lagi pula ini hanya liburan biasa bukan acara tur sekolah.


Kak Bara pun langsung pulang dan tak lupa memperingatiku agar besok bangun pagi dan dia akan menjemputmu di depan rumah, aku menyetujuinya dan langsung masuk ke dalam gerbang rumah Audy.


Saat aku masuk ke dalam, nampak rumah Audy begitu sepi mungkin kedua orangtuanya tengah berada di luar, segera ku tekan bel dan menunggung hingga Audy membuka pintu, untunglah Audy tengah berada di rumah saat itu.


"Eh...Talita ayo masuk, tumben kamu ke sini gak bilang aku dulu" ucap Audy yang nampak kaget dengan kedatanganku,


"Hehe...iya nih, habisnya ada urusan mendesak kamu juga pasti kaget mendengarnya" jawabku memberitahu,


"Urusan apa yang bersangkutan denganku?" Tanya Audy menyelidik,

__ADS_1


"Itu...masalah liburan dengan kak Bara katanya acara itu di percepat karena kak beberapa teman mereka ada yang harus mendaftar kuliah ke luar negeri dan acaranya besok, yang lain sudah pergi tadi pagi dan kita akan menyusul besok" jawabku menjelaskan.


Audy yang saat itu tengah meminum air putih dia langsung tersentak dan terbatuk beberapa kali saling kagetnya mendengar kabar tersebut dariku.


"Ohokk...ohok....apa kita pergi besok?, Astaga Talita bagaimana aku bisa bersiap kalau semendadak ini?" Ucap Audy nampak kebingungan,


"Kamu tenang saja tadi aku sudah mempersiapkan semuanya bersama kak Bara, kau tinggal membawa beberapa pakaian yang mau kau gunakan saja" balasku memberitahunya,


"Ahhh...syukur deh kalau begitu, jadi aku tidak perlu mempersiapkan apapun lagi, terimakasih Talita" jawab Audy sambil memelukku.


Aku tentu saja membalas pelukannya dan kami berbincang bersama, meski Audy sudah tau hubunganku dengan kak Bara tapi dia terus saja merasa penasaran dengan pendekatanku dan kak Bara sampai akhirnya menjadi sepasang kekasih seperti sekarang.


"Talita ayo ceritakan padaku, bagaimana kamu bisa tiba tiba menjadi pacar kak Bara?" Tanya Audy dengan mata yang menatap serius,


"Ishh...Audy kamu ini kepo saja, sudahlah jangan membahas itu memalukan tau" jawabku yang enggan memberitaunya.


Aku masih merasa canggung dengan hubungan ini karena ini yang pertama kalinya, sedangkan Audy terus saja mendesakku agar bercerita padanya membuatku terpaksa harus menjelaskan apa yang sering aku lakukan dengan kak Bara semenjak Audy pindah.


"Ohhh..... Begitu yah, pantas saja kamu tidak banyak mengeluh dan meminta bantuanku lagi semenjak aku pindah ternyata ada kak Bara yang menolongmu" ucap Audy tersenyum menggodaku,


"Ayolah Audy jangan menatapku begitu aku merasa malu sekarang" jawabku sedikit tidak nyaman,


"Talita kamu beruntung sekali bisa mendapatkan pria yang kamu sukai sedangkan aku, bahkan tidak ada pria yang mau aku dekati, memangnya aku se tomboy itu yah sampai mereka merasa takut padaku padahal aku masih seorang wanita normal" jawab Audy dengan menggerutu kesal,

__ADS_1


Aku tertawa kecil mendengar penuturan Audy yang nampak kesal karena semua pria yang dia dekati selalu berujung kabur atau ketakutan padanya, pantas saja mereka kabur karena Audy selalu berbicara kasar atau pun memukul mereka ketika mereka salah bicara atau melakukan kesalahan.


"Audy kamu tidak boleh berbicara kasar atau pun memukul pria seenaknya kalau kamu terus begitu tentu saja mereka akan kabur, jangankan mereka aku juga bisa kabur darimu kalau kau memukulku ahahah" ucapku di iringi tawa mengerjainya,


"Aishh....terserahlah aku juga tidak butuh pacar, lihat saja nanti kalau aku sudah kuliah aku akan mendapatkan pacar yang sempurna hehe" balas Audy mulai berkhayal,


"Ya...ya...terserah kamu saja, aku akan mendukungmu Audy, semoga mimpimu itu bisa tercapai nantinya" jawabku kembali menggodanya.


"Cukup Talita kau membuatku putus asa saja, ayo kita bermain game saja" ucap Audy mengalihkan pembicaraan.


Audy selalu mengajakku untuk bermain game bersamanya padahal dia tau aku sama sekali tidak pandai memainkan game tersebut, aku selalu saja kalah dan Audy menang itu membuat Audy selalu senang dan aku merasa kesal karena tidak pernah bisa menang darinya.


Bahkan dari semua game yang pernah kami berdua mainkan aku tidak mendapatkan satu kesempatanku untuk bisa merasakan kemenangan walau hanya sekali saja, itu yang membuatku selalu menolak ketika Audy memaksa agar menemaninya bermain game.


"Audy aku tidak mau bermain game denganmu, itu hanya akan membuatku terlihat bodoh" jawabku menolaknya seperti biasa,


"Talita aku mohon sekali saja ini game baru dan mudah kok, ayoo aku akan mengalah darimu" ucap Audy memohon.


Meski aku sangat tidak ingin melakukannya tapi wajah memelas Audy membuatku tidak tega untuk menolaknya lagi, aku benar benar benci rasa kasihan di dalam diriku sendiri yang selalu membuatku tidak bisa menolak permintaan siapapun apalagi ini Audy sahabat tercintaku.


"Talita...ayo dong please" mata Audy yang membentu puppy eyes,


"Aish....iya iya baiklah aku tidak bisa menolakmu lagi, berhenti memasang wajah begitu menyebalkan sekali" jawabku menyerah dan menemaninya bermain game.

__ADS_1


Seperti yang sudah ku duga sebelumnya sudah dua babak kami mainkan dan aku terus kalah berturut turut, aku sudah sangat kesal dan hampir menyerah tidak ingin memainkan game itu lagi, namun Audy terus saja membujukku dan memintaku untuk melakukannya satu babak lagi, aku menurutinya untuk terakhir kali dan dalam percobaan terakhir itu.


Aku tidak menyangka ternyata aku bisa juga menang dalam permainan game melawan Audy, aku sangat senang sampai tidak menyangka aku bisa melakukannya, begitu pun dengan Audy yang nampak terlihat kaget karena ini pertama kalinya aku mendapatkan kemenangan setelah berkali kali gagal.


__ADS_2