
Aku hanya bisa duduk cemberut sedangkan Alvaro mengobati luka di lututku dan dia menempelkan sebuah plester yang dia ambil dari saku jaketnya, setelah itu dia mulai memeriksa kakiku yang terkilir dan tanpa aba aba dia mengurut kakiku dengan kuat sampai aku tak tahan dengan sakitnya.
"Arhkkk... Alvaro kau gila yah, itu sakit sekali" bentakku sambil menutup mulutku,
"Kalau aku tidak melakukannya kakimu tidak akan sembuh" jawab Alvaro lalu dia mengoleskan sebuah minyak kayu putih di area kakiku yang lebab dan merah.
Aku meringis merasakan sakit yang ngilu di pergelangan kakiku, dan saat itu aku baru ingat dengan pertandingan basketnya.
"Astaga.. pertandingannya" ucapku sambil menatap jam di tanganku,
"Bisa bisanya kau masih memikirkan pertandingan itu di saat terluka begini" ujar Alvaro bangkit berdiri,
"Bukan begitu All, memang tujuan aku ke sini untuk membawamu ke aula, lagi pula kenapa kamu tidak datang ke sana bukankah kamu sediri yang sudah menyetujui untuk ikut serta dalam lomba pada kak Bara sebelumnya?" Ucapku bertanya tanya,
"Iya tapi aku berubah pikiran, aku membencinya" jawab Alvaro sambil berjalan hendak masuk ke dalam kamarnya.
Aku bangkit berdiri dengan kaki pincang dan berusaha menahan Alvaro,
"Alvaro... Tunggu aku mohon tolong kembalilah, aku tidak masalah jika kamu membenci kak Bara apapun alasanmu tapi anak anak tim basket juga pelatih tidak ada hubungannya dengan kak Bara kamu tega membuat mereka ikut kecewa, sekolah kita bisa menanggung malu jika kamu tidak hadir" ucapku memohon pada Alvaro.
Dia berhenti dan membalikan badannya, Alvaro berjalan menghampiriku dengan tatapan tajam dan menyelidik.
"Alvaro tolong aku meminta tolong padamu, semua ini demi banyak pihak, kamu tidak boleh egois seperti ini" ucapku memelas.
Aku sangat berharap Alvaro mau mendengarkan ucapanku dan aku sangat berharap Alvaro mengubah keputusannya, sampai akhirnya dia tetap menolak.
__ADS_1
"Tidak Talita, aku tidak bisa, sia sia saja kau membujukku aku tetap tidak ingin pergi ke sana" jawab Alvaro yang membuatku bingung dan kecewa,
"Alvaro aku janji akan melakukan apapun untukmu asal kamu mau datang dan ikut perlombaan, kembalilah bersamaku ke sana, banyak orang sudah menunggumu" ucapku mencoba membujuk Alvaro untuk terakhir kalinya.
Akhirnya Alvaro mau untuk pergi ke aula dan mengikuti perlombaan.
"Oke aku akan mengikuti lomba itu tapi kau harus pastikan dengan janji yang sudah kau buat tadi!" Tegas Alvaro,
"Iya aku janji ayo kita pergi waktunya sudah tidak banyak lagi" balasku sambil menarik lengan Alvaro.
Alvaro yang melihat jalanku sedikit pincang dia duduk berjongkok tepat dihadapanku dan menepuk pundaknya sendiri menyuruhku untuk naik ke atas punggungnya, aku pun segera memeluk punggung Alvaro karena tidak mau membuatnya marah atau pun memperlambat waktu.
Aku menaiki motor bersama Alvaro dengan kecepatan tinggi dan untunglah aku masih sempat datang dengan tepat waktu, ku lihat di saat anak anak tim basket tengah kebingungan dan pelatih memarahi mereka aku datang bersama Alvaro dan saat itu Alvaro sudah mengganti pakaiannya dengan kaos basket dia juga masih sempat membawaku ke tempat duduk lebih dulu sebelum dia berlari ke lapangan menghampiri tim basket lain yang sudah berjajar rapih siap memulai pertandingan.
