Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Perjanjian


__ADS_3

Aku hanya bisa terdiam dan menunduk malu dihadapan kak Bara, sungguh tak sanggup untuk sekedar melihat wajahnya, aku terlalu memalukan.


"Kenapa kau menunduk begitu, sudahlah lagipula aku baik baik saja dan tidak ada siapapun lagi selain kita di sini" ucap kak Bara membuatku sedikit tenang,


"ka..kalau begitu aku pergi dulu" ucapku sambil bergegas hendak melangkah.


Sialnya tanganku ditahan oleh kak Bara dan dia menarikku sampai aku tidak bisa pergi dari sana.


"Ada apa lagi kak, aku harus segera pergi?" ucapku bertanya kesal,


"kau mau pergi kemana bukankah jam pelajaran akan segera di mulai dan kemana kau kemarin, aku menunggumu sepulang sekolah tapi kau tidak masuk kelas" ucap kak Bara menyelidik.


Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaan kak Bara, aku juga tidak mungkin menjawab jujur bisa bisa pria aneh itu akan dalam bahaya lagi pula aku juga tidak mengetahui namanya dan semua kejadian yang menimpaku juga karena ulah kak Bara dan teman temannya, aku termenung sejenak memikirkan alasan apa yang harus aku buat untuk menjawab pertanyaan kak Bara.


Sampai akhirnya kak Bara membangunkan lamunanku,


"hei, apa yang tengah kamu pikirkan, apa pertanyaanku tadi tidak bisa kau jawab dengan cepat?" ucap kak Bara mendesak,


"ahhh....tidak kak bukan begitu aku kemarin....itu aku sakit kepala aku tiba tiba pusing jadi aku ijin pulang ke rumah" ucapku memberikan alasan yang melintas begitu saja di otak ini.


Awalnya aku lihat kak Bara seperti tidak mempercayai ucapanku dia menatapku tajam dan menaikkan sebelah alisnya, aku juga sungguh takut ketahuan kalau sebenarnya aku berbohong tapi mau bagaimana lagi, lagi pun berbohong demi kebaikan tidak papa kan.

__ADS_1


Untunglah akhirnya kak Bara mempercayai ucapanku aku merasa sangat lega.


"Oh, begitu lalu kenapa kau memanjat dinding ini tadi?, jangan bilang kau mau membolos dari sekolah" ucap kak Bara menduga duga,


"tidak tidak, aku hanya....itu....aku mau pulang sebentar aku juga pasti kembali ke sekolah kok" ucapku berusaha meyakinkan kak Bara.


Namun kak Bara hanya tersenyum melihatku dan dia tidak mempercayaiku kali ini.


"Kalau kau mau pulang sebentar kenapa tidak lewat jalan depan, memanjat dinding setinggi ini di pagi hari, bukankah itu aneh?" jawab kak Bara membuatku tak bisa berkutik.


Akhirnya tidak ada cara lain lagi aku harus kembali berbohong dan mencari alasan agar selamat dari pertanyaan yang terus diajukan kak Bara, semuanya hanya membuatku pusing dan menghambat waktu.


"Oke aku jujur sekarang, sebenarnya ......aku terkunci di kamar mandi kemarin, dan aku baru bisa keluar dari sana tadi pagi, makanya aku harus pulang untuk membersihkan badan juga mengganti pakaian, dan kakak tanya kenapa tidak lewat pintu depan, aku malu karena mereka semua masuk ke sekolah sedangkan aku keluar seorang diri, mereka juga akan bertanya kenapa aku baru keluar dari sekolah sepagi ini sementara orang lain baru masuk, makanya aku memilih jalan belakang tapi malah dikunci jadi aku memanjat dinding ini tapi....." ucapku tak meneruskan semuanya lagi aku terlalu kesal dan merasa kak Bara terlalu ikut campur dengan semua urusanku.


