Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Menikmati Pemandangan


__ADS_3

"Hey, kau ini kenapa sih apa kau gila yah malah menatapku begitu" ucapku yang jengkel melihat raut wajahnya,


"Aishh.....apa kau tidak mendengar kabar mengenai....itu....mengenai" ucapnya merasa ragu untuk mengatakan semuanya,


"Apa mengenai Alvaro? Tentu saja aku sudah mendengarnya bahkan aku sudah tahu lebih dulu dan lebih banyak dibandingkan dirimu" balasku dengan santai.


Aku tahu sejak awal Fasya pasti hanya akan menanyakan hal itu aku hanya berpura-pura tidak tahu saja karena aku sungguh malas membahas mengenai Alvaro, mau bagaimana pun sekarang tapi aku tetap pernah memiliki banyak kenangan indah dengan Alvaro dan sulit untuk aku melupakan semuanya dengan cepat.


Aku terus memalingkan pandangan darinya dan kembali mengenakan headset pada telingaku lagi karena aku malas mendengarkan mengenai pria brengsek sepertinya namun Fasya malah menarik headset ku dan dia langsung menarik tanganku membawa aku keluar dari kelas hingga menyuruh aku untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Eh....eh... Fasya lepaskan aku, apa yang mau kau lakukan? Hey lepaskan aku!" Bentakku sambil berusaha melepaskan diri darinya.


Tenaga Fasya sangat kuat dan dia terus mendesak aku untuk segera masuk ke dalam mobilnya padahal aku tidak ingin pergi dengannya karena pelajaran kuliah bahkan belum dimulai sama sekali.


"Ayo masuk!" Ucapnya mendominasi,


"Tidak lepaskan aku, aku tidak ingin masuk ke dalam mobilmu, aku mau kuliah Fasya!" Balasku sambil berniat pergi meninggalkan dia.


Namun lagi-lagi tanganku tertahan olehnya dan dia langsung saja mendorong aku cukup keras hingga aku masuk ke dalam mobilnya dan dia mengunci pintu mobilnya itu dengan cepat, sehingga aku tidak bisa keluar untuk melarikan diri.


"Eughh....buk....buk...buk buka pintunya cepat buka!" Teriak aku berontak sambil terus memukul pintu mobil miliknya itu,


"Kau tidak bisa pergi kemanapun, dan cepat pakai sabuk pengaman mu jika kau ingin selamat" ucap Fasya sambil segera menyalakan mobilnya.


Aku pun terpaksa segera memakai sabuk pengaman dan hanya bisa diam saja dengan kesal, aku cemberut menatap lurus ke depan dengan perasaan yang tidak menentu dan sangat kesal kepada Fasya, tapi dia sama sekali tidak menjawab ucapanku dan terus saja mengemudi dengan cepat.


Hingga tidak lama dia ternyata membawa aku ke sebuah pantai yang cukup indah dan perjalanan ke sana juga cukup jauh, aku tidak menyangka saat pertama kali Fasya membawa aku ke pantai tersebut, ku pikir pada awalnya dia akan membawa aku ke pantai tersebut.


Namun ternyata dia hanya melewatinya saja.


"Aahhh... Pantai? Kau mau membawaku bersantai di pantai yah?" Ucapku menduganya,


"Tidak, siapa bilang aku mau mengajakmu bersantai di pantai, aku mau mengajakmu ke sebuah tempat yang jauh lebih indah dari pada pantai" ucapnya dengan penuh percaya diri.


Aku hanya membalasnya dengan merotasikan mataku dengan cepat karena aku tidak yakin apakah dia akan benar-benar membuat aku terpukau atau tidak. Dia terus melajukan mobilnya hingga kami melewati pantai yang indah tersebut dan masuk ke daerah perbukitan dan dia mulai menghentikan mobilnya di bawah bukit yang cukup tinggi disana.


"Nah.... Inilah tempat yang indah, ayo cepat turun" ajaknya padaku.


Aku segera turun dan melihat ke sekeliling yang tidak ada apapun disana hanya ada beberapa bukti yang cukup tinggi hingga yang sedang, aku langsung saja protes kepadanya karena saat itu aku tidak melihat keindahan apapun disana.


"CK ... Apa ini yang kau sebut tempat indah, apanya yang indah? Hanya akan bukit-bukit tinggi saja" gerutuku menyindirnya,


"Aishh.... Kau belum melihatnya dengan benar sekarang baru aku akan memperlihatkannya padamu, ayo ikut aku kita akan menaiki puncak bukit itu melewati tangga seribu yang ada disana" ucap Fasya sambil menunjuk pada sebuah tangga yang sangat tinggi hingga mencapai puncak tertinggi bukit tersebut.


