
Talita terbangun karena seorang pria membangunkannya dan mengatakan bahwa bus sudah sampai di pemberhentian terakhir yang tak lain adalah desa Simorangkir, aku pun segera bangun dan saat bangun aku tersadar ada sebuah hoodie yang menjadi bantalan kepalaku aku juga membawanya dan segera turun saat berjalan menuju rumah aku terus membolak balik hoodie itu karena merasa aneh tiba tiba saja ada di kepalaku saat bangun di bus.
"Ini hoodie siapa, kenapa bisa ada padaku?" ucapku kebingungan.
Dan saat sampai di depan rumah ku lihat ada Argo yang tengah duduk di bangku teras rumahku.
"Argo sedang apa kau di sini, dan darimana tau alamat rumahku?" Tanyaku keheranan,
"Tuan Alvaro yang memberitahunya dan dia memintaku untuk mengambil hoodie kesayangannya" jawab Argo sambil menunjuk ke arah hoodie yang tengah aku bawa,
"Oh ternyata ini punya dia, ini aku kembalikan" ucapku sambil memberikan hoodie tersebut.
Setelah mengambil hoodie itu dia langsung pergi begitu saja dan aku segera beristirahat karena jam sudah menunjukkan pukul setengah empat subuh, aku bahkan merasa tidak habis pikir bisa ada orang seperti Alvaro yang meninggalkan hoodie nya sendiri di bus lalu dengan mudah menyuruh orang lain untuk mengambilnya di jam segini.
"Apa si Argo itu penjaganya selama dua puluh empat jam, ahhh mereka itu benar benar, mengapa menuruti semua perintah pria sialan itu" gumamku merasa heran.
Aku beristirahat sejenak selama beberapa jam saja dan saat matahari mulai nampak aku kembali bangun, mandi dan memasak menyiapkan sarapan sendiri, makan sendiri dan berangkat ke sekolah lebih awal seorang diri, rasanya seperti ada yang kurang saat berjalan tidak bersama dengan Audy, melihat beberapa siswa lain yang berjalan bersama teman temannya aku iri melihat mereka, sedang aku akan terus sendirian mulai sekarang.
"Tidak papa Talita tidak ada yang salah jika kamu sendirian" ucapku menguatkan diri sendiri.
Aku terus berjalan hingga sampai di depan gerbang tak sengaja berpapasan dengan kak Bara yang saat itu baru keluar dari mobil miliknya bersama dengan kak Nandito, jujur saja aku gugup ketika melihat mereka dan aku memutuskan untuk tidak menyapanya namun kak Bara justru malah memanggilku, yang membuatku terpaksa harus berbalik dan menyapa mereka.
"Talita kenapa kau buru buru sekali" ucap kak Bara menyapaku,
"Aishh... Sial kenapa dia menyadari ada aku" gumamku kesal,
"Ahh... Iya kak aku harus segera ke kelas" jawabku sedikit canggung.
Pipiku ini sungguh sulit untuk diajak bekerja sama belum apa apa malah sudah merah merona aku langsung menunduk karena terlalu malu untuk menunjukkan wajah ini.
__ADS_1
"Talita kenapa kau terus menunduk?" Tanya kak Bara,
"Ahh tidak papa kalo begitu aku pergi dulu ya kak, sempai jumpa" ucapku dan segera pergi dari sana dengan terburu buru,
Aku langsung masuk ke kelas dan mengatur nafasku perlahan, aku benar benar tidak percaya kenapa bisa se gugup tadi saat bertemu kak Bara sebelumnya juga tidak seperti ini.
Aku segera duduk di kursi dan mencoba menyadarkan diri sendiri.
"Talita kamu tidak boleh seperti ini, tidak mungkin kan aku menyukai kak Bara ahhh ini merepotkan" ucapku merasa kesal dengan diri sendiri.
Tiba tiba saja ponselku berbunyi dan ternyata itu pesan dari kak Bara, saat aku buka ternyata dia memintaku agar datang ke lapangan di jam istirahat dan melihatnya berlatih bermain basket bersama dengan tim basket lainnya, aku sangat senang dan tersenyum sendiri saat membaca pesan itu.
