
Kak Kevin sangat baik dia terus membantuku dalam pekerjaan, dan di hari pertama aku bekerja aku sangat senang, sampai ketika malam tiba dan aku hanya bekerja dari siang hingga pukul delapan malam aku segera membersihkan sisa sisa bahan makanan dan potongan sayur yang berserakan di meja, begitu juga dengan kak Kevin dan teman teman yang lain, setelah itu aku bersiap untuk pulang dan kak Kevin menawarkan diri untuk mengantarku.
"Talita kamu pulang ke mana biar aku antar ayo" ajak kak Kevin sambil menaiki motornya,
"Ah.. tidak usah kak aku bisa pulang naik bus, soalnya aku tinggal ti desa Simorangkir kak" ucapku merasa tidak enak,
"Cukup jauh yah, tapi tidak papa ini sudah malam lebih baik kamu pulang bersamaku aja, gak papa aku kan laki laki pasti aman kok" ucap kak Kevin.
Aku pun mengangguk dan naik ke atas motornya, aku tidak enak jika terus menolak tawarannya sedangkan kak Kevin bersih keras mau mengantarkan ku, sepanjang perjalanan kak Kevin sangat ramah dan ada saja yang dia bicarakan denganku hingga mengundang tawa dan canda, aku merasa kak Kevin begitu humoris dan sangat ramah, aku nyaman berada di dekatnya, sesampainya di rumah aku langsung masuk dan kak Kevin pun segera pergi karena sudah sangat larut.
Aku langsung beristirahat setelah membersihkan tubuhku karena sangat lelah.
"Ahh... Ternyata bekerja itu selelah ini yah" gumamku sambil menyandarkan tubuh di ranjang.
Saat bersiap untuk tidur tiba tiba sebuah panggilan telpon masuk ke dalam ponselku saat kulihat ternyata dari kak Bara aku segera mengangkatnya.
"Hallo.. ada apa kak?" Tanyaku,
"Apa kau sudah pulang aku baru saja mau menjemputmu" balas kak Bara di sebrang sana,
"Iya kak aku baru saja pulang tadi kebetulan aku pulang bersama dengan kak Kevin, dan kenapa kakak mau menjemputmu aku merasa tidak enak" ucapku sungguh keheranan,
"Tentu saja aku khawatir kalau kau pulang selarut itu sendirian" jawab kak Bara yang membuatku senang dan baper,
"E..itu kak aku ngantuk sudah dulu yah byee" ucapku langsung menutup telpon saking bapernya.
__ADS_1
Aku berjingkrak kegirangan diatas ranjang, ku pikir bagaimana bisa kak Bara berbicara blak blakkan seperti itu kalau dia mengkhawatirkanku aku jadi merasa tak enak karena dia sudah bela belain menjemputmu ke tempat kerja.
"Aaa... Apa kak Bara juga menyukaiku, andai saja.. tapi apa aku boleh berharap padanya" ucapku menjadi galau memikirkan semuanya.
Aku memutuskan untuk tidur dan berharap bisa bermimpi indah bersama kak Bara meski belum bisa bersama di dunia nyata setidaknya aku bisa bersama dengan kak Bara di dalam mimpi.
*****
Pagi sudah datang dan aku bangun dengan lesu, saat malam kegirangan dan berharap bisa memimpikan kak Bara yang tampan ternyata aku malah tidur dengan sangat nyenyak dan aku bahkan tidak memimpikan apapun, ku lupakan semua angan angan itu dan aku segera membersihkan diri lalu berangkat ke sekolah.
Pagi itu aku senang mendapatkan panggilan video dari Audy, dan dia mengatakan kalau dia mulai sekolah di tahun depan dan sudah berhasil mendaftarkan dirinya di salah satu sekolah negri ternama di kota xx, aku turut senang mendapatkan kabar gembira itu, Audy juga mengundangku agar hadir ke rumahnya di acara syukuran rumah barunya, aku sedikit bingung karena acara yang Audy adakan di malam hari sedangkan aku sudah bekerja di restoran sampai pukul delapan malam, aku tau aku pasti akan telat jika memaksakan diri untuk datang tapi jika tidak datang aku takut mengecewakan Audy, aku melamun memikirkannya sampai Audy menyadarkanku.
