
Aku terus memutar otak untuk memikirkan cara agar Alvaro mau masuk ke dalam tim basket sekolah, aku juga sengaja kembali mengikuti Alvaro kemanapun dia pergi bahkan sampai saat pulang sekolah aku terus mengikutinya sampai ke parkiran, aku lihat dengan jelas wajah Alvaro yang begitu kesal dan begitu dingin menatap ke padaku dengan lekat.
"Heh, gadis idiot untuk apa kau terus mengikutiku sepanjang hari apa kau mau menjadi ekorku!," Ucap Alvaro sambil naik ke atas motor spor nya,
Aku juga ikut naik ke atas motornya dan langsung memeluk dia dengan erat agar dia tidak bisa kabur dan menolak permintaan dariku lagi, meski sebenarnya aku sendiri benci melakukan cara ini.
"Iya, kalau kau mau aku jadi ekormu aku tidak masalah, pokoknya sampai kau mau masuk ke tim basket, baru aku akan pergi jauh jauh darimu dan bersikap normal lagi" ucapku sambil terus memeluknya,
"Aishh... Lepaskan tanganmu ini, benar benar merepotkan" ucap Alvaro sambil terus berusaha melepaskan tanganku,
"Tidak aku tidak mau" ucapku dengan keras.
"Ya sudah jangan salahkan aku kalau terjadi sesuatu denganmu" ucap Alvaro membuatku sedikit takut.
Pasalnya aku tidak tau kemana dia akan pergi, untung kalau dia pulang ke rumahnya bagaimana jika dia pergi menemui anak buahnya dan melakukan hal hal yang dikatakan seperti rumor di sekolah selama ini, aku benar benar memikirkan semuanya berlebihan dan sangat gelisah, tapi jika aku turun dari motornya aku sungguh tidak punya banyak waktu lagi pertandingan itu akan segera tiba jika aku tidak berhasil membujuk Alvaro, yang ada aku akan dimusuhi semua kakak kelas, mana aku masih satu tahun lagi menetap di sekolah itu, benar benar memusingkan kepala.
Saat aku tengah terus berpikir tiba tiba Alvaro melajukan motornya dengan kecepatan diluar batas normal, aku refleks memeluknya kencang dan berteriak memakinya.
"AAAAAARHKKK... Alvaro pelankan sedikit lajunya kau ini, dasar si wajah datar aaaa... Alvaro hei rokku bisa terbang kalau begitu aaaahhh..." ucapku memintanya memelankan laju kendaraan.
Bukannya memelankan laju motornya itu, Alvaro justru malah dengan sengaja melakukannya dengan posisi yang berbelok belok seperti pembalap, itu membuatku sangat takut dan bahkan tidak sanggup membuka mata, aku sudah sangat lemas aku tidak mau jatuh dari motor itu.
"Aaaaa... Alvaro aku mohon tolong berhenti" teriakku sambil ku cubit perutnya dengan kuat.
Akhirnya Alvaro mau menghentikan motornya dan aku langsung turun dari motornya itu dengan terhuyung dan memegang kepalaku yang sudah pening sekali, saking pentingnya aku sampai merasa semua benda yang aku lihat seperti berputar dan aku tidak bisa berdiri dengan tegak.
"E..e...ehh... " Ucapku hampir terjatuh,
Untunglah Alvaro menangkap tubuhku dengan cepat jadi aku tidak sampai jatuh ke tanah, kepalaku sangat pusing dan Alvaro mengajakku untuk duduk beristirahat di pinggir jalan sejenak.
__ADS_1
"Hah, kau ini merepotkan sekali ayo duduk dulu di situ" ucap Alvaro sambil memapahku.
Aku rasa sejahat dan se sensitif apapun Alvaro dia masih memiliki rasa belas kasih padaku, buktinya dia tidak meninggalkanku disaat aku seperti ini padahal sudah sangat jelas wajahnya menggambarkan dia begitu kesal dan marah karena aku terus mengikutinya sepanjang hari dan sampai sekarang masih mengikutinya bahkan membuatnya repot seperti sekarang.
Saat tengah duduk beristirahat tiba tiba perutku rasanya sakit seperti diperas dan ditusuk tusuk, aku mulai sadar kalau aku belum mengisi perutku sejak siang tadi karena sibuk terus mengikuti Alvaro, aku juga lupa kalau aku punya penyakit lambung sekarang baru saja ingat ketika sudah merasakan akibatnya, aku memegang perutku kuat dan berusaha menahan perihnya lambungku.
"Ini, makan dulu obatnya setelah itu kita cari makan" ucap Alvaro sambil memberikanku sebutir obat mag,
Aku merasa aneh dan heran pasalnya darimana dia bisa tau kalau mag ku sedang kambuh aku juga tidak mengatakan apapun padanya, dan dia malah memberikanku obat itu secara tiba tiba. Setelah aku minum obatnya akupun memberanikan diri untuk bertanya karena sangat penasaran.
"Alvaro darimana kau tau kalau aku membutuhkan obat itu?" Ucapku bertanya dengan mengerutkan kedua alisku,
"Kalau aku menjelaskan kau juga pasti sudah lupa, ayolah lambungmu akan semakin hancur kalau kau tidak mengisinya juga" ucap Alvaro yang kembali menaiki motornya.
