Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Tim Basket


__ADS_3

Alvaro yang kesal karena Talita terus saja menggerutu sendiri dan wajahnya yang cemburut sampai ketika dia mengikuti arah pandangan Talita barulah Alvaro sadar.


"Heh.. apa kau cemburu karena cewek centil itu?" Ucap Alvaro sambil menyenggol tangan Talita,


"Hah?, Aku?, Cemburu?, Ya enggak lah untuk apa cemburu dengan wanita seperti dia sudah jelas lebih cantik aku dan aku yakin kak Bara akan lebih memilihku" ucapku dengan sangat percaya diri.


Entah darimana saat itu aku bisa dengan beraninya mengatakan semua itu pada Alvaro hingga membuat Alvaro menaikkan kedua alisnya seakan tidak percaya dengan ucapanku namun reaksi Alvaro itu memang ada benarnya jangankan dia, aku sendiri sebenarnya juga tidak yakin namun aku hanya terbawa suasana dan emosi makanya berbicara seenaknya saat itu, karena tidak mau kalah dengan kak Vera, sedangkan Alvaro hanya tertawa kecil menanggapinya.


"Ahahaha... Kau cantik darimananya, yang ada kau itu menjengkelkan apa kau tidak sadar?" Jawab Alvaro yang membuatku kesal.


"Aishh...kau ini temanku atau bukan sih?, Kenapa mengejekku begitu dasar kau sialan" ucap ku sambil memukul tangan dan pundak Alvaro,


Tiba tiba saja saat aku bercanda dan memukul pundak Alvaro juga tangannya beberapa kali Alvaro meringis kesakitan dan menahan lenganku aku panik dan sedikit cemas.


"Esttttt...." Ringis Alvaro,


"Al..ada apa?, Apa aku memukulmu terlalu keras, mana yang sakit?" Tanyaku merasa bersalah,


"Tidak...aku baik baik saja" jawab Alvaro sambil pergi meninggalkanku.


Aku merasa heran dan karena penasaran juga sangat cemas dengan kondisinya, aku pun memutuskan untuk mengikuti Alvaro dari belakang secara diam diam, dan saat aku ikuti ternyata Alvaro pergi ke ruang ganti aku pun juga ikut masuk ke sana diam diam, aku bersembunyi diantara banyaknya gantungan seragam tim basket dan perlengkapan lainnya untunglah badanku mungil jadi bisa bersembunyi di mana saja dengan aman.


Saat itu kulihat Alvaro yang membuka manset tangan berwarna cream yang dia kenakan dan saat aku lihat ada memar di dekat bagian pergelangan tangannya, aku refleks membelalakkan mata dan tanpa sadar langsung keluar dari persembunyianku menghampiri Alvaro sambil berbicara padanya.


"Hah?, Astaga...Alvaro apa yang terjadi dengan lenganmu?" Tanyaku kaget sambil memegangi lengan Alvaro yang memar.

__ADS_1


Aku menahan tangan Alvaro yang satunya lagi ketika hendak menyembunyikan memar itu dariku.


"Berhenti Al aku sudah melihat semuanya aku tau kamu terluka, dan aku tidak bisa diam saja, ayo kita obati dulu" ucapku sambil menarik Alvaro agar duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


Aku pergi mencari kotak P3K dan setelah ketemu langsung aku obati memar di lengan Alvaro dengan hati hati.


"Talita sudahlah pertandingan berikutnya sudah mau mulai aku harus ke sana sekarang" jawab Alvaro,


"Aku juga tau pertandingannya mau mulai tapi kalau kau terluka begini bagaimana bisa aku melihatmu bertanding dengan tenang" ucapku sambil terus fokus mengoleskan sebuah salep pereda nyeri pada lengannya yang memar,


Alvaro hanya diam dan menatapku dengan lekat aku tau dia terus menatapku sedari tadi namun aku mengabaikan tatapannya karena fokus mengobati luka di tangannya.


Melihat luka di tangan Alvaro yang cukup besar aku jadi merasa bersalah karena sudah merepotkan dia sebelumnya bahkan Alvaro masih sempat sempatnya menggendongku dan mengobati kakiku yang terkilir hingga akhirnya aku bisa menggerakkan kakiku lagi dengan leluasa walaupun sampai sekarang masih sedikit terasa sakit dan aku belum bisa berjalan seleluasa sebelumnya namun apa yang Alvaro berikan padaku itu sangat membantuku.


