
Mendengar ucapan Talita tentang uang bulanan ibunya langsung ingat karena dia lupa untuk mengirimkan uang itu.
"Astaga...Talita maafkan ibu, ibu lupa masalah uang itu karena akhir akhir ini ibu sibuk mengurusi rumah baru yang ibu siapkan untuk tinggal bersamamu, ini ibu berikan sekarang saja, nanti sisanya ayahmu sudah memberikannya padamu kan" ucap ibu menanyakan,
"Tidak, ayah juga tidak memberiku uang bulanan, mungkin dia sama seperti ibu sudah mulai melupakanku" jawabku dengan sinis.
Ibu langsung terdiam dan menatapku dengan berkaca kaca ketika aku menjawabnya dengan sinis, sejujurnya aku juga merasa sakit tat kala melihat ibu harus menjatuhkan air matanya karena ucapanku, namun aku harus melakukan itu aku harus jadi kejam agar aku kuat jika aku lemah maka aku akan mudah menangis dan mereka akan dengan mudah mengendalikan ku lagi seperti dulu.
Aku tidak mau itu terjadi sehingga aku harus menjaga diriku sendiri, aku tidak akan menjadi orang jahat namun aku akan tetap menjadi kuat untuk diriku sendiri.
Lama kami saling diam dan tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara hingga aku memutuskan untuk pergi makan kendapur untuk sarapan daripada meladeni mereka di sana terus menerus dengan ketidak jelasan.
"Ibu jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, kalian bisa pergi kapanpun" ucapku sambil pergi ke dapur meninggalkan mereka di ruang depan.
"Talita...ibu minta maaf padamu nak, ibu tidak melupakanmu ibu masih sangat menyayangimu, datanglah berkunjung pada ibu sesekali yah" ucap ibu sambil mengusap lembut kepalaku dan dia pergi setelahnya.
Aku tidak bisa menahan air mataku lagi, aku menangis tanpa suara dan terus menangis sambil memakan makanan di dalam mulutku, mulutku sibuk mengunyah makanan, tanganku juga fokus memotong ayam sedangkan mataku tak berhenti meneteskan air mata yang menghalangi pandanganku.
"Talita kenapa aku jadi cengeng begini sih, merepotkan saja" ucapku sambil mengusap kasar sisa air mata di pipiku.
Aku tidak bisa menerima jika aku merasa sedih lagi, aku sudah bahagia dengan adanya kak Bara juga Audy di sampingku kedatangan ayah dan ibu baru harusnya tidak membuatku se sedih ini, tapi hatiku seperti teriris pisau belati yang tajam berkali kali, mereka selalu di sibukkan dengan urusan mereka sendiri sampai lupa mengurusi anaknya sendiri.
Aku berhenti meratapi kepiluan takdirku sendiri, saat selesai makan aku kembali ke ruang tengah dan melihat sebuah amplop hitam yang tebal tergeletak begitu saja diatas meja kecil, aku segera mengambil dan memeriksanya.
__ADS_1
"Wahhh....apa ini uang bulananku dari ibu, kenapa sebanyak ini?" Ucapku merasa heran dan kaget.
Aku pun segera menghitung jumlah uang tersebut dan jumlahnya bahkan bisa cukup untuk biaya hidupku tiga bulan ke depan, jujur saja ini sangat besar bahkan lebih besar dari uang bulananku yang lalu, aku pikir ini yang tadi ibu sempat berikan kepadaku, aku tidak tau kenapa ibu bisa memberiku uang sebanyak itu.
"Astaga....apa ini tidak terlalu banyak atau ibu tidak sengaja memberikan semua uang bulanannya padaku?" Gerutuku penuh kebingungan,
"Bagaimana kalau ada sesuatu yang ibu inginkan dariku makanya dia memberikan banyak uang begini, ahhh aku tidak bisa langsung senang, sebaiknya aku tanyakan pada ibu dulu" ucapku bicara sendiri dan segera mengambil ponsel untuk menghubungi ibu.
Karena kaget dan aku juga sedikit curiga dengan niat di balik memberikan uang sebanyak itu aku pun segera menghubungi ibu.
