Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Ternyata dia ketuanya


__ADS_3

Aku sungguh tidak bisa mengatakan apapun lagi, rasanya percuma saja ketika aku berbicara dan mengeluh kepada ibuku karena itu memang kesalahanku namun tadinya aku berharap dia mau membantuku mengurusinya kepada pihak kampus untuk mengganti jurusanku menjadi jurusan yang aku impikan sebenarnya namun ketika melihat reaksi ibuku yang malah menyalahkan aku balik sepertinya aku juga tidak bisa meminta bantuan apapun kepadanya.


Karena sudah pasti dia tidak akan membantu aku dengan hal tersebut, sungguh hanya bisa pasrah dan menangis meratapi semua keadaan ini dengan hati yang berusaha aku lapangan walau sejujurnya ini terlalu berat untuk aku terima.


"Huaa....ibu aku harus bagaimana sekarang hiks...hiks...aku tidak mau belajar mengenai pelajaran yang sama sekali tidak aku sukai dan aku belum pernah mempelajarinya sama sekali selama ini huaaa" gerutuku merengek kepada ibuku lagi,


"Aishhh.....TALITA sudahlah kau ini sudah dewasa, itu juga kesalahanmu kamu harus menerimanya, sudah ibu harus memasak untuk makan malam dulu" ucap ibuku sambil melepaskan tanganku yang memeluk dia sebelumnya.


Aku segera mengambil bantal di ranjangku dan memukuli bantal itu berkali-kali hingga aku bisa melupakan kekesalanku pada bantal tersebut.


"Buk....buk...buk...eughh....sial...sial...sial...huaaa...aku tidak mau kuliah" rengek ku tak dan habisnya.


Aku sungguh tidak memiliki semangat untuk melanjutkan kuliah seperti sebelumnya dan aku hanya bisa duduk tertunduk lesu tanpa melakukan apapun, aku juga sudah menghubungi ketua gruf tapi tetap saja dia juga tidak bisa membantu apapun sehingga aku tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang hingga ibuku selesai memasak.


Aku masih di cemberut menekuk wajahku karena masih belum bisa menerima sepenuhnya mengenai kesalahan fakultas yang aku ambil, aku makan dengan cemberut tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan ketika selesai aku juga langsung pergi tidur secepatnya hingga ke esokan paginya aku pergi terburu-buru karena ingin datang sangat pagi agar bisa menemui panitia pendaftaran mahasiswa baru di universitas.


Aku pikir mungkin mereka bisa membantuku karena merekalah yang mengurusi mengenai data semua mahasiswa di universitas tersebut, aku sudah sangat berharap banyak dan menemui panitia disana namun rupanya mereka juga menyuruhku menunggu ketua mereka yang tak lain juga bekerja sebagai asisten dosen terbaik di fakultas sekaligus kampus tersebut.


Aku terus menunggu dan bertanya-tanya dengan sangat penasaran siapa orang yang dimaksudkan oleh kak salah satu kakak panitia disana.


Aku duduk di ruang tunggu beberapa saat hingga tidak lama aku melihat seorang pria yang tidak asing masuk ke dalam ruangan itu dan aku terus memperhatikannya sambil mencoba mengingat siapa orang itu sebenarnya.


"Ehhh...wajahnya sangat tidak asing untukku, apa kamu pernah bertemu dengan dia sebelumnya ya?" Gerutuku memikirkan.


Hingga tidak lama akhirnya aku ingat bahwa pria yang berjalan tegak serta wajah datar dan membawa tas di tangannya adalah kak Fasya yang kemarin aku tabrak dan aku bentak dengan keras, aku langsung berdiri dan menghentikan langkahnya karena aku ingat dan sudah janji kepada ibuku untuk meminta maaf terhadapnya.

__ADS_1


"Ehh ..kak tunggu" teriakku menghentikan langkah pria itu.


Aku segera menghampiri dia dan segera meminta maaf sambil membungkukkan badan di hadapannya meski sebenarnya aku sangat benci melakukan hal itu.


"Maafkan aku kak, kemarin aku sungguh tidak sengaja menabrakmu dan aku harap kamu tidak mengingat kejadian buruk tersebut" ucapku meminta maaf secara baik-baik kepadanya.


Dia tidak menjawab apapun lagi kepadaku dan dia hanya berhenti sejenak menatapku sekilas lalu malah menyuruhku untuk menyingkir dengan nada yang begitu dingin.


