Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Menangis


__ADS_3

Aku bangkit berdiri dengan terus tertunduk lesu dan segera pergi dari tanpa semangat sedikitpun, aku pergi ke aula lapangan basket dan menonton para mahasiswa senior yang bermain basket disana, sambil menonton mereka aku membuka makanan yang ibu buat dan menikmatinya seorang diri dengan perasaan tidak menentu.


Tanpa aku sadari perlahan air mata mulai turun dari wajahku padahal aku sudah berusaha mengabaikan hinaan orang-orang dan aku sudah berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh, tapi nyatanya sekuat apapun aku berusaha menahannya tetap saja itu keluar tanpa izin.


"Hiks....hiks...sialan! Semua ini gara-gara Fasya bastrad itu, dia menyebalkan!" Gerutuku merutuki dia sambil memakan bekal yang di siapkan ibu untuk dia sebelumnya.


Aku terus berusaha berhenti menangis tapi itu sulit sekali dan akhirnya aku lebih memilih untuk mengeluarkannya sekaligus meski aku tahu disana ada banyak senior pria yang tengah bermain basket.


"Huaaaa.....hiks....hiks...kenapa dunia ini tidak adil, aku mau keluar!" Teriakku sangat keras sambil mengucap makanan di dalam mulutku.


Aku tidak tahu apa yang para anak-anak itu pikirkan mereka tiba-tiba saja berhenti bermain basket dan menatap aneh ke arahku, aku semakin ingin menangis kencang karena rasa malu dan rasa sakit di hatiku.


"Huaa......hiks...hiks...hiks.... Untuk apa? Kenapa kalian MELIHATKU!" bentakku sambil terus menangis keras.


Aku tahu mereka mungkin memanggilku gila tapi setelah aku berteriak seperti itu akhirnya mereka sedikit mengabaikan aku dan kembali bermain basket lagi, tidak ada mahasiswa lain di tribun dan hanya aku seorang diri yang menonton permainan membosankan itu, aku hanya ingin merasa tenang dan meluapkan semua rasa sakitku.


Tidak perduli dengan pandangan orang dan yang lainnya aku terus menangis hingga anak-anak yang bermain basket selesai bermain dan salah satu dari mereka seorang pria yang memakai topi putih berjalan menghampiriku lalu dia memberikan sapu tangannya padaku secara tiba-tiba.


"A..apa? Kenapa kau memberiku ini?" Tanyaku dengan heran,


Pria itu tetap tidak menjawab dan dia terus mendesak tangannya memberikan sapu tangan itu padaku, aku pun terpaksa langsung mengambilnya dan menggunakan satu tangan itu untuk mengusap air mataku lalu segera aku kembalikan kepadanya saat itu juga.


"Ini....aku tidak butuh sapu tanganmu, tapi terimakasih sudah perduli" balasku padanya.


Aku berniat hendak pergi dari sana tapi pria itu tiba-tiba menahan tanganku dan saat aku berbalik dia membuka topi yang menutupi setengah wajahnya itu, dan betapa kagetnya aku saat melihat ternyata itu adalah Alvaro, orang yang selama ini aku cari-cari keberadaannya, dan orang yang selalu aku harapkan kedatangannya.


"A.. Alvaro?" Ucapku tertegun.


Aku sangat ingin memeluknya tapi tidak bisa rasa sakit sudah tumbuh dihatiku dan dia sempat mengecewakan aku, dia pergi tanpa kabar dan menghilang begitu saja lalu sekarang tiba-tiba muncul lagi di hadapanku dengan penampilan yang agak berbeda, rambutnya yang sering dia warnai kini berubah menjadi hitam mengkilap dan lebih rapih dia juga terasa sedikit lebih tinggi dari sejak terakhir kali aku melihatnya.


"Talita iya ini aku, maaf karena sudah pernah meninggalkanmu, bisa kita bicara sekarang" ucapnya dengan raut wajah yang sama datarnya seperti biasa.

__ADS_1


Aku menghempaskan tangan yang ditahan oleh Alvaro.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, dan aku tidak mengenalmu kau mungkin salah orang. Permisi!" ucapku berpura-pura tidak mengenalinya lalu segera pergi dari sana dengan cepat.


Aku pergi dengan menahan tangis lagi padahal sebelumnya aku baru saja berhenti menangis, tapi karena si Alvaro sialan itu aku jadi menangis lagi dan kali ini dadaku terasa lebih sesak dari sebelumnya dan aku merasa sangat hancur.


Disisi lain aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak mengambil kesempatan barusan disaat Alvaro menunjukkan diri di hadapanku tapi disisi lain juga aku masih merasa sakit karenanya dan belum bisa memaafkan dia atas semua yang dia lakukan padaku, dia yang pertama kali membuatku merasa di ratukan olehnya dia juga yang memberikan perhatian-perhatian kecil hingga aku berpikir dia menyukaiku dan kami akan menjadi sebuah pasangan, namun nyatanya disaat aku sudah membuka hati untuknya dia justru malah meninggalkan aku tanpa kabar yang jelas.


Bagaimana aku bisa menerima semua itu, di mana harga diriku jika aku memaafkan dia dengan mudah, dia juga mungkin tidak akan menyesal atas kalakuannya jika aku tidak memberinya sedikit pelajaran, tapi bodohnya aku sendiri sulit menahan agar tidak dekat dengannya, aku ingin memeluknya, menggenggam tangannya dan makan bersama dia.


Ini sudah sangat lama sekali dan aku sangat merindukannya tapi ketika bertemu aku justru meninggalkan dia.


"Heu.....heu....aku bodoh! Bodoh! Kenapa aku tidak memeluknya tadi? Kenapa aku malah meninggalkannya?" Gerutuku merasa kebingungan sendiri.


