
Saat di perjalanan aku bahkan tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun, aku hanya menatap lurus kedepan dengan kedua tangan yang gemetar, entah kenapa badanku rasanya tidak enak kepalaku pusing dan kakiku seperti kesemutan, aku mulai merasakan dingin menyeruak dalam tubuhku, sampai beberapa saat kak Bara menanyai keadaanku.
"Ratu wajahmu terlihat begitu pucat dan tanganmu kenapa bergetar seperti itu, apa kau baik baik saja?" tanya kak Bara dengan raut wajah gemetar.
Aku sungguh tak sanggup mengeluarkan tenaga untuk sekedar bicara rasanya sangat dingin, badanku mulai menggigil hebat aku tidak tau apa yang terjadi pada tubuhku, aku lemas sekali kakiku sudah mati rasa saat ini, kak Bara menurunkan laju kendaraan dan dia menyentuh dahiku untuk memeriksa keadaanku.
"Astaga....Talita badanmu panas sekali, jangan banyak bergerak aku akan membawamu ke rumah sakit secepatnya" ucap kak Bara dengan wajah panik.
Pertama dia menghentikan mobil di samping jalan dan memberikan jaketnya padaku agar aku tidak kedinginan dia juga segera mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat, tidak butuh waktu lama kini aku sudah berada di rumah sakit, aku masih sangat sadar dengan jelas kak Bara menggendongku dengan wajah panik setelah aku digendong aku tidak tau lagi apa yang terjadi sebab aku kembali kehilangan kesadaran.
Dan beberapa saat setelah aku sadar aku hanya melihat ruang rawat rumah sakit dan selang infus yang menancap di lenganku, aku lemas dan tidak mampu menggerakkan badanku, di ruangan itu juga tidak ada siapapun aku merasa sangat haus namun tidak bisa bangkit dari tempat tidur aku hanya bisa menghembuskan nafas dan berharap ada orang yang segera datang ke ruangan ini.
Sampai akhirnya keinginanku terwujud kak Bara masuk ke dalam ruangan diikuti dengan seorang suster yang membawa troli makanan untukku, mataku menatap sayu dan aku berusaha berkata meminta air minum meski sulit sekali untuk aku membuka mulut.
"A...AA...air....ha..haus....a" ucapku perlahan dan terbata bata.
Untunglah kak Bara langsung paham dan dia membantuku mengambil air minum sekaligus membantuku untuk meminumnya.
"Apa kau sudah baikkan, aku senang kamu sudah sadar" ucap kak Bara dengan melempar senyum padaku.
__ADS_1
Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan kak Bara, dan setelah itu kak Bara terus menemaniku, dia bahkan membantuku meminum obat, menyuapiku makan dan membantuku ke toilet, dia terlalu baik bagiku tapi aku juga merasa heran bagaimana dia bisa sangat jahat saat di atap waktu lalu, aku bahkan sempat berpikir apa dia bersikap baik seperti ini hanya padaku, namun aku menghempas pemikiran itu aku tidak mau baper duluan, lagi pula sebelumnya dia juga pernah mempermalukan aku di depan banyak orang bersama teman teman sialannya itu.
Saat menjelang malam tubuhku mulai membaik dan sekarang aku sudah bisa bergerak walau hanya sedikit saja tapi aku merasa kalau badanku sudah jauh berenergi dari pada sebelumnya, aku juga meminta agar kak Bara tidak perlu merawat atau menemaniku lagi di sini, aku tidak bisa berhutang Budi lebih banyak lagi pada orang sepertinya sebab aku takut dia akan mengajukan persyaratan lain yang akan membuatku tertekan dalam hidup.
"Kak Bara sekarang kamu bisa pulang, aku sudah jauh lebih baik, dan untuk semua biaya rumah sakit aku akan segera membayarnya padamu" ucapku membuka pembicaraan.
