Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Tekad


__ADS_3

Saat taxi sudah melaju meninggalkanku, aku baru sadar di sana tidak ada siapapun dan jalanannya juga cukup sepi hanya ada sebuah bangku panjang untuk tempat menunggu bus, aku duduk di sana seorang diri dan menatap ke sana kemari berharap bus jurusan ke desaku segera tiba, jarak dari tempatku saat ini ke rumah ibu dan ayah cukup dekat, aku bahkan sempat berpikir untuk berkunjung terlebih dahulu, Karena sudah lama juga aku tidak menemui mereka dan mereka juga sulit di hubungi lewat ponsel, saat hendak pergi dari sana seseorang memanggil namaku.


"Heii.....gadis idiot" ucap seseorang pria yang ternyata Alvaro,


Aku menoleh ke belakang dengan kesal dan saat tau itu Alvaro aku semakin kesal dan malas untuk menanggapinya, aku melanjutkan jalanku dan mengabaikan Alvaro.


"Dasar gadis idiot apa sekarang kau bertambah tuli" ucapnya lagi sambil berjalan mengikutiku dari belakang.


"Berhenti!!, jangan mengikutiku, kenapa kau ada di sini harusnya kau di dalam taxi tadi" ucapku kesal dan merasa heran dengan keberadaan Alvaro,


"Aku pria sejati tidak mungkin meninggalkan gadis idiot sepertimu sendirian di jalanan kota yang bahaya begini" jawabnya memuji diri sendiri,


"Hah?, yang ada kau itu pria paling menyebalkan sejagat raya tau tidak!!" jawabku kesal dan berusaha menjauh darinya.


Secepat apapun aku berjalan dia terus saja mengikutiku bahkan saat aku naik bus dia juga ikut menaiki bus dan duduk di sampingku, aku sangat kesal dan bingung bagaimana caranya menjauh dari pria menyebalkan sepertinya, sampai aku tiba di kediaman kedua orang tuaku aku segera menekan bel rumah berharap ibu dan ayah tengah berada di rumah ini, karena aku sangat merindukan mereka.

__ADS_1


Berkali kali aku menekan bel tapi tidak ada sautan atau jawaban apapun, pintu rumah tertutup rapat dan nampak sepi, aku mulai berkecil hati dan mencoba menghubungi ibu saat itu juga, sayangnya ibu juga tidak menjawab panggilan telpon ku, alhasil aku hanya bisa mendengus kesal.


"Euhhhhh.....mereka kemana sih?, kenapa sulit sekali menemuinya, apa mereka sudah membuang ku" ucapku kesal sambil menghentakkan kaki ke tanah berkali kali.


Saat aku di penuhi kekesalan dan diselimuti amarah, Alvaro yang ada di sampingku malah tertawa terbahak bahak membuatku heran sekaligus naik pitam.


"Hahahaha.....kenapa kau?, mukamu lucu sekali saat sedang marah, kau semakin jelek" ucapnya sambil terus meledekku,


"Diam!!!, Arghhhh kau sangat menyebalkan, rasakan ini...buk...buk...bukk" ucapku kesal dan terus memukulinya sekuat tenaga.


Aku menghentikan pukulanku dan mengancamnya agar tidak menertawakan nasib sialku.


"Jangan menertawai ku lagi, dan lebih baik kau pergi saja untuk apa kau mengikutiku"


"Aku kan sudah bilang kau itu gadis idiot dan jelek, tentu saja aku merasa kasihan apa lagi melihat kau sekarang aku tambah prihatin padamu" ucapnya membuatku semakin sedih dan meratapi diri sendiri.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Alvaro mood ku berubah seketika aku berpikir jika orang sedingin Alvaro saja merasa kasihan padaku kenapa kedua orang tuaku sendiri justru malah tidak peduli padaku, aku menyesal dulu pernah menyetujui keinginan mereka untuk tinggal di desa sekarang aku sudah seperti gadis yang hidup sebatang kara, aku memutuskan untuk kembali pulang dan hanya menuliskan surat pada secarik kertas lalu aku selipkan di bawah pintu.


