
Aku pergi dari rumah sakit dengan kondisi tubuhku yang belum sepenuhnya pulih aku berusaha menghubungi Audy namun jaringan masih belum tersedia dengan stabil disana sehingga sulit untukku menyambunhkan panggilan pada Audy, aku pun meneruskan untuk tetap berjalan ke pinggir jalan dan menunggu taxi yang lewat hingga akhirnya setalah menunggu beberapa saat aku mendapatkan taxi itu lalu aku masuk ke dalam dan pulang dengan perasaan tak menentu.
Rasanya aku seperti dibawa terbang keatas awan dan menikmati indahnya pemandangan dibumi lalu tiba-tiba saja aku dijatuhkan oleh dia begitu saja tanpa memakai pengaman apapun, hatiku sudah hancur berkeping keping tapi aku masih berharap padanya, aku berharap dia mengkhawatirkanku padahal sebelumnya aku menyesali semua yang aku rasakan padanya.
"Aku benci, aku tidak akan jatuh hati lagi pada orang sepertinya, dia kejam aku sangat membencinya!" Ucapku dengan penuh emosi.
Aku langsung tertidur ketika sampai di rumah dan ibuku menelpon beberapa kali namun aku tidak menjawabnya sebab hatiku masih berada dalam keadaan yang buruk sehingga tidur adalah solusi satu-satunya agar aku bisa menjadi lebih baik ketika aku bangun pagi nanti.
Sedangkan ibu Talita yang merasa cemas sebab putrinya tidak menjawab panggilan darinya dia pun memutuskan untuk pergi langsung ke kediam Talita untuk memastikan keadaan putri semata wayangnya tersebut.
Hati seorang ibu memang selalu terkait dengan putrinya begitu pula dengan ibu Delisa yang sekarang begitu mengkhawatirkan Talita sebab dia merasa cemas tidak karuan dan tidak bisa berhenti mencemaskan putrinya terlebih Talita yang tidak menjawab telpon dari ibunya semakin membuat ibu Delisa cemas.
Dia meninggalkan pekerjaannya di kantor dan langsung pergi menuju desa, sesampainya di depan rumah dia langsung mengetuk pintu dengan keras dan memanggil nama Talita beberapa kali.
"Tok...tok...tok...Talita...sayang ini ibu nak, Talita apa kamu ada di dalam?" Teriak ibu Delisa sambil berusaha mengintip lewat jendela depan.
Aku yang saat itu tengah tidur langsung terbangun karena mendengar teriakan ibuku dan suara ketukan pintu yang begitu nyaring segera aku pergi ke kedepan dan membukakan pintu untuknya masih dengan wajah bantal dan sembab sebab menangis dengan waktu yang lama sebelumnya.
"Ada apa ibu kemari?" Tanyaku sambil mengucek mataku.
Tiba-tiba saja ibuku langsung memelukku begitu erat dia seperti takut kehilangan aku sedangkan aku baik baik saja selama ini.
"Talita....syukurlah kamu baik baik saja ibu sangat mengkhawatirkanmu sampai ibu membatalkan meeting penting dengan klain ibu hari ini" ucap ibuku dengan memegangi wajahku dan matanya yang mulai memeriksa wajahku.
"Ehh....tunggu sayang, ada apa dengan wajahmu kenapa sembab seperti ini apa kamu baru saja menangis?, Katakan pada ibu siapa yang membuatmu seperti ini?" Ucap ibuku dengan berlebihan.
Aku segera menurunkan tangannya dari wajahku dan aku mengajaknya untuk masuk kedalam terlebih dahulu.
"Aduh...sudah Bu ayo masih dulu saja nanti akan aku ceritakan" ucapku dan akhirnya ibuku menurut.
Sepertinya ibuku memang sudah tidak sabar mendengar penjelasan dariku dia terus mendesakku untuk segera berbicara terhadapnya disaat aku tengah mengambilkan cemilan dan air untuknya, bagaimanapun ibuku adalah tamu dan aku harus melayaninya dengan baik.
"Sayang kenapa kamu belum juga mengatakannya ayo cepat katakan siapa yang membuatmu menangis?" Tanya ibuku semakin penasaran,
"Bu aku hanya kehujanan dan aku menangis karena aku ingin itu saja" balasku menyembunyikan semuanya.
Aku tidak ingin ibuku tahu aku menangis karena seorang pria yang tidak berguna terlebih pria itu adalah Alvaro, mengingatnya saja sudah membuatku sangat kesal.
