Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Kedatangan Mereka


__ADS_3

Para wanita itu seketika membungkuk dan mereka berjanji untuk meminta maaf kepada Talita saat itu, juga bahkan mereka langsung pergi menuju kediaman Talita karena kebetulan salah satu diantara mengetahui di mana tempat tinggal Talita yang baru dan mereka langsung pergi ke tempat tersebut dengan berbondong-bondong.


Dan Alvaro juga mengikuti mereka dari belakang secara diam diam hingga mereka sampai di sana dan langsung mengetuk pintu apartemen yang aku tinggali, saat itu aku masih tertidur karena lelah terus menangis sedari tadi dan ketika mendengar ketuka pintu dari luar aku segera bergegas pergi untuk melihatnya.


Aku sama sekali tidak menyangka ketika aku membukanya orang-orang yang tadi melempariki dengan telur mentah berada di depan pintu apartemenku sehingga dengan cepat aku langsung menutup kembali pintu rumahku tapi salah satu dari mereka berhasil menahannya dan langsung meminta maaf kepadaku secara tiba-tiba.


"Kalian? Untuk apa lagi kalian kemari apa kalian tidak puas sudah membuatku seperti tadi?" Bentakku dengan sakit hati yang kembali terbuka,


"Tidak Talita tolong maafkan kami, aku dan teman-teman hanya disuruh oleh kak Vera dan kak Nandito jadi tolong maafkan kami seseorang akan mematahkan lengan kami jika kau tidak memaafkan kita, aku mohon Talita kasihanilah kami, kami tidak akan melakukan hal yang sama lagi kepadamu mulai saat ini" ucap wanita itu di diikuti oleh perempuan lainnya.


Aku bingung sekaligus kaget saat mengetahui pengakuan dari mereka dan apa yang aku pikirkan ternyata memang benar, mereka adalah orang-orang suruhan kak Vera dan kak Nandito tapi mengapa kak Bara membiarkan semua ini terjadi, apa dia mengetahui perbuatan kedua sahabatnya atau tidak, itulah yang mengganggu pikiranku saat ini.


Aku sebenarnya tidak ingin memaafkan mereka semua yang sudah melempariki dengan telur mentah seenaknya bahkan ketika mereka tahu bahwa semua itu bukanlah kebenaran, tapi ketika mereka mengatakan bahwa ada seseorang di belakang mereka yang akan mematahkan tangannya masing-masing ketika aku tidak memberinya maaf aku pun luluh dan aku tidak mungkin membiarkan mereka kehilangan mereka hanya karena hal seperti ini.


"Baiklah karena kalian berkata jujur, aku memaafkan kalian namun aku harap di masa depan kalian benar-benar menepati ucapan kalian agar tidak melakukan hal semacam tadi kepadaku ataupun orang lain" ucapku kepada mereka.


Mereka nampak sangat senang bahkan tiba-tiba bersimpuh di bawah kakiku dan aku merasa tidak enak lalu langsung menyuruh mereka semua berdiri sebab semua itu terlalu berlebihan bagiku, meski mereka sudah melakukan hal yang jahat terhadapku, tapi aku tidak mungkin membalas mereka dengan kejahatan juga, sebab jika itu terjadi siapa yang akan menjadi orang baik nantinya.


"Terimakasih sungguh terimakasih Talita kau gadis yang baik hati, aku sungguh menyesal telah berbuat jahat padaku" ucap mereka bersamaan,

__ADS_1


"Ehh ..tidak papa ayo cepat bangkit kalian tidak perlu bersikap seperti ini sampai merendahkan diri kalian sendiri dihadapanku, aku bukan orang besar dan aku tidak perlu semua itu dari kalian jadi seharusnya kalian tidak melakukannya, aku ingin istirahat sebaiknya kalian pergi sebelum aku berubah pikiran" ucapku meminta mereka pergi dengan cara yang halus.


Mereka terlalu banyak beralasan dan menyanyanjungku ketika sudah ada seseorang di belakang mereka yang melemparkan ancaman, belum tentu juga mereka akan meminta maaf dan mengungkapkan kebenarannya jika tidak mendapatkan ancaman dan desakkan dari seseorang di belakang mereka.


Namun aku sangat penasaran siapa orang yang telah membuat mereka jera sampai membuat mereka langsung mendatangi aku dan meminta maaf secara berlebihan seperti itu padahal aku sama sekali belum membicarakan masalah ini kepada siapapun dan kemungkinan besar hanya Alvaro yang menjadi saksi juga yang menyaksikan kejadian dimana aku ditimpuki telur mentah oleh mereka.