Aku ingin menangis tapi malu karena masih ada Alvaro di sampingku, aku sungguh berharap Alvaro tidak mengasihaniku lagi aku ingin dia pergi dari sampingku saat itu juga, aku tidak tahan lagi menahan air mataku, aku berjalan cepat dan menghentikan bus lalu menaikinya sayangnya di dalam bus aku tidak mendapatkan tempat duduk dan harus berdiri sambil menggenggam pegangan tangan, aku menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, aku terus memikirkan ucapan dari Alvaro.


"Apa aku semenyedihkan itu yah?, sampai pria dingin sepertinya bisa mengasihaniku" gumamku memikirkan,


Karena melamun aku tak sadar kalau Alvaro sejak tadi terus memperhatikanku dan dia juga berdiri tepat di sampingku, tanpa aku sadari juga dia menahan kepalaku yang berkali kali hampir terpentok pada tiang pegangan bus, aku tidak sadar kalau sebenarnya Alvaro selalu menjagaku dan menemaniku, walaupun ucapannya begitu tajam dan kadang sangat menyebalkan, tapi setidaknya aku tidak benar benar sendirian di saat saat terpurukku, aku terus saja melamun selama perjalanan sampai tak sadar bus sudah sampai di tempat tujuan dan Alvaro yang memanggilku mulai menyadarkanku dari lamunan panjang.


"Hei...apa kau mau tetap di sini selamanya, ayo cepat turun" ucap Alvaro dengan menarik lenganku dan membawaku turun dari bus,


"Ini sudah di desa, aku harus pergi dan berhentilah melamun, kau seperti orang bodoh selepas dari kota" ucapnya sambil memakai ciput Hoodie yang dia kenakan dan dia segera pergi meninggalkanku.


Aku tidak mood menanggapi ucapannya aku hanya bisa berjalan lesu sambil menunduk dan menenteng tas kecilku menuju rumah, iya rumah yang sepi hanya aku yang tinggal seorang diri, sejak saat itu aku bertekad untuk pergi ke luar negri, pergi ke tempat yang jauh sekaligus, agar aku bisa melupakan semuanya, jika kedua orang tuaku bisa mengabaikan ku begini, maka aku juga harus menyibukkan diri agar tidak terus terpikirkan akan mereka, entah mendapatkan kekuatan dan keberanian dari mana, aku tiba tiba saja bersemangat dan penuh tekad yang kuat untuk pergi ke luar negeri setelah aku lulus SMA.


Aku membuka internet dan mencari cari informasi mengenai universitas ternama di dalam satu negara yang aku sukai, tak lain adalah Jepang, aku sangat suka negara Jepang, negara tempat dimana bunga sakura tumbuh, aku sudah memutuskan tujuanku aku akan melanjutkan studi di salah satu universitas ternama di Jepang.

__ADS_1


Mulai saat itu aku terus mencari informasi tentang Jepang mulai dari makanan khasnya, belajar bahasa dan kosa katanya, aku bahkan mengajak Audy untuk ikut bersamaku ke Jepang tapi sayangnya Audy tidak bisa melanjutkan studi nya dikarenakan masalah biaya, aku juga merasa sedikit sedih, andai saja aku bisa meminta kedua orangtuaku untuk membiayai Audy juga, namun jangankan untuk itu, aku saja tidak tau kemana mereka selama ini, setiap kali aku berkunjung ke sana mereka selalu tengah tidak ada di rumah, surat surat yang aku selipkan di bawah pintu juga tidak mendapatkan jawaban sama sekali, hingga sampai di penghujung waktu, kini aku sangat membutuhkan keberadaan mereka, sebentar lagi waktunya kenaikan kelas dan wali kelas memintaku agar kedua orang tua bisa hadir dalam acara pembagian raport sebagai wali siswa.


__ADS_2