Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Menguntit


__ADS_3

Sialnya saat aku kaget dan melihat tas sekolahku jatuh orang itu bukannya meminta maaf lalu membantuku atau mengganti tas yang sudah dia rusak, justru pria itu seakan merasa tak bersalah dia hanya menoleh ke arahku beberapa detik lalu kembali berjalan tanpa rasa bersalah dan penuh percaya diri, aku sangat kesal dan mencoba untuk meneriakinya namun usaha yang aku lakukan percuma dia sama sekali tak mendengar dan malah aku yang jadi pusat perhatian orang orang.


"huuuhhh......sangat memalukan, dasar pria sialan, awas saja kalau aku bertemu denganmu lagi!!!!" gerutuku.


Suasana yang membuatku bahagia dan ceria kini malah berubah menjadi suram karena kejadian tadi, karena tas ranselku putus aku tidak bisa menggendongnya dan hanya bisa ku tenteng saja, dengan raut wajah yang kesal ku lanjutkan berjalan menuju ke lapangan sekolah tempat kumpul anak baru, katanya sih semua siswa harus kelapangan untuk melaksanakan upacara bendera hari Senin.


Saat upacara selesai semua siswa bubar dan segera masuk ke kelasnya masing masing sedangkan siswa baru masih diminta untuk berbaris di posisi awal sama seperti saat upacara bendera, kakiku sudah sangat pegal sedari tadi hanya berdiri dengan perasaan tak mood, sampai akhirnya beberapa guru juga kepala sekolah memberikan sambutan juga memberikan selamat atas kedatangan kami di sekolah ini, setelah itu salah satu guru mulai mengabsen dan membagikan kelas sementara atau kelas MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah).


Selang beberapa menit akhirnya guru selesai mengabsen dan membagi para siswa baru di kelas MPLS, aku masuk ke kelas B yang ternyata kelasnya terletak di paling ujung bangunan sekolah dan berada di lantai 2, dari awal aku masuk ke sekolah sampai masuk ke dalam kelas dan memilih tempat duduk aku belum mendapatkan teman baru, memang aku sulit untuk bersosialisasi dengan orang baru setiap kali hendak menyapa selalu saja di dahului orang lain, hingga akhirnya pasrah dan memilih sendiri saja, aku pikir nanti juga pasti akan ada orang yang menyapaku semoga saja aku tidak dikucilkan.


Saat pusing memilih tempat duduk tiba tiba ada seorang perempuan yang wajahnya tidak asing melambaikan tangannya ke arahku dan memanggil namaku dengan suara lantang lalu menyuruhku untuk duduk disebelahnya, saat aku berjalan menghampirinya dan sedikit lebih dekat hingga mata ini mampu menjangkau wajahnya dengan jelas aku baru sadar ternyata itu Audy, perempuan ramah yang menolongku beberapa hari yang lalu, ku lemparkan senyum lalu segera duduk di sebelahnya.


Audy menyapaku dengan ramah dan kami mulai berbincang.


"Loh ternyata kamu juga masuk ke sekolah ini yah, aku pikir usiamu 5 tahun lebih tua dariku ternyata seumuran yah hhhaaa",


"Ishhh....apa sih kamu, aku tidak setua itu, justru aku pikir kamu bocah ingusan" ucapku menanggapi gurauan Audy,


"heh....heh....enak saja kau belum merasakan pukulanku yah, gini gini aku atlet silat di desa walau tingkat kecamatan hhee" jawabnya dengan percaya diri.


Ku tanggapi ucapan Audy dengan anggukan disertai senyum menyeringai, tiba tiba saat asik berbincang dan bersenda gurau dengan Audy seorang guru masuk ke dalam kelas beserta 3 orang siswa berjas biru tua dan mengenakan sebuah pin lengkap atribut di jas tersebut dan ada tulisan Pengurus OSIS

__ADS_1


ibu guru langsung membuka kelas dan memulainya dengan perkenalan dimulai dari memperkenalkan dirinya lalu beliau memperkenalkan 3 kakak OSIS di sampingnya 2 laki laki dan satu perempuan, merekapun mulai memperkenalkan dirinya masing masing setelah ibu guru mempersilahkan.


"Hai semua, perkenalkan nama saya Nandito Prasetya, saya adalah wakil ketua OSIS di sekolah ini"


dilanjut dengan kakak perempuan yang wajahnya sangat jutek dan sedikit menakutkan bagiku


"Nama saya Vera Maheswari, sebagai sekretaris di OSIS, sekaligus yang akan membantu kalian memilih jurusan di sekolah ini" ucapnya dengan nada yang tegas serta sorotan mata yang tajam setajam jarum,


ini giliran perkenalan kakak yang terakhir, dia terlihat agak santai dan wajahnyapun lumayan tampan juga menyejukkan


"Hallo, saya Bara Adipati Kusuma sebagai ketua OSIS sekaligus mentor di kelas kalian selama masa MPLS" ucapnya diakhiri dengan senyum yang ramah.


