Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Jatuh Pingsan


__ADS_3

Aku tetap berdiri dan terus melihat ke segala arah mencari keberadaan Alvaro di sekitar sana, aku masih sangat yakin bahwa yang tadi aku lihat disitu adalah Alvaro, tidak mungkin aku salah lihat karena aku tidak sedang memikirkannya, hingga akhirnya waktu terus berlalu dan ini sudah sore menjelang malam namun aku tetap tidak menemukan keberadaan Alvaro disana.


"Apa aku salah, apa aku terlalu memikirkannya atau memang dia yang meninggalkan aku?" Gerutuku pelan dengan tertunduk lesu.


Hari sudah berubah menjadi malam, orang-orang berjalan kesana kemari dan bus juga sudah lewat beberapa kali sedangkan aku masih berdiri mematung sambil tertunduk di samping jalan, hingga akhirnya kakiku mulai terasa lemas dan kepalaku mulai pusing, sedikit demi sedikit pandanganku mulai kabur dan aku jatuh ambruk ke tanah tidak sadarkan diri.


Sebenarnya Alvaro memperhatikan Talita dan dia memang ada di sekitar sana sejak lama, dia terus memperhatikan Talita namun tidak bisa muncul dihadapannya untuk saat ini, sebab urusannya dengan sang ayah masih belum selesai, tetapi ketika melihat Talita yang jatuh pingsan dia tidak bisa menahan dirinya sendiri dan segera keluar dari persembunyiannya.


"Ya ampun Talita...." Ucap Alvaro kaget dan dia berlari hendak menghampiri Talita.


Tapi sayangnya seorang pria sudah lebih dulu menghampiri Talita dan menggendong dia masuk ke dalam mobil hingga mobil itu membawanya pergi, Alvaro membelalakkan matanya kaget dan dia sama sekali tidak mengetahui siapa pria yang barusan membawa Talita pergi sehingga dia langsung berusaha mengejar mobil itu dengan motornya.


"Siapa dia, aishhh aku harus mengikutinya" ucap Alvaro sambil berlari mengambil motornya.


Tapi sayang secepat apapun Alvaro berusaha dia tidak berhasil mengejar mobil tersebut dan sudah kehilangan jejaknya, Alvaro memukul motornya sendiri karena kesal sebab dia sudah menyebabkan Talita seperti itu di tambah membuat Talita dibawa begitu saja oleh orang asing dan dia seorang pria.


"Astaga...aku kehilangan jejaknya, kemana aku harus mencarinya sekarang, aishh Talita semoga kau baik-baik saja" gerutu Alvaro sangat mencemaskan Talita.


Dia segera membalikkan motornya dan pergi ke kediaman kakaknya Veri untuk meminta bantuan memeriksa keadaan Talita.


Sedangkan disisi lain Talita sudah sampai di rumah sakit dibawa oleh Fasya karena dia tidak sengaja melihat Talita yang jatuh pingsan di pinggir jalan.

__ADS_1


Yah, saat itu Fasya baru saja keluar dari kampus dan dia berniat untuk pulang menuju rumahnya yang kebetulan satu arah dengan Talita namun saat lampu merah tidak jauh dari tempat Talita berdiri dia sudah memperhatikan Talita karena melihatnya berdiri mematung dengan kepala yang tertunduk hingga ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, tiba-tiba saja Talita jatuh pingsan dan Fasya yang melihat itu segera mengesampingkan mobilnya lalu dia menggendong Talita dan membawanya langsung ke dalam mobil.


Hingga sesampainya di rumah sakit dokter segera memeriksa Talita dan sudah menyatakan bahwa Talita hanya kelelahan saja hingga dia sudah di perbolehkan untuk pulang saat itu juga, setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit Fasya segera masuk ke dalam ruang rawat dan menghampiri Talita untuk melihat kondisinya.


"Hey, bagaimana kondisimu apa kau merasa lebih baik sekarang?" Tanya Fasya dengan wajahnya yang tetap terlihat kaku tanpa ekspresi.


Aku bangkit terduduk dengan perlahan dan merasakan sakit di sekujur tubuhku dan kepalaku yang sedikit pusing, aku juga hanya mengangguk menanggapi pertanyaan dari kak Fasya, aku membencinya tapi tidak disangka justru dialah yang menyelamatkan aku dan membawaku ke rumah sakit, meski gengsi aku tetap memberanikan diri untuk berterimakasih kepadanya.


