Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Mengumpulkan Data


__ADS_3

Sesampainya di kota aku langsung disambut oleh ibuku dengan gembira sekaligus surat diterimanya aku di salah satu universitas terbaik di kota ini, aku sangat dan terus saja berpelukkan dengan ibuku sambil melihat surat tersebut aku juga segera menelpon Audy untuk menanyakan apakah dia di terima juga di universitas itu atau tidak.


"Hallo Audy apa kau juga mendapatkan surat dari universitas aku di terima disana bagaimana denganmu?" Tanyaku begitu antusias,


Audy tidak menjawab pertanyaanku diam hanya diam dan membuatku merasa takut serta cemas.


"Audy ada apa denganmu cepat jawab aku, atau jangan jangan kau...." Ucapku tertahan karena Audy langsung memotong ucapanku,


"AKU JUGA DITERIMA TALITA HUAAA AKU SANGAT SENANG" teriak Audy begitu keras hingga hampir membuat telingaku tuli.


Tapi walau begitu aku sangat senang juga untuknya karena kami berdua akhirnya bisa kembali menuntut ilmu di tempat yang sama meskipun kita berbeda jurusan, yah aku memiliki cita-cita sebagai desainer terkenal dan aku suka merancang pakaian sedangkan Audy bercita-cita sebagai seorang jaksa sehingga tentu saja jurusan kami sangat berbeda dan tidak terkait satu sama lain.


"Heh, Audy sialan kau aku hampir saja mengira kalau kau tidak lulus benar-benar kau yah" bentakku pada Audy sedikit kesal.


Aku kesal karena dia telah membuat aku mencemaskannya, tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika sampai Audy tidak lolos di universitas itu akan membuat aku sakit hati dan lemas tak berdaya, bahkan tadinya aku sudah berpikir akan mengambil universitas yang dengan Audy dan mengikhlaskannya.


Tapi rupanya takdir benar-benar berpihak baik kepadaku kali ini, Audy juga diterima di universitas terkenal itu dan aku begitu bahagia tidak kepalang.


Aku pun mengajak Audy untuk pergi mengumpulkan data-data pendaftaran kita besok ke universitas sekaligus melakukan sedikit perjalanan untuk melihat lingkungan disana, dan aku sudah tidak sabar untuk memulai hari baru di universitas tersebut, untungnya Audy juga setuju untuk segera mengumpulkan datanya besok.


Bukan hanya aku dan Audy saja yang senang namun ibuku juga merasa senang bahkan dia mengajakku untuk merayakan keberhasilanku ini, karena bisa masuk ke universitas terkenal ini sangatlah sulit bisa dikatakan hanya siswa-siswi terpilih lah yang bisa di terima oleh perusahaan tersebut sehingga ibuku sangat senang dan antusias ketika mendengar aku diterima di universitas tersebut.


"Sayang karena kamu sudah bekerja keras sampai bisa diterima di universitas terbaik, bagaimana jika kita merayakannya sekaligus ibu ingin memperkenalkan kamu dengan calon suami ibu yang baru" ucap ibuku membuat mood ku seketika hancur,


"Bu, ibu ini apa apaan sih, jika kita mau merayakan ya rayakan saja keberhasilanku ini sendiri kenapa juga ibu harus membawaku kepada acara ibu bersama pacar ibu itu" ucapku merasa kesal.


Bagaimana aku tidak kesal selama ini setelah bercerai dengan ayahku ibu selalu saja berpacaran dengan beberapa orang yang tidak aku kenal, bahkan dia sudah bercerai dengan suaminya yang dulu suami ke dua setelah ayahku, aku sejak dulu tidak menyukai hal itu sekalipun itu membuat ibuku bahagia.


Makanya aku tidak ingin datang ke setiap pertemuan ibuku dengan para pria nya tersebut, aku sangat muak dan sudah pasti aku tidak akanenyetujui ibuku untuk menikah lagi, karena semua pria yang dekat dengannya sama saja, semuanya b*jingan yang hanya memanfaatkan ibuku saja.


Tapi kali ini ibuku terus memaksa bahkan sampai memohon kepadaku untuk memintaku datang pada pertemuannya kali ini dengan berbagai alasan.


"Talita ayolah sayang ibu mohon kepadaku, tolong datang ke perjamuan makan malam kali ini, dia adalah pria yang baik yang ibu kenal kamu juga pasti akan memberikan restumu kali ini dan dia juga akan membawa putranya, maka dari itu ibu juga ingin memperkenalkan kamu, ibu mohon kamu harus mau yah sayang sekali ini saja" ucap ibuku memohon.