"Apa mungkin Alvaro yang mengancam mereka dan menyuruh mereka mendatangiku?" Ucapku berpikir menduga duga.


Aku kembali menghempaskan dugaanku itu karena jelas sekali Alvaro sudah benar-benar tidak perduli kepadaku pasalnya pada saat di UKS saja dia sangat cuek dan meninggalkan aku dengan cepat, dia juga tidak datang memastikan keadaanku, dia hanya sekedar menolongku dan hanya itu yang dia lakukan.


"Hah, tidak mungkin juga dia yang melakukannya, dia hanya kasihan padaku dan dia hanya menolongku saat di sekolah saja selebihnya dia juga membiarkan aku sendirian lagi" ucapku menghempaskan semuanya.


Alvaro sudah sejak lama mengincar Talita dan menyukainya sejak awal dia pernah menabrak Talita di sekolah bahkan ketika pertama kali bertemu dengan Talita di dalam bus dimana dia memberikan obat mag bagi Talita yang menderita kembung saat itu.


Sayangnya sampai sekarang Talita masih belum menyadari bahwa sebenarnya Alvaro adalah pri misterius yang duduk bersampingan dengan dia ketika di dalam bus tepat tiga tahun yang lalu saat Talita pertama kali pindah dan harus tinggal di rumah bekas neneknya itu.


Hingga orang yang dia temui di sekolah masih orang yang sama dia seorang Haiden Alvaro, entah kenapa Talita bisa melupakan wajah Alvaro dan tidak mengingatnya bahwa dia adalah orang yang sama.


Setelah menutup kembali pintu dan menyuruh segerombolan perempuan tadi aku kembali ke kamar dan melihat dari atas balkon kamarku dimana para perempuan itu keluar dari gedung apartemen dan mereka berpencar begitu saja, mungkin mereka akan kembali ke kediaman mereka masing-masing namun ada sesuatu yang aneh saat aku melihat seorang pria yang memakai Hoodie keluar dari balik tembok yang tak jauh dari gedung apartemenku.

__ADS_1


Ketua pemimpin gerombolan bayaran tadi membungkuk kepada pria misterius yang memakai Hoodie hitam, serta kepalanya yang memakai ciput sehingga aku tidak bisa melihat siapa pria itu dengan jelas.


"Ehh...siapa dia, apa dia yang menyuruh para perempuan bayaran itu untuk meminta maaf kepadaku, aahh aku harus menemuinya" ucapku sambil segera bergegas berlari ke luar dari apartemen menuju ke bawah dan mengejar pria misterius itu.


Untunglah aku masih sempat mengejarnya dan aku lihat pria misterius itu hendak menaiki sebuah motor sport berwarna hitam juga dan aku segera berlari menghentikannya aku menarik hoodie yang dia kenakan untuk menahannya agar tidak pergi dari sana.


"Hey....tunggu hah...hah..hah" ucapku menahannya dengan nafas yang menderu karena lelah setelah berlari menuruni tangga dengan cepat.


Pria misterius itu nampak tetap santai dan dia memalingkan pandangannya kepadaku dia memakai kacamata hitam dan masker hitam sehingga wajahnya benar-benar tertutup total dan aku sungguh sulit mengenalinya, dia juga tidak mengeluarkan suara sedikitpun sehingga aku sedikit merinding ketika melihat dia menatap lurus kepadaku.


"AA..aahh...maaf aku hanya ingin bertanya apa kau mengenali wanita yang baru saja berbincang denganmu, tadi aku melihat wanita itu sepertinya sangat takut denganmu dan apa kau yang menyuruh mereka menemuiku lalu meminta maaf padaku atas perbuatan mereka?" Ucapku menanyakannya secara langsung.


Aku takut pria itu akan pergi lagi makanya aku bertanya secara langsung semua yang ingin aku ketahui darinya.


Pria itu mengangguk dan aku membelalakkan kepalaku.


"Ahhh...apakah itu artinya benar?" Tanyaku lagi dan pria itu tetap menjawabnya dengan anggukan dua kali.


Aku kira dia bisa makanya aku hanya mengangguk lagi dan dia melepaskan tanganku untuk menjauh darinya lalu dia langsung menyalakan motornya dan pergi dari sana dengan cepat padahal aku belum sempat membongkar wajahnya.

__ADS_1


"Eh...eh....tunggu kau mau kemana, hey tunggu siapa namamu aku belum melihat wajahmu...aishhh....sial, harusnya tadi aku langsung bertanya siapa namanya dan membuka masker yang dia kenakan" gerutuku kesal dengan diriku sendiri.


__ADS_2