Aku yang pemalu dan Audy yang sedikit tomboy tentu saja gengsi dan enggan ikut bersorak kecentilan seperti perempuan lain yang ada di kelas.


Ibu guru segera meminta anak anak untuk diam dan mereka kembali keluar dari kelas kecuali kak Bara karena dia mentor yang akan membimbing kelas kami selama MPLS, entah kenapa aku merasa sejak tadi kak Bara memperkenalkan diri dia serasa terus menatap kearahku sampai aku merasa tidak nyaman dan terus memperhatika seluruh tubuhku aku takut ada yang terlihat salah atau ada sesuatu yang aneh di badanku hingga kak Bara terus menatapku seperti itu, tiba tiba saat kak Bara tengah memulai materi dan menjelaskan beberapa aturan selama masa MPLS, Audy menyenggol lenganku dan memintaku untuk mendekatkan telinga sepertinya dia ingin membisikan sesuatu padaku akupun segera mendekat.


"sttttt....kamu ngerasa gak si kalau kak Bara dari tadi merhatiin kamu, awas lo jangan jangan dia suka lagi sama kamu",


"heh...udah ah kamu ini mikirnya kejauhan tau, gak mungkin itu perasaan kamu aja kali, orang dia gak liat ke arahku" jawabku mengalihkan.


Ku pikir hanya aku yang merasa kak Bara memperhatikanku terus menerus, ternyata Audy juga merasakannya, awalnya aku pikir hanya aku yang kegeera ternyata memang benar dia melihat ke arahku, aku jadi salah tingkah dan merasa tidak nyaman ada di kelas saat itu, akhirnya aku pun memutuskan untuk permisi pergi ke toilet sebentar walau sebenarnya aku tidak ingin melakukan apapun, itu hanya alasan untuk aku mengalihkan pandangan kak Bara, takutnya anak lain juga memperhatikan dan itu bisa saja berbahaya untukku kedepannya.

__ADS_1


"Maaf kak, saya mau permisi ke toilet sebentar"


"silahkan" ucap kak Bara tegas.


Aku segera berjalan tergesa gesa keluar dari kelas dengan perasaan yang tak karuan sampai di perjalanan aku tidak sengaja melihat pria yang tadi pagi menabrakku sampai membuat ranselku putus, aku menghampirinya namun ku lihat dia tidak sendirian dia berjalan bersama kepala sekolah dan seorang ibu muda dengan tampilan yang begitu modis serta tas branded di tangannya, akupun mengurungkan niatku dan mengikutinya dari belakang secara perlahan sampai akhirnya ibu itu pergi masuk ke dalam sebuah mobil mewah dan kelapa sekolah juga kembali ke ruangannya tinggal lah anak laki laki sialan itu, belum sempat aku menggebrak nya dia sudah berbicara lebih dulu padaku padahal saat itu aku masih sembunyi dan memperhatikan dia di balik dinding.


"Keluar!!!, untuk apa kau mengikutiku?" ucapnya dengan nada yang mendominasi.


Aku celingukan dan menoleh ke berbagai arah mencoba mencari cari kepada siapa laki laki itu berbicara, eh ternyata dia malah menarik tanganku cukup kencang sampai aku merasakan sedikit sakit di pergelangan tanganku.


"E...e...ehhh, lepas! apa apaan kamu ini, seenaknya menarik tangan orang dasar tidak tau sopan santun!!" ucapku kesal sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman pria aneh tersebut.


"Maksudmu dirimu sendiri yang tidak tau sopan santu menguntit orang lain begitu lama dan tidak mau mengaku!!" ucapnya membalikan perkataanku.


"A..anu...itu aku tidak sengaja, sudah lepaskan, aku minta maaf lagian aku juga tidak bermaksud mengikutimu" jawabku sedikit gugup dan takut.


"Tidak ada yang bisa lepas dariku jika dia sudah masuk genggamanku!!" ucapnya tegas dan melepaskan tanganku begitu saja.


Karena panik aku tidak bisa berpikir jernih, aku sangat takut dengan nada bicaranya sehingga saat dia melepaskan tanganku aku langsung berlari sekencang mungkin menuju kelas tanpa memikirkan apapun lagi, yang ada di pikiranku saat itu hanya satu lari sekencang mungkin dan menjauh dari orang aneh tersebut.


Huhuuuu...jujur saja aku merasa menyesal sudah mengikuti pria tersebut padahal niat awalku keluar kelas hanya untuk mengalihkan pandangan kak Bara, aku benar benar sial hari ini.

__ADS_1


__ADS_2