Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Basket


__ADS_3

Talita yang sudah puas merutuki Haiden Alvaro akhirnya malah dia sendiri yang tertidur lelap sedangkan Alvaro mulai terbangun karena mengira Talita sudah pergi namun saat dia membuka mata, ternyata Talita masih berada di sampingnya dengan wajah berhadapan dan mata yang tertutup.


"Dasar gadis idiot malah dia yang tertidur lelap" ucap Alvaro dengan wajah yang tersipu.


Alvaro bangkit dari kursi dan dia pergi meninggalkan kelas, banyak siswa berkerumun mendekati Talita karena mereka sudah memperhatikan kedekatan Talita dengan Alvaro sejak awal Alvaro masuk ke  kelas tersebut, dan setelah Alvaro jauh dari kelas mereka langsung membangunkan Talita cukup kasar dan berkerumun.


"Talita.... Talita bangun....hei bagaimana bisa kau sedekat itu dengan Haiden?" tanya salah satu siswi sambil berdesakan dengan yang lainnya.


Talita yang baru bangun dia kaget bukan main saat melihat mejanya sudah di kerumuni para siswa dengan berdesakkan dan mereka mengajukan banyak pertanyaan yang tidak masuk akal baginya.


"Hah?....apa apaan sih kalian ini, aku tidak sedekat itu dengan dia, yang ada dia itu musuh bubuyutanku, paham!!!" ucap Talita sambil memukul meja dengan keras menggunakan tangannya.


Sontak para siswa yang tadinya sibuk mengoceh dan berdesakan kini membubarkan diri sambil merutuki Talita dengan kesal, Talita langsung bergegas pergi dari kelas dan berlari menuju kelas Audy, dia sudah tidak sanggup lagi kalau harus diam di kelas dengan teror dari siswi di sana yang begitu menyeramkan.


"Hah...hah...hah.... Audy tolong aku..." ucap Talita sambil duduk di samping Audy dengan nafas yang terengah engah.


"Heh...heh...kamu kenapa sih, coba bicara pelan pelan" jawab Audy sambil memberikan minum pada Talita.


Talita meminumnya dengan cepat dan langsung membicarakan kejadian yang baru saja menimpa dirinya, Audy hanya menutup mulut dengan kedua tangan dan berusaha menahan tawa saat mendengarkan cerita dari Talita.

__ADS_1


"Eishhhh....kamu ini kalau mau tertawa tertawa saja, menyebalkan" ucapku sedikit kesal melihat Audy yang malah menahan tawa mendengarkan ceritaku,


Audy pun tertawa terbahak bahak begitu keras sambil menepuk nepuk pundak Talita berkali kali.


"Sudah berhenti aku tidak mengijinkanmu untuk tertawa lagi!!" ucapku menghentikan tawa Audy yang renyah itu,


"Iya...iya....maafkan aku yah Talita yang cantik, habisnya kamu ini ada ada saja gugup dengan kak Bara malah menabrak singa hhaaaaa" ucap Audy yang dibarengi dengan tawanya lagi,


"Aku juga merasa hari ini banyak kesialan yang menimpaku, hah.....aku lelah sekali" ucapku sambil menyandarkan tubuh ke kursi.


Baru juga aku bisa bersantai sesaat, beberapa siswa laki laki berteriak memanggil namaku dan memintaku menemui kak Bara di ruang pengurus OSIS, aku pun terpaksa harus bergegas dengan lesu dan rasa malas yang membelenggu, sesampainya di sana aku baru sadar bahwa aku ada janji dengan kak Bara untuk menemaninya mendaftarkan lomba basket sekolah kita untuk akhir tahun, tapi saat aku masuk ke ruang pengurus OSIS di sana banyak sekali orang bahkan aku juga melihat anak anak regu basket yang berkumpul di sana ada juga kak Nandito dan kak Vera, mereka selalu saja menatapku tajam tiap kali berpapasan, aku merasa berada dalam ancaman yang mematikan di kelilingi para pengurus OSIS dan anak basket yang begitu menyeramkan, mau berjalan mendekat pada kak Bara saja aku tidak berani, akhirnya aku hanya bisa berdiri bingung di depan pintu sampai akhirnya kak Bara yang mengampiriku dan membawaku masuk ke dalam.


