
Karena kejadian barusan nafsu makanku hancur begitu saja, aku tidak mood untuk menghabiskan makanan di atas meja, akhirnya aku segera membayar dan pergi ke kelas dengan perasaan yang masih kesal, tak cukup menggangguku di kantin rupanya kak Bara juga datang ke kelasku bahkan saat ini dia sudah duduk di bangku kosong yang berada di sebelahku, aku sungguh kesal hingga memutuskan untuk pergi dan membalikkan badan namun belum sempat aku melangkah kak Bara sudah memanggil namaku dengan lantang dan memintaku agar duduk di sampingnya.
"Kau mau kemana, kelas sebentar lagi dimulai, cepat kemari dan duduklah disampingku" ucap kak Bara sambil menepuk bangku di sampingnya.
Aku hentakkan kakiku dan mencoba menahan amarah yang sudah sampai di ubun ubun, ku tarik nafasku dalam dalam lalu ku hembuskan perlahan, setelah sedikit tenang aku berbalik lagi dan menghampiri kak Bara lalu duduk di sampingnya, aku pikir aku masih bisa mentoleri perbuatannya, ini semua aku lakukan juga untuk menjaga nama baiknya sebagai ketua OSIS di sekolah ini, namun tiba tiba tangan kak Bara mengayun ke belakang dan hendak merangkul pundak ku, refleks aku langsung bangkit dan memilih untuk berpindah tempat duduk.
"Maaf kak, tapi saya bukan wanita sembarangan yang bisa kakak rangkul dengan mudah, permisi" ucapku tegas dan segera pergi dari ruangan kelas secepat mungkin.
Aku berjalan di lorong koridor sekolah dengan perasaan kesal, marah dan campur aduk, aku merutuki kak Bara dengan banyak kalimat sampai tak sadar aku terus berjalan hingga berada di lantai atas atap sekolah, karena masih merasa kesal dan aku tidak bisa menumpahkan kekesalan ini pada kak Bara akhirnya aku putuskan untuk berteriak di atap sekolah dengan sekencang kencangnya.
__ADS_1
"Aaaaaaa......dasar pria sialan, aishhhhh aaaaaa.....aku ingin mencekikmu hidup hidup....." teriak Talita di samping sebuah tumpukan kursi bekas yang tak terpakai.
"Hah .....hah ....., akhirnya aku merasa lega" ucap Talita lagi sambil merapihkan pakaiannya dan dia berbalik.
Saat berbalik tiba tiba saja seorang pria yang memakai Hoodie hitam berdiri tegak di hadapanku sambil menatap tajam kearah ku dan dia menarik lenganku membawaku ke belakang tumpukan kursi usang yang tak terpakai, tentu saja aku berontak dan berusaha melepaskan diri dari genggaman pria aneh tersebut namun tangannya terlalu kuat dan aku hanya bisa tertarik olehnya, dia memaksaku berjongkok dan bersembunyi di balik bangku bangku itu lalu menutupi sekujur tubuh kita berdua dengan sebuah kain berwarna hitam yang ada di sana.
Saat aku hendak berteriak pria itu malah membekap mulutku menggunakan tangannya dengan rapat, itu membuatku kaget dan takut mataku membesar dan melotot menatap tajam pria aneh tersebut berharap dia bisa tergertak dengan tatapanku dan melepaskan bekapannya, namun semua itu hanyalah angan anganku, dia sama sekali tak tergertak dengan tatapanku dia justru malah balik menatapku tajam dan sialnya itu membuat nyaliku ciut seketika aku langsung terdiam dan berhenti berontak sampai beberapa saat terdengar langkah kaki seseorang yang ramai dan saat aku melihat di sela sela kain itu, aku masih bisa melihat dengan jelas kedatangan kak Bara dan beberapa teman temannya, tapi setelah itu nampak kak Vera menarik seorang gadis perempuan yang memakai kacamata dan menyuruhnya untuk melakukan hal hal konyol, selain itu kak Vera dan beberapa pria di sana mengacak ngacak rambut anak perempuan itu mereka juga melemparinya dengan telur mentah, anak perempuan itu hanya bisa menunduk dengan menangis terisak, tanpa aku sadari air mata mengalir jatuh di pipiku, dan saat aku hendak menyeka air mataku tangan pria itu dengan sigap mendahuluiku mengusapnya dengan lembut, sontak itu membuatku membuka mataku dengan lebar karena kaget.
