Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Di dalam mobil


__ADS_3

Nampak Alvaro seperti kecewa dengan keputusanku namun dia hanya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan lalu dia mengijinkanku untuk pulang hari itu juga.


"Huuh... baiklah jika keputusanmu itu sudah bulan aku juga tidak bisa memaksamu terus menerus, tapi ijinkan aku mengantarmu agar aku bisa memastikan kamu pulang dengan selamat" ucap Alvaro yang kubalas dengan anggukan.


Aku pun berniat segera melanjutkan jalanku keluar dari kamar itu namun Alvaro langsung menarik koper dari tanganku begitu saja.


"Sini biar aku yang membawanya, kau jalan saja dan perhatian jalanmu dengan baik" ucap Alvaro sambil mengangkat koperku dan dia berjalan lebih dulu.


Lagi lagi aku hanya bisa merasa heran dengan kedua alis yang dinaikkan keatas bersamaan lalu mengikuti dia dari belakang hingga kami sudah berada di luar rumah dan nampak Audy sudah berdiri di sana menungguku aku pun segera menghampirinya dan Audy berbisik kepadaku.


"Syutt....Talita bagaimana?, Apa dia mengijinkan kita pergi sekarang?" Tanya Audy berbisik pelan,


Aku segera mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari Audy dan dia tersenyum senang sambil sedikit berjingkrak kegirangan, kelakuan Audy yang tidak bisa menahan dirinya malah membuat Alvaro berbicara sinis kepadanya.


"Ckk...apa kalian harus se bahagia itu untuk pergi dari sini?, Benar benar" ucap Alvaro dengan sinis dan berdecak kesal.


Aku dan Audy pun seketika teridam dan aku melepaskan lengan Audy yang menggenggam lenganku lalu Argo mulai membawa mobil milik Alvaro ke depan halaman dan Alvaro segera membukakan aku pintu belakang mobil.


"Ayo masuk" ucap Alvaro mempersilahkan.


Aku tidak bisa menolaknya di saat dia sudah mempersilahkanku dengan sebaik itu dan aku pun segera masuk ke dalam mobil lebih dulu lalu di saat Audy juga ingin ikut masuk tiba tiba saja Alvaro menahan dia dan menyuruh Audy untuk duduk di depan bersampingan dengan Argo.


"Eh...mau kemana kau, duduk di depan" bentak Alvaro yang membuat Audy menghentakkan kakinya dengan kesal,


"Huh, dasar sok berkuasa nyatanya hanya baik pada Talita saja" gerutu Audy yang sengaja dia ucapkan cukup keras agar Alvaro bisa mendengarnya.


Audy pun segera masuk ke tempat duduk di bagian depan dengan wajah yang cemberut dan kesal sedangkan Alvaro duduk di sampingku, awalnya aku juga merasa sedikit heran kenapa malah Alvaro yang duduk di sampingku bukannya Audy padahal dia kan orang yang memiliki mobil ini kenapa juga dia malah duduk di sampingku.


Di tambah saat aku melihat wajah Audy yang cemberut semenjak masuk ke dalam mobil rasanya aku semakin keheranan dengan apa yang terjadi dengan mereka berdua sehingga aku mulai bertanya pada Audy di saat Argo sudah mulai melajukan mobil.


"Ehh, Audy kenapa denganmu?, Tidak biasanya kamu malah duduk di depan dan tidak bersamaku?, Apa yang salah?" Tanyaku beberapa kali,


"Tidak ada Talita aku hanya kebetulan ini duduk di depan saja supaya bisa melihat pemandangan sepanjang jalan dengan jelas" balas Audy sambil tersenyum kepadaku namun melemparkan tatapan sinis pada Alvaro.

__ADS_1


Lewat tatapannyang Audy berikan pada Alvaro aku sudah bisa mengerti bahwa semua itu pasti karena Alvaro dan aku juga tidak bisa melawannya jika sudah bersangkutan dengan Alvaro meskipun aku sangat kesal aku harus tetap bertahan, sampai aku dan Audy benar benar sampai di kota dan kita bisa terbebas dari orang orang menyebalkan ini.


