Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Ternyata Ibu Mengenalnya


__ADS_3

Setelah pulang dari kampus saat itu, aku sungguh tidak bisa merasa tenang dan aku langsung saja mencari tahu tentang pewaris tunggul dan anak paling berprestasi di universitas tersebut, hingga akhirnya wajah pria itu muncul di layar branda laptop ku, dan namanya terpampang begitu jelas di bawah fotonya.


"Fa..fa...Fasya.....aaaahhhh ternyata dia kak Fasya yang terkenal itu?, Huaaa...sial bagaimana aku tidak mengenalinya saat tadi bertabrakan dengannya, aku benar-benar buta hiks..hiks" gerutuku merasa diriku bodoh sekali.


Aku tidak bisa mengelak lagi dan apa yang dikatakan oleh Audy memang benar, aku sudah menggali kuburan untuk diriku sendiri dan mungkin sekarang aku hanya tinggal menunggu kapan dia akan menendang aku dari universitas yang dibiayai oleh keluarganya tersebut.


Padahal aku sangat ingin menuntut ilmu di universitas terbaik seperti itu di tambah hanya dengan gila belajar baru aku bisa mengesampingkan ingatanku tentang Alvaro, namun jika semuanya gagal apa aku masih bisa meneruskan kehidupanku yang hampa ini, aku sungguh terpuruk dan tertunduk dengan lesu tanpa bisa melakukan apapun lagi.


Aku hanya bisa menangis dan menyesali semuanya, bahkan saking kerasnya aku menangi, ibuku sampai mendengarnya dan dia datang menghampiriku saat itu juga.


"Astaga....Talita ada apa denganmu?" Tanya ibuku dengan serius.


Ibuku duduk tepat di sampingku dan dia mengelus lembut kepalaku untuk memberikan ketenangan, aku langsung memeluknya dan mengatakan mengenai hal yang baru saja menimpaku barusan.


"Huaaa....ini aku sudah mati, impianku akan terkubur dalam-dalam mulai sekarang hiks...hiks..." Ucapku yang menangis semakin kencang.


Tentu saja ibuku langsung menatap dengan heran dan dia segera mendorongku pelan kemudian mulai bertanya kepadaku sedikit demi sedikit.


"Talita...diam dan tenangkan dirimu dahulu, lalu coba jelaskan kepada ibu mengapa kamu sudah mati dengan mimpimu ada apa sebenarnya?" Tanya ibuku dengan lembut dan kedua alis yang dia naikkan bersamaan.


Aku mulai menarik nafasku panjang dan membuangnya perlahan, lalu aku mengeluanginya terus sampai beberapa kali hingga aku mulai terasa jauh lebih tenang dan nyaman, lalu aku pun mulai membicarakan semuanya kepada ibuku mengenai kejadian dimana aku membuat kesalahan kepada kak Fasya.


"Jadi begitu ibu, dan dia sekarang pasti sudah membenciku atau mungkin dia sudah menendangku dari universitas" ucapku dengan sendu,


"Ahaha...sayang apa hanya karena hal seperti itu kamu menangis hingga begini, haha kamu ini memang masih cengeng seperti biasanya belum berubah juga ternyata" ucap ibuku yang malah menanggapinya dengan sebuah tawa.


Tentu saja aku sangat kesal dan aku langsung duduk cemberut lalu sedikit menjauh dari ibuku aku juga langsung duduk menyamping dan tidak ingin melihat wajah ibuku karena dia malah menertawakan aku dengan puas, padahal aku bercerita kepadanya karena membutuhkan solusi darinya, aku sudah sangat ketakutan dan panik tidak karuan seperti ini namun ibuku malah menanggapinya dengan begitu santai, tentu saja itu semakin membuatku sangat kesal.

__ADS_1


"Iihhkk...ibu kau ini apa apaan sih, kenapa kau malah tertawa sudah jelas putrimu ini tengah berada diambang kehancuran, kenapa ibu malah tertawa seperti itu sih, menyebalkan" ucapku kesal kepada ibuku.