"Apa sebenarnya yang mereka inginkan dariku" gumamku penuh kebingungan,


Tak lama kak Bara mulai menjelaskan ada beberapa masalah dan kendala di gruf basket sekolah di mana gruf sekolah kami kekurangan dua anggota lagi karena satu anggota regu sudah pindah kota dan tidak bisa ikut serta untuk perlombaan ini, sedangkan yang satunya lagi mengalami kecelakaan dan dia masih dalam masa penyembuhan, kak Bara mengatakan bahwa dia bisa menggantikan salah satunya namun tetap masih butuh satu orang lagi agar tim menjadi lengkap dan seimbang dalam pertandingan nanti, dan sayangnya tidak ada yang mau mengikutinya sekalipun ada yang mau, mereka tidak memenuhi standar bagi pemain basket yang siap untuk ikut lomba, bodohnya aku di saat pembahasaan sangat serius aku malah memberikan saran yang membuat diriku sendiri dalam bahaya.


"Kalau begitu kenapa tidak kak Nandito saja yang jadi penggantinya" ucapku keceplosan.


Saat aku melihat ke arah mereka, matanya begitu tajam dan menatapku bersamaan aku seperti tengah mendapatkan serangan tatapan maut.

__ADS_1


"Hah??, kenapa menatapku begitu, memangnya kak Nandito tidak bisa bermain basket?" ucapku lagi yang begitu konyol,


Saat itu, karena aku pikir kak Nandito pasti bisa bermain basket dilihat dari badannya yang kekar dan sispek sudah pasti dia bisa menjadi kandidat yang cocok namun ternyata dugaanku salah aku sudah membuat kuburan untuk diriku sendiri benar benar sial.


Kak Bara memberitahuku dengan membisikan bahwa kak Nandito tidak bisa bermain basket bahkan tidak pernah memegang bola basket selama hidupnya.


"Dia tidak bisa bermain basket, bahkan tidak akan pernah memegang bolanya" bisik kak Bara yang membuatku mati kutu.


"Ehehehe...maaf...maaf...aku tidak tau, jangan menatapku begitu itu menakutkan" ucapku berusaha mencairkan suasana dan meminta maaf dengan canggung pada kak Nandito juga dihadapan semua orang.


Ini benar benar kesialan sepanjang hari, karena hal itu kak Nandito terus saja menatapku tajam terus menerus hingga kak Bara mengatakan meminta bantuan padaku, dan semua orang yang ada di sana juga menggantungkan semua itu padaku, aku merasa seperti dijadikan tumbal oleh mereka.


"Kita punya satu kandidat yang kemungkinan besar dia bisa membawa kita menjadi juara tahun ini" ucap salah satu anggota basket,


"Aku tau kandidat yang kau maksud dan masalahnya siapa yang mau membujuknya agar dia mau mengikuti perlombaan itu?" tanya kak Bara sambil menatap mereka semua satu persatu.


"Bara bukankah gadis disampingmu sangat dekat dengan pria itu, kenapa tidak dia saja yang membujuknya aku yakin Haiden pasti mau mengikutinya" ucap kak Nandito yang membuatku bingung.


Aku sungguh tidak mengerti ke mana maksud dari pembicaraan yang mereka bahas, dan mengapa ada nama Alvaro di dalamnya, untuk apa juga kak Nandito mengaitkannya denganku apa hubungannya aku dengan lomba basket ini, bahkan aku sendiri tidak bisa bermain basket dan tidak mengerti dengan apapun yang berhubungan dengan OSIS, kenapa harus aku yang berada di tengah tengah mereka dan mendapatkan kesulitan ini.

__ADS_1


__ADS_2