Aku menatapnya kaget dengan terbelalak membuka mataku lebar, melihat sebuah tangga yang sangat tinggi dan ada beberapa orang yang menggunakan tangga itu untuk naik ke atas bukit, rasanya melihat saja sudah membuat aku lelah, apalagi jika mencobanya sendiri.


"Wahh.... Fasya jangan bilang kau mau menyuruhku untuk menaiki tangga itu hingga ke puncak?" Ucapku menduganya,


"Iya dugaanmu benar sekali, ayo cepat sebelum hari menjadi malam" ucapnya sambil langsung menarik tanganku untuk mendekati tangga tersebut.


Aku sudah berusaha berontak dan melepaskan diri darinya namun dia terus saja menarik tanganku dengan paksa untuk naik ke atas bukit itu dengan sebuah tangga yang sangat tinggi, aku terus berusaha untuk tidak mengikutinya tapi dia bahkan tidak menyarah dengan mudah dia terus saja menarik tanganku hingga mau tidak mau aku harus tetap menaiki tangga yang banyak itu.


"Hah... Hah.... Hah... Aduhh ini melelahkan sekali, Fasya aku sudah menyerah aku sungguh tidak kuat lagi, rasanya kakiku akan patah jika terus menaiki tangga ini sampai ke atas bukit" ucapku sambil berjongkok lesu sambil memegangi lututku yang lemas.


Aku langsung duduk sebentar di pinggir tangga itu dan membiarkan beberapa orang memelwatiku, aku sungguh sudah tidak kuat lagi kakiku sangat lemas dan nafasku sudah tidak bisa teratur lagi, tenggorokan aku juga kering aku sangat membutuhkan air saat itu.


Dan Fasya tiba-tiba saja menunjukkan air kepadaku entah datangnya darimana dan dia seperti dengan sengaja membuat aku semakin kehausan dengan menunjukkan air yang sangat menggoda dan begitu segar di tangannya.

__ADS_1


"Talita.... Aku tahu kau membutuhkan ini, dan jika kau menginginkannya kau harus bisa sampai hingga ke puncak" ucap Fasya sambil mengocok air di dalam botol itu,


"Oh.... Air aku butuh airnya, Fasya berikan air itu untukku aku sangat haus" ucapku sambil berusaha meraih air yang ada ditangannya namun tetap gagal.


Dia malah berlari meninggalkan aku ke atas sana sehingga terpaksa aku harus menyusulnya semua air yang dia bawa, sebab jika aku kembali ke bawah pun itu akan sama melelahkan ya karena aku sudah hampir mencapai puncak saat itu.


"Hey... Fasya tunggu aku, aishh... Kenapa kau harus membawaku ke tempat seperti ini sih, arghhh.... Aku sudah tidak tahan lagi" ucapku sambil terus melangkahkan kakiku dengan perlahan.


Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi untuk sekedar mengangkat kakiku saja sehingga aku harus berjalan sambil memegangi pegangan tangga disana dan menggusur tubuhku sendiri, ini terlalu melelahkan untukku dan aku tidak bisa menahannya lagi, hingga tingga beberapa anak tangga saja yang tersisa dihadapanku namun sayangnya energiku sudah sangat habis, keringat bercucuran bahkan hampir membuat kemejaku seperti banjir keringat.


Sedangkan Fasya yang sudah sampai lebih dulu di atas sana dia terlihat meminum air dengan santai dan duduk di sana tanpa merasakan penderitaan ku, hingga tidak lama dia menghampiriku dan kembali menarik tanganku hingga kami sungguh sampai di puncak dan aku langsung merampas botol minum di tangan Fasya lalu meminumnya dengan cepat hingga air itu habis dalam sekali minum.


"Aaahhh..... Akhirnya aku bisa menikmati air juga" ucapku langsung menjatuhkan diri begitu saja.


Aku merebahkan diriku di bawah rumput hijau yang cukup bersih dan hanya setinggi tiga cm saja, rasanya memang sedikit tidak nyaman tidur di rumput seperti itu namun karena aku sangat lelah sehingga aku tidak memperdulikan hal tersebut dan langsung saja menutup mataku karena merasa silau dengan cahaya matahari yang menerpa wajahku.


Sampai kedua tangan Fasya menghalangi sinar matahari itu dan dia mindungi wajahku agar tidak merasa silau karena cahaya senja itu.


"Ehh... Kenapa tidak silau lagi" gerutuku sambil mulai membuka mata dengan perlahan.


Saat aku lihat rupanya Fasya tersenyum padaku sambil menaruh tangannya diatas wajahku untuk menahan agar sinar matahari tidak menerpa wajahku secara langsung, aku sungguh terperangah dan merasa sedikit kaget melihat Fasya yang melakukan hal manis seperti itu kepadaku.


