Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Di Acara Amal


__ADS_3

Dia juga melihat Argo sudah berganti pakaian lalu kini justru Argo menyuruh dia untuk mengganti pakaiannya juga.


"Sana ganti pakaianmu aku sudah menyiapkannya di dalam kamar mandi" ucap Argo memberi tahu,


"A..ahh...iya terima kasih Argo" ucap Audy kepadanya dengan gugup.


Argo hanya mengangguk dan tangannya mempersilahkan Audy untuk pergi ke dalam, Audy pun segera pergi untuk mengganti pakaiannya yang basah sebab dia juga memang merasa dingin sedari tadi hanya mengabaikannya saja karena terlalu takut dan sedih.


Dia juga mulai merasa aneh dan bingung karena Argo begitu baik kepadanya dan meminta dia untuk mengganti pakaian dahulu sebelum berbicara dengannya sehingga Audy menuruti Argo, meski dia takut dan merasa curiga tapi mengingat betapa setianya Argo kepada Alvaro, Audy berpikira tidak mungkin anak buah Alvaro melukai dirinya sehingga hanya keyakinan itu yang membuatnya mengobati dari rasa takut di dalam dirinya selama ini.


Setelah berganti pakaian Audy kembali menghampiri Argo dan kini mereka duduk saling berhadapan disana, terlihat Argo sudah menunggu Audy sejak tadi sehingga ketika Audy sudah duduk dengan tenang Argo langsung mengutarakan niatnya membawa Audy ke tempat itu.


"Audy... Begini pertama aku turut berduka atas kepergian kak Veri aku juga sangat dekat dengannya dia adalah orang yang baik namun mungkin tuhan lebih menyayanginya, dan yang kedua ini masalah Talita dan Alvaro, aku minta maaf kepadamu karena aku tidak berhasil menyelamatkan sahabatmu itu" ucap Argo yang langsung membuat Audy kaget dan membelalakkan matanya seketika dengan sangat lebar.


"Apa maksudmu tidak berhasil menyelamatkan sahabatku?" Bentak Audy langsung tersulut emosi,


Argo tidak menjawab pertanyaan dari Audy sehingga itu membuat Audy semakin cemas dan berpikiran kemana mana dia pun langsung menanyakannya lagi kepada Argo dengan mendesaknya keras.


"Argo cepat jawab aku, apa yang sebenarnya terjadi pada Talita?" Bentak Audy mendesaknya dengan keras dan membulatkan matanya sempurna.


Argo terlihat menarik nafas yang dalam beberapa saat dan dia mengeluarkannya perlahan dia tahu apa yang akan Audy rasakan ketika mendengar kabar menyedihkan ini darinya.


"Begini Audy.... sebenarnya saat itu aku dan Alvaro sudah bekerja keras untuk menyelamatkan Talita bahkan kami melawan semua bodyguard tuan George untuk menahan mereka dan menyelamatkan Talita tetapi dia tertangkap kembali oleh anak buahnya dan disaat kami bertarung Talita di jadikan sandraan oleh tuan George lalu dia...." Ucap Argo yang masih tidak bisa mengatakannya dengan mudah,


"Argo jangan buat aku semakin cemas, katakan saja yang sesungguhnya aku sudah mempersiapkan diri" balas Audy sambil memegangi kedua tangannya dengan erat,


"Dia di dorong ke bawah jembatan yang tinggi dan jatuh hanyut di sungai, Alvaro juga terkena dua tusukan di perutnya juga mengalami benturan yang sangat keras, dia sedang koma di rumah sakit saat ini namun aku merahasiakan semuanya karena takut tuan George akan membunuh Alvaro juga" tambah Argo mengatakan semuanya pada Audy.


Mendengar Talita sahabat baiknya jatuh dari jembatan setinggi itu dia langsung merasa lemas, dan pemikirannya sudah sangat kalut.


"Ba.. bagaimana dengan Talita apa kau menemukan dia? Apa kau tidak berusaha mencari dia ke sungai itu?" Tanya Audy mendesak lagi.


Argo bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Audy karena posisi nya saat itu juga masih berada dalam pantauan tuan George sehingga dia tidak bisa melakukan apapun dan tuan George yang miliki segalanya sudah pasti tidak akan membiarkan dia mencari bantuan pada pihak manapun bahkan dia adalah orang yang kebal dengan hukum sehingga sulit sekali untuk melawan dia.


Melihat Argo yang hanya diam dan menggelengkan kepala Audy sudah mengerti apa artinya itu sehingga dia langsung menangis terisak dan memegangi kedua tangannya dengan erat, dia terus menggelengkan kepalanya dan tidak menyangka jika harus kehilangan Talita juga dalam kejadian ini.