"Minggir!" Ucapnya membuatku tidak mengerti dan kaget,


"Hah?, Apa kak? Kau....kau mau aku menyingkir?" Tanyaku dengan kedua alis yang aku naikkan bersamaan dan dengan heran,


Saat aku bertanya maksud dari ucapan satu katanya itu dia justru hanya menggeser tubuhku ke samping sedikit lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan dan meninggalkanku yang masih merasa kesal dan tidak habis pikir dengan apa yang sudah dia lakukan barusan kepadaku.


"Hah...hah?, Hahaha....bagus aku diabaikan olehnya begitu saja dan dia adalah orang pertama yang mengabaikan aku seperti itu" ucapku sambil berkacak pinggang tidak mengerti dengan kelakuannya.


"Ughh...dasar...pria dingin, muka taplak...agghh...menyebalkan, sialan pria judes" gerutuku terus merutukinya habis-habisan.


Tidak lama seorang senior memanggilku dan memintaku untuk masuk ke dalam ruangan.


"Talita Dwi Putri" teriaknya memanggil namaku.


Aku.segera menghampirinya dengan cepat.


"AA...iya kak itu aku" jawabku sambil berlari kecil menghampiri kakak senior tersebut.

__ADS_1


"Silahkan masuk, ketua akan bicara denganmu" ucapnya begitu saja membuatku kaget hingga terbelalak sempurna.


Aku sedikit bingung dan merasa keheranan sebab sebelumnya kakak senior itu memintaku menunggu di luar untuk kedatangan ketua fakultas mahasiswa arsitektur tetapi aku sama sekali belum melihat siapapun yang melewatiku kecuali si Fasya sialan itu, namun kakak senior sudah menyuruhku masuk sehingga itu membuatku sedikit curiga.


"Ehh...kenapa dia sudah menyuruhku masuk, memangnya ketua sudah sampai tapi kapan? Kenapa aku tidak merasakan ada yang melewatiku sedari tadi?" Gerutuku sambil menggaruk belakang kupingku dengan heran.


"Aahh... jangan-jangan si Fasya itu?,.....wahhh...tidak, ini tidak mungkin, sudahlah lebih baik aku masuk ke dalam saja dulu" ucapku mengabaikan pikiran buruk ku.


Aku tidak banyak memikirkan keherananku lagi dan segera menghempaskan kecurigaan ku terhadap Fasya sehingga aku langsung masuk ke dalam dengan cepat sebab kakak senior tadi sudah mendesakku lagi.


Hingga ketika aku masuk ke dalam ruangan aku langsung kaget terperangah membuka mataku dengan lebar serta mulut yang terbuka dengan seketika.


"Aaahhh?, Ya ampun apa ini nyata?, Kenapa kau ada disini dimana ketua mahasiswa fakultasnya?" Tanyaku yang masih merasa heran dan tidak mempercayai apa yang aku lihat saat itu.


Dia duduk di depan sebuah meja yang cukup besar tepat di hadapanku dan dia menatapku dengan tatapan datar serta wajahnya yang sangat membuatku muak, aku sungguh belum bisa mempercayai jika dia sebagai ketua mahasiswa fakultas arsitektur ini, sehingga aku terus membalas tatapannya itu dengan rasa kesal dan sorot mata penuh kebencian kepadanya.


"Hey...aku tanya padamu sekali lagi, dimana ketua fakultasnya?" Tanyaku dengan nada yang lebih tinggi,


"Maaf dek tapi kak Fasya ini adalah ketua fakultas kami, dan jika kamu mengalami kesulitan kamu bisa menghubungi saya sebagai wakilnya ataupun kepada kak Fasya secara langsung sebab dia juga ada di fakultas yang sama denganmu" ucap salah satu kakak senior yang tadi memanggilku untuk masuk ke sana.


Setelah mendengar penjelasan dari kakak senior itu aku semakin kaget dan syok mendengarnya, aku tidak tahu lagi harus berbuat aku kakiku terasa sangat lemas dan aku merasa dadaku mulai sesak saking kaget dan tidak menyangka dengan semuanya.


"Arkhhh....tidak ini tidak mungkin!" Teriakku di dalam hati yang menjerit tidak bisa menerima semua kenyataan yang berat dan pahit untukku ini.


Visual Talita Dwi Putri

__ADS_1



__ADS_2