
Sesaat setelah penelpon misterius itu mematikan panggilan videonya denganku aku langsung terduduk dengan lemas dan memegangi dadaku, ku jatuhkan ponselku itu ke kasur dan aku sungguh merasa begitu hampa, hatiku memang tidak sakit hanya saja rasa kekecewaan ini begitu besar, aku sedang berusaha untuk mencintainya tapi dia bahkan berperilaku b*jat seperti itu di belakangku dan lebih parahnya lagi itu bersama sahabatnya sendiri.
"Dia....dia...bilang... Dia tidak menyukai kak Vera tapi mereka?" Ucapku pelan dengan mata yang menatap kosong ke jendela kamarku dan air mata yang turun tanpa permisi.
Saat itu juga aku merasa diriku sedang berada di titik paling rendah hidupku dan aku tidak bisa melakukan apapun lagi, yang ada di dalam pikiranku saat ini hanyalah putus, aku ingin segera memutuskan hubunganku dengan kak Bara dan aku segera mengambil kembali ponselku lalu mengetikkan sebuah pesan dengan dua kata.
"KITA PUTUS!!" isi pesan yang aku kirimkan pada kak Bara lalu aku langsung memblokir kontaknya dan aku menghapus semua kenangan bersamanya.
Semua foto-foto aku bersamanya saat dia belum pergi ke luar negeri dan beberapa barang yang pernah dia berikan padaku aku kumpulkan dan aku buang ke dalam sebuah tong besi lalu aku membakarnya satu persatu sambil menangis tanpa suara.
"Haaah...untuk apa aku menghamburkan air mata berhargaku untuk pria rusak sepertinya!" Ucapku sambil melemparkan barang pemberiannya ke dalam tong yang membakar semua sampah itu.
Aku sungguh kecewa dan tidak akan bisa memaafkannya lagi, dia sudah sangat keterlaluan meski aku tidak menyukainya namun aku pikir dia adalah pria yang baik sehingga aku berusaha bertahan bersamanya dan di saat aku sedang berusaha mencintainya dan menerima apa adanya dia, justru kak Bara malah melakukan hal tercela seperti ini dan melakukan video call kepadaku.
Aku mulai berprasangka bahwa orang yang melakukan video call denganku adalah kak Nandito karena yang aku tahu mereka memang selalu bermain dan pergi kemanapun bertiga ketika memikirkannya aku segera berlari kembali ke kamarku dan memeriksa beberapa foto rekam layar yang aku ambil sebelumnya.
Meski hatiku masih terasa kecewa ketika melihat kembali kejadian di foto itu, tapi aku terus memberanikan diri untuk melihatnya.
Saat aku memeriksa kembali foto tersebut dan memperbesar fotonya aku melihat bayangan kak Nandito di cermin dan ini memang dia.
"Dia....ini benar-benar dia, mereka seperti sudah tahu semuanya dan menyembunyikan semua ini dariku, mereka bertiga keterlaluan, mereka hanya mempermainkan aku untung aku belum benar-benar menyukai kak Bara jika sampai aku sungguh jatuh hati pada pria brengsek begitu, mungkin aku tidak akan sanggup melanjutkan hidupku lagi" ucapku penuh emosi dan memegang ponselku dengan kuat.
Aku langsung menghubungi Audy dan mengajaknya untuk bertemu sampai akhirnya Audy memutuskan bahwa dia yang akan datang ke apartemenku, kebetulan saat itu ibuku sudah pergi untuk melakukan perjalanan bisnis bersama bosnya ke luar kota sehingga aku hanya tinggal sendiri lagi di rumah.
Aku menunggu hingga Audy tiba dan langsung menceritakan semuanya kepada Audy tanpa ada yang ditutup-tutupi sedikitpun.
"Talita apa yang kau bicarakan benar, aku rasa kak Bara bukanlah orang seperti itu dia kan ketua OSIS, disiplin dan berkarisma mana mungkin dia begitu, kamu jangan menuduhnya" ucap Audy yang tidak mempercayaiku.
