
Melihat aku yang sudah merasa sangat frustasi Alvaro justru hanya tersenyum biasa saja dan dia terus menunjukkan wajah santainya itu, sedangkan hanya bisa menundukkan kepala dengan perasaan yang malu tak menentu.
Sampai tiba tiba saja Alvaro menyuapi sebuah masakan laut yang tak lain gurita bakar saus pedas, aku hanya menatapnya sekilas tapi aku tidak menolak suapan darinya karena perutku saat itu memang lapar dan tidak ada yang bisa ku makan selain makanan tersebut untuk mengganjal perutku.
"Sudah....ayo makan, aaaa..." Ucap Alvaro mulai menyuapiku.
Aku menerima suapanya dan mulai mengunyah gurita itu di dalam mulutku, rasanya benar sangat enak aku bahkan sampai membuka mataku lebar dan terus mengunyahnya dengan penuh semangat karena rasa gurita itu sungguh berbeda dengan hidangan gurita lain yang pernah aku makan selama ini, saking enaknya masakan tersebut aku sampai tidak sadar langsung memuji pemilik kedai tersebut sekaligus orang yang memasaknya.
"Wahhh ....ini enak sekali, pak kau benar benar mengolahnya dengan baik, aaahh sangat menyukainya" ucapku sangat senang.
Alvaro lagi lagi hanya tersenyum padaku dan aku seketika menyuruhnya untuk berhenti tersenyum menatapku seperti itu karena tatapannya sungguh mengganggu bagiku.
"Heh, berhenti melihatku begitu wajahmu sangat menyeramkan saat tersenyum tipis begitu, lebih baik kau juga makan saja dan cepat suapi aku lagi aku sangat lapar apa kau juga tidak merasakan hal yang sama?" Ucapku kepadanya dengan wajah yang sedikit sinis,
"Baiklah, kau makan saja semuanya sampai kau kenyang, biar aku menyuapiku saja" balas Alvaro membuatku keheranan sendiri,
"Ehhh...bukankah kau juga lapar, ingat kau nanti akan menyetir aku tidak mau celaka hanya karena kau kehilangan fokus saat menyetir karena kamu kelaparan, jadi cepatlah makan" ucapku memperingati dia,
Akhirnya Alvaro pun ikut makan beberapa kali dan dia terus menyuapiku hingga hidangan di piring itu habis tak tersisa, aku pun segera berdiri di ikuti dengan Alvaro yang segera membayar makanan tadi namun sebelum pergi aku meminta Alvaro agar membeli makanan ringan ke toko swalayan yang tak jauh dari sana.
"Alvaro aku masih lapar, bisakah kita pergi ke supermarket dahulu?" Ucapku bertanya padanya,
"Tentu saja, apapun yang kau inginkan" balas Alvaro dengan suara yang lembut tak seperti biasanya.
__ADS_1
Kami pun pergi berjalan kaki bersama menuju supermarket terdekat di sekitar sana dan selama perjalanan Alvaro tiba tiba saja menggandeng lenganku dan aku merasa di malam itu terasa jauh berbeda dengan Alvaro yang sebelumnya aku kenal, entah kenapa aku merasa dia berubah sangat banyak dan aku nyaman dengannya saat itu jauh lebih nyaman dari ketika aku tengah bersama kak Bara.
Aku berbelanja banyak makanan ringan dan minuman dingin, aku membelinya untuk bekal di perjalanan karena aku tau perjalanan ini akan cukup memakan banyak waktu dan aku tidak ingin Alvaro mengantuk saat perjalanan ataupun tidak fokus saat menyetir, apalagi dia akan menyetir di malam hari.
Setelah selesai berbelanja kami pun segera pergi dari pantai tersebut, mobil yang aku tumpangi mulai meninggalkan daerah pantai sedikit demi sedikit aku pun mengucapkan salam perpisahan pada pantai yang indah itu.
"Aaahhh .....selamat tinggal pantai yang cantik, rasanya aku tidak tega meninggalkan tempat seindah ini" ucapku sambil melambaikan lenganku keluar dari jendela mobil yang terbuka.
Alvaro menarik lenganku dan dia membentakku karena aku ceroboh mengeluarkan lenganku begitu saja tanpa aba aba terlebih dahulu.
"Hey, masukkan lenganmu apa kau mau terserempet kendaraan lain itu sangat berbahaya!" Bentak Alvaro dengan keras.