"Alvaro kau tau kenapa aku selalu mencemaskanmu?" Tanyaku tiba tiba,


"Hhaa...kau ini selalu saja menjawab ucapanku dengan nada yang seperti itu, itulah kenapa aku mencemaskanmu, aku rasa tidak ada orang yang memperhatikanmu dan menjagamu kecuali aku, karena hanya aku yang tidak takut denganmu" balasku sambil menatapnya dengan tersenyum.


"Deg...deg...deg...." Jantung Alvaro yang tiba tiba berdetak lebih kencang dari sebelumnya,


Alvaro yang gugup mendapatkan senyum manis dan ucapan seperti tadi dari Talita dia refleks langsung menarik lengannya yang tengah diobati oleh Talita dan langsung memakai manset tangannya kembali.


"Aahhh...sudahlah, aku baik baik saja terimakasih sudah mengobati luka ku" ucap Alvaro sambil menatap ke depan dengan gugup,


Talita hanya tersenyum karena dia tau Alvaro sedang salah tingkah.

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita kembali" ajak Talita sambil berdiri dari duduknya.


Alvaro menatapku dari atas hingga bawah sampai matanya berhenti di arah kakiku dia menatapku menyelidik.


"Talita apa kakimu sudah sembuh?, bisa bisanya kau berjalan kemari mengikutiku dengan kaki pincang seperti itu" bentak Alvaro dengan wajah yang serius,


"Heh....kenapa kau marah?, aku kan hanya terkilir bukan lumpuh tentu saja masih bisa berjalan, kau itu terlalu berlebihan, sudahlah ayo cepat sudah mau dimulai nih" balasku sambil berjalan lebih dulu dengan kaki yang pincang keluar dari ruang ganti dengan hati hati.


Alvaro mengikutiku dari belakang dan dia segera kembali ke tim basket lalu pertandingan pun dimulai aku duduk di samping lapang dan sangat cemas melihat Alvaro yang mengabaikan lukanya sendiri, dia terus saja membuat tim basket sekolah unggul dan hingga detik detik terakhir masih Alvaro yang banyak memasukkan bola ke dalam ring lawan, poin demi poin terus bertambah sampai di detik detik terakhir Alvaro kembali berhasil memasukkan bola dengan sempurna ke dalam ring dan pertandingan pun selesai, kemenangan sudah di raih dengan mudah oleh tim basket sekolahku, mereka bersorak kegirangan dan penuh kebahagiaan.


Anak anak tim basket lainnya menghampiri Alvaro dan mereka menggendong Alvaro lalu melayangkannya ke udara dan kembali menangkap tubuhnya, aku turut senang atas keberhasilan yang didapatkan tim basket sekolahku saat itu. Sampai ketika anak anak sibuk dengan Alvaro, kak Bara datang menghampiriku.


"Talita terimakasih yah, semua ini berkatmu" ucap kak Bara yang membuatku merasa heran,


"Maksudnya apa ya kak?, Aku kan hanya menonton saja, kenapa bisa karena aku?" Tanyaku bingung,


"Iya karena kamu, Alvaro mau ikut lomba kan, dan karena kamu juga Alvaro menepati janjinya" ucap kak Bara sambil memegang sebelah pundakku,


"I...iya kak sama sama" balasku gugup mendapatkan sentuhan dari kak Bara,


Saat baru saja aku bisa berdekatan dengan kak Bara lagi lagi kak Vera datang menghampiri kami dan dia langsung menarik lengan kak Bara begitu saja entah mereka mau pergi ke mana dengan terburu buru.


"Bara...ada yang harus di selesaikan ayo cepat ikut aku" ucap kak Vera tiba tiba dan menarik lengan kak Bara begitu saja,


"Talita aku pergi dulu, sampai jumpa" ucap kak Bara sambil berlari bersama kak Vera,

__ADS_1


Aku hanya membalasnya dengan lambaian taman dan tertunduk lesu dengan menahan kesal.


__ADS_2