__ADS_1
Aku tahu hal semacam ini akan terjadi bahkan Audy yang sahabatku sendiri tidak mempercayai pengakuanku sebab karakter kak Bara yang dulu memang jauh sekali dengan kak Bara yang sekarang, makanya aku menyimpan rekaman layar yang aku buat dan memperlihatkannya langsung kepada Audy sebagai bukti bahwa aku tidak menuduhnya dan itu sebuah fakta.
"Lihat ini maka kamu akan mempercayai ucapanku" ucapku sambil memberika ponselku padanya,
"Ta.... Talita ini sungguh dia, bagaimana bisa ini terjadi?, Aku yakin kak Vera pasti menggodanya. Talita kamu jangan sedih oke masih banyak pria diluar sana aku juga bisa mencarikannya untukmu kau jangan khawatir ya, lupakan saja si Bara sialan ini" ucap Audy yang langsung panik dan mengkhawatirkan keadaanku.
"CK...setelah melihatnya langsung kamu baru mempercayaiku, sebenarnya kau ini sahabatku atau bukan sih?" Ucapku sedikit kesal karena Audy sempat tidak mempercayai aku,
"Ehehe...maafkan aku Talita habisnya kau juga tahu sendiri kan kepribadian kak Bara di sekolah dengan kelakuannya di luar negeri sana benar-benar sangat bertolak belakang, bukan hanya aku bahkan guru-guru dan orangtuanya sendiri mungkin tidak akan mempercayai ucapanmu jika kamu membicarakannya hanya dengan mulut iya kan, jadi wajar saja tadi aku begitu" ucap Audy yang meminta maaf,
"Baiklah aku memaafkanmu karena apa yang kau katakan memang benar, semua kekuasaan milik orang kaya raya dan orang-orang seperti si Bara itu, sungguh menjengkelkan" gerutuku yang membuat Audy membelalakkan matanya kaget.
Dia tiba tiba saja menarik lenganku dan membuatku sangat kaget sebab Audy langsung memegangi kedua pipiku dan dia memegangnya dengan cukup keras.
"Wahh....Talita bisakah kau ulangi lagi apa yang kau katakan barusan, kau menyebut kak Bara dengan sebutan SI BARA?, itu adalah rekor tercepat seorang pasangan kekasih saling membenci setelah pertengkaran, hebat...hebat promo....prok...prok" ucap Audy sambil menepuk tangannya beberapa kali.
"Aaahhh ..sudahlah Audy aku tidak ingin membicarakan orang brengsek sepertinya lagi, dan kamu juga harus tahu aku sudah menghancurkan semua barang pemberiannya bahkan memutuskan dia dan memblokir kontaknya hingga semua akses di media sosial, hebatkan aku haha" ucapku sambil diakhiri dengan senyum sinis yang dibuat-buat olehku sendiri.
"Aduduh....Talita wajah sinis mu cocok sekali sebagai ibu tiri, kau sangat cocok menjadi wanita jahat daripada wanita yang tersakiti" ucap Audy membuatku semakin kesal saja.
"Haahh...kau memang paling pintar merusak dan memperbaiki moodku, sudahlah aku juga benar-benar sudah berakhir dengannya, aku tidak akan memikirkan orang gila seperti lagi dan hanya akan fokus pada ujianku serta pendaftaran ke universitas Gunadarma yang sangat aku impikan" ucapku sambil tersenyum membayangkan suasana di universitas.
Bahkan aku juga memiliki bayangan untuk bisa mendapatkan jodoh di sana agar kita sama sama menempuh pendidikan di tempat yang sama maka dengan begitu tidak akan ada wanita lain yang akan menggoda priaku, sama seperti kejadian saat ini dimana kekasihku sendiri berselingkuh dengan sahabatnya dan aku terasa dicampakkan.
"Haha... Iya iya deh Talita aku tahu kau memang tidak benar-benar mencintai dia, aku tahu Alvaro yang sebenarnya kamu cintai iya kan?" Ucap Audy sambil tersenyum menyelidik terhadapku.
