
Segera bersiap siap pergi ke sekolah dan tak lupa ku bawa jaket kesayangan Alvaro yang sudah membuatku kehilangan waktu untuk beristirahat, mata gelap bak pocong dan wajah yang kusam tak terurus karena tidak tidur semalaman, aku sudah tidak perduli lagi dengan penampilan segera aku berjalan sampai beberapa saat berpapasan dengan Audy dan seperti biasa aku dibonceng olehnya, masih sempat kulihat wajah Audy yang kaget saat pertama kali melihatku.
"Talita.....ayo ke sekolah bersama, ehhh.. astaghfirullah ada apa dengan matamu?" ucap Audy kaget melihat kantung mata yang besar dan hitam,
"Aku tidak tidur semalaman, karena Haeden sialan" ucapku lesu sambil duduk di boncengan sepeda,
"Hahahaha....kau sangat lucu dengan mata panda itu, lagi pula memangnya harus mengurusi jaket itu sampai sebegitunya yah, kalo aku jadi kamu aku tidak akan melakukannya" ucap Audy yang malah menertawakan ku,
"terserah katamu, aku hanya tidak mau terlibat masalah dengan pria seperti dia, aaahhh ini sangat melelahkan, aku ingin tidur huhu" ucapku sambil memeluk Audy dari belakang.
Mataku terus saja sayu tak kuat menahan kantuk, hingga sesampainya di sekolah aku langsung bergegas ke kelas dan tidur di bangku milikku, menggunakan jaket Alvaro yang ada di dalam tas jinjing sebagai bantalan untuk kepalaku, jaketnya yang tebal dan lembut membuatku nyaman untuk tidur dan terlelap dengan cepat, aku tidak perduli dengan apapun yang ada di sekitar saat ini, aku hanya butuh waktu untuk tidur.
Tanpa Talita sadari beberapa saat setelah dia tertidur dengan lelap Haiden Alvaro masuk ke dalam kelas dan dia tersenyum tipis menatap ke arah Talita, Alvaro duduk di sampingnya dan menatap lekat memperhatikan wajah Talita diam diam yang sedang tertidur, lagi lagi sudut bibirnya terangkat dan menghasilkan senyum tipis yang tidak pernah di lihat oleh siapapun, Talita yang tertidur dengan perut kosong tentu saja perutnya itu bersuara dan dia mulai memegangi perutnya, karena lapar Talita terpaksa harus menyudahi tidurnya dia mulai membuka mata dan orang pertama yang dia lihat adalah Alvaro yang memalingkan wajahnya.
"Hoamm....kau sudah tiba rupanya" ucapku sambil menguap,
"Heh, kalau mau menguap jangan sambil bicara kau ini jorok sekali" balas Alvaro dengan wajah datarnya,
__ADS_1
"Iya..iya..., Ini jaketmu aku sudah membersihkannya" ucapku sambil memberikan jaket itu padanya.
Bukannya segera mengambil jaket miliknya dia malah menatapku lekat dengan kedua alis yang dikerutkan, lantas aku merasa heran dan memeriksa diriku sendiri karena takut ada yang salah, saat aku mau bertanya kenapa dia menatapku begitu dia malah keburu pergi meninggalkanku yang masih kebingungan.
"Aishh, dasar manusia aneh, sudahlah palingan dia menatapku begitu karena mata panda ini" gerutuku sambil kembali memejamkan mata.
Belum juga aku tidur nyenyak Alvaro sudah kembali dan membangunkanku dengan kasar.
"Bangun.....hei, cepat bangun dasar idiot bisanya hanya tidur saja" ucapnya keras,
"ALVAROOO, apa sih maumu hah?, selalu saja menggangguku bahkan tidur saja aku diganggu olehmu" ucapku marah dengan mata yang melotot dan kehilangan kantuk begitu saja.
Kuangkat kedua alis dan merasa heran mendapatkan perlakuan manis dari seorang Alvaro yang terkenal pria kejam juga sedingin es balok, karena lapar aku ambil roti dan teh itu dan langsung ku makan saat itu juga, tidak peduli dia menatapku yang makan seperti orang kelaparan yang penting perutku kenyang dan bisa cepat kembali tidur.