Aku tidak bisa membiarkan dia terus memohon sambil memegangi kedua tanganku seperti ini sehingga mau tidak mau aku pun menuruti keinginannya kali ini.


"Huuft...oke, oke tapi hanya kali ini saja dan aku mohon kepada ibu sebaiknya ibu hentikan semua ini, aku tahu ibu hanya ingin membuat ayah cemburu dan menyesal karena telah bercerai denganmu kan, hentikan semua ini ibu ayah sudah menikah dengan istri barunya dan dia wanita yang baik" ucapku kepada ibuku sambil melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.


Ibuku langsung terdiam dan aku bahkan tidak tega melihat tatapan matanya yang begitu satu, dia terlihat sedih ketika aku berkata seperti itu kepadanya.


Aku tahu ucapanku mungkin menyakitinya tapi aku harus mengatakan itu untuk menghentikan apa yang ibuku lakukan agar dia tidak semakin tersesat lebih jauh, aku melakukan itu karena aku mencintainya melebihi cintaku kepada siapapun dan kepada apapun di dunia ini, aku ingin dia berubah dan aku hanya ingin dia melimpahkan cintanya kepadaku sama seperti dulu.


Dengan begitu tidak akan ada orang yang mengecewakannya jika dia hanya mencintai aku dan menyayangi aku sepenuhnya, semua pria yang ibuku pacarai selama ini semua adalah teman kantornya tetapi aku selalu tahu sebab ibu yang terkadang membawa mereka ke apartemen dan bertemu denganku namun terkadang dia yang selalu menunjukkan foto mereka dan bercerita kepadaku tentang mereka juga.


Aku sudah sangat bosan rasanya mendengar semua cerita dari ibu mengenai semua pria yang dekat dengannya, aku tidak ingin melihat ibuku terus jatuh cinta lalu patah hati kembali seperti sebelumnya dan itu berulang dalam waktu yang singkat.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas kesal dan segera masuk ke dalam kamarku untuk menghindar dari melihat wajah ibuku yang menyedihkan, dia terlalu sulit untuk aku hadapi bahkan jika aku bisa memilih aku akan lebih memilih tetap tinggal di rumah nenek meskipun jaraknya ke universitas sangat jauh.

__ADS_1


Dari pada harus terus melihat keutus asaan ibuku sendiri, dia selalu memberikan semangat kepadaku namun dia sendiri juga seperti tidak memiliki semangat lagi dalam menjalani hidupnya, dia hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan semenjak bercerai dengan suami yang ke duanya.


"Huuh....dasar pria sialan semua ini karena pria sialan itu, jika aku bertemu dengannya aku akan menghajarnya habis habisan dasar pria pemorotan!" Gerutuku merasa kesal ketika mengingat kembali mantan suami ibuku yang ke dua itu.


Moodku sudah terlanjur rusak hari ini dan aku sudah sangat kesal sehingga aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan keluar mencari udara segar.


"Bu aku akan keluar" teriakku berpamitan kepada ibuku,


"Talita tunggu kau mau kemana ini sudah sangat larut kau tidak lelah, bukankah kau baru pulang dari pantai sebaiknya kamu beristirahat sayang" ucap ibuku menghentikan,


"Aku tidak bisa aku akan berjalan jalan di depan sebentar" balasku kepada ibuku,


Aku tetap pergi keluar meskipun ibuku melarang dan sempat menahanku karena ini sudah larut malam, aku keluar hanya dengan menggunakan celana pendek dan pakaian tidur karena sebelumnya aku sudah bersiap siap untuk beristirahat.


Aku berjalan jalan sebentar di depan gedung apartemen tersebut, dan aku hanya membawa fotoku bersama Alvaro ketika di pantai sebelumnya, aku tersenyum danbmerasa senang ketika melihat foto tersebut dan aku kembali mengingat momen tersebut.


"Alvaro sedang apa kau sekarang?" Tanyaku sambil menengadahkan kepalaku ke atas langit,


Aku sungguh berharap dia bisa ada di sampingku saat ini, menenangkan aku dan membuatku tertawa dengan lepas agar aku bisa melepaskan sejenak semua beban di atas pundakku ini, sayangnya dia memang telah pergi dia tidak bisa selalu ada untukku lagi.


"Alvaro apa selama ini hanya aku yang terlalu terbawa perasaan atas semua kebaikan yang kamu berikan untukku, atau memang sebenarnya kau memiliki perasaan lebih terhadapku?" Ucapku terus memikirkannya sendiri.


