
Dia langsung menatap tajam ke arah pria itu tetapi memang sejak tadi pria tersebut terus memakai topi sangat bawah sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya sedangkan pria yang berada di sampingku justru malah memakai masker, dan jelas sekali aku tidak bisa melihat jelas seluruh wajah mereka.
Pada awalnya aku pikir mereka berdua akan bertengkar namun ternyata tidak dan pria dengan topi hitam itu justru malah memilih untuk berlari menyelesaikan hukumanku lima putaran lagi.
"Maaf senior aku bukan ingin mengacau denganmu aku hanya akan menggantikan wanita itu untuk lima putarannya lagi" balasnya sambil segera mulai berlari.
Aku segera terduduk begitu pula dengan pria yang mengenakan masker, ku lihat pria itu jelas terlihat sangat kelelahan tapi Fasya sialan itu justru tetap berdiri disana melihat pria itu untuk menyelesaikan larinya.
Aku sudah sangat jengkel dan tidak bisa terus melihat orang lain berkorban demiku sedangkan Fasya terlihat masih belum puas, aku pun menghampirinya dengan penuh keberanian karena disana sudah tidak ada siapapun lagi kecuali hanya ada kita ber empat.
"Cukup, Fasya cepat kau suruh dia berhenti, apa kau tidak lihat dia sepertinya sangat kelelahan dan tidak mungkin dia bisa bertahan jika kau tetap memintanya menyelesaikan lima putaran lagi" ucapku dengan sedikit membentaknya,
"Kau pikir kau siapa berani memerintahkan aku, dia yang menginginkannya sendiri jadi kita lihat saja sampai kapan dia akan bertahan" balasnya sambil melipatkan kedua tangannya di dada.
Aku tidak bisa membiarkan pria bertopi itu terus berlari meski itu sudah tiga kali putaran dia semakin terlihat lemas dan tidak bertenaga, aku pun berlari menghentikan dia dan tapi disaat aku hendak mendekatinya dia justru malah menjauh dariku dan menyuruh aku untuk mundur menjauhi dirinya.
"Hei ...sudah jangan berlari lagi kau tidak perlu mematuhi ucapan pria gila itu" ucapku kepadanya,
"Berhenti jaga jarakmu denganku kita tidak saling mengenal dan tolong menjauhlah dariku" balasnya membuat aku langsung terperangah dan merasa keheranan.
Bagaimana aku tidak heran, dia berinisiatif untuk menggantikan aku menyelesaikan hukuman lari lima putaran lagi namun aku tidak tega dengannya dan berusaha membela dia tetapi dia justru malah seperti ini terhadapku, padahal niatku baik aku hanya ingin menghentikan dia agar tidak perlu menyelesaikan hukuman bodoh ini.
"Eh...kenapa?, Apa kau mengenaliku kenapa kau tidak mau aku mendekatimu?" Tanyaku dengan heran,
"Tidak ada, kau sebaiknya menjaga jarak denganku aku menolongmu hanya karena kasihan jadi tolong jangan salah paham" jawab pria itu lagi dan dia melanjutkan larinya.
Aku semakin merasa curiga dan kesal, sedangkan aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menyaksikan pria itu kembali berlari mengelilingi lapangan sebanyak dua putaran lagi hingga akhirnya dia langsung pergi dari aula dibantu oleh pria yang satunya lagi.
__ADS_1
"Hey..... terimakasih sudah membantuku, aku tidak akan melupakan kebaikan kalian!" Teriakku kepada mereka.
Dia pria misterius dan aneh itu terus saja berjalan pergi dan mereka sama sekali tidak membalas ucapanku, mereka mengabaikan aku begitu saja dan meninggalkan aku seorang diri di tengah lapangan basket.
"Aihhh, kenapa orang-orang disini aneh semua?" Gerutuku dengan mengerutkan dahi.
Aku pun juga berniat untuk langsung pergi dari sana karena sudah sangat lelah dan ingin segera membersihkan tubuhku, tapi tiba-tiba saja tanganku di tahan dengan kuat oleh si Fasya br*ndal sialan itu, aku tahu itu dia sehingga aku berusaha untuk menghempaskan tangannya dariku, tapi meski aku berusaha untuk menghempaskan nya tetap saja aku tidak bisa, dia benar-benar memiliki kekuatan yang luar biasa.
"Eughh...hey...lepaskan, kau mau apa lagi sih!" Bentakku sambil terpaksa langsung berbalik menghadapnya,
"Ikut denganku, aku akan mengantarmu pulang" ucapnya sambil langsung menarik tanganku begitu saja.
