
Setelah pernah di kecewakan oleh kak Bara dan di bohongi oleh Alvaro sekarang aku sadar, bahwa ternyata memang tidak ada cinta yang sempurna dan benar-benar tulus di dunia ini selain dari cinta seorang ibu kepada anaknya, cinta seorang kakak kepada adiknya dan cinta dari tuhan kepada makhluknya.
Semua cinta yang kita cari dari seorang manusia memang melelahkan apalagi dari orang yang tidak pernah bisa pegang ucapan dan perbuatannya, padahal aku sudah yakin bahwa Alvaro adalah pria yang aku cintai dan sejak lama aku percaya dia adalah pria sejati yang bisa melindungi aku dan mempertahankan aku, namun nyatanya semua dugaanku salah besar.
Dia sama sekali tidak bisa menjagamu apalagi melindungiku, dia justru membohongiku dan menyakiti perasaanku namun kali ini aku sudah memfokuskan diri untuk melupakan semuanya dan aku sudah meyakinkan diriku untuk tidak membuka hati lagi.
Entah ini akan menjadi keputusan yang baik dan tepat untukku atau tidak yang pasti aku sudah mengambil keputusan ini dengan apapun resiko yang akan aku terima di kedepannya.
Saat ini aku sudah berada di dalam ruangan kelas dan hari ini adalah hari dimana seharusnya kak Fasya mengajar menggantikan dosen yang tidak dapat hadir namun kami sudah menunggunya cukup lama dan dia tidak bisa hadir juga sehingga kelas di bubarkan begitu saja hanya dengan memberikan sebuah tugas saja.
Aku merasa sedikit heran dan cemas karena dia tidak datang ke kampus padahal jelas sekali tadi pagi dia bersamaku di rumah dan masih bisa mengendarai mobilnya untuk pulang dengan baik, aku pun berniat untuk mencari tahu keberadaannya.
Aku mencoba menghubungi ibu namun saat itu ibu tidak menjawab teleponku.
"Aaduh...ibu kemana sih, apa mungkin dia masih sibuk yah jam segini?" Gerutuku memikirkan.
Karena tidak bisa menghubungi ibuku terpaksa aku pergi ke ruang dosen dan meminta alamat kediaman kak Fasya pada mereka namun mereka menolak untuk memberi tahukannya kepadaku, meski aku sudah memohon kepadanya dan mengatakan niat kedatanganku ke sana mereka tetap saja tidak mengijinkan aku dan tidak memberi tahu aku tentang alamatnya.
"Prof saya janji tidak akan menyebar luarkan alamat kak Fasya, saya ada urusan penting dengannya tolong beri tahu saya prof" ucapku memohon,
"Tidak bisa, kau ini mahasiswa baru tapi ngeyel sekali, sudah sana pergi asisten dosen itu tidak pernah mengijinkan siapapun untuk mengetahui alamatnya dan banyak para mahasiswi sepertimu yang memaksa kami untuk memberitahu alamat tempat tinggalnya namun apa setelah di berikan kepercayaan mereka malah membuat keributan" ucapnya tidak mempercayaiku,
"Prof itu kan mereka, ini aku loh prof aku mengenal dekat dengan kak Fasya tolong beri tahu aku yah" ucapku tetap berusaha memohon.
Bukannya di beritahu aku justru malah diancam tidak akan di lulusan dalam mata kuliahnya, sehingga aku langsung diam dan berhenti memohon lagi, jika sudah menyangkut nilai aku juga mana berani aku takut ibu akan memarahiku jika nilaiku turun atau di bawah standar, aku sangat kesal karena tidak berhasil juga.
__ADS_1
Dan saat aku mencoba menghubungi ibuku lagi dia tetap tidak menjawab, mungkin dia memang sangat sibuk hari ini sehingga sulit untuk dihubungi.
Aku pun menyerah dan pergi saja dari sana hingga bertemu.denfan Audy lagi dan dia menawarkan tumpangan kepadaku.
"Eh.. Talita kenapa wajahmu cemberut begitu? Kau mau pulang yah ayo aku antarkan kau pulang" ucapnya menawarkan.
Aku pun langsung naik ke atas motornya dan Audy mulai melakukannya. Namun di perjalanan aku kembali memulai pembicaraan dengan bercerita mengenai kekesalanku hari ini pada Audy.
"Audy...." Teriakku cukup keras,
"Hah... Ada apa?" Balas Audy dengan suara yang keras juga karena kami berdua memakai helm.
Aku menyuruh dia untuk menepi karena aku sungguh tidak ingin pulang.
