
Aku terus berlari secepat yang aku bisa hingga tubuhku rasanya sangat sakit dan aku berhenti tepat ketika aku sudah melewati gerbang sekolah, aku juga kembali melihat ke belakang untuk memastikan bahwa orang itu tidak mengikutiku sampai ke sekolah, aku merasa keselamatanku saat ini tengah terancam apalagi jika sampai orang misterius tersebut mengikutiku sampai ke sekolah dan dia tahu di mana aku bersekolah sekarang.
Dengan perasaan yang masih panik dan ketakutan aku langsung saja kembali berlari menuju ruangan kelas, dan lagi lagi saat aku tengah berjalan di koridor sekolah aku kembali merasakan seperti ada orang yang tengah mengikutiku dan aku refleks membalikkan badan dengan cepat berniat untuk menciduk orang yang menguntitku tersebut namun ternyata orang yang di belakangku adalah kak Bara.
"Aaaahhh....Siapa kau" ucapku berteriak cukup kencang,
"Ehh...kak Bara sejak kapan kau berada di belakangku?" Tanyaku dengan heran dan penasaran.
"Ada apa, aku baru saja melihatmu masuk ke sekolah makanya aku mengikutimu dan belum sempat aku menyapamu kau sudah menemukanku lebih dulu" balas kak Bara memberitahu.
Aku langsung bisa bernafas lega ketika sudah melihat orang yang aku kenal setidaknya karena melihat kak Bara aku bisa jauh lebih tenang sekarang dan tidak terlalu takut lagi, namun yang aku herankan mulai muncul.
"Kak kenapa kau ke sekolah, bukannya kau sudah lulus untuk apa lagi ke mari, kelasmu juga akan menjadi kelasku kan?" Tanyaku padanya,
"Aku kemari hanya untuk mengambil beberapa berkas pada kepala sekolah dan wali kelasku yang lama karena ada bekas penting untuk mendaftar ke universitas" balas Kak Bara dengan wajah yang tiba-tiba saja berubah menjadi sedih.
Aku mengerutkan kedua alisku karena merasa heran dengan perubahan raut wajah kak Bara ketika memberitahuku soal berkas yang ingin dia ambil, dan karena aku penasaran aku mulai bertanya lagi ke padanya.
"Kak ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat sedih, apa ada masalah?" Tanyaku padanya lagi dengan sedikit rasa cemas.
Kak Bara tidak menjawabku dia hanya tersenyum lalu berpamitan pergi meninggalkan aku begitu saja, sikapnya pagi itu sungguh membuatku kebingungan sendiri namun aku juga tidak ingin terlalu memikirkannya lebih lama, sehingga aku memutuskan untuk segera menuju ke kelas baruku dan memilih bangku di sana, ketika aku sudah duduk dan mendapatkan bangku paling belakang aku merasa jauh lebih tenang meski tidak satu orang pun yang bisa aku ajak bicara saat itu.
Aku hanya duduk terdiam seorang diri di bangku paling belakang sambil mendengarkan musik dan memakan cemilan yang selalu aku bawa kemanapun.
Rasanya hari pertama masuk kelas baru begitu hampa karena tidak ada Audy yang selalu di sampingku juga tidak ada Alvaro bersamaku sehingga kehidupanku terasa lebih membosankan, meskipun terkadang tiap pulang sekolah Audy pasti sudah menungguku di depan gerbang untuk mengantarkan aku pulang tetap saja di sekolah terasa membosankan tanpa kehadirannya, kak Bara juga sudah lulus dan dia akan menempuh kehidupan baru di universitas.
Rasanya aku juga ingin cepat lulus agar bisa meninggalkan sekolah ini juga, aku merasa orang orang yang aku kenal dan dekat denganku perlahan pergi meninggalkan aku satu persatu, entah itu karena kesalahanku atau memang takdir yang selalu tidak berpihak pada diriku.