"Ta.. Lita...Talita... Kau kenapa?, Heii.. jangan melamun sambil berjalan!" Ucap Audy di dalam telpon,
"A..ah...iya maaf Audy aku sedang banyak pikiran hehe" jawabku gugup,
"Tidak ada apa apa hanya saja aku sedang memikirkan rencana liburan hehe, dan Audy aku minta maaf sepertinya aku tidak bisa datang ke acara syukuran rumah barumu" ucapku meminta maaf,
"Loh kenapa Liat?" Tanya Audy dengan kaget,
"Aku... Itu ada beberapa urusan yang harus aku urus, maaf yah" ucapku menahan untuk tidak memberitahu Audy mengenai pekerjaanku.
Aku pun segera menutup panggilan telpon dengan berpura pura tidak ada jaringan.
"Audy... Audy aku tidak bisa mendengar suaramu... Sepertinya tidak ada jaringan....Audy.." ucapku sambil menutup kamera depan dengan tangan.
__ADS_1
Aku berharap Audy bisa mempercayai akal akalanku, bukan tanpa alasan aku melakukan semua ini, aku hanya tidak mau membuat Audy khawatir jika sampai dia tau aku bekerja paruh waktu di restoran, aku tidak mau merepotkan apalagi bergantung pada Audy, dia sudah membantuku terlalu banyak, aku tidak mau menjadi parasit untuknya.
Setelah menutup panggilan telpon dari Audy, aku melanjutkan jalanku hingga sampai di depan sekolah dan Alvaro malah dengan sengaja menarik tasku ke belakang hingga membuatku hampir jatuh ke belakang.
"E..e..eh...aduh...ishh...lepaskan tasku... Alvaro bagaimana jika aku jatuh, ishh" ucapku kesal sambil menarik tasku berusaha melepaskan tas punggungku dari tangan Alvaro.
"Jangan banyak bergerak atau tas mu akan rusak lagi!" Ucap Alvaro yang masih tidak mau melepaskan tasku,
"Aishh... Pagi pagi begini kamu sudah membuatku naik darah, cepat lepaskan atau aku akan menghajarmu!" Ancamku dengan kesal.
Bukannya dia melepaskan tas sekolahku dia justru malah dengan sengaja semakin mengangkat tinggi tas itu sehingga membuatku harus berjinjit.
Aku kesal dan tiba tiba saja sebuah ide muncul di kepalaku aku melepaskan tas sekolahku itu dan langsung berlari pergi.
"Alvaro tolong bawakan tasku yah, terimakasih" teriakku sambil berlari menuju kelas dengan tertawa senang karena berhasil menjahili balik seorang Alvaro,
"Ahahaha... Rasakan itu!" Ucapku dengan puas,
"Aishh... Talita bisa bisanya kau, tas ini euhh" gerutu Alvaro sambil berjalan menyusul ku dengan menenteng tas sekolah milikku.
Aku tertawa renyah saat melihat Alvaro masuk ke dalam kelas dengan wajah yang kusut dan menenteng tas sekolahku di tangannya, rasanya sangat puas sekali bisa menjahilinya balik.
"Nih.. tas mu sialan sekali aku harus membawanya" ucap Alvaro sambil menaruh tas ku di atas meja dengan kasar,
"Terimakasih pembawa tas" jawabku kembali menggodanya,
__ADS_1
Alvaro hanya menatapku sinis dengan ujung matanya dan dia melipatkan kedua tangan di dadanya, aku tak tahan tertawa senang melihat ekspresi itu. Aku tau dia pasti sangat kesal tapi aku senang membuatnya kesal seperti tadi habisnya siapa suruh dia yang memulai lebih dulu untuk mempermainkan ku, maka itulah balasannya.
Karena sekolah sudah mau liburan kenaikan kelas sehingga banyak siswa yang tidak masuk sekolah dan pembelajarannya tidak efektif aku juga hanya mengisi absen saja hari ini lalu pergi ke lapangan untuk melihat persiapan latihan basket terakhir karena lomba akan dilaksanakan besok, aku pergi ke lapangan bersama Alvaro dan di sana sudah berkumpul banyak anak anak tim basket lainnya termasuk kak Bara, saat aku sampai di sana kak Bara datang mengampiriku dan dia menarik lenganku dan menyuruhku agar duduk di bangku dekat lapangan untuk menonton permainan basket dengan nyaman.