"Ayolah Talita ini hanya perkara kecil untuk ibu kau tidak perlu khawatir jika sampai dia berani menendangmu maka ibu akan bicara kepada ibunya agar memberi dia pelajaran yang paling berharga, bagaimana?" Ucap ibuku yang seakan akan dia mengenal keluarga kaya raya tersebut.


Aku langsung membalikkan badan kembali dan menghadap ke arah ibuku dengan tegak dan lurus.


"Ibu apa kau sedang bercanda atau membohongiku?, Tidak mungkin kau mengenal keluarga mereka kan?" Ucapku menyelidikinya,


"Tentu saja ibu mengenalnya bahkan sangat mengenalnya dengan baik, kenapa pula kamu mengatakan mustahil" balas ibuku dengan santai.


Aku masih belum bisa mempercayainya karena aku jelas lebih tahu orang seperti apa ibuku ini sebenarnya dia sering membuatku senang lebih dulu lalu mengecewakanku dan membuat aku kesal pada akhirnya, aku tidak ingin termakan lagi dengan ucapan manisnya karena dia juga sering membujukku dengan cara seperti itu sehingga agak sulit untuk aku mempercayai ucapannya kali ini.


"Ahaha...cukup ibu, kamu tidak bisa menipuku lagi seperti yang sudah-sudah, sekarang aku sudah besar dan sudah jauh lebih dewasa sebaiknya ibu jangan memakai trik seperti ini lagi kepadaku, itu hanya membuatku kecewa pada akhirnya" ucapku karena ku pikir ibuku hanya bersandar seperti biasa.


Tapi kali ini di saat aku tidak mempercayai ucapannya ibuku menarik tanganku dan dia mengusapnya dengan sangat lembut, lalu mulai berbicara lagi kepadaku menjelaskan maksud dari ucapan dia sebelumnya.


"Talita sayang dengarkan ibu baik-baik, ibu memang mengenal ibunya Fasya, dia itu sahabat ibu sejak lama bahkan jika kamu tidak percaya kamu bisa menanyakannya secara langsung kepada ayahmu, dia juga mengenal keluarga Fasya dari ibu, walaupun mereka selalu tinggal di luar negeri tapi sampai saat ini ibu masih berhubungan baik dengan mereka" ucap ibuku menjelaskan yang membuat aku seketika membelalakkan mata sangat kaget.


"Ibu tapi ini benarkan, kau mengenal mereka sehingga mungkin mereka tidak akan bisa melakukan apapun yang bisa menghancurkan mimpiku, iya kan?" Tanyaku lagi untuk memastikan,


"Iya Talita tentu saja, nih kamu lihat percakapan antara ibu dengan nyonya Airin dia itu ibu kandungnya Fasya mereka sangat dekat meski Fasya adalah pria yang lebih banyak menghabiskan waktunya di meja belajar" ucap ibuku sambil menunjukkan chat di ponselnya dengan nyonya Airin.


"Waahhh....benar, aaa ibu akhirnya aku bisa sedikit tenang karenamu terimakasih karena sudah lahir menjadi ibuku huhu aku terharu" ucapku sambil langsung memeluk ibuku dengan senang.


Setelah melihat bukti nyata seperti itu tentu saja aku menjadi langsung mempercayai ibuku dengan cepat, karena aku juga sudah tahu bahwa nyonya Airin memang ibu kandung dari kak Fasya si kutu buku tersebut, aku pikir setidaknya jika ibu mengenal ibunya kak Fasya pasti tidak akan mudah bagi seorang kak Fasya untuk menendangku dari universitas karena ibuku bisa mengadu kepada sahabatnya tersebut.


Dan seorang sahabat tidak akan mungkin membuat sahabatnya yang lain merasa terluka, dengan begitu aku memiliki tameng yang kuat kali ini.