Karena penasaran aku terus melihat dari sela sela kain yang menyelimuti ku, nampak keadaan anak perempuan itu semakin memburuk, roknya digunting hingga cumpang camping, kepalanya dilempari lagi oleh kopi dan tepung, aku sungguh tidak kuasa melihatnya dan aku merasa aku tidak bisa diam saja melihat orang lain yang tidak berdaya ditindas dengan sedemikian rupa di hadapan mata kepalaku sendiri terlebih semua itu dilakukan oleh teman teman dan rekan rekan OSIS di sekolah, sungguh sangat menyedihkan melihatnya dan aku juga melihat kak Bara seakan berpaling ke arah lain dan tidak melihat ataupun ikut campur dengan teman temannya yang lain, entah kenapa di sisi lain aku merasa bersyukur kak Bara tidak turut melakukan hal tercela seperti itu, tetapi di sisi lain aku juga kecewa padanya karena hanya diam saja dan pergi tanpa melakukan apapun untuk menghentikan kelakuan teman temannya yang menganiaya seorang anak perempuan tak berdaya sekejam itu, aku sungguh tidak bisa berdiam diri saja dan aku berusaha bangkit untuk menolong gadis malang tersebut tapi sialnya tanganku ditarik hingga membuatku kembali berjongkok dan berhadapan sangat dekat dengan pria aneh itu lagi, aku segera menjauh dan menjaga jarak, aku menatapnya dan bertanya dalam hati kenapa dia menahanku tapi sayangnya dia hanya pria aneh yang menatapku hanya dengan tatapan penuh ancaman lagi lagi aku dibuat tak bisa berkutik dihadapannya.
__ADS_1
Selang beberapa saat kak Vera dan teman temannya pergi dan meninggalkan gadis malang itu seorang diri, aku hendak segera menolongnya tapi lagi lagi pria itu menahan tanganku dan akhirnya gadis itu meninggalkan atap sampai hanya tersisa aku dan pria aneh yang belum pernah ku dengar suaranya sekalipun, aku kesal karena pria itu tidak membiarkan aku menolong gadis malang tadi bahkan saat tinggal hanya ada gadis itu sendirian.
Aku berdiri dan membuka kain yang menutupi tubuhku dengan kasar dan langsung membentaknya tanpa berpikir panjang.
"Heii....kau ini buta atau bagaimana, kenapa malah diam saja dan menahanku, bukannya membantuku untuk melindungi gadis tadi, kamu lihat sendiri kan dia sedang dibully" ucapku kesal sambil berkacak pinggang.
"Justru aku melindungi mu, kalau kau keluar saat itu, kau akan bernasib sama bahkan jauh lebih buruk dari gadis tadi" ucap pria itu dengan santainya dan berlenggang pergi meninggalkanku diatap seorang diri dengan penuh pertanyaan juga kekesalan.
"Aishhhhh ........dasar pria aneh, kenapa hari ini aku sial sekali...argghhhhhhh" ucapku berteriak frustasi.
__ADS_1
Aku menghentakkan kakiku beberapa kali dengan kesal ke lantai lalu segera turun dari atap dan berjalan menuruni tangga terburu buru, karena aku juga takut kalau nanti bertemu dengan kak Vera maupun salah satu temannya itu akan sangat bahaya bagiku jika sampai mereka tau aku melihat kejadian yang mereka lakukan pada seorang siswi perempuan tadi.