
Audy sangat kesal dan nafasnya sudah tidak teratur dia langsung saja keluar dari sana dengan perasaan dongkol dan sangat kesal sambil membawa koper miliknya dan dia membanting pintu kamar Argo sangat keras sampai aku dan Alvaro yang tengah berada di dapur bisa mendengarnya.
Aku mendengar suara bantingan pintu itu dan sedikit kaget saat mendengarnya sampai aku terperangah.
"Braakkkk...." Suara pintu yang dibanting oleh Audy dengan keras.
"Astaga.... Alvaro suara apa itu?" Tanyaku refleks.
Alvaro hanya fokus memasak dan aku tidak tahu dia tengah memasak apa saat itu sehingga aku terus menghampirinya lebih dekat dan mencoba melihat apa yang sedang di buat oleh Alvaro karena aku sangat penasaran.
Aku terus mencoba melihatnya namun tidak berhasil dan malah di bentak oleh Alvaro karena aku menghalanginya yang tengah memasak.
"Aishh ...Talita apa yang sedang kau lakukan, minggir jangan menghalangiku apa kau tidak lihat aku sedang memasak?" Bentak Alvaro membuatku kesal,
"Habisnya kau tidak menjawab pertanyaan aku ya tentu saja aku mencaritahunya sendiri, apa yang salah dengan itu" balasku menjawabnya.
Aku segera mundur dan kembali duduk di kursiku sampai tak lama Audy datang ke sana menghampiriku dengan terburu buru dan langsung memelukku tanpa aba aba juga sangat erat sampai aku hampir kehabisan nafas.
"Talita....kau sudah baikkan?, Aaaahhhh....aku sangat merindukanmu" ucap Audy begitu antusias dan memelukku sangat erat,
"Eu...eum...Audy...lepaskan ...euumm" ucapku berusaha melepaskan diri,
"Tidak aku sangat mengkhawatirkanmu sejak malam, aku sangat takut kehilanganmu Talita" balas Audy yang masih enggan melepaskan pelukannya.
Argo segera membantuku melepaskan Audy yang terus memelukku dengan erat sampai Argo mendapatkan Omelan dari Audy.
__ADS_1
"Heh, apa apaan kau ini beraninya kau ikut campur urusanku dengan sahabatku sendiri" bentak Audy yang tidak terima.
Melihat Audy yang sangat kesal bahkan sampai membentak Argo seperti itu aku pun segera melerainya karena aku paham Argo juga berniat membantuku bukannya untuk ikut campur tanpa alasan.
"E..eh, sudah Audy sudah.....Argo hanya membantuku kau memelukku terlalu erat tadi sampai aku hampir merasa sesak, makanya Argo menarikmu, sudah ya jangan marah marah begini ayo duduk dulu" ucapku menenangkan Audy.
Akhirnya Audy pun duduk di sampingku dan dia menatapku dengan lekat sampai membuatku salah tingkah dan bingung dengan maksud pandangan tajamnya kepadaku saat itu.
"A..Audy...kenapa kau menatapku begitu?" Tanyaku sedikit gugup,
"Talita, kau perintahkan kau sebagai sahabat yang baik dan tidak sombong untuk kamu memutuskan si Bara sialan itu saat ini juga!" Ucap Audy dengan wajah serius dan sorot mata yang begitu tajam.
Aku kaget saat mendengarnya bahkan sampai harus membelalakkan mata dan menelan salivaku susah payah, bagaimana aku tidak heran sebelumnya Audy adalah orang pertama yang paling mendukungku saat aku selalu bercerita kepadanya bahwa aku sangat mengagumi seorang kak Bara bahkan kini menyukainya.
Dia juga yang memberikan ide dan solusi agar aku menerima kak Bara sebagai pasanganku namun kali ini tiba tiba saja tidak ada angin tidak ada hujan, Audy justru menyuruhku memutuskan kak Bara tentu saja aku sangat syok saat mendengarnya.
