
Alvaro merasa tenang dan dia baru bisa bersikap santai lagi setelah aku sudah kembali duduk di posisi awalku, sementara aku sungguh sudah cukup puas melihat pemandangan yang sangat indah dan sedari tadi aku sangat terpukau dengan semuanya sampai tak lama Alvaro tiba tiba saja menawarkan kepadaku untuk pergi ke pantai yang baru saja aku lihat.
"Talita apa kau sangat menyukai pantai tadi?" Tanya Alvaro padaku.
Tentu saja aku langsung menjawabnya dengan tersenyum cerah karena pantai itu benar benar terlihat sangat indah dengan ombaknya yang tidak terlalu tinggi dan airnya yang biru nan jernih.
"Tentu saja aku sangat menyukainya, suanasa di sana nampaknya masih sangat asri dan ombaknya pasti akan terlihat cantik bila dari dekat" ungkapku membicarakannya,
"Kamu mau ke tempat itu?" Tanya Alvaro lagi,
"Ingin sih, tapi liburan juga sudah hampir selesai dan aku juga tidak mungkin pergi ke sana seorang diri Audy juga tidak akan mau ikut denganku lagi setelah kejadian sebelumnya, lihat saja dia begitu lelah sampai tidak bangun juga sedari tadi" balasku sambil menunjuk ke arah Audy yang tertidur dengan lelap di kursi depan.
"Aku bisa membawamu ke sana" kata Alvaro tiba tiba saja yang membuatku sangat kaget dan membelalakkan mataku seakan tidak percaya dengan semua itu.
Aku menatap Alvaro dan menaikkan kedua alisku untuk memastikan apa dia sungguh menawarkan itu padaku atau hanya menggodaku saja.
"Kau ..kau sungguh mau menemaniku ke sana?, Benarkah?" Kataku balik bertanya untuk memastikan,
"Ya" balas Alvaro dengan singkat padat dan sangat jelas,
Aku pun langsung membelalakkan mataku dan menutup mulutku yang tadi refleks terbuka dengan lebar, rasanya aku sangat tidak menyangka jika seorang Alvaro yang selalu bertengkar denganku sebelumnya kini dia justru mau mewujudkan keinginanku tentu saja aku sangat kaget.
Aku pun langsung tertawa dengan keras karena aku rasa itu hanyalah gurauan darinya sebab aku belum bisa mempercayai perkataannya,
__ADS_1
"Ahahaha.... Alvaro jangan bercanda padaku haha kau sangat lucu sekali mana mungkin kau mau mengajakku ke sana haha jangan memberi harapan begitu padaku" ucapku sambil terus tertawa karena aku pikir dia hanya bergurau saja,
Ku kira saat itu Alvaro hanya bercanda dan hanya menjawab ucapanku seenaknya saja namun setelah aku sudah tertawa cukup lama sampai puas wajahnya justru tetap saja datar tanpa ekspresi sedikitpun sehingga aku menatapnya dengan serius dan mulai berpikir dia mungkin benar benar mengatakan yang sebenarnya bukan candaan seperti yang aku pikirkan.
Alvaro hanya dia menatapku dengan lekat tanpa ekspresi dengan kedua lengan yang dia lipatkan di dada dan kakinya yang di silangkan, dia duduk dengan tegak sehingga membuatku keheranan dan mulai bergeser sedikit mendekatinya lalu kembali bertanya untuk memastikan.
Meskipun saat itu aku sedikit takut karena wajahnya yang terlihat lebih dingin dari biasanya dan seakan suasana di dalam mobil langsung berubah drastis dan begitu mencekam tapi aku masih harus tetap menanyakannya kepada Alvaro karena aku sangat penasaran.
"Alvaro ...kenapa wajahmu hanya datar saja, jangan bilang kau sungguh akan mewujudkan keinginanku itu" ucapku sambil menaikkan kedua alisku dan menatap wajah Alvaro dengan lekat dan lebih dekat.
Beberapa saat Alvaro tidak menjawab ucapanku dan dia tidak bergerak sedikitpun hingga tiba tiba saja dia menyondongkan tubuhnya ke arahku sangat dekat sehingga aku cukup kaget dan terperangah lalu refleks menjauhkan badanku ke belakang agar sedikit menjauh darinya.
Bukannya menjaga jarak dariku Alvaro justru semakin mendesakku hingga aku terpentok ke pintu mobil dan dengan gugup aku menyuruhnya agar berhenti mendesakku seperti itu lagi.
