
Malam semakin larut aku menunggu notifikasi dari ponselku berharap ibu atau ayah bisa segera mengirimkan uang, aku tidak bisa bertahan dan tenang ketika uangku hanya tinggal 200 ribu rupiah lagi, sampai akhirnya aku malah ketiduran karena menunggu notif yang tak kunjung datang.
Saat pagi menjelang dan aku bangun terburu buru memeriksa ponselku lagi berharap notif transfer sudah ada namun ternyata belum ada juga, saat itu aku sadar mungkin ayah dan ibu benar benar lupa untuk mengirim uangnya padaku, aku segera bersiap siap pergi ke sekolah dan kebetulan hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah pembelajaran pun tidak efektif dan wali kelas mengumumkan bahwa libur kenaikan kelas kali ini hanya dua minggu saja, para siswa bersorak kegirangan karena sudah menanti liburan panjang ini, hanya aku yang tertunduk lesu dan merasa malas.
Apa yang bisa aku harapkan dengan liburan panjang akhir tahun seperti ini, kedua orang tuaku malah tidak ada kabar, Audy juga sudah pindah, hidup hanya seorang diri liburanpun tidak ada uang, saat aku tengah menunduk lesu tiba tiba kak Bara datang bersama kak Vera dan kak Nandito, mereka berjalan menghampiriku.
Awalnya aku pikir mereka bertiga mau bicara padaku namun ternyata salah, mereka berbicara pada Alvaro yang duduk di sampingku.
"Alvaro lomba dilaksanakan lusa, dan akan dilaksanakan di aula SMA Negeri Nusa yang ada di kota xx, dan Talita ini kartu VIP yang aku janjikan, dengan ini kamu bisa masuk ke dalam lapangan bersama Vera dan Nandito juga guru basket kita" ucap kak Bara sambil memberikan secari kertas padaku.
Aku sangat senang dan langsung memancarkan wajah ceria seketika.
"Wahh... Benarkah?, Aku pasti akan datang" jawabku riang gembira.
Kak Bara dan yang lainnya langsung pergi dan Alvaro terus menatapku sinis seakan dia siap menerkam ku kapan saja.
"Hei.. Alvaro kau ini kenapa, apa kau tidak suka melihatku senang" ucapku sedikit risih dengan tatapannya,
"Aku peringatkan padamu jangan dekat dekat dengan Bara dia itu playboy kalau masih ngeyel mendekatinya kau akan nangis nanti!" Ucap Alvaro memperingati aku,
"Apa apaan kau mengatur urusanku, biarkan saja yang penting aku suka melihatnya ahh dia itu sempurna" ucapku sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Tiba tiba saja Alvaro menggebrak meja dengan keras lalu pergi dari kelas begitu saja, aku seketika terdiam dan kebingung namun aku tak mau memikirkannya terlalu dalam dan aku memilih untuk membaca komik romantis sebab hatiku sedang berbunga bunga sekarang.
"Ahh... Kak Nandito tau saja kemarin aku tidak bisa melihat permainan basket, lusa aku akan jadi yang paling depan dan tidak ada yang akan mengataiku pendek lagi" ucapku sambil terus mengembangkan senyum di wajah.
Setelah sekolah bubar aku berniat untuk mencari pekerjaan karena ayah dan ibu belum memberikanku uang bulanan, sepulang sekolah aku langsung pergi ke beberapa toko yang ada di sebrang sekolah di sana memang ada cafe kecil tempat tongkrongan anak anak dan ada juga toko kelontongan, aku datang ke sana tanpa mengganti seragam sekolah terlebih dahulu karena aku pikir jika aku pulang dan mengganti seragam dahulu pasti akan membutuhkan waktu yang lama dan mungkin tokonya akan keburu tutup.
Walau malu dan canggung aku terus berusaha memberanikan diriku pertama aku pergi ke toko kelontongan dan menanyakan apakah mereka memerlukan karyawan baru atau tidak dan jawaban mereka tidak, aku tidak putus semangat dan mencoba lagi ke beberapa toko di sampingnya tapi ternyata mencari pekerjaan tak semudah yang aku bayangkan terlebih usiaku yang masih dibawah umur, ke lima toko yang ada di sana sudah aku datangi dan semuanya mengatakan hal yang sama bahwa mereka tidak menerima pekerja paruh waktu.