"Huh...ibu tidak percaya kamu menangis hanya karena kamu ingin, meskipun ibu tahu kamu anak yang cengeng dan penakut tapi ibu yang membesarkan mu, jelas ibu tahu kamu seperti apa jadi jangan coba-coba membohongi ibumu itu apa kau mengerti!" Ucap ibuku menasehati.
Aku hanya mengangguk dan mulai meminum air untuk menenangkan diri terlebih dahulu, tapi ibuku malah berbicara menebak sebab aku menangis dengan benar sehingga aku tersedak ketika meminum air.
"Talita jangan bilang kamu menangisi seorang pria" ucap ibuku dengan tatapan menyelidik.
"Ohok...ohok...Bu, ibu ini apa apaan sih mana ada aku menangis karena seorang pria aku ini kan masih SMA tidak mungkin aku begitu" balasku sambil menutupi ketakutan ku.
Jujur saja aku memang takut jika sampai ibu mengetahui bahwa ucapannya benar aku sudah tahu konsekuensi yang akan aku dapatkan darinya, maka dari itu aku berusaha keras untuk menutupi semuanya. Tapi ibuku tetap saja meragukanku dia berpindah duduk mendekatiku dan dia memelukku dari samping dengan menyandarkan kepalanya di sebelah bahuku.
"Ehh...ibu apa yang kau lakukan aku berat" ucapku merasa ibu aneh.
__ADS_1
Sebelumnya ibu memang orang yang mendidik ku dengan keras dan dia juga sering bercanda serta orang yang cerewet sekali terhadapku, tapi ketika mereka bercerai aku sudah kehilangan sosoknya yang dulu apalagi ketika ibu mendapatkan pacar baru lalu dia putusa dari pacarnya itu, semenjak itu ibu telah berubah menjadi sosok wanita yang lembut dan tidak aku kenali lagi namun kini tiba-tiba saja ibu datang padaku dengan mengkhawatirkan aku seperti itu.
Aku menjadi rindu dengan sosok ibuku yang dulu, entah kenapa aku merasa kini ibu telah kembali menjadi dirinya sendiri lagi sedikit demi sedikit, ada rasa senang di dalam hati ketika aku bisa mendengar kembali perkataan cerewet darinya dan bisa melihat lagi betapa dia mengkhawatirkan aku.
Padahal sebelumnya dia tidak pernah berkunjung kemari dan sangat jarang menghubungiku, aku senang dia datang kemari disaat aku juga tengah sedih, aku juga senang ibu memelukku seperti ini namun aku hanya menyembunyikan semua kesenangan itu.
Ibu hanya diam dan menutup matanya sambil terus memelukku dengan erat, kehangatan yang sudah lama aku rindukan telah kembali dan bagaimana mungkin jika aku tidak menikmatinya.
"Sayang biarkan seperti ini dulu, ibu sangat merindukanmu" ungkap ibuku dengan lembut,
Aku pun berhenti berontak dan diam tidak melakukan apapun sampai akhirnya tidak lama ibuku mulai berbicara lagi padaku hanya saja suaranya kini lebih lembut dari sebelumnya.
"Sayang maafkan ibu, ibu telah menelantarkan kamu karena mengikuti ego ibu sendiri" ucap ibuku lalu dia bangkit dan berhadapan denganku,
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dengan ibuku hingga dia tiba-tiba datang padaku seperti ini dan bahkan meminta maaf secara langsung kepadaku dengan suara yang begitu lembut.
"Apa kau benar ibuku?" Ucapku bertanya karena saking merasa herannya melihat semua perubahan ini,
"Aishh....kau ini dasar anak yang tidak bisa diatur, aku sudah susah payah untuk menciptakan suasana haru dan kau menghancurkannya dengan satu kalimat pertanyaan yang tidak berbobot itu!" Bentak ibuku sambil mencubit pahaku cukup keras,
"Aaawww...ibu kau!" Ucapku kesal sambil memegangi pahaku yang terkena cubitan ibuku sendiri.
"Rasakan itu, siapa suruh kau merusak suasana saja" balas ibuku kembali pada mode awalnya yang cukup menyeramkan.
Aku hanya bisa pasrah merasakan pahaku yang sakit karena dicubit oleh ibuku sendiri, dia kembali menyuruhku untuk menatap kepadanya dan aku segera melakukannya karena dia terlalu cerewet saat ini.
"Aku tidak ingin tahu, lagi pula semuanya sudah berlalu mau kau menjelaskan bagaimanapun aku tetap kesepian selama ini dan itu tidak bisa diulang kembali, hmmm" balasku sambil berakhir dengan hembusan nafas lesu.
Ibuku langsung terdiam ketika mendengar jawabanku tadi dan dia kembali memelukku dengan sangat erat hampir membuatku kehabisan nafas dan tidak bisa bernafas lagi, untunglah dia cepat melepaskan aku kembali.