"Talita maafkan aku....aku tahu semua ini salahku, hiks...hiks... Maafkan aku Talita aku akan menyesal selama hidupku atas kejadian saat ini, maafkan aku" ucap Audy yang terus menangis terisak.


Argo juga tidak bisa melakukan apapun lagi karena memang itulah kenyataan yang harus mereka hadapi dan semua itu juga sudah terjadi, tidak ada yang bisa mengulang lagi atau mencegah kejadian itu untuk terjadi, bahkan Argo sendiri sama terpukulnya dengan Audy dia juga merasa bersalah atas Talita karena tidak berhasil menyelamatkan dia juga.


Setelah mengatakan semuanya Argo pun pergi mengantarkan Audy ke kediamannya danenyuruh Audy untuk beristirahat serta mengikhlaskan semua yang sudah terjadi hari ini.


"Sudah kau harus tetap melanjutkan hidupmu, jangan terlalu terbelenggu dengan kejadian ini, aku yakin sahabatmu Talita tidak ingin melihatmu terpuruk seperti ini, dan aku yakin dia juga tidak akan menyalahkan mu untuk semua itu" ujar Argo memberikan kekuatan kepada Audy,


"Baiklah aku akan berusaha, sampai jumpa Argo" ucap Audy melambaikan tangan lalu langsung masuk ke dalam rumahnya dengan lesu.


Bahkan tatapan Audy satu dan tidak fokus dia terlihat tidak memiliki semangat hidup dan terus saja termenung seperti itu, bahkan malam itu Audy tidak bisa tertidur dia merasa bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada ibu Talita bahwa anaknya sudah hilang hanyut ke sungai karena dia yang ceroboh dalam membuat rencana dan malah setuju begitu saja.

__ADS_1


"Kamu bodoh Audy..... Kamu adalah sahabat yang paling berengsek, kamu membunuh sahabatmu sendiri.... Hiks...hiks...hiks..." Ucap Audy sambil memukul dirinya sendiri.


Dadanya terus saja terasa sesak dia masih belum bisa menerima semuanya dan masih saja menyalahkan dirinya sendiri atas semua kejadian yang menimpa mereka semua hari ini.


Hingga hari demi hari telah berlalu, dari waktu ke waktu Audy terus hidup di hantui rasa penyesalan dan sejak kejadian itu dia bahkan tidak pernah bertemu atau mencoba menemui Ibunya Talita lagi bahkan dia langsung pergi ke luar negeri untuk menghindari ibu Talita yang pasti akan menanyakan masalah hilangnya Talita kepada dirinya.


Audy memang sedih dengan kehilangan Talita namun dia tidak sanggup jika harus menghadapi ibu Talita juga, sampai dia justru malah menghindar dan mengasingkan diri ke luar negeri seorang diri, meski setiap malah dia terus bermimpi buruk sejak kejadian itu, bahkan dia terus saja mengingat Talita dan selalu merindukannya.


Di dalam mimpinya itu Audy selalu merasa dan yakin bahwa Talita belum meninggal dan dia masih hidup saat ini.


Sedangkan disisi lain sudah tiga tahun berlalu sejak kejadian itu dan seharusnya saat ini mereka semua sudah lulus kuliah dan memulai kehidupan barunya dalam dunia bisnis atau pekerjaan lain yang mereka tempuh, namun Talita yang sejak kejadian itu mengalami koma selama beberapa bulan dia ternyata mengalami hilang ingatan.


Talita kehilangan sebagian dari ingatannya dan sayangnya dia juga melupakan Alvaro dan Audy, dia hanya mengingat nama ibunya saja satu satunya orang yang paling dekat dengan dia, tetapi dia tidak bisa mengingat masa lalunya bahkan dia tidak ingat dengan namanya, sehingga sang ibu dan Fasya hanya mengenalkan diri mereka saja pada Talita.


Dan mereka menyembunyikan semua tragedi saat itu demi melindungi Talita dan menjaga dia dari tuan George yang kejam itu, sehingga saat ini Talita dapat bekerja dengan tenang dan dia memiliki sebuah cafe yang dia bangun dengan jerih payahnya sendiri.


Kini Talita bahkan sudah resmi bertunangan dengan Fasya dan mereka bersikap layaknya pasangan seperti pada umumnya. Terlihat romantis dan serasi itulah yang sering di katakan semua orang ketika melihat mereka bersama.


Hingga hari ini dimana aku tengah duduk memeriksa datang pengeluaran dan pemasukan di cafe tiba-tiba saja dari belakang ada seseorang yang memelukku dan aku sudah tahu bahwa itu adalah Fasya tunanganku.


"Sayang aku sedang bekerja kenapa kau malah memelukku seperti itu, sana menjauh" ucapku kepada Fasya,


"Tidak mau aku sangat merindukanmu dan kau seperti charge untukku, biarkan seperti ini sejenak aku ingin mengambil energi darimu agar bisa lebih semangat lagi" balas Fasya kepadaku.