Tidak menampik bahwa aku mengakui semua kebaikan Alvaro selama ini namun aku juga tahu bahwa dia selalu berkehendak sesuai keinginannya saja, dia tidak pernah mendengarkan masukkan dari siapapun dan memiliki karakter yang sangat keras, sehingga setiap keinginannya tidak bisa dibantah oleh siapapun apalagi oleh diriku yang hanya sebagai teman sekelasnya saja.


Selama perjalanan berlangsung aku hanya diam saja begitu pula dengan Audy yang sudah tertidur sejak beberapa saat yang lalu.


"Dasar Audy dia bilang ingin menikmati suasana dan pemandangan di perjalanan, nyatanya dia malah tertidur begitu saja" gerutuku sedikit kesal.


Aku merasa kesal bukan karena Audy yang tertidur namun aku sungguh merasa tidak nyaman di saat Alvaro harus duduk di sebelahku, aku juga ingin beristirahat dan sudah mengantuk namun bagaimana aku bisa tertidur jika di sampingku ada Alvaro itu sangat canggung untukku.


Aku sudah menguap beberapa kali dan sesekali menutup mataku karena aku tidak tahan menahan kantuk sampai akhirnya aku benar benar tidak sadar karena terlalu lelah dan mengantuk, perjalanan dari villa ke kota cukup jauh sehingga wajar saja jika aku mengantuk selama di perjalanan bukan.


Di sisi lain Alvaro yang melihat aku hampir tersungkur ke depan, dia dengan sigap menahan kepalaku dan menyandarkannya ke bahu bidang miliknya, aku yang saat itu terlalu mengantuk tidak sadar bahwa sandaran yang aku pakai adalah bahu Alvaro sendiri, orang yang selalu membuatku kesal dan marah dalam setiap waktu namun dia juga yang selalu menolongku.


Entah kenapa saat bersandar di bahunya aku sama sekali tidak merasa dan tidak sadar sedikitpun bahwa itu adalah bahu Alvaro karena rasanya sangat nyaman dan hangat aku belum pernah merasakan kenyamanan seperti ini setelah ayah dan ibu memilih untuk berpisah dan aku tinggal seorang diri di desa.


Karena merasakan sangat nyaman tentu saja aku malah semakin nyenyak dalam tidurku sampai tak lama kami memasuki jalanan yang tidak mulus lagi sehingga mobil mulai bergoyang sedikit demi sedikit, itu bukan karena Argo yang menyetir dengan tidak hati hati, namun memang jalanan di sana sudah banyak yang rusak sehingga membuat mobil sedikit berguncang.


"Ahhh... Alvaro maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu aku hanya..." Ucapku tertahan karena dia memotong ucapanku,


"Diam, kau berisik sekali aku lebih suka jika kau tertidur saja" ucap Alvaro dengan wajah yang menghadap ke depan dengan lurus.


Aku pun langsung terdiam karena dia sudah mengeluarkan peringatan itu padaku, suanasa semakin canggung dan aku sangat tidak nyaman saat itu.


Suasana seakan berubah menjadi sangat mencekam tidak ada pembicaraan diantara kami dan Audy bahkan masih bisa bisanya tertidur lelap di depan tanpa merasa terganggu sedikitpun, aku pun hanya bisa membuang nafas dengan lesu lalu kembali memalingkan pandangan ke arah jendela mobil di samping Alvaro.


Saat aku melihatnya aku tidak sengaja melihat betapa indahnya pemandangan pantai di bawah sana karena saat itu kami tengah melaju menuruni pegunungan, hamparan kebun teh di sepanjang jalan juga tidak kalah bagusnya namun pemandangan pantai dan rumah rumah penduduk di bawah sana sungguh luar biasa seakan aku terhipnotis dengan keindahannya.


"Wahhh....apa itu, aaahhh indah sekali...aku ingin sekali ke sana itu indahkan..." Ucapku yang refleks mendekat ke arah jendela itu untuk melihat pemandangan lebih jelas.


Tanpa aku sadari aku berada sangat dekat dengan Alvaro dan anehnya Alvaro juga tidak mengatakan apapun dia hanya diam saja di saat aku mendesak tubuhnya ke samping secara refleks dan tidak sadar karena terpukau dengan pemandangan di sampingnya.


