Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Murung


__ADS_3

Sebenarnya aku juga masih sangat mengantuk apalagi saat melihat jam di ponsel yang masih menunjukkan pukul 02.00 pagi, tapi jika berada di satu mobil yang sama dengan kak Bara apalagi duduk bersampingan seperti ini mana bisa aku tertidur, apalagi saat sadar kalau tadi kak Bara yang menggendongku sampai masuk ke dalam mobilnya aku semakin gugup saja dibuatnya, meski kak Bara menyuruhku untuk tidur lagi aku hanya menanggapinya dengan menggelengkan kepala sambil tersenyum canggung.


"Tidak papa kak aku sudah tidak mengantuk kok" ucapku sedikit canggung,


"pipimu kenapa merah begitu?, apa kamu malu yah?" tanya kak Bara yang membuatku semakin tak karuan,


"ah....tidak, aku hanya kedinginan, iya kedinginan hheee" ucapku mencari alasan.


Lalu tiba tiba saja kak Bara menghentikan mobil dan dia melepaskan jaket yang dia kenakan lalu memberikannya padaku, aku hanya bisa menatapnya sambil tertegun penuh keheranan.


"Ini pakai untukmu" ucap kak Bara sambil memberikan jaketnya padaku.


"Te...te.. terimakasih kak" ucapku gugup sambil terbata bata.

__ADS_1


Kalau begini terus aku rasa aku akan benar benar menyukai kak Bara tapi aku tidak bisa menyukai orang yang pernah mempermalukanku apalagi aku tau dia pernah ikut serta membully gadis tak berdaya di atap sekolah bersama teman temannya yang lain, tapi perasaanku padanya bagaimana ahhh ini sungguh membuatku frustasi.


"Aduhhh bahaya kalau kak Bara terus bersikap manis terhadapku aku bisa bisa meleleh" gumamku dalam hati.


Aku memalingkan pandanganku ke arah jendela dan menatap pemandangan jalanan yang kita lalui menuju desa, lama kelamaan kantukku kembali datang aku berkali kali menguap dan mataku mulai berair aku berusaha menahan kantukku karena takut terlihat jelek saat tertidur oleh kak Bara, tapi apalah daya mata ini sudah tak sanggup terjaga dan akhirnya aku kalah dengan rasa kantukku sendiri, aku tertidur tanpa sadar dan begitu lelap, bahkan saat kepalaku terantuk ke kaca mobil berkali kali aku tetap tidak bangun sampai kak Bara menyandarkan kepalaku pada pundaknya dan membenarkan jaket yang kupakai untuk menyelimuti tubuhku, entah mengapa rasanya sangat nyaman aku sampai enggan untuk bangun dan rasanya ingin terus seperti itu, setidaknya semua perlakuan manis dari kak Bara membuatku lupa akan masalah yang tengah menerpaku meski itu hanya sementara.


Sesampainya di desa tepat pukul 03.30 pagi, kak Bara membangunkan ku dengan lembut dan saat aku sadar aku malah menguap sambil meregangkan kedua tanganku, ku bukakan mataku perlahan lahan sampai aku kaget saat melihat wajah kak Bara yang berada sangat dekat dengan wajahku, aku hampir saja berpikiran yang aneh aneh.


"Kau sudah bangun, sini biar ku bantu lepaskan sabuk pengamannya" ucap kak Bara sambil membantu melepaskan sabuk pengaman,


"ahh...terimakasih atas tumpangannya kak, kalo begitu aku masuk dulu" ucapku sedikit gugup tak karuan,


Aku keluar dari mobil terburu buru dan berlari masuk ke dalam rumah tanpa menatap ke belakang lagi, samar samar aku dengan suara kak Bara yang berteriak berpamitan tapi aku terlalu malu untuk membalasnya.

__ADS_1


"Dahhh....sampai ketemu di sekolah Talita" teriak kak Bara sambil melambaikan tangannya keluar dari jendela mobil.


Sementara aku hanya berani mengintipnya lewat jendela rumahku, aku terlalu malu karena tingkahku sendiri yang memalukan.