__ADS_1


Aku pun akhirnya bisa tidur dan beristirahat dengan tenang hingga tidak lama sebuah notifikasi dari ponselku muncul dan ternyata saat aku periksa itu hanyalah notifikasi aku yang dimasukkan ke dalam sebuah ruang gruf chat mahasiswa baru di universitas Gunadarma.


Awalnya aku bersikap biasa saja saat pertama kali melihatnya hingga akhirnya aku tersadar akan sesuatu.


"Oh...hanya sebuah gruf mahasiswa baru" ucapku dengan santai dan kembali menaruh ponselku,


Selang beberapa saat aku ingat dan langsung terperanjat kembali duduk serta mengambil ponselku dengan cepat dan memeriksa kembali gruf mahasiswa baru tersebut.


"Apa?, Mahasiswa baru di universitas Gunadarma?, Jadi...a..a..aku diterima huaaa ini luar biasa horee" teriakku begitu gembira dan seketika berjingkrak kegirangan diatas ranjangku dengan berjoget ria.


Aku sangat senang dan sangat gembira, bahkan aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia ini, aku langsung menelpon Audy dan mengatakan kepadanya bahwa aku sudah masuk ke dalam gruf chat mahasiswa baru fakultas desain yang sudah aku dambakan sejak lama.


"Huaaa....Audy akhirnya aku sudah masuk aku benar-benar menjadi mahasiswa mulai besok haha...aku senang sekali" ucapku berteriak di telpon,


"Aishh....Talita kau pikir aku ini tuli yah?, Sombong sekali sih kau ini padahal hanya di terima di gruf chat saja haha" balas Audy yang malah mengecilkan nyaliku.


Aku semakin ragu apa dia benar-benar Audy sahabatku yang dulu atau bukan karena sekarang dia banyak berubah tidak seperti dulu lagi, dia sering membantuku dan mendukungku dalam segala hal dan bidang tapi sekarang dia malah lebih sering mengomeli dan menasehati aku seperti ibuku saja.


Tapi aku tidak perduli dengan ocehan Audy kali ini karena hatiku tengah senang dan berbunga-bunga sehingg aku akan memaafkan apapun yang Audy lakukan terhadapku dan aku mengesampingkan emosi di dalam diriku walaupun itu sangat mengganggu perasaanku.


"CK...kau ini bukannya memberikan semangat kepada sahabatmu malah berkata seperti ini" balasku sedikit kesal,


"Ahaha...iya iya Talita selamat, tapi aku juga sudah masuk ke gruf chatnya aku juga sangat senang ketika pertama kali mengetahuinya namun aku tidak segila kau yang langsung menghubungiku dan berteriak di telpon tiba-tiba seperti barusan" balas Audy yang aku tanggapi dengan senyum pelan.


Aku tahu mungkin aku terlalu berlebihan karena sangat senang mendapatkan notifikasi tersebut dan aku tidak perlu cemas lagi jika sudah benar-benar diterima sebagai salah satu mahasiswa di universitas Gunadarma yang aku banggakan dan aku cintai itu.


Aku pun segera menutup panggilan dari Audy karena aku sudah memberitahunya dengan sangat jelas dan aku segera kembali memeriksa gruf tersebut, namun saat aku membaca kembali nama gruf tersebut dengan perlahan dan dengan baik ternyata nama gruf itu bukan mahasiswa desain pakaian tetapi justru malah fakultas desain rumah dan perkakas, aku sangat kaget dan masih tidak percaya saat melihatnya.

__ADS_1


Sehingga berkali kali aku tutup buka ponselku dan aku baca berulang-ulang kali gruf tersebut namun namanya tetap sama.mahasiswa fakultas desain rumah bukan desainer pakaian.


"Aaarkhh....tidak...tidak...ini tidak mungkin, tidak mungkin tadi aku salah mendaftar dan memasukkan dataku kan?, Huaaa...bagaimana ini" ucapku merasa kebingungan dan panik sendiri.


__ADS_2