Aku hanya bisa termenung menatap Alvaro yang memakai helm dan sudah bersiap hendak melajukan kembali motor sportnya itu, aku terus saja menatap heran dengan kebingungan tanpa bergerak dari tempatku berdiri sedikitpun, hingga teriakan Alvaro membangunkanku dari lamunan.
"Ahhh, i..iya iya, aku mau naik kok ini" ucapku sambil bergegas menaiki motornya,
Aku heran kenapa saat aku sudah naik ke atas motornya Alvaro malah belum juga melajukan sepeda motornya itu.
"Ayo jalan, aku sudah kelaparan, tadi saja kau membentakku" ucapku merasa kesal,
"Pakai helmnya dulu, rambutmu itu sudah seperti orang gila saja" ucapnya membuatku semakin kesal.
Aku pun langsung memakai helm yang tergantung di samping motornya, setelah aku memakainya Alvaro barulah melajukan motor dengan kecepatan yang normal sehingga aku tidak merasa pusing lagi, saat itu aku pikir dia akan membawaku makan ke restoran atau cafe sama seperti saat kak Bara membawaku makan waktu lalu, namun nyatanya dugaanku salah dan aku berkespektasi terlalu tinggi pada Alvaro, nyatanya dia malah membawaku ke sebuah tempat dimana banyak sekali jajanan pinggir jalan dan gerobak yang menjajakan makanan gorengan gorengan dengan berbagai macam jenis, di sana juga suasananya sangat ramai, aku menatap ke kanan dan kiri melihat semua jajanan yang terjajar di sana dengan begitu berdesakkan, dan banyak juga om om pemabuk yang tengah makan di salah satu kedai dengan pakaian yang bak preman sambil bermain catur dan tertawa keras terbahak bahak.
Aku langsung menelan salivaku dengan perasaan gugup, takut dan gelisah, aku menepuk pundak Alvaro dengan keras beberapa kali.
"Al... Alvaro, kamu yakin mau mengajakku makan di tempat seperti ini, apa ini aman?" tanyaku dengan kekhawatiran,
__ADS_1
"Kamu tidak tau ini justru tempat paling aman untukku" ucapnya dengan santai,
"Alvaro, kau ini ishhh...iya aman untukmu tapi apa ini akan aman juga bagiku!!" balasku menahan kekesalan,
"Kau akan aman jika tetap di sampingku, tenang saja tidak akan ada yang berani menyentuhmu seujung jaripun" ucapnya dengan datar dan begitu santai.
Justru sikap santainya itu yang membuatku semakin khawatir, sampai saat Alvaro menghentikan motornya di samping gang kecil lalu dia mengajakku masuk ke dalam gang itu, aku semakin gugup dan takut Alvaro akan melakukan hal yang buruk padaku, apalagi aku juga belum mengenalnya dengan baik.
"Ayo kau mau ikut aku atau tetap berdiri di situ?"
"I..i..iya iya" jawabku sambil mengikutinya,
Ternyata di ujung gang itu ada sebuah kedai kopi yang merangkap dengan sebuah tempat kecil yang dipenuhi dengan banyak pria bertato juga berwajah sangar, mereka semua menatapku yang baru masuk ke dalam tempat itu bersama Alvaro, aku sungguh merasa tidak nyaman dan seperti berada dalam ancaman dan bahaya yang besar, aku gugup dan berjalan dengan gemetar sampai tiba tiba Alvaro menggandeng tanganku memberiku sedikit keberanian.
Aku duduk di salah satu meja yang berada di samping pintu restoran kecil dan kumuh itu, Alvaro berteriak memanggil pelayan di sana dan pelayan itu segera datang menghampiri Alvaro lalu dia membungkuk memberi hormat, aku merasa aneh mengapa semua orang di sana seperti menghormati Alvaro bahkan tadi saja saat aku mendapatkan banyak tatapan tajam dari orang orang berbadan kekar di sana mereka langsung menunduk saat Alvaro menggandeng lenganku, entah mereka takut atau memang menghormati seorang Alvaro.
Aku sudah merasa sangat tidak nyaman perutku yang tadi merasa lapar juga mendadak kenyang, bagaimana bisa aku makan di tempat seperti itu aku sungguh tidak bisa.
"Talita kau mau memesan apa?" tanya Alvaro sambil memberikanku buku menunya.
"A..a..aku nasi goreng saja" jawabku gugup,
Alvaro hanya menjentikkan jarinya dan pelayan itu pergi begitu saja,
Aku merasa tengah berada dalam adegan film horor kalau begini, tatapan mereka semua seperti bukan manusia, aku sudah berpikiran jauh dan mengira mereka adalah vampir sama dengan cerita yang aku baca di dalam komik kesukaanku.
"Ahhh...tidak tidak aku terlalu banyak membaca komik, tidak mungkin mahkluk seperti itu ada di dunia nyata...iya kan, tidak mungkin" gumamku pelan dan terus menggelengkan kepalaku.
Aku terus berusaha menyingkirkan semua pemikiran buruk dan aneh yang ada di kepalaku, namun rasa takut itu tetap saja menghantuiku.
__ADS_1