Aku hanya tersenyum kecil dan mengusap kepalanya pelan, hingga dia langsung menarik buku catatan data di tanganku yang saat itu tengah aku periksa dengan baik, lalu dia menarik tanganku dan malah mengajak aku untuk menemani dia makan.


"Iya....iya aku akan menemanimu, kenapa kau manja sekali sih padaku, padahal semua orang tahu kau adalah pria paling menakutkan dan jutek, aishhh...kau terlihat seperti seorang bayi di hadapanku" ucapku sambil mengambilkan makanan untuknya.


Bahkan Fasya selalu meminta aku menyuapinya dan dia begitu menyayangi aku dan selalu memberiku hadiah dalam hari-hari besar atau perayaan apapun, bahkan terkadang dia sering memberikan aku hadiah tanpa alasan, sehingga membuat aku selalu kaget dan senang sepanjang hari bila bersamanya.


Hari ini ada sebuah acara pelelangan amal di pusat kota dan Fasya berniat mengajak aku untuk datang ke sana dan memilih beberapa barang untuk hadian anniversary kami yang ke tiga tahun ini.


"Sayang maukah kau pergi ke acara pelelangan, aku ingin terlihat seperti teman-temanku yang lain mereka selalu membawa pasangannya ke sana sehingga aku merasa iri dengan hal itu karena aku hanya datang sendirian saja, kau harus ikut yah" ucap dia membujuk aku seperti biasanya.


Selama ini setiap kali dia memintaku pergi ke acara pelelangan amal seperti itu aku selalu tidak ingin datang dan selalu tidak bisa menemaninya karena aku merasa acara seperti itu tidak penting dan aku tidak menyukai tempat ramai seperti itu bahkan aku sangat tidak ingin bertemu banyak orang sehingga aku selalu menolaknya dengan lembut, namun karena kalo ini dia memasang wajah yang cukup menyedihkan dan mengatakan alasan nya begitu, aku menjadi merasa tidak tega dengannya dan aku pun menyetujui ajakan nya itu segera.


"Hmmm... Baiklah hanya untuk kali ini saja aku akan menemanimu, tidak ada lain kali oke" ucapku menyetujuinya.


Fasya langsung terlihat senang dan bahagia, wajahnya yang tadi sedikit murung dan cukup menyedihkan kini justru terlihat cerah dan berseri-seri, dia terus memegangi tanganku dengan tersenyum lebar.


"Aishh ...kamu tidak perlu terlihat se senang itu aku tidak enak denganmu" ucapku kepadanya,


"Tidak papa aku sangat senang akhirnya kau mau menemaniku ke acara seperti ini, dan itu adalah sebuah hal baru, aku sangat menyukaimu Talita" balas dia kepadaku.


"Iya.....iya aku tahu itu, kau selalu mengatakan itu kepadaku setiap hari aku tahu kau menyukai aku, sudah jangan buat makanannya menjadi dingin, ayo mulai makan" ucapku sambil menggeser piring kepadanya.


Dan dia mengangguk lalu langsung menikmati makanannya.

__ADS_1


"Talita aku selalu mengatakan itu tapi kau tidak pernah membalasku dengan kalimat yang sama, padahal selama tiga tahun ini aku selalu ingin mendengar kalimat itu dariku" gumam Fasya di dalam hatinya.


Sebenarnya aku juga tahu apa yang sebenarnya Fasya inginkan ketika dia terus saja mengungkapkan perasaannya kepadaku, tapi aku memang tidak bisa berkata kepadanya bahwa aku menyukainya juga, karena aku sungguh tidak bisa merasakan apapun padanya, aku tidak mengerti dan tidak tahu mengapa aku bisa menjadi tunangannya di tiga tahun yang lalu sejak aku bangun dari koma.


Tiba-tiba saja ibu memperkenalkan aku kepada seorang pria yang dia katakan bahwa dia adalah tunanganku bahkan aku tidak ingat sama sekali mengapa aku bisa koma dan berakhir di rumah sakit seperti sebelumnya, aku hanya tahu bahwa aku mengalami kecelakaan lalu lintas makanya aku seperti itu dan Fasya orang yang menyelamatkan aku sekaligus tunanganku.


Karena mengetahui itu aku menjalani hubungan dengan Fasya selama tidak tahun namun selama itu juga aku tidak pernah merasakan apapun kepadanya, jantung tidak pernah bergetar meskindia mengecup keningku atau memegang tanganku.


Aku hanya merasa dia orang lain bagiku tidak seperti tunangan sungguhan bagiku, aku juga tidak mengerti mengapa aku tidak bisa merasakan apapun ketika bersamanya, namun dia selalu memperlakukan aku dengan sangat baik sehingga aku selalu tidak tega untuk menolak apapun yang dia berikan kepadaku.