Aku pun segera bangkit terduduk karena merasa tidak enak dengannya.


"A..ahh... Aku tidak papa, kau tidak perlu melakukan hal seperti itu padaku" ucapku sambil duduk kembali tepat di sampingnya.


Saat aku tengah berbicara seperti itu dia tiba-tiba saja memegangi kepalaku dan membuat aku untuk menatap lurus ke depan dan saat itu juga aku bisa melihat dengan jelas bagaimana proses matahari terbenam dari atas bukit yang cukup cantik terlebih ada lautan di sana hingga itu menambah daya tarik keindahannya.


Aku bahkan terpukau dan hanya bisa menatap terperangah ke depan saking kagumnya melihat pemandangan yang sangat indah ini.


"E..eh... Apa yang kau lakukan" ucapku yang awalnya berontak,


Hingga matahari itu perlahan tenggelam dan malam pun tiba, seketika di atas bukit itu muncul sebuah lampu-lampu kecil yang berkelap kelip dan itu tidak kalah indahnya dengan pemandangan matahari terbenam sebelumnya.


"Wow.... Apa lagi ini, aahhh... Fasya apa ini sungguh kenyataan, waahh... Lihat lampu-lampu kecil itu, ini luar biasa" ucapku sambil menatap ke sekeliling sana.


Diam-diam tanpa Talita sadari Fasya justru malah memperhatikan wajahnya bukan menatap semua keindahan di sekitar sana.


"Ini sangat cantik, iya kan Fasya?" Ucapku bertanya pendapat darinya,


"Iya cantik" ucap Fasya sambil menatap lekat tersenyum padaku sehingga membuat aku sedikit gugup di buatnya.


"A.... Apa yang cantik, itu lihat ke sana kenapa kau malah menatap padaku?" Ucapku sambil menunjuk ke arah lampu-lampunya.


Dia hanya tersenyum saja padaku lalu memalingkan pandangannya pelan, kami pun menikmati pemandangan itu sejenak sambil beristirahat, hingga beberapa menit kemudian kami pun kembali harus menuruti bukit itu dengan tangga yang sebelumnya pernah kami naiki, melihatnta dari atas yang begitu menurun ke bawah itu sudah membuatku menghembuskan nafas yang berat.


"Huftt... Kakiku tidak akan bisa berjalan besok" ucapku menggerutu lebih dulu.


Tiba-tiba saja Fasya berjongkok di hadapanku dan dia meminta aku untuk naik ke atas punggungnya, tentu saja saat itu aku sangat kaget dan kebingungan.


"Ayo naik" ucapnya sambil menepuk pundaknya tersebut,


"A..apa? Aku masih punya kaki untuk apa naik ke atas punggungmu, sudahlah ayo kita turun sebelum semakin gelap" ucapku sambil berjalan menuruni tangga lebih dulu.


Aku tidak ingin menerima tawarannya itu karena aku takut dia salah paham dan aku juga tidak ingin membuat suasana yang lebih canggung lagi diantara aku dan dia, di tanah jarak tangga ini tidaklah sedikit aku tidak yakin apakah dia akan kuat menggendongku hingga ke bawah atau tidak, karena aku.sadar meski tubuhku pendek dan kecil jika dia menggendongku menuruni tangga sepanjang itu sudah bisa di pastikan kakinya mungkin tidak bisa berjalan dengan nomal.di ke esokan paginya.


"CK.... Dia berlagak ingin menggendongku, memang dia itu sekuat apa?" Gerutuku sambil terus menuruni tangga dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Menuruni tangga memang tidak terlalu melelahkan seperti sebelumnya, namun tetap saja ini membuat kakiku sakit dan mungkin karena sejuknya udara malam di perbukitan sehingga aku tidak terlalu mengeluarkan banyak keringat saat menuruninya.


Aku terus menggerutu kesal karena setelah di pikirkan lagi meskipun pemandangan di atas tadi sangatlah indah tetap saja endingnya cukup melelahkan juga.


"Aaaa.... Ada pemandangan indah kenapa harus mencapainya dengan jalan seperti ini, sangat melahkan, apa mereka tidak bisa membuat lift atau hal lainnya agar kita tidak perlu menaiki tangga sialan ini" gerutuku terus merasa kesal karena kami tidak kunjung tiba juga di bawah,


"Talita sudah jangan menggerutu begitu nanti kau bisa keseleo, lihatlah jalanan nya dengan benar" ucap Fasya sudah mengingatkan aku.


Karena aku cukup kesal dan emosi sehingga aku tidak mendengarkan peringatannya tersebut, sampai tidak lama sejak dia memperingatinya aku tiba-tiba saja tersandung dan hampir jatuh terguling ke bawah, untungnya Fasya dengan sigap menahan tubuhku.