"Huaaa...Talita maafkan ibu" ucap ibuku sambil langsung memelukku erat,
"Aaa...ibu...ibu aduhh...aku tidak bisa bernafas" ucapku sambil berusaha lepas darinya.
Ibuku hanya cengengesan sebentar lalu dia kembali duduk dengan tenang dan tiba-tiba saja mengajakku untuk ikut pindah bersamanya.
"Talita bagaimana jika kamu ikut dengan ibu sekarang?" Ucap ibuku menawarkan.
Aku tersentak dan menatapnya dengan mata terbuka lebar tanpa mengatakan sepatah katapun dalam beberapa saat, karena aku kaget sekali ketika mendengar ibuku mengajak aku untuk tinggal dengannya lagi setelah sekian lama dia meninggalkan aku di rumah nenek.
"Talita? Talita? Ada apa denganmu kenapa kau termenung?" Ucap ibuku membuyarkan lamunanku seketika,
"Ahh...aku baik baik saja Bu, tapi kenapa kau tiba-tiba mengajakku pindah?" Tanyaku balik dengan kedua alis yang aku naikkan.
"Ibu hanya ingin kita kembali hidup bersama, ibu merindukanmu Talita ibu ingin kau selalu berada disamping ibu" balas ibuku sambil menggenggam kedua lenganku.
Ibuku terdiam dan dia hanya tersenyum menatapku, aku merasa senyuman yang dia berikan kepadaku saat ini begitu tulus dan menghangatkan hatiku, sejujurnya aku juga sangat ingin tinggal bersamanya dan aku sudah menunggu dalam waktu yang lama untuk kedua orangtuaku menjemputku kemari agar kembali bersama mereka.
Namun akhirnya tuhan membalas do'a ku meskipun mereka tidak menjemputku bersama seperti yang aku harapkan namun setidaknya aku telah mendapatkan kembali cinta dari ibuku. Aku sudah sangat senang ketika mendengar ajakan dari ibuku saat itu apalagi ketika mendengar jawaban darinya.
__ADS_1
Akhirnya aku pun setuju untuk pindah bersama ibuku ke apartemen, meski kami hanya tinggal di apartemen sederhana dan harus membayar sewa dalam setiap tahunnya namun bagiku asalkan itu bersama ibu aku sangat senang, tadinya aku berniat untuk menjual rumah nenek agar kita bisa membeli rumah dikota dan tidak perlu memikirkan sewa lagi, namun ibu tidak setuju karena dia rasa rumah itu adalah satu-satunya peninggalan kedua orangtuanya dan dia ingin rumah itu tetap ada.
Sekaligus itu akan menjadi warisan yang bisa dia turunkan padaku, aku sangat senang ketika mendengar itu, karena ini aku sudah benar-benar kembali menemukan sosok ibuku yang dulu, ibu yang menyayangiku sepenuhnya dan ibu yang hanya memperdulikan aku di dalam hatinya.
Aku tidak ingin berubah lagi hanya karena pria yang tidak bertanggung jawab seperti sebelumnya maka dari itu untuk menjaganya aku harus senantiasa berada disampingnya dan aku sudah memutuskan untuk tinggal bersama ibuku.
Saat itu ibu menginap di rumahku dan keesokan paginya kita langsung pindah ke apartemen, namun sayangnya jarak dari apartemen ibuku ke sekolah sangat jauh hampir sama dengan jarak dari rumah Audy ke rumahku yang dulu, sehingga aku harus selalu bangun pagi dan berangkat lebih awal.
Untungnya ibu memiliki mobil kantor sehingga dia bisa mengantarkan aku untuk kali pertama, sehingga aku tidak perlu berburu bus dari subuh untuk pergi ke sekolah di hari pertama ini, aku juga sudah mempersiapkan mengenai ujianku kali ini dan ini adalah ujian kedua, hanya tinggal menunggu hari sampai aku lulus dan bisa memilih universitas yang bagus sekaligus yang dekat dengan tempat tinggalku.
Tidak terasa karena kebahagiaanku bisa kembali dekat dengan ibu telah melupakan masalahku dengan Alvaro, aku sama sekali tidak memikirkannya lagi meski aku tetap merasa sakit ketika melihat dia berpapasan denganku di parkiran, namun kali ini aku tidak akan mengejarnya lagi dan meminta penjelasan atas perubahan sikapnya padaku.
Aku sudah mengerti apa yang dia katakan padaku saat dirumah sakit kemarin, semuanya sudah menjelaskan apa yang dia rasakan padaku selama ini dengan sangat baik, aku mengabaikan dia dan langsung masuk ke dalam gedung sekolah setelah melambaikan tangan kepada ibuku.