Aku selalu berpikir andai aku bisa seperti ibuku, berkencan dengan pria mana saja bahkan berhubungan dengan pria yang tidak aku cintai sama sekali mungkin aku tidak akan terlalu kesepian seperti ini, namun nyatanya jangankan untuk berpaling aku berhubungan dengan kak Bara saja aku tidak tahan.


Karena hatiku hanya untuk Alvaro, aku tidak bisa membiarkan pria lain masuk dan menggantikan tempatnya di hatiku sekalipun pria itu aku kagumi dan aku idolakan, aku tetap tidak bisa, karena Alvaro sudah menempati tempat kosong di dalam hatiku cukup lama, dan dia berbeda dari yang lain itulah yang membuat aku sulit melupakannya.


Hatiku menolak untuk melupakan tapi aku harus melakukan itu, aku tidak bisa terus memikirkan dan berharap tentang dia yang tidak pasti bahkan dia selu menghindarinya sama seperti ketika kita bertemu di pantai kemari, jika dia tidak menghindari ku untuk apa dia pergi begitu saja disaat Audy tiba dan untuk akan juga dia mengambil foto dari toko tersebut.


"Oke Talita mulai sekarang mari kita kesampingkan masalah pribadimu dan mulailah membuat kenangan baru di universitas" ucapku menekankan semua kalimat itu di dalam pikiranku.


Aku menghirup udara segar malam ini beberapa kali lalu aku segera bangkit berdiri dan segera masuk ke dalam apartemen, aku segera merebahkan tubuhku di ranjang dan segera beristirahat karena besok sudah memiliki rencana bersama Audy.


Karena aku tidur terlalu larut malam ini sehingga ke esokan paginya aku justru bangun kesiangan dan aku terus berlari ke sana kemari sambil berdandan mempersiapkan diriku sendiri.


Aku mengambil data-data pribadi yang akan aku kumpulkan ke universitas lalu segera berangkat bersama Audy yang sudah menungguku dibawah sejak lama.


"Audy...ayo kita pergi sebelum siang" ucapku sambil segera naik ke atas motor matic milik Audy.


Aku tidak bertanya mengenai Audy yang mengganti motornya karena saat itu aku belum sadar dan hanya sibuk memikirkan untuk segera sampai di kampus karena tidak ingin sampai terlambat datang ke sana, jika tidak kita harus mengantri dengan calon mahasiswa baru lainnya dan itu tidak baik untukku juga untuk Audy.


Selama diperjalanan aku terus meminta agar Audy melajukan motornya dengan cepat, dan lebih cepat lagi karena aku sudah sangat tidak sabar untuk segera sampai disana.


"Audy ...ayo lebih cepattt" teriakku kepadanya.


Aku tahu Audy sudah sangat ahli dalam mengendarai motor makanya aku sangat percaya kepadanya hingga akhirnya kami sampai di depan kampus dan aku segera berlari masuk ke dalam kampus dengan terburu-buru tanpa melepaskan helm di atas kepalaku terlebih dahulu.


"Ehh ..Talita tunggu helmnya..." Teriak Audy namun aku tidak mendengarnya.

__ADS_1


Audy pun memarkirkan motornya dahulu di depan yang benar lalu dia merapihkan rambut dan topi yang dia pakai barulah dia pergi menyusulku dan mencari jejakku.


"Aishhh...Talita larinya kemana sih, memang dia sudah tahu dimana ruang pengumpulan data mahasiswa baru di universitas ini?" Gerutu Audy memikirkan.


Audy pun tidak putus asa dia terus masuk ke dalam dan mencari keberadaanku sedangkan aku saat itu berlari secepat yang aku bisa dan bertanya ke beberapa mahasiswa yang aku lewati hingga akhirnya aku berhasil menemukan ruangan untuk pengumpulan data di universitas tersebut.


Saat aku sudah berdiri di sana dan mengambil antrian aku mulai merasakan ada hal aneh yang terjadi, ku lihat ke sekeliling dimana semua orang menatap aneh kepadaku dan mereka saling berbisik seperti membicarakan ku satu sama lain dan diantara mereka juga ada yang menunjukkan ke arahku sambil tertawa tidak jelas aku semakin merasa ada yang aneh denganku tapi aku tidak tahu itu apa.


"Ehhh, ada apa sih dengan semua orang, aku tahu aku cantik tapi kenapa mereka seperti menertawakan aku?" Gerutuku merasa aneh.