Aku selalu berusaha untuk menjadi pasangan yang baik baginya selama ini, meski hatiku sendiri hambar dan tidak merasakan apapun padanya, aku juga sudah berusaha keras untuk mengingat kejadian saat itu dan aku selalu berusaha untuk mengetahui bagaimana aku di masa lalu, namun aku tetap tidak bisa mengingat semua itu.


Bahkan saat ini saja aku berusaha terus menghindar dari perkataan Fasya yang selalu ingin aku mengutarakan perasaanku padanya.


"Maafkan aku Fasya tapi aku sungguh tidak bisa mengatakan itu entah kenapa aku juga tidak tahu, maaf" gumamku dalam hati sambil melihat ke arah Fasya yang tengah memakan makan siangnya.


Sejak bangun dari koma aku juga sering bermimpi aneh dan mimpi itu selalu terlihat begitu nyata dimana aku seperti di dorong oleh dua orang yang tidak aku kenali dan seorang pria berteriak memanggil namaku dengan keras, aku juga selalu mendengar suara itu di dalam mimpiku hampir setiap malam.


Hanya saja di dalam mimpi itu aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas, selalu muncul sebuah kejadian acak, seperti sebuah mobil dan seorang wanita juga seorang pria, pertarungan dan ada pisau, aku tidak bisa melihat semuanya dengan jelas, sehingga aku selalu terbangun saat malam dan aku harus selalu memakan obat penenang agar bisa kembali tidur setelah bermimpi hal aneh seperti itu.


Malam ini aku sudah bersiap-siap pergi ke sebuah acara pelanggan dan Fasya pergi denganku kami berjalan bergandengan masuk ke dalam namun disaat mereka tengah berbicara dengan rekan bisnisnya yang Fasya temui disana aku tidak tahan ingin ke kamar mandi sehingga memberi tahu Fasya bahwa aku akan pergi ke belakang dahulu.


"Sayang aku pergi ke toilet sebentar ya" ucapku berbisik padanya dan dia langsung mengangguk.


Setelah itu aku segera pergi mencari toilet di sekitar sana namun aku tidak kunjung menemukannya juga sedangkan aku sungguh sudah tidak tahan lagi sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya pada seorang pria yang terlihat tengah berdiri seorang diri sambil memegang sebuah minuman di tangannya.


Aku pikir karena hanya dia yang berdiri sendiri dan tidak sibuk makanya aku datang menghampiri pria itu untuk bertanya sebab yang lainnya terlihat sibuk tidak jelas dan akan sangat memalukan jika aku menanyakan hal seperti itu kepada orang yang tengah membicarakan bisnis.


"Emm...permisi tuan boleh saya bertanya sesuatu?" Ucapku kepada pria itu.


Dia menatapku dengan lekat tanpa bicara sedikitpun, wajahnya terlihat aneh menurutku.


"Talita.....kau.." ucap pria itu yang tiba-tiba saja menyebut namaku.


Aku kaget dan heran hingga mengerutkan kedua alisku mendengar pria itu menyebut namaku padahal aku belum pernah bertemu dengan dia sebelumnya dan aku juga belum memperkenalkan diri kepada pria itu.


"Eh ... Anda tahu namaku?" Tanyaku kepadanya dengan heran.


Dia tiba-tiba saja langsung memegangi kedua pundakku dan memelukku begitu saja dengan begitu erat.


"Talita akhirnya aku menemukanmu, aku sangat merindukanmu Talita, aku selalu yakin bahwa kau masih hidup karena aku tidak pernah menemui jasadmu, Talita aku sangat merindukanmu" ucap pria itu berbicara aneh dan aku tidak memahami perkataan yang dia ucapkan sedikitpun.


"E...eh ..hey....tuan lepaskan aku, aduhh...kau memelukku terlalu erat aku sudah tidak tahan...aahhh" ucapku sambil memegang bagian bawahku.


Karena dia memelukku begitu aku semakin tidak tahan untuk kencing, rasanya aku akan ngompol di pakaianku saat itu jika dia terus memelukku. Namun untungnya dia melepaskanku dan pria itu terlihat panik dengan wajahnya ketika aku memegangi perutku dan bagian bawahku dengan wajah yang meringis.


"Hey....ada apa denganmu, apa aku melukaimu, Talita apa kau baik-baik saja?" Tanya dia mencemaskan aku,

__ADS_1


"Aku.... Aku ingin ke toilet aku tidak tahan lagi aku harus buang air kecil, aaaahhhhh.... Aku tidak tahan cepat katakan di mana toiletnya tuan" ucapku mendesaknya karena sudah sangat tidak tahan.


__ADS_2