"Huuh.... Aku tidak perlu memperdulikan pria sepertinya lagi, dia terlalu sialan untukku" ucapku kesal saat melihat dia berjalan tepat di belakangku.
Aku masuk ke dalam kelas dan langsung membaca kembali buku pelajaran yang akan di ujiankan hari ini, semua pikiran aku fokuskan pada buku pelajaranku hingga bunyi ponsel mengalihkannya, aku memeriksa dan ternyata itu adalah pesan dari kak Bara.
Aku sebenarnya tidak senang sama sekali saat mendapatkan pesan dari kak Bara yang menyemangati ku untuk ujian kedua kali ini namun karena aku melihat ada Alvaro di sampingku, entah kenapa sifat jahilku ini sudah melekat sejak lahir dan aku langsung saja berpura-pura senang dan sangat antusias ketika melihat pesan dari kak Bara tersebut.
"Ohhh...wooww lihat, pacarku mengirimi aku pesan penyemangat dipagi hari, aaaa dia memang pacar yang sempurna iya kan teman-teman" ucapku sambil memamerkan pesan dari kak Bara kepada teman-teman sekelasku.
Untungnya teman-temanku juga sudah sejak lama menggemari kak Bara dan mereka selalu mendukung hubunganku dengannya.
"Waahh iya Talita kamu beruntung sekali bisa bersama kak Bara aaahh dia pujaan hatiku dulu, aku sangat iri padamu" ucap salah satu teman sekelasku,
"Iya Talita bisakah kau meminta kak Bara untuk membiarkan kami mengejar kak Nandito, karena dia sudah menjadi milikmu sekarang" Tambah siswi yang lainnya ikut menanggapi.
Aku semakin senang dan tersanjung karena teman-teman sekelasku sangat mudah untuk diajak kerjasama meski mereka tidak sadar tengah aku manfaatkan untuk membuat Alvaro kesal.
"Ouhh...tenang saja teman-teman masalah itu mudah untukku, sini lihat biar aku sampaikan pada pacar kesayanganku yang tampan ini sekarang juga yah, siapa tahu kalian juga bisa mendapatkan nomor kak Nandito iya kan" ucapku membuat teman-teman sekelas semakin heboh.
Mereka berkerumun dimejaku dan aku mulai mengetikkan kalimat sesuai yang mereka ingin aku tulis pada kak Bara dan tidak lupa mengetik untuk meminta nomor kak Nandito bagi teman-teman sekelasku.
Semua siswi di sana sangat senang sampai tiba-tiba saja Alvaro berteriak dari mejanya berbicara kepada guru yang baru saja melintas di kelas kami.
"Permisi Bu di sini sedang ujian dan anak perempuan itu malah sibuk berpacaran dengan ponselnya, bukankah itu melanggar aturan saat ujian, mereka terlalu berisik karena satu pesan dari seorang pria" ucap Alvaro dengan suara yang keras dan membuat teman-temanku langsung bubar kembali ke mejanya masing-masing.
Kecuali aku yang sangat panik dan terburu buru menyembunyikan ponselku, aku tidak tahu jika yang lewat itu adalah kepala pengawas hari ini sehingga dia langsung masuk ke dalam kelas dan menghampiriku dengan tatapan menyelidik begitu tajam.
Aku tahu kepala pengawas itu akan menghampiri aku dan memarahiku kali ini dan aku sudah sangat takut melihatnya, hingga dia tiba-tiba saja menepuk mejaku dengan keras sampai aku dan beberapa teman lainnya kaget terperanjat.
"Brakkkk....kemarikan ponselmu!" Bentak kepala pengawas tersebut dengan mata melotot dan perut buncitnya yang menakutkan.
Aku memejamkan mataku dan menunduk sambil memberikan ponsel yang tadinya aku sembunyikan disaku rok sekolahku, tanganku bergetar saat memberikan ponsel itu kepadanya dan kepala pengawas itu membaca pesan dari kak Bara sehingga membuat dia semakin marah padaku lalu berteriak sangat kencang hingga membuat kupingku hampir copot.
"TALITA!!! KELUAR KAU DARI KELAS INI!" bentak kepala pengawas dengan keras dan aku sungguh tercengang mendengarnya.
Dia menarik tanganku sangat kuat dan menyeretku keluar dari dalam kelas, tidak sampai di situ dia juga lanjut memarahiku di luar kelas dengan banyak orang yang mempertontonkan aku dan menertawakan aku di saat aku dimarahi habis habisan oleh kepala pengawas.
__ADS_1