Kak Bara berjalan menghampiriku lalu dia duduk di bangku menghadap ke arahku sambil tersenyum ramah, sepersekian detik aku merasa kak Bara begitu lembut dan manis tapi aku juga kembali ingat mengenai kejadian di atap kemarin, kejadian itu sungguh menghantui pikiranku dan membuat pandanganku terhadap kak Bara rusak parah, aku tidak bisa mempercayainya lagi.
"Kamu yakin akan baik baik saja kalau aku pergi?" ucap kak Bara bertanya,
"aku bisa menjaga diriku sendiri, terimakasih atas semuanya" jawabku dengan yakin.
"Baiklah kalau begitu aku akan pulang dulu, maaf tidak bisa menemanimu, karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan" ucap kak Bara dengan wajah yang berubah serius seketika.
Aku mengangguk dan kak Bara pergi meninggalkan ruang rawatku, saat kak Bara pergi aku terus berpikir mengenai ekspresi yang baru saja dia tunjukkan padaku, entah kenapa aku merasa kak Bara memiliki dua kepribadian dia sungguh membingunganku.
Karena aku masih merasa sedikit lemas aku memutuskan untuk kembali beristirahat
***********************
__ADS_1
Keesokan harinya aku terbangun dari tidurku dan tanganku terasa berat saat aku membuka mata dengan sempurna ternyata kak Bara tidur sambil memegangi tanganku, aku heran dan terus berpikir bagaimana kak Bara bisa tidur di ruang rawatku padahal tadi malam aku jelas jelas melihatnya berpamitan dan pergi meninggalkan ruang rawat.
"Bagaimana kak Bara bisa tidur di sini, apa mungkin tadi malam kak Bara kembali lagi ke sini?, tapi untuk apa?" gumamku berpikir keras.
Kini badanku semakin membaik aku sudah bisa menggerakkan seluruh tubuhku seperti biasanya, aku pun mencoba melepaskan genggaman tangan kak Bara dari tanganku namun saat aku mencoba mengangkat tangannya kak Bara terbangun dan membuatku kaget sampai menarik lenganku seketika dengan cepat, kak Bara masih mengerjap ngerjapkan matanya mencari kesadaran, sedangkan aku benar benar bingung harus bersikap seperti apa padanya, suasananya terlalu canggung, aku menatap ke luar jendela dan berusaha untuk berpura pura tidak melakukan apapun.
"Kau sudah baikkan?" tanya kak Bara,
"A....aku sudah sembuh kak, aku mau pulang hari ini" ucapku sedikit gugup,
"Biar dokter memeriksa mu dulu yah, kalau nanti dokter mengijinkan aku akan mengantarmu segera" ucap kak Bara dan aku jawab dengan anggukan.
Kak Bara pergi mencari dokter untuk memeriksaku, sampai akhirnya dokter sudah memperbolehkan ku pulang namun aku masih belum diizinkan untuk melakukan aktivitas yang berat sampai benar benar pulih, mau tidak mau aku hanya bisa mengangguk patuh agar bisa cepat keluar dari sana dan berhenti berhubungan dekat dengan kak Bara.
Melihat kebaikan kak Bara yang merawatku saat sakit seperti ini aku merasa sedikit bersalah karena selalu berbicara kasar dan jutek padanya.
"Apa kemarin kemarin aku terlalu kasar ya pada kak Bara padahal dia baik begini padaku, tapi kelakuannya di atap saat itu.....arghhhh....aku benar benar tidak mengerti" gumamku kesal.
Kak Bara membelikan ku bubur untuk sarapan bahkan dia menyuapiku dan membantuku berjalan serta mengantarkan ku hingga ke rumah dengan selamat, dia juga membelikan persediaan makanan yang banyak untukku, kak Bara sungguh menata dan mempersiapkan segalanya untukku, aku hanya bisa duduk diam di sofa rumahku sambil melihat kak Bara yang sibuk kesana kemari membersihkan rumah juga belanjaan yang baru saja dia beli.
__ADS_1