Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Menghubungi Audy


__ADS_3

Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang sangat senang dan berbunga bunga ku baringkan tubuhku di ranjang sambil terus tersenyum gembira dengan memegang kalung pemberian kak Bara, aku juga langsung menelpon Audy untuk memberitaunya kabar gembira ini.


"Halloo...Talita ada apa kamu nelpon malam begini?" Tanya Audy di sebrang sana,


"Audy kamu tau tidak aku sudah jadian dengan kak Bara.....ahh...aku senang sekali" ucapku segera memberi taunya,


"Wahh...sungguh?, Apa kamu serius?, Jadi kamu sudah menerima pernyataannya?" Tanya Audy berturut turut membuatku tertawa mendengarnya,


"Haha...iya Audy, aku mengikuti saranmu dan tadi adalah hari pertama aku dan kak Bara sebagai pasangan, oh ya satu lagi kamu juga orang pertama yang aku beritau loh" ucapku begitu senang,


"Apa?, Aku orang pertama, wahh aku merasa terhormat hehe, terimakasih sudah mempercayaiku Talita" jawab Audy yang turut bahagia,


"Iya, aku selalu mempercayaimu Audy, dan aku juga akan ikut berlibur bersama kak Bara dan beberapa temannya, apa kamu mau ikut?" Ucapku memberitau kabar lain dan mengajak Audy,


"Memangnya boleh?, Akukan sudah tidak sekolah di sana lagi?" Tanya Audy,


"Tentu saja boleh Audy, ini kan hanya liburan dan bukan liburan kelas juga, ini hanya liburan musim panas yang diadakan oleh kak Bara sebegai momen kenangan terakhir dia dan teman temannya yang lain" jawabku menjelaskan,


"Tapi aku malu ah, masa aku tiba tiba ikut saja, kalau tidak di undangkan agak gimana" ujar Audy yang masih merasa tidak enak,


"Ayolah Audy, masalah itu aku kan bisa bicara pada kak Bara lagi pula kalau kamu tidak ikut nanti aku dengan siapa di sana, pasti akan canggung jika aku ikut sendiri, ayo dong Audy..." Ucapku memohon.


Beberapa saat aku terus memohon pada Audy agar dia mau menemaniku di acara liburan musim panas tersebut, namun sudah beberapa kali Audy seperti masih merasa ragu, aku tak mau putus asa dan terus memohon juga memintanya dengan paksa hingga akhirnya Audy pun mau menemaniku.

__ADS_1


"Ayo dong Audy kita kan sahabat masa kamu tega sih gak mau nemenin aku" ucapku membujuknya lagi,


"Ya sudah...iya...iya...deh, aku akan ikut denganmu, sudah berhenti merengek seperti itu aku geli mendengarnya" jawab Audy yang akhirnya menyetujui ajakanku,


"Hehe... Iya aku berhenti, terimakasih yah Audy kamu memang sahabat terbaikku" ucapku memujinya,


"Begini saja kau baru menganggapku sahabat terbaik, kemarin kemarin kemana saja?" Balas Audy dengan nada agak sinis,


"Ada kok cuman sedang lupa diri saja heheh, jangan marah ya aku hanya bercanda" ucapku menggodanya,


"Tidak mungkin aku marah pada wanita polos sepertimu, kamu juga tidak akan tau apa aku marah atau tidak iya kan, kau akan terus menggangguku sampai aku menyetujui semua keinginanmu huuhh aku sudah mengenalmu luar dalam Talita!" Ucap Audy membuatku tertawa lebar,


Mendengar ucapan Audy yang selalu benar tentang diriku, tawa lepas selalu keluar begitu saja dari mulutku ini padahal jauh sebelum bertemu dengan Audy aku sangat jarang tertawa bahkan hampir tidak pernah, paling aku hanya tersenyum lebar jika ada yang lucu tidak sampai tertawa puas dan suara yang keras, namun semenjak bertemu dengan Audy rasanya kehidupan setiap hariku selalu berwarna aku selalu merasa benar benar hidup ketika di sampingnya.


Aku dan Audy terus berbincang banyak hal hingga larut malam dan tertidur tiba tiba dengan ponsel yang masih menyala, aku ketiduran dan tidak sadar kapan Audy mematikan panggilan telponnya denganku.


