Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Memarahi Fasya


__ADS_3

"AHA...permisi....permisi, tolong beri jalan" ucapku sambil berjalan dengan cepat menerobos para mahasiswa lain dan menutupi wajahku dengan tas slempang di tanganku.


Aku sungguh tidak tahu lagi dengan diriku yang sudah habis-habisan di permalukan oleh pria menyebalkan tersebut di hadapan banyak orang dan karena aku tidak terima atas perbuatannya barusan kepadaku, aku pun segera berlari menyusul dia.


Hingga setelah keluar dari kelas aku melihatnya sudah hampir masuk ke dalam ruangan para dosen dan aku gagal untuk menangkapnya sehingga aku hanya menggerutu kesal dan melampiaskan emosi diriku ke dinding yang aku tendang dengan kuat hingga kakiku sendiri lah yang merasakan sakit dan akibatnya sendiri.


"Hey...tunggu kau, aishhh...dia sudah masuk ke ruangan...arghhh...duka...aww" gerutuku merasa kesal sambil meringis kesakitan merasakan kakiku yang baru saja menendang tembok dengan sengaja.


Tidak lama Audy datang menghampiriku dengan wajahnya yang ceria dan menatapku dengan kebingungan sebab melihat aku yang tidak senang dan meringis memegangi sebelah kakiku.


"Talita...hey" teriak Audy begitu antusias,


"Eh...eh...kenapa denganmu, apa kau jatuh ya ada apa dengan kakiku Talita?" Tanya Audy dengan merasa heran,


"Tidak tahu semua ini gara-gara si asisten dosen yang caper dan kurang ngajar, aishh aku benci sekali bahkan hanya untuk membicarakan tentangnya" ucapanku dengan sangat kesal.


Audy hanya menatapku dengan heran dan dia langsung membantuku berjalan karena kakiku masih terasa sakit, dia membawaku menuju tempat duduk terdekat untuk memeriksa kakiku dahulu namun saat aku baru saja duduk, aku melihat kak Veri yang berjalan menuju ruang rektor dan aku sangat penasaran dengannya makanya aku langsung bangkit berdiri meskipun kakiku terasa ngilu dan sakit.


"Ehh ...tunggu itu sepertinya kak Veri deh, Audy lihat itu benar pria yang kita temui di pantai kan" ucapku bertanya pada Audy untuk memastikan,


"Wahh ...iya benar-benar, dia si tampan yang kita temui di pantai waahhh kenapa dia ada disini apa dia juga akan menjadi dosen di kampus ini" ucap Audy yang terpukau melihat ketampanannya.

__ADS_1


Aku segera mengetuk kepala Audy cukup keras untuk menyadarkan dia yang hanya fokus dengan wajah tampannya saja tanpa memperhatikan hal lainnya.


"Peletak...Aishhh...kau ini wajah tampan saja yang ada di kepalamu itu, sudah ayo kita cari tahu" ucapku sambil menyeretnya dengan cepat,


"Ish, Talita kau ini tidak bisa melihat sahabatmu menikmati ciptaan tuhan sebentar saja" gerutu Audy sambil mengusap kepalanya yang aku ketuk sebelumnya.


Kami pun mengendap-endap dengan pelan sampai berada di depan pintu ruang rektor, aku dan Audy berusaha menguping pembicaraan mereka di dalam sana dan aku berusaha mengintip dari sela-sela pintu serta berusaha menguping pembicaraannya dengan menempelkan telingaku tepat pada lubang kunci yang ada disana.


Namun sialnya baru juga aku hendak menguping si Fasya sialan itu tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan dia mengagetkan aku hingga aku jatuh terdorong oleh Audy karena dia juga sama kagetnya denganku saat melihat Fasya berada di belakang kami secara tiba-tiba.


"Sedang apa kalian berdiri di depan ruang rektor seperti itu" ucapnya bertanya dengan nada yang datar,


"Aishh..diam berisik sekali sih" balasku tanpa melihat ke belakang.


"Ehh ....siapa yang bicara barusan, Audy apa itu kau tapi suaranya seperti.....aaarkhhhhh" teriakku kaget saat membalikkan mata untuk memeriksa,


"Aaarkhh... Brukkk... Aduhhh" ucapku yang kaget dan langsung terjatuh ke lantai,


"Ya ampun Talita ayo cepat bangun" ucap Audy sambil langsung membantuku berdiri.