"Aku baik-baik saja. Btw, terimakasih sudah mambantuku" ucapku dengan sedikit menatapnya lewat ujung mataku,


"Ya sama-sama, kau bisa pulang sendiri bukan dan ini obatnya, aku masih banyak urusan dan tidak bisa mengantarmu pulang. Sampai jumpa" ucapnya dengan formal dan hanya memberikan obat ke tanganku lalu pergi begitu saja dari ruangan tersebut,


"E..eh ...kau...aishh...dasar manusia tidak berperasaan, ahh sudahlah aku juga bisa pulang sendiri, menyebalkan sekali sih" gerutuku merasa kesal.


Kepalaku benar-benar pusing dan aku merasa sangat lemas, mungkin semua ini karena aku sudah berdiri terlalu lama di bawah teriknya matahari hingga sampai malam seperti ini, aku sungguh kesal ketika mengingat apa yang aku lakukan demi menunggu seorang Alvaro sampai mengabaikan kesehatan pada tubuhku sendiri.


"CK....sialan Alvaro benar-benar pria yang kurang ajar, bagaimana bisa dia tetap tidak muncul disaat aku menunggunya sampai mengabaikan kesehatanku seperti ini, apa dia memang sebenarnya tidak ada?" Gerutuku merasa kesal dan sakit.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar hingga tidak lama dering ponsel berbunyi dan sebuah nomor baru menghubungiku, aku pun segera mengangkatnya dan ternyata itu adalah nomor kak Veri.


"Talita ini aku Kak Veri bagaimana keadaanmu apa kau baik-baik saja, dan dimana kamu sekarang?" Tanya kak Veri dari sebrang telpon secara tiba-tiba membuatku kebingungan,

__ADS_1


"Ini kak Veri yang pernah menyelamatkan aku?" Tanyaku memastikan,


"Iya ini aku Talita, sekarang cepat jawab bagaimana keadaanmu?" Tanyanya mendesak,


"Aku baik-baik saja, tapi ada apa denganmu kak kenapa kau seperti tengah mencemaskanku dan kenapa tiba-tiba bertanya mengenai keadaanku?" Tanyaku bertubi-tubi kepadanya karena masih merasa sangat heran,


"A..ahh...itu tadi aku tidak sengaja melihatmu dibawa masuk oleh seorang pria makanya aku mencemaskanmu, tapi pria yang membawamu bukan orang jahat kan?" Jelas kak Veri kepadaku,


"Ohh begitu, dia orang yang aku kenal dan dia orang baik ibuku juga mengenalnya jadi kau tidak perlu khawatir" balasku kepadanya.


Saat tengah menjawab telpon sebuah taxi lewat di depan sana dan aku segera menghentikannta lalu langsung masuk ke dalam taxi dan merasa sudah aman sekarang, aku juga bisa duduk dengan nyaman.


"Syukurlah jika begitu, aku pikir kau dibawa orang asing ahaha aku terlalu parno maafkan aku yah" balas kak Veri terdengar sangat aneh untukku,


"Iya kak tidak papa dan terimakasih sudah mengkhawatirkan aku tapi darimana kau mendapatkan nomor ponselku?" Tanyaku penasaran.


Seingatku aku memang tidak pernah memberikan nomor ponselku kepada kak Veri dan kami juga hanya bertegur beberapa kali, tadi juga pertama kalinya bertemu dengannya di kota ini, maka dari itu aku merasa sangat heran dan aneh dengan gerak gerik kak Eril yang begitu mencurigakan, bahkan disaat aku menanyakan mengenai dari mana dia mendapatkan nomorku dia justru malah menjawabnya dengan gugup serta tidak masuk akal.


"AA....a..euu...itu...aku mendapatkannya dari identitas datamu di kampus yah...aku tadi memintanya dari kenalanku sebab sangat mencemaskanmu iya begitu" balasnya yang cukup membuatku merasa curiga.


Meski aku merasa curiga kepadanya tapi aku tidak membuat dia merasa tidak nyaman sehingga aku hanya berpura-pura mempercayainya saja.

__ADS_1


"Aahh...begitu ya, ku pikir kau dari mana" balasku berusaha mempercayai ucapannya.


"Ahaha....iya, ya sudah selamat beristirahat ya Talita jaga kesehatanmu" ucap kak Veri mengakhiri obrolan kami di telpon.


__ADS_2