Karena Alvaro tidak juga menanggapi ucapanku aku pun memalingkan pandangan ke arahnya sambil kembali mengatakan betapa indahnya pemandangan di luar namun saat itu aku baru sadar bahwa badanku terlalu dekat dengan Alvaro bahkan sepertinya jarak antara wajahku dengan wajahnya hanya beberapa cm saja.

__ADS_1


"Alvaro itu indah....kan" ucapku dengan mata terbelalak karena baru sadar aku terlalu dekat dengannya.


Aku pun langsung kembali ke posisi duduk ku yang awal, dan merasa sangat canggung dengan Alvaro yang masih terdiam di tempatnya.


"Astaga...kenapa dia bodoh sekali, bisa bisanya dia berada sangat dekat denganku seperti itu" gumam Alvaro di dalam hatinya.


Walaupun sangat canggung tapi aku masih merasa penasaran dengan pemandangan di samping Alvaro dan aku sangat ingin melihatnya dengan jelas, aku pun terus berusaha melihat ke arah sana dengan posisiku yang semula, namun tetap saja sulit untuk aku bisa melihatnya karena terhalang tubuh Alvaro yang tinggi dan cukup besar.


Aku terus clingukan berusaha mencari posisi terbaik untuk bisa melihat pemandangan indah di luar sana namun tetap saja tidak bisa sampai akhirnya Alvaro menawarkan diri untuk membantuku melihat pemandangan itu.


"Talita kau ingin melihatnya bukan, lihatlah sepuasnya aku akan bersandar agar kau bisa melihatnya dengan jelas" ucap Alvaro sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang,


Aku tidak memperdulikan kecanggungan sebelumnya antara aku dengan Alvaro karena aku terlalu senang saat itu dan aku langsung saja bergeser sedikit lebih dekat dengan posisi Alvaro dan menyondongkan tubuhku ke dekat jendela untuk melihat pemandangan indah itu sekaligus menikmati angin yang masuk di sela sela jendela.


"Wahhh....benar benar indah, aaaahhh rasanya aku sangat bahagia dan tenang ketika melihat semua pemandangan indah itu" ucapku yang terus merasa terpukau,


Di sisi lain Alvaro justru berusaha keras menahan perasaannya yang gugup dan jantungnya yang terus berdetak kencang karena Talita berada sangat dekat dengannya saat itu.


"Alvaro bisakah kau turunkan lagi kacanya aku ingin melihatnya secara langsung" ucapku meminta bantuan Alvaro,


Tapi Alvaro justru hanya terdiam menatapku dengan lekat, aku heran kenapa dia menatapku selekat itu, dan aku kembali bertanya kepadanya untuk memastikan keadaannya karena wajahnya nampak memerah dan sedikit pucat.


"Al....Alvaro, apa kamu baik baik saja?" Tanyaku kepadanya lagi,


"A..ahh...aku ....aku baik baik saja, kau mau aku menurunkan kacanya kan, aku akan menurunkannya tolong menjauh sedikit dariku badanmu terlalu menekan ku" ucap Alvaro dengan gugup.


Aku tidak mengerti dengan dia dan aku menuruti keinginannya aku pun sedikit menjauh darinya dan dia sudah menurunkan kaca jendela mobilnya, aku sangat senang dan tidak bisa mengontrol diriku lagi.


Pemandangannya terlalu indah untuk diabaikan sehingga aku tidak memperhatikan jarak antara aku dan Alvaro lagi pula aku pikir kini dia tidak keberatan sebab dia sendiri yang sudah mengijinkanku, namun rupanya dugaanku salah sebab terlihat Alvaro sedikit tidak nyaman dan aku memutuskan untuk berhenti melihat ke luar jendela karena itu sudah cukup sekarang.


"Ahhh ...itu sudah cukup aku sudah puas melihatnya sekarang, pemandangan tadi itu sangat indah, kapan yah aku bisa pergi ke tempat seindah itu" ucapku bicara sendiri sambil membayangkan,


"Untunglah dia berhenti melihat pemandangan sialan itu, kalau tidak aku tidak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan padanya, aishhh dia benar benar terlalu mengg*da untukku" gumam Alvaro lagi.

__ADS_1


__ADS_2