"Aku sudah berubah, aku salah karena mendukungmu menyukai orang yang salah, dia bukan pria yang baik Talita dia membiarkan kita pergi dari villanya di jam segitu padahal jelas jelas seharusnya dia mengetahui semuanya kan bahwa tidak mungkin akan ada kendaraan umum yang melewati daerah villa terpencil milik pribadi seperti itu, harusnya kemarin dia tetap memaksamu dan mengantarkan kita pulang bukannya malah sibuk sendiri dengan teman temannya itu" ungkap Audy mengutarakan kekesalannya.
Aku terdiam sejenak menyerap apa yang Audy katakan, memang semua itu adalah kebenaran aku sendiri juga berharap sama dengan apa yang dipikirkan oleh Audy, tadinya aku menolak karena aku ingin kak Bara mempertahankanku dan memaksaku tapi nyatanya dia malah membiarkanku begitu saja dengan mudahnya.
Aku menghembuskan nafas lesu sebelum berani menjawab ucapan Audy.
"Huuhh....Audy aku tidak bisa memutuskannya sebelah pihak seperti ini, aku menyukainya dan kau tahu itu kan, jadi aku tidak bisa" ucapku sambil menunduk lesu.
Audy nampak gemas denganku dan dia sampai menepuk jidatnya sendiri saat menanggapi ucapanku. Di waktu yang sama Alvaro datang membawa makanan yang sudah dia masak dan dia menyajikan secara khusus sebuah sup hangat di depanku dan dia menyuruhku untuk segera memakannya selagi hangat.
__ADS_1
"Ini cepat makan selagi hangat, dan kalian berdua ambil sendiri makanannya di dapur" ucap Alvaro menyuruh Argo dan Audy.
Mereka berdua segera pergi ke dapur dengan terburu buru dan entah apa yang mereka lakukan di sana karena itu sangat lama.
Aku mulai mencoba memakan sup buatan Alvaro itu namun saat aku memasukkan supnya ke dalam mulutku, aku lupa bahwa sup itu masih sangat panas sehingga aku merasakan lidahku yang seperti terbakar.
"Aaa...aahh...panas ...panas..." Teriakku sambil menjulurkan lidahku keluar dan Alvaro dengan sigap memberiku minum,
"Ini ..minum dulu cepat" ucap Alvaro sambil memberiku segelas air putih yang dingin,
Setelah meneguk air itu rasanya lidahku terasa jauh lebih baik dan tiba tiba saja Alvaro menarik sup dari hadapanku lalu dia meniup sup itu dengan perlahan.
Pada awalnya aku kebingungan dan aku pikir Alvaro akan memakan sup itu sehingga aku hanya melihatnya saja tanpa tahu harus berbuat apa, sedangkan Argo dan Audy tengah menikmati makanan mereka masih masing di meja yang sama denganku.
Audy dan Argo makan dengan lahap sedangkan aku hanya bisa melihat mereka dengan mood yang buruk karena tidak bisa memakan apapun, sampai tiba tiba saja Alvaro menyuapiku dengan mengangkat sendok berisi sup yang dia dekatkan ke mulutku.
"Aaaa...buka mulutmu" ucap Alvaro yang membuatku membuka mata lebar dengan heran.
Dan tentunya bukan hanya aku saja yang kaget tapi Argo dan Audy juga langsung menghentikan makannya dan mereka menatap ke arahku seketika.
"E..ehh....apa?" Ucapku keheranan sendiri,
"Cepat makan, tanganku sakit jika terus menyuapiku begini" tambah Alvaro dan aku pun segera menerima suapannya.
Saat aku sudah menerima suapannya Argo dan Audy justru malah berpura pura tidak melihat kejadian barusan, mereka kembali menunduk dan fokus pada makanannya masing masing.
__ADS_1
Rasanya saat itu hanya aku yang tidak mengerti tengah berada dalam situasi macam apa saat itu, aku hanya bisa menatap dengan penuh kebingungan namun Alvaro terus menyuapiku layaknya anak kecil, aku juga tidak bisa menolak suapan darinya karena aku takut dia akan kembali marah denganku, sehingga aku hanya bisa pasrah menerima semuanya.