"Ayo menepi...ada yang ingin aku ceritakan padamu" ucapku padanya.
Lalu kami duduk dipinggir jalan berdua sambil menikmati suasana jalanan yang tidak cukup ramai, Audy duduk di sampingku dan dia mulai menyuruhku untuk mengatakan cerita apa yang akan aku bagi dengannya hari ini.
"Katakan apa yang mau kau bicarakan? Apa kau di ganggu lagi oleh Alvaro sialan itu?" Tanya Audy menduga,
"Tidak.... Justru sejak kejadian saat itu aku sudah tidak melihat Alvaro lagi dan mungkin saja dia sudah menikah dengan wanita lain hari ini, aku juga sudah berusaha melupakannya" balasku sambil menghembuskan nafas yang berat.
Audy menaikkan kedua alisnya bersamaan dan dia langsung menepuk pundakku beberapa saat lalu memberikan semangat kepadaku membuat aku merasa terharu dengan tingkahnya itu.
"Ya.. sudahlah kamu lupakan saja semuanya kita harus memulai awal yang baru lagi, semangat oke" ucap Audy sambil tersenyum padaku dan aku langsung mengangguk dengan penuh semangat.
__ADS_1
Audy memang sahabat yang terbaik, dia sahabat yang selalu bisa diandalkan dan selalu berada di sampingku meski aku dalam keadaan susah maupun senang dia juga selalu memberikan nasehat dan solusi yang bisa mencerahkan pikiranku sehingga membuat aku bisa bertindak dengan benar dan lebih bijak lagi.
"Hmmm.... Audy kau tahu tentang kak Fasya yang asisten dosen itu?" Ucapku memulai pembahasan dengannya,
"Iya aku tahu, dia adalah pria yang kau tambar itu kan saat pertama kali kita ke kampus dan kau tidak mengenal pria se terkenal dia, aahhh kamu memang sangat bodoh Talita, bagaimana saat itu kamu tidak bisa mengenalinya" balas Audy sambil memikirkan kejadian itu kembali dan dia masih tidak habis pikir denganku.
Tapi saat itu aku memang tidak mengenali dia sama sekali, dan aku juga tidak perduli meski siapapun dia saat itu aku tetap akan melakukan hal yang sama dan tidak merasa menyesal melakukannya sampai saat ini.
"Tapi masalahnya bukan itu Audy, ternyata aku masuk fakultas yang sama dengannya dan tentu saja dia mengajar di beberapa kelasku, dan kau tahu dia juga ternyata kenal dengan ibuku" ucapku sambil tertunduk lesu.
Audy langsung menatap lurus padaku dan dia membentak aku agak sedikit telat namun tetap mengagetkan yang mendengarkan suaranya.
"APA? J....jadi bagaimana nasibmu sekarang?" Tanya Audy kaget dan gugup.
Aku langsung menggelengkan kepala karena aku sendiri tidak tahu nasib apa yang akan menghampiri karena dia datang dalam kehidupanku secara tiba-tiba dan tidak pernah terduga seperti itu.
Rasanya memang cukup mengagetkan, menjengkelkan dan selalu membuat aku emosi juga menyiksaku dalam berbagai kesulitan selama ini, namun dengan adanya dia kau merasakan keberuntungan juga, walau aku tahu keberuntungannya hanya sedikit bahkan sampai aku lupa mengingatnya.
Tapi setidaknya kejadian kak Fasya mengalihkan pikiranku yang saat itu terguncang dan terus memikirkan tentang Alvaro dia mengembalikan kbali fokus dalam diriku dan dia membuat aku menjadi lebih berenergi lagi seperti diriku yang sebelumnya.
"Yahh... Hubunganku dengan dia biasa-biasa saja namun tadi dia tidak masuk mengajar di kelasku dan aku sedikit mencemaskannya, a..aku ingin menjenguknya dan melihat keadaannya tapi aku tidak tahu dimana alamat rumahnya jadi aku tadi merasa sangat kesal sebab para dosen tidak mau memberitahuku sedikitpun" ungkapku mengatakan semuanya,
"Aishh.... Kenapa kau tidak bilang dari tadi, aku tahu dimana alamatnya itu cukup dekat kok" balas Audy yang membuat aku senang dan sedikit kaget tentunya.
"A...Apa kau tahu rumahnya, apa kau sungguh mengetahuinya? Kau tidak bercanda kan Audy?" Ucapku menyelidiki dia,
__ADS_1
"Iya, aku mengetahuinya, untuk apa juga aku berbohong padamu, sudah ayo naik aku akan antarkan kamu kesana" tambah Audy sambil melempar helm kepadaku.