"Alvaro cukup...cukup, berhentilah mendesakku apa apaan sih kau ini!" Bentakku sambil menahan tubuh Alvaro agar tidak semakin dekat denganku,
"Aku sudah bilang padamu bahwa aku akan membawaku ke pantai tadi, kenapa kau tidak mempercayaiku juga?" Ucap Alvaro dengan tegas dan suara yang cukup membekas di telingaku.
Setelah berbicara seperti itu dia pun segera menjauh dariku tepat ketika aku membuka mataku kembali, dia duduk di tempat semula dengan wajahnya yang menghadap ke depan dengan lurus sedangkan aku juga memperbaiki posisi dudukku meski dengan perasaan yang tak karuan dan pipiku mulai merah merona karena rasa malu.
"Aishh ...bodoh sekali aku kenapa tadi aku malah menutup mata, memalukan. Pasti tadi dia tengah mempermainkan aku, ahhhh Talita kau ini kenapa sih" gumamku merasa malu sendiri,
Alvaro hanya tersenyum sedikit dan menaikkan kedua ujung bibirnya sesaat ketika dia memperhatikan wajah Talita secara diam diam lewat kaca depan mobil tersebut, melihat kedua pipi Talita yang merona seperti itu, rasanya Alvaro sudah tidak tahan untuk tersenyum dan menggodanya lagi karena reaksinya itu sangat menggemaskan.
__ADS_1
Namun di sisi lain Alvaro tidak bisa menahan nafsu dalam dirinya sendiri jika sampai dia terus menatap wajah menggemaskan Talita, terlebih di dalam mobil juga masih ada Argo yang tak lain adalah anak buah sekaligus temannya itu, akan sangat memalukan jika dia ketahuan menyukai Talita secara terang terangan seperti itu.
Alhasil Alvaro pun berusaha menahan dirinya juga dan dia menghentikan perlakuannya yang membuat Aku hampir merasa terbakar karena rasa malu yang tak kuat aku tahan.
Aku mulai memegangi kedua pipiku sendiri dan aku mulai sadar bahwa aku pasti tengah tersipu saat itu.
"Ahhh pasti pipiku merah sekarang karena kejadian tadi, haduhh bagaimana caraku menutupinya" gerutuku pelan dengan kebingungan.
Aku pikir saat itu hanya diriku sendiri yang mendengar gerutuanku itu karena aku sudah berpikir bahwa apa yang aku ucapkan barusan sudah sangat pelan, sehingga aku bisa memastikan diriku sendiri bahwa gerutuan itu hanya diriku sendirilah yang bisa mendengarkannya.
Namun nyatanya dugaanku salah tak lama setelah aku menggerutu Alvaro langsung saja menyambar masuk ke dalam ucapan gerutuanku tersebut tanpa aku duga duga.
"Kau tidak perlu menutupinya itu cukup bagus" ucap Alvaro yang masuk ke dalam pembicaraan gerutuanku sendiri.
Aku refleks langsung membalikkan badan dan kepala ke arahnya dan menatap dia dengan penuh keheranan.
"Ehh?, Apa dia barusan mendengar gerutuanku?" Gumamku dalam hati keheranan.
Saat itu aku kebingungan sendiri dan selalu dikagetkan dengan perlakuan Alvaro yang terlihat sedikit berbeda kepadaku selama belakang ini, aku juga terkadang merasa Alvaro seperti orang yang berbeda dan dia nampak lebih ramah denganku saat ini, meski dia masih marah denganku sekarang.
Tapi walau dia tengah kesal dan marah denganku dia masih bisa merespon gerutuanku sebelumnya sehingga aku pikir Alvaro tidak benar benar membenciku saat ini, dan aku sedikit senang mengetahuinya.
Setelah kejadian itu aku pun langsung berhenti menggerutu bahkan aku tidak berani lagi menggerutu sekecil apapun suara yang aku keluarkan ketika berada di hadapannya, aku tahu anak orang kaya seperti dia pasti sudah di atur segalanya oleh kedua orang tuanya sendiri sehingga aku tidak berani lagi bersikap tidak sopan seperti itu ketika di dekatnya.
__ADS_1
Meski orang orang di kampus menyebarkan rumor bahwa Alvaro adalah seorang ketua gangster namun di lihat dari semua barang yang dia kenakan dan sikapnya ketika berbicara dan bagaimana dia berada di sampingku beberapa waktu ini, aku semakin yakin bahwa dia adalah anak orang kaya.
Dan sepertinya dia menyembunyikan identitasnya tersebut, meski aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya alasan dia melakukan hal tersebut.