
Setelah aku masuk ke dalam mobil tiba tiba pria itu mendekati wajahku dan refleks aku menutup kedua mata ternyata dia membantuku memakai sabuk pengaman, hampir saja barusan aku berpikiran yang aneh aneh, namun saat aku membuka sebelah mata masih sempat aku lihat pria itu tersenyum kecil kupikir pasti dia menertawakan ku yang kegeera dan berpikiran yang tidak seharusnya, suasana saat diperjalanan begitu hening juga canggung saking akward nya aku merasa sesak dan tidak bisa bernafas, ingin rasanya cepat sampai perkotaan ataupun jalanan yang aku kenal agar bisa cepat keluar dan melarikan diri dari pria tampan yang aneh ini, aku benar benar bingung dan dibuat meleleh, wajahnya sangat tampan di lihat dari sisi manapun tetap saja tampan, tapi entah kenapa aku merasa bahwa dia seperti mirip seseorang atau mungkin aku pernah bertemu dengan dia sebelumnya, namun lagi lagi aku hempas semua pemikiran itu sebab jelas jelas ini adalah kali pertama aku melihat pria setampan dia, tapi rasa penasaranku terlalu besar aku bahkan tidak sadar kalau sudah memperhatikan wajah pria itu selama perjalanan sampai tiba tiba mobil berhenti dan pria itu menengok menatap tajam dan lurus ke arahku sampai aku tersentak karena kaget, tatapan matanya begitu tajam bak seperti mata elang yang siap menangkap mangsanya.
"Ke ..ke...kenapa kau menatapku begitu?" tanyaku dengan gugup,
"turun kita sudah sampai" jawab pria itu singkat, padat dan jelas,
*aa..aa..oo..ouhh...i..iyaa....* jawabku gelagapan dan segera turun dari mobil pria itu.
Saat hendak mengucapkan terimakasih ehh sialnya pria itu malah langsung melajukan mobil dengan cepat, seperti tidak ingin berlama lama berurusan dengan ku, aku tau aku jelek tapi seharusnya di menghormatiku sukur sukur aku mau berterima kasih padanya, kesal karena mendapatkan perlakuan seperti tadi dari pria aneh yang baru aku temui, aku sampai tidak sadar ternyata pria itu menurunkanku tepat di depan lapangan desa dimana tadi aku berada saat muntah.
Aku baru ingat Audy masih naik di wahana saat aku muntah dan berakhir di rumah pria itu, aku segera berlari mencari cari Audy namun ternyata pamerannya sudah tutup dan hanya ada beberapa orang dan pedagang yang tengah membereskan barang barangnya, aku bingung dan terus berkeliling mencari cari Audy namun tetap tidak menemukannya, ingin menelpon juga percuma ponselku tidak bisa diandalkan dalam kondisi darurat malah habis batrai.
__ADS_1
Aku sungguh khawatir, takut kalau Audy mencari cariku tidak ketemu lalu memberitahu bi Ade dan paman kalau aku hilang padahal aku baik baik saja, aku tidak menyerah dan terus berlari kesana kemari sambil berteriak memanggil nama Audy, sampai sebuah tangan menepuk pundak ku dari belakang secara tiba tiba.
Dan ternyata itu Audy saat aku berbalik Audy langsung memelukku dengan erat.
"Talita huhu...akhirnya aku menemukanmu dasar anak nakal" ucap Audy sambil mencubit pipi kananku.
"Aa..aawwww....sakit tau" ucapku kesakitan sambil mengelus pipiku yang mulai memerah.
Aku tersenyum dan menahan tawa baru saja aku menghilang hanya beberapa jam Audy sudah mengkhawatirkanku sampai seperti itu.