Hingga seorang pria yang aku kenal tiba-tiba saja muncul dari dalam ruangan dan dia tersenyum sambil berjalan ke arahku.


"Eehh....bukankah itu pria yang aku temui di pantai....eumm..namanya itu ahhh iya Verii..." Ucapku sambil berteriak memanggil namanya dan melambaikan tangan kepadanya.


Dia menatap ke arahku dan langsung berjalan menghampiri dengan tersenyum lebar, awalnya aku pikir dia tersenyum kepadaku hingga dia sudah berada di depanku dia mengetuk helm yang masih aku pakai di kepalaku dan membuat aku sangat kaget ketika sadar aku ternyata masih memakai helm di kepalaku ini.


"Tukk...kau sangat menyukai helmmu yah sampai tidak ingin melepaskannya?, Atau kau suka menjadi pusat perhatian orang-orang?" Ucapnya sambil tersenyum padaku.


"Aaawww....ehhh....apa ini aishhh aku lupa tidak melepaskannya tadi karena terburu-buru" ucapku merasa malu dan berusaha melepaskan helm itu.


Sialnya helm milik Audy ini benar-benar mengajak bertarung denganku sudahlah dia membuatku malu kini justru aku tidak bisa melepaskannya karena ini terlalu sulit, biasanya ada Audy yang membantuku melepaskan helm sekarang aku tidak tahu Audy dimana ku pikir dia juga pasti sedang mengumpulkan data miliknya di fakultas pilihannya sedangkan aku terperangkap disini dengan rasa malu di perlihatkan banyak orang.


"Aishh... bagaimana sih ini, kenapa helm nya sulit sekali di lepaskan" gerutuku merasa kesal dan jengkel sekali.


Sampai tiba-tiba saja tangan Veri meraih helm ku itu dan dia membantuku melepaskan helm tersebut dari kepalaku dengan lembut, jelas aku terperangah karena dia terlihat begitu sempurna dan sangat tampan saat membantuku melepaskan helm tersebut.


Bukan hanya aku yang terpukau dengan ketampanannya itu tapi orang-orang yang ada disana juga menatap iri terhadapku karena dia tidak sengaja menyentuh tanganku saat mencoba membantu aku melepaskan helm nya.


"Sini biar aku bantu diamlah" ucap Veri dengan lembut.


Jika dia sudah berkata seperti itu aku tidak bisa berkutik lagi dan membiarkan dia membantuku sampai akhirnya helm itu bisa terbuka dan dia melepaskannya dari kepalaku dan memberikan helm itu pada tanganku.


"Ini, ingat lain kali kau tidak boleh seperti ini lagi aku tidak suka kau menjadi pusat perhatian" ucap Veri sambil menyentuh hidungku sekilas.


Aku hanya terperangah mendapatkan perlakuan manis seperti itu darinya, ditambah dia melakukannya di hadapan banyak orang, sikapnya itu membuatku sulit menelan salivaku sendiri dan membuatku tidak sadar jika namaku sudah disebut oleh panitia.


"Talita Dwi Putri....hallo apa ada yang bernama Talita disini?" Teriak panitia yang memanggil namaku,


"Ahh...iya kak ada disini aku....aku Talita hehe maaf tadi aku melamun ini data-data ku" ucapku sambil segera menyerahkan datanya ke depan,


"Lain kali kau harus lebih fokus, sudah kau bisa kembali dan nanti akan saya beri tahu kamu tanggal mulai masuk kuliah di gruf mahasiswa baru" ucap pria tersebut setelah memeriksa semua dataku yang sudah lengkap.


Aku hanya mengangguk dan segera keluar dari barisan aku berusaha mencari keberadaan kak Veri lagi namun aku tidak berhasil menemukannya justru aku malah bertemu dengan Audy.


"Hey ...Talita darimana saja kau ini?" Ucap Audy sambil menepuk bahuku keras,


"Aduhh....Audy kau ini perempuan bukan sih kenapa pukulan mu selalu menyakitkan sekali" ucapku protes,

__ADS_1


"Siapa suruh kau maen pergi aja, aku jadi harus mencarimu setelah aku mengumpulkan dataku, bagaimana denganmu apa lancar?" Tanya Audy kepadaku,


"Huft...lancar dari mana kau tidak memberitahuku kalau aku belum melepaskan helm ini, alhasil aku ditertawakan banyak orang aaahhh sangat memalukan" gerutuku kesal dan Audy hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku.


__ADS_2