Aku termenung melihat raut wajah Alvaro yang nampak sangat mengkhawatirkanku padahal bagiku itu hanyalah hal sepele karena aku juga sudah melihat lihat sekitar dahulu sebelum melakukannya dan aku rasa jalanan di sana tengah sepi saat itu sehingga aku berani melakukannya.
"Eishh...lepaskan aku, kau fokus saja menyetir, jika mau memberitahuku kau cukup bicara saja tidak perlu sampai menarik lenganku begitu, kau kan sedang menyetir" ucapku beralasan.
"Jadi kau memperdulikan aku?" Tanya Alvaro yang salah paham dengan maksudku,
"Tidak, aku hanya perduli dengan keselamatan diriku sendiri, jika kau mengemudi dengan tidak benar maka aku juga yang akan terkena dampaknya makanya aku memperingati kamu, jangan salah paham" ucapku menjelaskan padanya.
Saat itu juga ketika mendengarkan penjelasan dari ucapanku raut wajah Alvaro langsung berubah drastis dia menjadi dingin dan wajahnya tanpa ekspresi sedikitpun aku bahkan merasakan suasan di dalam mobil lebih mencekam dari biasanya, dan aku segera mengalihkan diriku sendiri dengan menikmati cemilan yang sudah aku beli sebelumnya.
Saat itu aku membuka sebuah snak dengan cukup keras dan aku mengunyahnya dengan cepat sehingga menimbulkan suara yang renyah dari kunyahan gigiku sehingga suara itu mungkin mengganggu Alvaro sampai membuat dia membentakku.
__ADS_1
"Talita bisakah kau makan dengan benar, suaramu itu berisik sekali!" Bentak Alvaro sangat keras dengan raut wajah yang cukup membuatku takut.
Aku pun memperlambat makanku dan mengunyah makanan ringan itu dengan sangat pelan sebisa yang aku lakukan namun aku tidak tahan jika harus makan selambat itu, rasanya aku tidak bisa menikmati semua makanan yang aku makan jika memakannya dengan penuh tekanan seperti itu sehingga aku memiliki sebuah ide untuk menawarkan makanan itu pada Alvaro.
Aku berharap jika aku menawarkannya dia akan berubah pikiran dan tidak akan bersikap jutek lagi kepadaku.
"Emm....Alvaro apa kau mau mencicipi snak ini?, Rasanya sangat enak loh" ucapku menawarkannya,
"Tidak perlu aku sedang menyetir dan kau tahu itu, aku hanya punya dua tangan dan semuanya ku gunakan untuk memegang stir mobil, bukankah kau tidak ingin aku membuatmu kecelakaan" ucap Alvaro menyinggung ucapanku sebelumnya.
Saat itu aku sungguh merasa sangat tertampar dengan ucapannya yang menyinggung diriku, aku pun segera meminta maaf dan mengakui kesalahanku, karena aku rasa semua itu memang salahku dan hanya itulah satu satunya cara agar dia bisa memaafkanku dan kami berhenti dalam situasi yang membingungkan dan mencekam ini.
"Oke, aku minta maaf aku tahu aku salah bisakah kau berhenti bersikap sinis seperti itu padaku?" Ucapku meminta maaf dengan tulus padanya.
Meski pun aku keras kepala tapi bukan berarti aku tidak bisa menjadi orang yang tulus di saat meminta maaf dan mengakui kesalahanku, dan saat itu aku menunduk dengan menghembuskan nafas lesu secara perlahan.
Alvaro tidak menjawab permintaan maafku dan aku menyerah saat itu lalu kembali membenarkan posisi dudukku aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan agar Alvaro tidak marah lagi denganku, namun entah kenapa aku merasa sedih saat itu hingga tak lama Alvaro membalas ucapanku.
"Oke. Aku memaafkanmu, tapi aku mau kau menyuapiku snak itu bagaimana apa kau mau?" Ucap Alvaro membuatku merasa senang.
Aku pun langsung tersenyum senang dan langsung menyuapi dia dengan tersenyum senang.
"Tentu saja aku mau, ini aaaa....cepat buka mulutmu" ucapku mulai menyuapinya.
__ADS_1
Alvaro pun membuka mulutnya dan dia menerima suapan dariku dan mengunyahnya bersamaku, Alvaro tersenyum bersamaan dengannya sambil terus menikmati snak yang aku suapi kepadanya.