Ku pikir kak Bara sangat ingin aku melihatnya bermain basket aku juga sudah tidak sabar ingin melihatnya pasti dia sangat keren saat ada di lapangan, badannya yang tinggi dan kekar dan wajah tampannya aahhh membayangkan nya saja aku sudah terpukau dia memang pantas dijuluki pangeran sekolah, tampan, pandai dan disiplin dia sempurna.
Aku pikir sejauh ini aku tidak salah memilihnya menjadi orang yang aku sukai entahlah apa aku mengaguminya atau sungguh mencintainya tapi dia itu selalu menawan di setiap saat dan dilihat dari sudut manapun selalu tampan.
"Heh... Kenapa kau senyum senyum sendiri seperti orang gila, jangan jangan kau membayangkanku yah!" Ucap Alvaro menghancurkan hayalanku,
"Ishh... Diam!, Kau ini menghancurkan angan anganku saja" ucapku kesal dan menyuruhnya untuk diam,
Saat ingin kembali mengkhayal tentang kak Bara lagi lagi Alvaro selalu menggangguku.
"Ingat kau harus datang di lapangan nanti jika ingin melihat keahlianku bermain basket, aku adalah jagonya dalam bidang itu" ucapnya lagi,
"Terserah aku tidak perduli" jawabku acuh,
"Kalau begitu kenapa kau memaksaku untuk masuk tim basket dan mengikuti lomba?" Tanya Alvaro tiba tiba menjadi serius,
"Ayolah Alvaro aku kan sudah bilang aku hanya diminta oleh tim basket dan kak Bara dan aku tidak mau membuat mereka kecewa makanya memintamu dengan susah payah" jawabku dengan jujur,
__ADS_1
"Apa hanya itu, tidak ada hal lain lagi yang menjadi alasannya?" Tanya Alvaro sambil menatapku semakin tajam,
Aku menggelengkan kepalaku perlahan karena memang tidak ada alasan lain selain itu, seandainya mereka tidak mendesak ku aku juga malas sekali untuk meminta Alvaro masuk ke dalam tim basket, terserah saja dia melakukan apapun aku tidak perduli.
Wajah Alvaro nampak kesal saat mendapatkan gelengan kepala dariku atas jawaban dari pertanyaannya, dia seketika menjadi diam dan tak menggangguku lagi, aku merasa heran dengan perubahan sikapnya yang selalu mendadak dan secara tiba tiba, namun aku juga malas untuk bertanya karena aku tidak perduli.
Aku hanya kembali fokus dan mulai belajar, sampai saat jam istirahat tiba Alvaro pergi lebih dulu dan aku segera menyusulnya.
"Alvaro tunggu!" Teriakku sambil berlari mengejarnya,
"Ada apa?" Tanyanya dingin,
"Kau mau kelapangan kan, kenapa tidak menungguku, kita kan bisa pergi bersama" ucapku sambil merapikan rambutku yang sedikit berantakan karena berlari,
"Siapa yang tau kau juga mau kesana bukannya kau tidak perduli dengan apa yang akan aku lakukan, untuk apa kau ke sana" jawab Alvaro dengan sinis,
"Aku memang tidak perduli padamu tapi seseorang memintaku ke sana untuk melihatnya, makanya aku datang" jawabku sambil tersenyum senang,
"Jangan bilang orang itu si Bara, ishhh... Bisa bisanya kau termakan rayuan pria sepertinya" ucap Alvaro sambil berjalan mendahului.
Jelas aku tak terima dia menyepelekan kak Bara seperti itu, dari sorot matanya dia juga seperti tidak menyukai kak Bara dan berlaga seakan lebih mengenal kak Bara dibanding aku,
"Hei...heii.... Kenapa kau bicara begitu, memangnya kak Bara kenapa dia kan tampan, pandai dan mempesona berbeda denganmu huh!" Ucapku kesal,
"Terserah aku hanya memperingatkanmu kalau nanti nangis jangan datang padaku" ucapnya yang membuatku semakin heran,
"Siapa juga yang akan menangis karena kak Bara, pria sepertinya tidak mungkin membuatku menangis, dia memang tidak menyukai kak Bara saja makanya sensi begitu" gumamku dalam hati.
Kami pun berjalan bersama pergi menuju lapangan sekolah.
__ADS_1