"Aduhhh...memalukan sekali bagaimana jika saat aku tertidur wajahku terlihat jelek, atau mulutku terbuka...ahhhhh ......itu akan menjadi hal paling menjijikan" ucapku mengkhatirkan hal yang tidak penting.


Habisnya kak Bara itu terlalu baik selama ini dia selalu membantuku dan mempermudah beberapa urusanku di sekolah mulai dari membantuku meminta izin kepada wali kelas saat tidak bisa masuk sekolah, sampai membantuku mengambilkan raport yang ditahan karena tidak punya wali untuk mengambilnya, awalnya aku memang tidak meminta bantuan dan tidak ingin bergantung padanya tapi dia selalu ada di saat aku kesulitan dan memahami setiap keresahanku dia membantuku tanpa aku minta dan dia selalu tau saat aku butuh pertolongannya.


Perasaan yang tumbuh di hatiku ini entah rasa terimakasih atau rasa kagumku padanya, atau mungkin rasa cinta, tapi untuk saat ini aku hanya merasa bahwa aku menganggap kak Bara tak lebih dari saudara, karena dulu aku pernah merasakan rasanya diutamakan seorang kakak laki laki, aku merasa perlakuan kak Bara padaku selama ini mirip sekali dengan kakak laki lakiku, maka dari itu aku menganggapnya seperti pengganti kakak.


Jika aku menyukainya aku rasa aku tak pantas untuk pria sempurna seperti kak Bara, dia itu jenius, putra dari keluarga kaya raya, dia juga tampan dan dewasa, sedangkan aku, harta tidak punya, keluarga juga berantakan, wajahku jauh dari kata cantik bahkan bagiku aku ini biasa biasa saja tidak ada yang istimewa dalam diriku, aku hanya wanita sederhana yang melakukan perannya sesuai garis takdir yang telah Tuhan berikan.


Lama aku termenung dan memikirkan banyak hal yang tersimpan dalam pikiran, sampai tak sengaja aku teringat akan kebenaran yang sudah terbongkar mengenai keluargaku sendiri, aku membuka folder album keluarga di laptop miliku dan aku menghapus semua foto ayah dan ibu hanya ku sisakan foto kakak dan aku saat masih kecil, di foto itu terlihat aku dan kakak yang begitu ceria duduk di sebuah karpet bergambar saling berpelukan satu sama lain, saat membuka folder itu air mata kembali jatuh mengingat kenangan yang tidak akan mungkin bisa aku ulangi lagi, dan aku juga baru sadar bahwa aku tidak pernah memiliki foto keluarga, selama ini aku hanya menyimpan foto pernikahan ayah dan ibu juga beberapa foto mereka berdua saat liburan di beberapa tempat wisata, sedangkan aku tidak pernah berfoto bersama dengan kedua orang tuaku, aku tidak memiliki foto keluarga yang lengkap, apa mungkin ini sudah pertanda sejak dulu bahwa keluargaku memang tidak akan bersama dalam waktu yang lama.

__ADS_1


Ini menyakitkan untukku tapi aku berusaha kuat, dulu saat ibu dan ayah memintaku foto bersama dengan mereka di beberapa kesempatan aku selalu menolaknya dan berkata bahwa semua itu terlalu lebay, karena saat itu aku pikir aku bisa terus melihat wajah mereka kapanpun aku mau namun sekarang aku baru sadar bahwa foto keluarga sangatlah penting, foto adalah kenangan untuk kita di waktu mendatang, aku sadar ketika aku sudah tidak bisa mendapatkan kenangan itu lagi, semuanya sudah terlambat untukku, aku sadar telah menyia nyiakan kesempatan untuk berfoto dengan kedua orang tuaku layaknya keluarga pada umumnya, sekarang aku hanya bisa meratapi dan menangis di pojokan seorang diri saat melihat anak anak lain berfoto bersama kedua orang tuanya, ataupun saat melihat postingan beberapa teman yang muncul di status sosial medianya, kebahagiaan dan keharmonisan yang orang lain tunjukkan di media sosial membuatku iri pada mereka, dan selalu membuatku berpikir mengapa aku tak seberuntung mereka.


__ADS_2