Hanya saja saat bangun tidur di pagi hari ponselku habis batrai dan aku buru buru mengisi dayanya, sambil bersiap siap aku selalu memasak sendiri dan membuat sarapan sendiri, berkat beberapa pelajaran memasak yang di ajarkan oleh kak Kevin aku sedikit demi sedikit bisa membuat beberapa menu untuk diriku sendiri di pagi hari, meski rasa masakanku saat ini belum se enak rasa masakan kak Kevi yang menjadi guru masakku, namun aku yakin lama kelamaan aku pasti akan jago memasak sepertinya.


Aku terus fokus memasak dan bersenandung ria, meski aku tinggal sendirian namun seiring berjalannya waktu kini aku sudah terbiasa dan tidak merasa kesepian lagi, saat aku baru selesai menata semua makanan di meja tiba tiba terdengar ketukan pintu dari luar.


Aku pun segera membukanya yang ternyata itu adalah ibuku bersama yah tiriku, aku heran dan reflek mengerutkan kedua alis bersamaan hingga hampir menyatu, karena tidak menyangkan mereka masih sempat datang menemuiku ke rumah ini.


"Ibu, ada apa kamu kemari?" Tanyaku serius,

__ADS_1


"Sayang...ibu merindukanmu nak, kamu ini kan putri ibu tentu saja ibu akan datang menengokmu sesekali" jawab ibuku yang begitu ramah seperti biasanya,


"Tapi aku baik baik saja Bu, ibu tidak perlu repot repot datang kemari hanya untuk melihat kabarku, biasanya ibu juga cukup mengirimiku pesan atau menelponku saja" jawabku karena masih merasa tak menyangka,


"Talita...ibu ingin melihat wajahmu secara langsung, ibu ingin tau bagaimana perkembanganmu di sekolah, bagaimana kesehatianmu di desa ibu ingin tau semuanya, ibu tidak mau kamu kesulitan" ucap ibuku sambil memegangi kedua pundakku,


"Terserah ibu saja, ayo masuk tapi maaf tidak ada apapun di sini, bahkan AC juga tidak ada" jawabku dengan cuek dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk,


"Talita rumah ini begitu kecil untukmu, bagaimana jika ayah belikan yang baru, atau kamu bisa tinggal di rumah ayah bersama ibumu" ucap ayah tiriku,


"Iya Talita jika kamu setuju ibu akan segera mengurus perpindahan sekolahmu" tambah ibuku menimpali,


Mendengar ucapan mereka aku langsung paham dan tau apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku hingga bela bela datang jauh kemari dan banyak berbasa basi, mungkin mereka pikir aku akan mudah untuk di bujuk dan diatur, jika itu terjadi padaku satu tahun lalu ke belakang mungkin aku bisa menurutinya dengan mudah, namun tidak dengan diriku yang sekarang, aku tidak akan pernah termakan bujukan siapapun diantara kedua orangtuaku.


"Maaf Ibu, om tapi Talita sudah nyaman tinggal di rumah sempit dan kecil ini, bahkan bagi Talita rumah ini sudah luas karena Talita tinggal seorang diri, Talita juga sudah kelas dua SMA sayang sekali jika harus pindah sekolah di tengah tengah seperti ini" ucapku menjelaskan dan menolaknya dengan halus.


Sebenarnya aku benci bersikap baik seperti ini pada mereka, namun mau bagaimanapun aku tetap harus menghormati ibu karena dia adalah ibu kandungku, aku tidak mau menjadi anak durhaka hanya karena ke egoisanku yang tidak menerima perpisahan mereka.


Meski aku sudah menolak dan menjelaskannya namun sepertinya ibu dan ayah tiriku tidak mau menyerah dalam membujukku agar ikut bersama mereka.


"Talita...ibu hanya mengkhawatirkanmu, ibu tau bagaimana kamu sejak kecil selalu bergantung pada ibu, pasti kamu banyak menemukan kesulitan jika terus tinggal seorang diri" ucap ibu dengan wajah memelas,


"Ibu benar tentangku yang selalu bergantung pada ibu, namun itu dulu ibu juga yang sudah mengajarkan Talita agar bisa hidup mandiri dan ini lah hasilnya Bu, Talita berhasil hidup mandiri bahkan ketika ibu dan ayah tidak memberikan jatah uang bulanan" jawabku dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2