Aku kaget karena dia menarik tanganku tanpa aba-aba sedangkan aku juga tidak bisa melepaskan tanganku yang dia genggam dengan kuat, aku berusaha untuk tidak pergi bersantai namun kekuatan dia jauh dari kekuatanku sampai dia mendorongku masuk ke dalam mobil dan mengunciku di dalam mobilnya dengan cepat.
"Kau ini kenapa sih, kau menyiksaku dengan hukuman yang gila itu, kau juga mempermalukan aku di depan umum dan sekarang kau bersikap sok baik memaksaku untuk mengantar pulang, sebenarnya maumu itu apa?" Ucapku dengan kesal kepadanya.
Wajahnya berada begitu dekat dengan wajahku dan tatapannya begitu tajam aku hampir kesulitan bernafas dan sangat gugup dengan apa yang dia lakukan.
"AA..a..apa...yang mau kau lakukan, menyingkir dariku" ucapku berusaha mendorong tubuhnya.
Dia benar-benar kuat bahkan aku pikir dia bukan manusia tetapi monster yang kuat, aku tidak bisa mendorong tubuhnya dia mengunciku hingga aku tidak bisa berkutik lagi.
"Dengarkan aku baik-baik dan jawab pertanyaan dariku dengan jujur" ucapnya dan langsung aku balas dengan anggukan.
Aku merasa setengah sadar dan sulit mengendalikan diriku sendiri saking takutnya kepada Fasya yang terlalu mendominasi aku di dalam mobilnya, apalagi aku tahu mobilnya ini keluaran terbaru dan kedap suara sehingga akan sia-sia saja jika aku berteriak meminta tolong, kacanya juga kaca gelap yang tidak bisa dilihat dari luar.
"Kau yang meminta ibumu untuk menjodohkan aku denganmu bukan?" Ucapnya langsung saja membuatku sangat kesal.
__ADS_1
Aku langsung membenturkan kepalaku ke wajahnya karena tidak bisa menahan emosi di dalam diriku lagi.
"Dukk....rasakan itu, kau berani-beraninya memperlakukan aku seperti tadi dan membuatku ketakutan, ternyata hanya karena masalah itu?, Asal kau tahu aku sama sekali tidak tahu apapun masalah perjodohan dan semacamnya, aku hanya tahu jika ibumu dan ibuku bersahabat sejak lama itupun aku baru mengetahuinya" balasku sambil meninggikan suara.
Fasya tetap tertunduk dan dia memegangi hidupnya hingga aku mulai panik karena dia terlihat meringis kesakitan.
"Hey...apa kau baik-baik saja, tadi aku hanya sedang marah, kenapa kau terus menunduk?" Ucapku penasaran dan cemas.
Hingga ketika Fasya mengangkat kepalanya darah mengalir keluar dari kedua lubang hidungnya dan aku sangat kaget mengetahui hal itu hingga refleks menutup mulutku yang terperangah melihatnya.
"Oh...astaga...hidungmu, aaah tahan itu cepat tahan" ucapku berusaha menghentikan darah yang keluar dari hidupnya,
"Heh, bagaimana aku bisa menahannya idiot ini perih dan sakit, darahnya terus keluar!" Bentaknya dengan mengerutkan kedua alis kepadaku.
"Ya sudah diam kemarilah aku akan menyimpan hidungmu dengan tisyu, cepat mendekat lah" ucapku kepadanya,
"Aishh.... bagaimana aku bisa mempercayaimu" balasnya yang masih keras kepala.
Aku mengerti dia sangat marah dan kesal kepadaku saat itu, tetapi dalam keadaan genting seperti ini seharusnya dia mengesampingkan dulu amarahnya dan mengijinka aku untuk membantunya mengobati hidung dia yang mimisan.
Melihat dia yang tetap keras kepala dan tidak mau mendekatkan kepalanya kepadaku terpaksa aku pun harus bergerak sendiri dan aku langsung mendekatinya dan menurunkan sandaran bangkunya dengan cepat lalu naik ke atas tubuhnya dan menahan tangannya agar tidak berontak, sedangkan tanganku yang satunya mulai mengobati mimisan di hidung Fasya dengan memasukkan tisyu dengan pelan untuk meredakan darahnya agar tidak terus mengalir.
"Eh...eh...apa yang kau lakukan hey...." Teriak dia terus berontak,
"DIAM!" bentakku yang langsung membuatnya terdiam.
Setelah melihat dia lebih tenang aku pun bisa mengobatinya dengan lebih baik dan kembali melepaskan dia setelah selesai memasukkan tisyu pada kedua hidungnya tersebut.
__ADS_1