Saat Audy menatapku begitu, aku menjadi gugup apalagi ketika dia membawa Alvaro dalam obrolan, aku langsung menjadi gugup dan sulit mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"A..apa...apaan kamu ini, mana ada aku menyukai Alvaro, aku tidak suka dia ataupun si Bara itu, aku akan mencintai diriku sendiri mulai sekarang dan aku akan berjuang untuk ujian terakhirku besok, sudahlah sana kamu pulang aku akan belajar" ucapku langsung mengusir Audy karena aku tidak mau dia bertanya tentang Alvaro lebih banyak lagi.
Aku mendorong Audy dan memaksanya agar keluar dari rumahku secara paksa.
"E..e...eh?, Talita lepaskan aku masih ingin tinggal bersamamu tidak bisakah kau membiarkanku disini lebih lama?" Ucap Audy memelas,
"Tidak bisa, sana kau pulang kamu juga harus belajar agar sama-sama bisa masuk universitas Gunadarma, dengan begitu baru kita akan bersama lagi, mengerti!" Ucapku pada Audy lalu segera menutup pintunya.
"Aishh...kau ini dasar" ucap Audy sedikit kesal dan meninggalkan apartemenku.
Aku segera menutup pintu dan bersandar di baliknya dengan memegangi dadaku yang sempat panik karena Audy membicarakan masalah Alvaro, masalahnya dia belum tahu jika aku dan Alvaro bertengkar dan masih belum berbaikan, bahkan kini Alvaro bersikap begitu cuek dan selalu mengabaikan semua usahaku untuk mendekatinya.
Aku juga sedang berusaha melupakan Alvaro meski itu akan lebih sulit daripada melupakan si Bara sialan, namun aku akan tetap berusaha dan terus mencoba.
"Haaahh...iya Talita kamu bisa kamu pasti bisa melupakan dia pria menyebalkan itu, intinya tidak ada yang baik diantara mereka karena keduanya sama sama meninggalkan luka untukku" ucapku berbicara menyemangati diriku sendiri.
Seperti biasa ketika aku sedih dan sakit hati aku selalu mengalihkan pikiranku pada pelajaran dan belajar sangat keras dari pada orang normal biasanya, aku langsung menghabiskan seluruh waktuku untuk membaca buku pelajaranku dan mengingat semua poin-poin penting di dalamnya bahkan aku sampai lupa telah melewatkan makan malam karena terlalu fokus belajar.
Saat memeriksa jam rupanya sudah tengah malam dan aku segera bergegas pergi ke dapur untuk makan untungnya di meja makan sudah ada makanan yang di tinggalkan oleh ibu sebelum dia pergi.
"Aaahh...untung ibu sudah memasak untukmu, jadi aku tidak perlu memasak lagi" ucapku sambil segera menikmati masakan buatan ibuku.
Sudah sangat lama semenjak ibu dan ayah berpisah sehingga aku juga sudah lama sekali tidak menikmati masakan ibuku bahkan sekarang saja sulit untuk menikmati masakan ibuku lagi sebab dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Aku merindukan sosok ibu yang menghabiskan waktunya di rumah dan hanya mengurusi aku sepenuhnya, meski aku tahu sekarang aku sudah dewasa dan memiliki aktivitas serta jadwa sendiri dalam setiap harinya tapi aku tetap merindukan momen masa kecilku sebab masa SMA aku terasa begitu singkat dan lebih banyak meninggalkan kesan luka dalam hatiku.
Pertama aku dipisahkan dengan paman dan bibi, lalu Audy juga pergi meninggalkanku karena pindah rumah sehingga aku tidak memiliki teman dekat saat di sekolah maupun di desa, lalu Alvaro juga berubah dan kak Bara pergi ke luar negeri secara tiba-tiba lalu sekarang malah menemukan fakta bahwa dia berselingkuh dan melakukan perbuatan tercela bersama sahabatnya sendiri, aku sungguh terpukul dengan semuanya.
__ADS_1
"Aahhh....beruntungnya aku masih memiliki diriku sendiri dengan mental yang kuat meski banyak sekali peristiwa yang menerpaku selama tiga tahun ini" ucapku sambil meneruskan makan seorang diri ditengah malam yang sunyi.