Sampai kak Fasya lewat berpapasan denganku dan aku tidak menyadarinya namun dia menahanku dengan memanggil namaku cukup keras sehingga aku langsung menghentikan langkahku dan berbalik ke arahnya.


"Talita tunggu!" Panggil kak Fasya padaku,


"Diam! Kenapa kau sangat cerewet" ucapnya terasa lembut dan sangat berbeda dari biasanya.


Aku diam tertegun dan masih tidak menyangka bahwa saat itu dia memelukku di depan umum bahkan semua mahasiswa yang melihatnya langsung terbelalak kaget dan saling membicarakan kami satu sama lain.


Aku segera mendorongnya dan memarahi dia dengan keras karena perbuatannya itu yang sangat membuatku jengkel dan akan membuat semua orang menjadi salah paham terhadap aku dan dia.


"Euhhh...Fasya kau ini apa-apaan sih? Dasar idiot!" Bentakku emosi dan segera meninggalkan dia.


Disisi lain tanpa aku sadari rupanya Fasya memelukku karena dia melihat Alvaro yang mengikuti aku secara diam-diam di belakang, maka dari itu dia dengan sengaja memelukku agar menyakiti hati Alvaro dan setelah aku pergi Fasya berjalan menghampiri Alvaro lalu menepuk pundaknya pelan satu kali.


"Dia bukan milikmu lagi kawan!" Ucap Fasya mendominasi dan segera berjalan melanjutkan langkahnya.


Kedua tangan Alvaro langsung mengepal kuat dan wajahnya terlihat sangat merah, dia mungkin menahan emosi dan kekesalan di dalam dirinya lalu tidak lama dia juga melanjutkan langkahnya dengan berlawanan arah antara dia dan Fasya.

__ADS_1


Sementara aku sudah berada di parkiran dan berjalan menuju gerbang kampus, karena Audy memiliki jadwal berbeda denganku sehingga aku tidak bisa pulang bersama dia dan harus berjalan lalu menaiki bus seorang diri, tapi saat aku di depan gerbang kampus tiba-tiba saja sebuah mobil berwarna putih yang cukup mewah berhenti menepi di sampingku.


"E...eh...mobil siapa ini kenapa terus menepi ke arahku?" Gerutuku merasa aneh dan sedikit terganggu dengannya.


Saat mobil itu berhenti dan seseorang keluar dari dalam sana lagi-lagi itu Fasya dan dia menawarkan tumpangan kepadaku, sedangkan tidak sengaja aku melihat Alvaro di Belakang mobil Fasya tidak jauh dari tempatku berdiri.


"Talita...mau pulang denganku?" Tawarannya padaku.


Tadinya aku mau menolak ajakan dari Fasya karena mau bagaimanapun aku tidak ingin mendapatkan sedikit bantuan apapun dari orang yang perhitungan sepertinya terlebih dia itu sangat merepotkan dan selalu mempermalukan aku.


Tapi karena aku melihat sosok Alvaro di belakang sana aku pun langsung menerima tawaran dari Fasya dengan cepat dan segera masuk ke dalam mobilnya karena aku hanya ingin melihat apa reaksi yang Alvaro perlihatkan jika dia melihat aku sudah dekat dengan pria lain.


"O..ohh...ya tentu saja, aku akan pulang denganmu" balasku sambil berpura-pura tersenyum lebar pada Fasya.


Dia juga langsung membukakan pintu untukku dan aku merasa sedikit ragu untuk masuk ke dalam mobilnya beberapa saat sebelum benar-benar masuk ke dalam aku melirik Alvaro dahulu dengan ujung mataku dan sangat ingin melihat reaksi dari wajahnya.


Tapi sialnya karena dia memakai helm dan hanya bagian mata saja yang terlihat aku tidak bisa mematikannya dengan jelas tapi dia justru malah langsung melajukan motornya dan dengan cepat meninggalkan tempat itu, dia tidak terlihat perduli padaku sama sekali.


Dan justru malah dia yang terlihat lebih tidak mengenaliku di banding aku padanya yang masih saja penasaran dan ingin melihatnya.


"CK.....dasar Alvaro sialan, aku menyesal mencemaskan dia selama ini" gumamku dan segera masuk ke dalam mobil bersama Fasya.


Setelah aku masuk Fasya tidak bicara apapun padaku dan dia hanya fokus menyetir ke depan aku juga tidak mau bicara dengannya dan terus memalingkan wajahku ke luar jendela, aku sangat kesal dan rasanya ingin sekali menghajar Alvaro tadi, tapi aku tidak bisa.


Sampai tidak terasa aku malah ketiduran dengan sendirinya dan diriku sendiri bahkan tidak sadar sejak kapan aku mulai mengantuk dan menutup mataku, saat sadar tiba-tiba saja aku sudah tidur terlentang di dalam kamarku dan aku sangat kaget saat menyadarinya.


"Ehhh...kenapa aku tiba-tiba ada di kamar, bukannya tadi aku di mobil dengan Fasya?" Gerutuku bertanya-tanya.


Aku segera bangkit dan pergi ke luar mencari ibuku namun yang aku temukan justru malah Fasya yang tengah duduk menonton televisi di dalam rumahku dengan kaki yang dia silangkan bak seperti tuan rumahnya.


"Heh, sedang apa kau di rumahku, cepat pergi dari sini!" Bentakku sangat kesal dan berdiri di depannya.

__ADS_1


Dia terus mengabaikan aku dan sama sekali tidak menjawab ucapanku dia hanya menatap ke arahku sekilas lalu kembali berpura-pura menatap televisi ke depan.


__ADS_2