"Aaahhh....." Ucapku kaget,


"Talita awas.... Aku kan sudah bilang padamu untuk berhati-hati, kenapa kau tidak mendengarkan ucapanku?" Ucap Fasya memarahiku dan dia nampak mencemaskan aku.


Aku sungguh merasa tidak enak kepadanya dan segera meminta maaf.


"E..eumm...iya aku minta maaf tadi aku tidak fokus" balasku padanya.


Aku pun berniat untuk melanjutkan jalanku, namun kakiku terasa sakit dan sepertinya karena tersandung tadi, saat Fasya memeriksanya dengan menyorotkan senter ponselnya ke arah kakiku rupanya memang kakiku terluka.


"Aaaaww...." Ucapku meringis kesakitan,


"Eh... Ada apa, coba aku lihat kakimu" ucapnya sangat perhatian menjagaku,


"Ya ampun Talita kakiku berdarah, ini pasti karena tersandung barusan, sudah ayo cepat naik aku akan menggendongmu sampai ke bawah" ucapnya kembali membungkuk di depanku.


Aku hanya diam beberapa saat dan sangat ragu untuk naik ke atas punggungnya, aku tahu ini memang hampir sampai tapi tetap saja aku merasa tidak enak karena merepotkan dia dan menjadi beban baginya.


"A....ah... Tidak usah Fasya aku masih sanggup berjalan kok, aku akan berjalan sendiri lagi pula ini hampir sampai kan" ucapku menolaknya,


"Talita aku akan meninggalkanmu jika kau tidak menuruti aku lagi!" Ucapnya dengan melemparkan tatapan yang serius,


"Baiklah iya... Iya... Aku akan naik ke punggungmu, tapi jangan salahkan aku jika besok kau merasakan sakit di kakimu" ucapku memberitahu dia terlebih dahulu akibatnya.


Dia hanya mengangguk saja dan aku pun mulai memeluknya dan dia segera mengangkat aku, selema perjalan menuruni tangga tidak ada pembicaraan antara aku dan dia dan suasana terasa sangat canggung hingga aku benar-benar merasa mengantuk.


Padahal saat itu sudah hampir sampai tapi aku sudah beberapa kali mengantuk sehingga ketika sampai di depan mobil dan masuk ke sana aku langsung saja tertidur di dalam mobil dengan cepat karena aku sudah tidak tahan mengantuk lagi.


Bahkan rasanya kelopak mataku ini terasa sangat berat untuk aku angkat.


"Eumm. Fasya aku akan tidur aku tidak tahan lagi" ucapku sambil langsung tertidur lelap karena saat itu mataku bahkan sudah tertutup rapat dan sulit untuk aku membukanya.


Fasya hanya menggelengkan kepala dan dia membantu aku untuk memasangkan sabuk pengaman hingga akhirnya segera melajukan mobil dengan cepat. Aku tidak sadar lagi setelah itu sampai ke esokan paginya aku sudah tertidur di dalam kamarku dan merasa sangat segar dan kakiku sudah di balut dengan plester.


"Ehhh... Kakiku dan aku, siapa yang membawa aku kemari? Ohhh tuhan apakah Fasya yang membawaku?" Tanyaku dengan menduga duga.


Aku sungguh merasa malu dan segera pergi menemui ibuku untuk menanyakannya.


"Ibu siapa yang membawa aku kembali ke kamar semalam?" Tanyaku kepadanya,


"Siapa lagi jika bukan dia" balas ibu sbil menunjuk ke arah Fasya yang tertidur di sofa ruang tengah rumah kami.


Aku terperanjat kaget melihat Fasya tidur disana dan dia terlihat sangat kelelahan sekali dengan pakaiannya yang kusut dan rambut yang cukup berantakan namun meski berantakan seperti itu dia masih terlihat cukup tampan.


"Astaga! I...ibu kenapa dia bisa ada disini?" Tanyaku heran sambil duduk di meja makan,


"Tentu saja dia kelelahan karenamu, aishh dasar kau anak manja kau membuat dia menggendongmu semalam dan dia bahkan mengobati kakimu dahulu, ibu tidak tega menyuruh ya untuk pulang apalagi saat melihat dia kelelahan seperti semalam, makanya ibu menyuruh dia menginap" ucap ibuku menjelaskan.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk mendengarkan penjelasannya sambil meminum air yang di berikan oleh ibu kepadaku.


Ibu juga langsung duduk di hadapanku dan dia tiba-tiba saja menasehati aku untuk bersikap baik kepada Fasya dan terus memujinya seperti kebiasaan yang sering ibu lakukan setiap pagi dan kali ini menjadi semakin parah dari pada biasanya.


__ADS_2