Beberapa saat kemudian pelajaran segera dimulai dan aku tidak bisa fokus belajar sama sekali karena belum mendapatkan informasi apapun mengenai Alvaro yang tidak datang ke sekolah di hari pertama hingga ketika jam pelajaran selesai dan guru keluar dari kelas aku segera berlari menghampirinya untuk menanyakan ke mana Alvaro.
Aku pikir mungkin guru akan lebih mengetahuinya.
__ADS_1
"Bu...Bu...tunggu" Teriakku sambil berlari kecil mengejar guruku,
"Iya, ada apa Talita?" Tanya sang guru padaku dengan lembut,
"Begini Bu, apa ibu tahu kemana Alvaro hari ini dan alasan dia tidak hadir?" Tanyaku dengan penuh harap,
"Yang ibu tahu Alvaro izin untuk tidak masuk selama satu Minggu tapi alasan mengapa dia tidak bisa masuk ibu juga tidak mengetahuinya secara pasti, kalau begitu ibu pergi ya lanjutkan belajarmu" ucap guruku memberitahu.
Aku diam termenung saat mendapatkan kebenaran bahwa Alvaro telah izin pada sekolah untuk tidak masuk selama satu Minggu lamanya, dan dia bahkan tidak memberitahuku soal ini, aku merasa dia tidak menganggap ku sebagai temannya bahkan aku mulai merasa dia dan aku bukan siapa siapa saat ini.
Sebenarnya saat itu aku ingin bertanya dari mana ibu guru mendapatkan izin itu karena aku bahkan sama sekali tidak dapat menghubungi Alvaro dan tidak bisa melacak dimana keberadaan dia saat ini.
Namun aku mengurungkan niat untuk bertanya lagi pada guruku sebab aku sudah terlanjur sedih dan langsung kembali masuk ke dalam kelas dengan perasaan yang lesu, sepanjang pelajaran aku hanya diam dengan tatapan dingin dan tidak bersemangat hingga jam pulang tiba dan aku pergi berjalan kaki dengan sangat tak bersemangat sedikitpun.
Sampai tiba di gerbang sekolah ternyata sudah ada kak Bara dan Audy di sana, aku hanya bisa menghembuskan nafas lesu ketika melihat mereka berdua karena aku sudah tahu pasti mereka akan mengajakku untuk pulang bersama.
"Talita ayo pulang bersamaku" ajak Audy dengan tersenyum lebar padaku,
"Talita aku sudah menunggumu sedari tadi, aku ingin mengantarmu pulang dan ada hal yang harus aku bicarakan juga denganmu" ucap kak Bara padaku.
Karena kak Bara mengatakan ingin membicarakan sesuatu denganku akhirnya aku memutuskan untuk pergi dengan kak Bara dan seperti biasanya Audy langsung kesal denganku lalu dia hanya menatap sinis dan pergi dari sana secepatnya.
Aku tidak bisa menghentikan Audy dan aku akan berusaha membujuknya nanti ketika urusanku dengan kak Bara selesai.
"Talita kamu tidak mau mengejar sahabatmu?" Tanya kak Bara padaku,
"Bagaimana aku bisa mengejarnya dia itu sudah menjadi pembalap motor yang handal sekarang sedangkan aku mengendarainya saja tidak bisa, apa kakak yakin aku bisa mengejarnya?" Balasku memberikan alasan yang membuat kak Bara tersenyum kecil,
"Ya sudah ayo masuk" kata kak Bara dengan membukakan pintu mobil untukku.
Aku segera masuk dan duduk dengan tenang di dalam kak Bara juga mulai melajukan mobilnya menuju suatu tempat yang aku tidak tahu akan kemana, hingga beberapa saat berlalu ternyata dia membawaku ke cafe tempatku bekerja sebelumnya, iya aku sudah berhenti bekerja di cafe karena beberapa hal dan salah satunya tidak memiliki semangat lagi.