"Alvaroo... Semangat aku mendukungmu" teriakku sambil melambaikan tangan ke arah Alvaroo,
"Bara... Bara.... Semangat Bara... Aku mendukungmu..." Teriak kak Vera sambil berjingkrak heboh,
Aku sungguh terganggu dengan teriakannya dia begitu heboh sampai mengalahkan penonton lain, suaranya itu sangat cempreng dan memekikkan telinga, sebenarnya saat itu aku juga ingin menyemangati kak Bara namun melihat kelakuan kak Vera aku jadi kesal dan tidak mood bersorak lagi.
Pertandingan babak pertama akhirnya selesai dan dimenangkan dengan mudah oleh tim basket sekolahku, saat Alvaro menghampiriku aku langsung memberikan sebotol air mineral padanya.
"Ini minum dulu" ucapku sambil memberikan minuman itu,
"Wahh... Alvaro kamu hebat aku sangat kagum denganmu aku pikir saat kamu bermain basket tadi kamu lumayan keren juga hehe" ucapku yang membuat Alvaro tersedak.
__ADS_1
"Ohok...ohok...ohok..." Suara Alvaro yang batuk tersedak minuman,
"Aishh... Kau ini balita yah minum saja sampai tersedak begitu" ucapku menatapnya heran,
"Heh.. aku batuk juga karenamu" jawab Alvaro yang membuatku melebarkan mata semakin kebingungan,
"Apanya karenaku aku kan tidak melakukan apa apa, aneh" jawabku dengan sorot mata yang sinis,
Alvaro tak menanggapi jawabanku dan dia kembali minum sambil mengelap keringat di dahinya, saat ku lihat ke arah kak Bara mata kami saling bertemu dia tersenyum lembut kepadaku sedangkan di sampingnya selalu ada kak Vera dan kak Nandito, aku merasa kesal melihat kak Vera yang mengusap keringat di dahi kak Bara dengan handuk yang dia pegang.
Ditambah kak Vera seakan sengaja membuatku kesal dan cemburu dia justru malah memberikan minum dan terus saja berdekatan dengan kak Bara, aku yang tak mau kalah akupun duduk bergeser mendekati Alvaro dan aku rampas handuk kecil dari tangan Alvaro, aku mengelap keringan Alvaro sambil mata yang terus menatap lurus ke arah kak Vera.
"Sini.. biar aku lap kan keringatmu euhh" ucapku sambil merampas handuk putih dari tangan Alvaro,
"Ehh..eh...eh..Talita...aishh... Talita hentikan!!" Bentak Alvaro menahan lenganku,
"Apaan sih Alvaro?, Aku kan sedang membersihkan keringatmu" ucapku kesal,
"Kau ini bukan mengelap keringatku tapi kau justru menghancurkan wajahku dengan menggosokkan handuk kasar itu kemana mana" bentak Alvaro,
Aku kaget saat baru sadar kalau aku memang menggosok handuk itu ke wajah Alvaro bukan mengelap ke dahinya saja.
"Ahh.. aku minta maaf, aku tidak fokus tadi, ya sudah nih kamu lap sendiri saja kalo gitu" ucapku dan ku kembalikan handuk kecil itu pada tangan Alvaro,
"Aishhh... Dasar kau" balas Alvaro dengan wajah yang kesal.
__ADS_1
Aku hanya bisa menanggapinya dengan tersenyum kecil, ku hirup nafas panjang dan membuangnya perlahan aku berusaha menenangkan diri dan emosi agar tidak meledak seperti sebelumnya, habisnya semua itu juga karena kak Vera dia yang melihat aku dibentak oleh Alvaro malah tertawa dengan menutup mulutnya, aku yakin sekali saat itu dia menertawakan ku dan sengaja mendekati kak Bara untuk membuatku kesal.
"Kak Vera maunya apa sih, kenapa harus sedekat itu dengan kak Bara ishh.." ucapku kesal sambil mengucek ujung pakaian ku sendiri.