"Nahhh...begitu kenapa kau tidak jujur dari awal sejak aku menanyakannya padamu?" ucap kak Bara yang membuatku semakin kesal, dia terus saja mengajukan banyak pertanyaan yang membuatku kesal dan kesulitan,


"Kak sampai kapan kau akan bertanya terus aku harus segera pulang, aku lapar, ingin mandi dan lelah aku terkunci semalaman kak, di sana dingin dan gelap apa kau akan terus menahanku di sini?" ucapku kesal dan aku memang sungguh sudah tidak kuat kakiku sudah bergetar rasanya aku tak mampu berdiri tegak lagi ditambah bekas keselo di pergelangan kaki yang masih terlihat memar walaupun sudah tidak membengkak lagi.


Setelah aku bicara seperti itu akhirnya kak Bara mau membebaskanku dan dia juga membantuku untuk keluar dari sekolah namun dengan syarat yang dia ajukan.


"Iya..aku tidak akan bertanya apapun lagi dan aku juga bisa membantumu keluar lebih cepat" ucap kak Bara,

__ADS_1


"bagaimana caranya?" tanyaku penasaran,


"mudah saja, aku ini ketua OSIS tentu aku punya semua kunci gerbang dan pintu di sekolah ini, aku juga bisa dengan mudah mendapatkan ijin dari guru, tapi tentu ada syaratnya jika kau mau aku membantumu" ucap kak Bara yang membuatku bimbang.


Sejujurnya aku tidak mau menerima bantuan dari kak Bara apalagi dengan syarat yang bisa saja itu akan merugikanku ditambah setelah melihat bagaimana kelakuannya di atap kemarin aku semakin tidak menyukainya meskipun dia tampan, tapi saat ini tidak ada cara lain aku harus segera keluar dari sana kalau berlama lama di situ dan semakin banyak siswa berdatangan bisa bisa aku akan malu diperlihatkan banyak orang karena datang ke sekolah dengan penampilan berantakan parah, mau tidak mau aku harus menyetujuinya meski belum tau syarat apa yang akan dia berikan padaku.


"Jika kak Bara bisa membantuku aku akan menyetujui syaratnya" jawabku menyetujui.


Nampak senyum merekah terpampang jelas di wajah kak Bara, aku sudah berpikir pasti ada yang dia rencanakan entah untuk memanfaatkan ku atau hal lainnya aku sungguh tidak tau melihat senyuman dia justru malah membuatku takut dan merinding, aku takut dia akan melakukan hal buruk padaku.


"Kau tidak mau bertanya dulu apa syarat yang akan aku berikan padamu?" ucap kak Bara sambil berjalan perlahan mendekat ke arahku.


"Ti...tidak...memangnya syaratnya apa?" tanyaku karena penasaran sambil berjalan mundur perlahan selangkah demi selangkah.


"Syaratnya kau harus mau jalan denganku di akhir pekan bagaimana?, aku tidak pernah menerima penolakan dari siapapun sebelumnya" ucap kak Bara yang seakan mengancamku agar aku tidak menolak syarat dan keinginan darinya.


Aku menelan salivaku dan merasa sangat takut tapi aku berusaha tetap tenang dan mulai menjawabnya.


"Oke ..hanya jalan saja kan?" jawabku menyetujui.


"Tidak papa Talita lagi pula itu hanya jalan biasa di akhir pekan, tidak akan bahaya" gumamku berusaha meyakinkan diri sendiri agar tidak merasa cemas berlebihan,

__ADS_1


"Bagus...ingat kau tidak bisa menarik kembali sesuatu yang sudah kau putuskan sendiri" ucap kak Bara memperingati.


Dia pun menarik lenganku dan membawaku ke gerbang belakang, dia juga mengantarku pulang meski awalnya aku terus menolak tawarannya tapi dia terus memaksa aku jadi merasa tidak enak jadi terpaksa aku menyetujui, di dalam mobil aku sungguh canggung dan bingung aku juga baru tau kalau kak Bara ternyata memiliki mobil mewah berwarna biru tua yang terparkir di depan sekolah, pantas saja selama ini banyak siswi yang tergila gila padanya.


__ADS_2