__ADS_1
Kami berdua masuk ke dalam dan mulai memesan minuman di sana, kebetulan sekali orang yang mengantarkan minuman pada meja kami adalah kak Kevin sendiri, aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu kak Kevin lagi.
"Ehh....Talita, Bara senang bertemu dengan kalian bagaimana kabar kalian dan liburannya?" Sapa kak Kevin dengan ramah,
"Semuanya berjalan baik kak, dan aku minta maaf karena tidak bisa bekerja denganmu lagi aku bahkan tidak sempat menemuimu sebelumnya, maaf ya kak" balasku sekaligus meminta maaf dengannya selagi ada kesempatan,
"Ayolah Talita jangan sungkan begitu lagi pula kamu tetap bisa kesini sebagai pelanggan" balas kak Kevin tetap baik seperti sebelumnya.
Aku hanya tersenyum menanggapinya begitu juga dengan kak Bara lalu dia mempersilahkan kami untuk menikmati minumannya dan dia kembali pada pekerjaannya.
Aku juga mulai bertanya pada kak Bara mengenai hal apa yang ingin dia bicarakan kepadaku karena saat aku melihat raut wajah dia ketika memintaku pergi dengannya dia nampak begitu serius dan sedikit membuatku penasaran.
"Kak, apa yang ingin kau sampaikan padaku sebenarnya?" Kataku mulai bertanya,
"Begini Talita, ayahku meminta aku untuk belajar ke luar negeri dan melanjutkan di universitas internasional dan aku tidak bisa menjagamu lagi, aku minta maaf Talita aku sangat menyayangimu namun aku tidak bisa membantah ayahku sendiri aku juga tidak putus denganmu dan bisakah kamu tetap bersamaku meski kita terhalang jarak?" Ucap kak Bara mengutarakan dan bertanya padaku.
Aku tersenyum kecut dan hampir tidak bisa menahan air mata kesedihan di mataku, aku sudah kehilangan Alvaro dan harus jauh dari kak Bara pacarku sendiri, bagaimana aku harus bersikap tenang di saat semua orang meninggalkanku secara tiba-tiba seperti ini.
Aku terdiam menunduk sejenak dan berusaha menahan semuanya emosi sendiri lalu aku mulai menjawab ucapan kak Bara dengan hati yang lapang.
"Kak aku bisa menerima semua keputusanmu tapi ada satu hal yang aku takutkan jika kamu jauh dariku" ucapku padanya dengan serius,
"Katakan Talita" balasnya,
"Aku takut kau akan menemukan perempuan lain yang jauh lebih baik dariku dan aku takut kau melupakan aku begitu saja, aku takut kau menduakan aku, aku takut kehilangan satu orang lagi yang aku sayangi aku tidak mau itu hiks...hiks..hiks..." Ucapku dengan tangisan yang akhirnya pecah juga.
Kak Bara langsung memelukku dengan erat dia mengelus punggungku dengan lembut dan memberikan kenyaman serta kehangatan untuk meyakinkan diriku akan dirinya.
"Talita kau bodoh, jangan pernah berpikir seperti itu bagiku kau adalah satu satunya kau yang sempurna di mataku, kau yang paling ingin ku miliki, jadi berhentilah berpikir seperti itu kau tidak akan kehilanganku, kau akan tetap bersamaku aku janji padamu" ucap kak Bara sambil menautkan jari kelingkingnya pada jariku.
Setidaknya setelah dia mengutarakan janjinya padaku aku bisa sedikit mempercayai dia dan bisa lebih tenang ketika harus melepaskan dia untuk jauh dariku, sebelumnya aku pikir aku tidak papa jika putus dengan kak Bara namun itu jika ada Alvaro di sampingku nyatanya Alvaro kini tidak ada dan aku butuh kak Bara. Aku tidak ingin kehilangan dia juga, dan aku akan berusaha mencintainya meski cinta sesungguhnya untuk orang lain.
__ADS_1