"Makan pelan pelan, tidak ada yang akan merampas rotimu" ucapnya memperingati,
"Aku ingin cepat tidur lagi, apa kau tidak lihat mataku seperti ini" jawabku bicara sambil mengunyah,
__ADS_1
"Jangan bicara sambil mengunyah habiskan dulu makanan di mulutmu, aishhh kau ini perempuan jorok sekali" ucapnya dengan wajah menahan kesal melihat kelakuanku.
Aku tidak memperdulikan ucapannya dan terus memakan roti sesukaku sampai menghabiskannya dengan waktu yang cepat dan segera kembali tidur, tapi lagi lagi baru saja hendak menutup mata Alvaro kembali mengajakku bicara.
"Lagian kenapa matamu sampai separah itu, kau juga asik tidur saja biasanya kau anak yang gila pelajaran kan" ucapnya membuatku naik pitam.
"ARGHHHHH!, Alvaro aku begini juga karenamu, iya karena jaket sialan milikmu ini, kau tau aku mengeringkannya semalaman karena telat mencucinya, jadi diamlah aku butuh tidur paham!" ucapku dengan suara yang keras dan nafas yang cepat.
Alvaro seketika terdiam dan memalingkan wajahnya dariku, aku mulai tersadar mengapa bisa seberani itu bicara padanya, aku jadi merasa sedikit bersalah setelah membentaknya dan membuat kami menjadi pusat perhatian di dalam kelas, aku mau menyapanya dan meminta maaf tapi aku terlalu lelah dan mengantuk, karena malu dilihat banyak orang aku juga lebih baik kembali tidur agar bisa menghindar dari Alvaro juga tatapan teman teman sekelas.
Aku tau Alvaro pergi begitu saja dan membawa jaket itu bersamanya, aku tidak tau apakah Alvaro pergi dengan wajah kesal atau menyesal, aku hanya takut dan gelisah kalau dia akan marah serta membenciku karena ucapanku padanya tadi pasti membuatnya kesal dan menahan malu, aku sungguh serba salah dan bingung harus melakukan apa, niat hati ingin tidur tapi tetap tidak bisa karena kejadian tadi yang mengganggu pikiranku, suara anak anak yang bersenda gurau di dalam kelas juga membuat aku semakin sulit memejamkan mata, saat ini aku butuh tempat yang tenang dan aku pun segera bergegas pergi ku UKS, meski aku tidak sakit namun aku mau meminjam UKS untuk beristirahat kalau aku tidak tidur dan memaksakan mataku bisa bisa mata panda ini akan semakin buruk dan aku juga tidak akan sanggup beraktivitas terlalu banyak, bisa bisa aku pingsan dan semakin mempersulit banyak orang.
Saat tengah berjalan di tepi lapang karena kebetulan ruang UKS terdapat di sebrang lapangan basket sekolah, aku sengaja mengambil jalan pintas agar bisa sampai lebih cepat, kulihat Alvaro dari kejauhan dia tengah memainkan bola basket ditangannya sambil duduk di salah satu bangku tempat anak anak basket beristirahat, saat melihatnya memegang bola basket aku baru ingat kalau kak Bara memintaku untuk membujuk Alvaro agar mau masuk ke dalam tim basket sekolah.
"Aduhh aku lupa, bagaimana bisa membujuk Alvaro, setelah kejadian tadi dia pasti semakin membenciku, arghhhh Talita kau benar benar bodoh" gerutuku kesal.
Walau pesimis aku tetap berjalan menghampiri Alvaro dan mempersiapkan mentalku untuk meminta maaf padanya, aku berdiri tepat di hadapan Alvaro dengan wajah yang menunduk.
__ADS_1
Untuk beberapa saat aku bingung harus mengatakan apa padanya, kucoba menarik nafas dan membuangnya perlahan, tapi aku tetap saja terlalu gugup untuk meminta maaf padanya ditambah rasa gengsi yang begitu tinggi di dalam diriku.