Aku membersihkan pakaianku yang sedikit kotor dan memarahi Fasya dengan puas sebab dia yang menyebabkan aku hingga jatuh.

__ADS_1


"Heh, Fasya kau ini apa-apaan sih, bisa tidak jika mau menghadap kita kau menunjukkan tanda-tanda keberadaanmu sebelum mengagetkan kami, aku jatuh karenamu dan kau hanya menatapku dengan tatapan datar itu, sungguh menyebalkan!" Ucapku kesal dan langsung menyenggol sebelah bahunya sambil berjalan pergi dari sana bersama Audy.


Aku tidak perduli bahkan disaat Audy menyuruhku untuk meminta maaf kepada orang tersebut, sepanjang berjalan Audy terus saja memegangi tanganku dan memintaku untuk kembali serta meminta maaf kepada si Fasya yang hanya bisa membuatku naik darah setiap kali berhadapan dengannya.


Tapi Audy bukannya membelaku dia malah terus saja memaksaku untuk kembali dan meminta maaf kepada orang tersebut, padahal menurutku aku tidak melakukan kesalahan apapun sebab dia sendirilah yang mengagetkan aku hingga aku jatuh ke belakang sakit kagetnya melihat dia yang tiba-tiba muncul seperti hantu di dekat kami.


"Talita....berhenti....Talita kau harus kembali dan minta maaflah kepada kak Fasya dia akan mempersulit kami di universitas jika kamu bermasalah dengan orang sepertinya" ucap Audy memberitahuku dan terus membujukku,


"Tidak aku tidak mau meminta maaf kepadanya karena aku memang tidak salah, jadi apa yang harus aku pinta maaf darinya jika aku saja tidak tahu kesalahanku padanya" balasku kepada Audy.


Aku mana mungkin harus meminta maaf kepada orang sepertinya untuk yang ke tiga kalinya, sebelumnya disaat aku sudah meminta maaf dengan baik dan sopan kepadanya, dia juga tidak mempermudahkan aku dalam segala urusan dan dia justru malah semakin mempersulit diriku, bahkan dia mempermalukan aku di depan banyak orang tanpa rasa bersalah sama sekali.


Maka dari itu aku sangat enggan untuk meminta maaf lebih dulu lagi kepadanya, rasanya semua harga diriku sudah aku gadaikan untuknya namun balasan yang aku dapatkan justru hanya rasa kesal dan benci sebab perlakuannya kepada diriku sebelumnya.


"Talita ayolah kamu harus tetap meminta maaf bahkan disaat kamu tidak salah, kamu bukan kawannya untuk seorang kak Fasya" ucap Audy yang sungguh membuatku sangat jengkel ketika mendengarnya.


"Audy ada apa sih denganmu, kenapa kau terus memaksaku untuk meminta maaf kepada orang yang tidak memiliki hati sepertinya, Audy asal kau tahu tadi di kelas dia adalah dosen yang mengajar di kelasku dan dia mempermalukan aku dengan sengaja, padahal aku baru saja sudah meminta maaf kepadanya, menurutmu apa aku masih harus tetap mengalah dan menerima penghinaan lagi darinya hingga mempermalukan diriku sendiri lagi?" Ucapku membicarakan semuanya yang terjadi kepadaku saat di dalam kelas pada Audy.


Aku langsung pergi dengan kesal meninggalkan Audy karena aku tidak bisa tetap bersamanya di saat dia terus saja mendesak aku untuk meminta maaf kepada pria menyebalkan tersebut, aku pantas kesal dan marah dalam posisi saat ini.


Karena bagaimana aku tidak marah jika memiliki sahabat yang tetap membela orang lain bahkan mendesakku terus menerus disaat aku tidak ingin melakukannya. Bukan aku sombong karena tidak ingin meminta maaf ataupun tidak bisa mengalahkan untuknya tetapi aku juga memiliki harga diri dan batas dari kesabaran di dalam diriku.

__ADS_1


Aku bukan manusia sempurna ataupun perempuan baik hati yang akan terus mengalah dengan keadaan serta kepada pria sialan sepertinya makanya aku tidak akan melakukan hal hal semacam itu yang biasa dilakukan oleh para tokoh protagonis di dalam sebuah drama. Ini adalah dunia nyata dan aku sendiri yang aku menanggung dampak segalanya, sehingga aku tidak memperdulikan hal tersebut.


__ADS_2