"Hallo ibu" ucapku di telpon,
"Iya Talita ada apa?" Tanya ibu dari sebrang sana,
"Bu apa kau sengaja meninggalkan uang di dalam amplop coklat di meja depanku atau memang ibu lupa?" Tanyaku secara langsung,
"Ibu benar, hanya itu alasan ibu memberikan uang sebanyak ini?" Tanyaku lagi yang masih tidak percaya,
"Iya sayang, kamu kenapa terus bertanya?, Apa kamu tidak mempercayai ibu lagi?" Ucap ibu dengan nada yang sedih,
"Tidak Bu, aku hanya sedikit kaget saja soalnya ini kan bukan jumlah yang sedikit, terimakasih Bu aku akan menggunakan uang ini untuk kebutuhanku" ucapku berterimakasih dan panggilan pun tertutup.
Aku tidak mau berlama lama berbincang dengan ibu nanti yang ada ibu malah besar kepala dan mengira kalau aku sudah menyetujui pernikahannya itu, aku masih belum bisa menerima suami baru ibu sebagai ayah tiriku, karena ayah masih ada jadi aku sedikit sulit untuk menerimanya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan jawaban dari ibu aku baru bisa merasa tenang karena ternyata memang uang itu untukku dan ibu memberikannya tanpa ada niatan apapun di baliknya.
Aku segera menyimpan uang tersebut ke dalam lemari tepat di bawah pakaianku lalu aku mulai bersiap untuk pergi ke tempat kerja, saat aku keluar dari rumah nampak sudah ada mobil kak Bara yang terparki di halaman rumahku dia juga turun dari mobil sambil melambaikan tangannya dan tersenyum ke arahku, aku pun segera menghampirinya.
"Kak Bara, kenapa kakak tiba tiba di sini?" Tanyaku kaget,
"Tentu saja aku mau mengantar kekasihku bekerja, ayo masuk biar aku antar" ujar kak Bara yang membuatku pipiku merona,
Aku masuk ke dalam mobil dan kak Bara mengantarku ke tempat kerja saat aku sampai di sana ku pikir kak Bara hanya mengantarku saja namun ternyata dia juga ikut masuk bersamaku dan dia meminta izin untuk cuti liburanku pada meneger secara langsung, aku sangat kaget saat mengetahui itu dan segera menahan kak Bara.
"Kak...kak....apa yang kakak lakukan?, Bagaimana kalau meneger memecatku?" Ucapku penuh kekhawatiran,
"Talita tenang saja kenapa kamu harus sepanik ini, bukankah kita sudah memutuskan masalah ini sebelumnya" ujar kak Bara dengan lembut,
"Iya kak tapi kan tetap saja sayang jika aku dipecat dari sini" ucapku sambil menunduk lesu,
"Kamu tidak akan dipecat kok tenang saja, kamu lebih baik segera ke dapur dan mulai bekerja biarkan masalah ini aku yang mengurusnya, oke" ucap kak Bara sambil tersenyum meyakinkanku.
Aku segera menuruti ucapan kak Bara karena memang aku tidak bisa menolak dan aku segera pergi ke dapur meski perasaanku tidak menentu dan terus merasa cemas dengan masalah pekerjaanku. Saat aku masuk ke dapur sudah ada kak Kevin yang langsung menyambutku seperti biasa.
"Siang Talita, selamat bekerja di pekerjaan yang membosankan ini" ucap kak Kevin yang selalu bisa membuatku tertawa dengan gurauannya.
"Haha...kak Kevin ini bisa saja, sudahlah kak syukuri saja apa yang Tuhan berikan dulu saat aku kesulitan mencari pekerjaan aku sangat putus asa dan sekarang aku sangat menikmatinya meski tugasku hanya seperti ini hehe" jawabku sembari mengerjakan pekerjaanku.
__ADS_1
Kak Kevin hanya menanggapi setiap ucapanku dengan anggukkan, aku tau mungkin kak Kevin sudah bosan menjadi karyawan karena seharusnya dia menjadi bos di sana, aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi mengapa kak Kevin bisa bekerja di sana sebagai koki padahal dalam kartu namanya sangat jelas tertulis bahwa dia calon pemilik restoran tersebut.
Terkadang memang urusan orang kaya rumit dan aku juga tidak berhak menanyakan semua itu pada kak Kevin, itu terlalu private dan tidak ada gunanya juga untukku mengetahui.