Setelah bercanda beberapa saat akhirnya aku dan Audy memutuskan untuk segera pulang karena hari juga sudah mulai larut malam, saat itu karena aku orang yang penakut sehingga tidak berani pulang selarut ini sendirian, aku meminta Audy untuk mengantarkan aku terlebih dahulu untunglah Audy sangat baik dan perhatian padaku, kami berjalan sambil mengobrol beriringan, Audy terus saja bertanya kemana aku pergi sampai selama tadi, dan aku sungguh tidak bisa menjelaskannya, aku bingung harus bagaimana makanya aku bilang saja pada Audy kalau aku tersesat, untunglah Audy percaya sehingga dia tidak mendesak ku lagi untuk bercerita.
__ADS_1
Sesampainya di depan rumah aku melihat lampu rumah bi Ade tidak menyala dan disana nampak begitu sepi aku mengajak Audy untuk menemaniku ke sana sebentar, sudah berkali kali ku ketuk pintu rumahnya namun tak ada jawaban sampai Audy kesal dibuat menunggu.
"Aduh Talita sampai kapan kita akan berdiri di sini, sudah jelas rumah ini tidak ada orangnya, sudahlah aku mau pulang takut semakin kemalaman" ucap Audy dengan wajah yang kesal.
"Tunggu sebentar lagi yah, atau kamu menginap saja dirumahku, aku takut sendirian biasanya rumah ini gak se sepi ini kok, kamu juga tau kan bi Ade dan paman selalu ada di rumah kadang menemaniku" ucapku memohon dan meminta agar Audy jangan pergi dulu.
Dengan wajah yang kesal Audy pun menganggukkan kepala dan aku tersenyum senang, setelah beberapa menit aku menunggu namun paman Seto dan bi Ade tetap tak menampakkan keberadaannya, hingga Audy sudah menguap berkali kali dan mengeluh agar segera pergi dari sana padaku, melihat wajah Audy yang sudah mengantuk parah aku tak tega dan segera pergi ke rumah lalu tidur bersama Audy.
Hingga ke esokkan paginya Audy bangun sangat awal dan bergegas pergi ke rumahnya padahal saat ini jalanan juga masih gelap karena masih sangat pagi, aku yang mengantar Audy sampai di depan rumah kembali terpikir pada paman Seto dan bi Ade, akhirnya aku memberanikan diri pergi ke rumah mereka lagi, jika dilihat dari lampunya yang masih belum menyala aku pikir mereka pasti belum kembali sejak kemarin namun aku tetap memastikan untuk mengetuk pintunya, berkali kali aku ketuk sampai sakit tanganku tetap saja tak ada yang menyaut, aku menyerah dan kembali ke rumah lalu segera bersiap siap berangkat sekolah, saat memeriksa ponsel yang baru menyala ternyata banyak sekali pesan juga panggilan tidak terjawab mulai dari ibu, ayah, bi Ade dan ada juga yang dari Audy, aku segera memeriksanya satu persatu juga tak lupa membaca pesan dari ibu terlebih dahulu, ternyata isi pesannya.
"Sayang bagaimana kabarmu di sana?, maaf ibu belum bisa mengunjungimu, pekerjaan di sini sangat menumpuk ayahmu juga sedang tidak enak badan jadi ibu harus mengerjakan 2 pekerjaan sekaligus, dan maaf juga mulai sekarang kamu harus benar benar mandiri, karena bi Ade dan paman Seto mereka mendapatkan kabar duka, salah satu putrinya meninggal dunia secara mendadak di kota D sehingga mereka harus merawat cucunya dan tinggal di sana, tapi tenang saja kamu bisa kan mengunjungi ibu ke sini setiap bulan atau kapanpun kamu mau, biar ibu yang bayar ongkosnya dari sini, atau ibu bisa transfer kamu" isi pesan panjang dari ibu yang mengandung bawang.
__ADS_1
Satu pesan dari ibu saja sudah menjelaskan banyak keanehan yang aku alami mulai kemarin, aku terduduk lemas di lantai dengan rambut berantakan yang tak sempat aku sisir dan rapihkan, aku seperti tengah mengambang kebingungan dan tak tau arah serta tujuan, meratapi nasib diri sendiri yang ternyata harus menjalani hidup sepahit ini.