Aku bingung dan memilih duduk beristirahat di tepi jalan terlebih dahulu.
"Harus bagaimana lagi agar aku bisa mendapatkan uang" ucapku menggerutu kebingungan.
"Talita, sedang apa kamu di sini?" Tanya kak Bara,
"Tidak apa apa aku hanya sedang mencari pekerjaan" jawabku jujur,
"Apa pekerjaan?, Untuk siapa?" Tanya kak Bara yang kaget,
"Tentu saja untukku memangnya untuk siapa lagi kak" jawabku dengan tegas,
"Tapi kan kamu masih kelas dua SMA Talita, dan bukankah setahuku ibumu sudah melunasi semua biaya sekolahmu, untuk apa lagi?" Ucap kak Bara mengerutkan kedua alisnya,
__ADS_1
"Aku sudah tidak menerima uang dari kedua orangtuaku, dan aku juga sulit menghubungi mereka jadi aku harus bekerja untuk memenuhi biaya hidupku sendiri" ucapku menjelaskan.
Sebenarnya aku malu membicarakan masalah pribadi ini pada kak Bara namun di saat aku sedih dan tak tau harus meminta bantuan siapa justru malah kak Bara yang datang jadi aku tak sengaja mengucapkan semua kesusahanku begitu saja.
Kak Bara mengulurkan tangannya dan dia membantuku berdiri lalu mengajakku untuk masuk ke dalam mobilnya, dia bilang dia akan membantuku mendapatkan pekerjaan, aku begitu senang dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Ternyata kak Bara membawaku ke sebuah cafe yang ada di perbatasan kota, cafe itu juga tempat yang pernah aku datangi bersama kak Bara sebelumnya, meski awalnya aku kebingungan mengapa kak Bara membawaku ke tempat itu tapi setelah dia mengenalkan ku pada meneger cafe aku mulai mengerti dia memang benar benar membantuku mendapatkan pekerjaan.
"Pak apa masih ada lowongan di cafe ini, teman saya sedang butuh pekerjaan" ucap kak Bara bertanya pada meneger cafe,
"Sebenarnya kalo di cafe tidak ada tapi kalau dia memang membutuhkan sekali dia bisa bekerja membantu koki di restoran sebrang jalan sana, paling tugasnya hanya mencuci piring dan membersihkan meja, karena dia masih sekolah dia juga bisa bekerja paruh waktu di sana" ucap meneger cafe memberi tau,
Kak Bara pun berterimakasih dan berpamitan lalu kami berdua segera pergi ke restoran yang disebutkan oleh meneger cafe sebelumnya dan saat ditanyakan ternyata benar di sana sedang membutuhkan asisten koki untuk membantunya menyusun bahan makanan dan mencuci piring, awalnya kak Bara menanyakan kesanggupanku dahulu.
"Talita bagaimana apa kamu mau?" Tanya kak Bara,
"Tentu saja pekerjaan apapun aku mau yang penting halal dan bisa paruh waktu" jawabku antusias,
Aku pun segera bekerja mulai di hari itu juga sedangkan kak Bara berpamitan pergi, aku sangat bersyukur dan senang bisa mendapatkan pekerjaan meski jaraknya lumayan jauh dari rumahku namun masih bisa terjangkau kendaraan umum, apalagi yang membantuku mendapatkan pekerjaan itu adalah seorang kak Bara, pria yang aku sukai dalam diam bagaimana aku tidak senang coba.
Aku bekerja dengan semangat dan berkenalan dengan koki di sana yang bernama Kevin di lihat dari wajahnya nampaknya dia tak terlalu tua mungkin hanya selisi beberapa tahun saja denganku, dia menyambutku dengan ramah dan mulai menjelaskan apa saja yang harus aku kerjakan dia juga mengajarkanku cara menata sayuran dan bahan bahan makanan lainnya yang nantinya akan dia masak, aku mengangguk patuh dan mulai mempelajari semuanya satu persatu.
__ADS_1