Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Antara Alvaro dan Fasya


__ADS_3

Aku langsung tidur di kamarku dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku hingga aku ketiduran dan saat kembali bangun itu sudah pagi-pagi.


"Hoammm....ah? Ini sudah pagi? Oh... astaga bagaimana dengan si Fasya sialan itu" ucapku yang baru mengingatnya.


Aku segera bergegas keluar dan ternyata dia sudah tidak ada, hatiku merasa sangat tenang dan aku langsung menanyakan masalah Fasya kepada ibuku, lalu ibu mengatakan bahwa dia sudah pulang malam tadi tepat setelah ibu kembali, namun sayangnya ibu terus saja memuji dia dan mengatakan hal-hal baik tentangnya kepadaku.


Kupingku rasanya sudah sangat panas dan terbakar karena harus terus mendengarkan cerita Fasya yang ibu lebih-lebihkan padahal ketika tidak ada ibu dia sama sekali bukan pria lembut apalagi baik hati seperti yang ibu ucapankan sedari tadi, bahkan bekal makanan yang ibu buatkan khusus untuknya malah aku juga yang harus memakannya.


Tentu saja aku melakukan itu karena tidak ingin membuat ibu kecewa, mana mungkin aku mengembalikannya lagi pada ibu dalam keadaan makanan di dalamnya masih utuh, sudah pasti ibuku akan kecewa dan merasa sangat sedih jika mengetahuinya, sehingga aku menutupi semuanya dan terus diam.


"Talita kau harus bersikap baik kepadanya, jangan menjadi kasar saat berhadapan dengannya" ucap ibu yang terus saja meminta aku untuk memperlakukan Fasya dengan baik.


Aku sungguh terus berusaha menahan emosi di dalam diriku dan aku terus saja mengepalkan kedua lenganku dengan sangat kesal, aku mengeratkan gigiku dan melipat bibiku sesaat, lalu aku mulai membalas ucapan ibu secepatnya.


"Ahh....iya ibu, iya. Aku akan memperlakukan dia lebih baik, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa Bu" ucapku segera pergi dari rumah dengan melambaikan tangan.


Aku bahkan melupakan sarapanku pagi itu karena ibu terus saja membicarakan masalah Fasya terus menerus seakan tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan dan memberitahu kepada dia seperti apa Fasya yang sebenarnya saat di belakang ibuku.


Aku pergi dengan amarah yang menggebu tidak tahu apakah aku kesal kepada ibuku atau aku geram dengan perilaku Fasya, atau mungkin aku membenci diriku sendiri yang terus merasa tidak jelas seperti ini.


"Aaarrkkkkhhh....tuhan kenapa kau tidak ambil aku saja, aku lelah menjalani hidup yang selalu saja tidak adil padaku!" Teriakku sambil berjalan terus seorang diri.


Aku sengaja tidak menaiki bus atau menghentikan taxi yang lewat di sekitar sana, bukan karena aku tidak memiliki uang atau tengah mengirit keuangan, tetapi aku sangat kesal dan tiap kali aku dalam keadaan seperti ini aku tidak ingin ada orang yang melihatnya termasuk Audy, iya aku sudah menghindari dia sejak kemarin.

__ADS_1


Aku tidak ingin membuat dia khawatir dan aku juga tidak ingin dia melihatku dalam keadaan kacau seperti ini, hingga tidak lama ketika aku tengah berjalan di pinggir jalan, tiba-tiba saja Alvaro menghadang ku, dia menghentikan motor sportnya tepat dihadapanku.


"Aaahhh.....heh apa kau sengaja ingin menyerempet tubuhku? Bentakku sambil membenarkan pakaianku yang sedikit berantakan.


Saat itu pada awalnya aku pikir itu orang lain sampai pria itu membuka helm yang menutupi wajahnya dan aku sangat kaget dan kesal ketika melihat ternyata itu seorang Haiden Alvaro, tidak banyak bicara lagi ketika aku sudah tahu bahwa itu Alvaro aku segera berbalik arah meninggalkannya dan hampir saja menghentikan taxi namun dia menahan tanganku.


Dan membuat taxi yang sudah aku hentikan sebelumnya kembali melaju meninggalkan aku.


"Euhhh....lepaskan tanganku, untuk apa kau menahan tanganku" bentakku padanya dengan kesal,


"Talita apa kau masih marah padaku, aku bisa menjelaskan padamu kenapa aku baru kembali saat ini" ucapnya kepadaku.


Sayangnya saat ini aku sudah tidak ingin mendengarkan penjelasan darinya, dia sudah cukup mengecewakan dan sulit untukku membuka hati pada orang yang sudah meninggalkan aku secara tiba-tiba, aku hanya takut dia akan melakukan hal yang sama lagi kepadaku jika aku memberikannya kesempatan dengan mudah.


Aku langsung masuk ke dalam taxi tersebut dan meminta sang supir untuk segera melajut dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.


Saat di dalam taxi aku justru malah menangis dengan tersedu-sedu, aku tidak bisa menghentikan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku, dia sangat mengecewakan dan membuat aku sakit sekian lama tapi ketika dia kembali aku selalu tidak bisa menolak kehadirannya.


Bahkan seperti saat ini, disaat aku menolaknya justru malah aku yang merasa lebih sakit dan menderita seperti ini, namun apa lagi yang bisa aku lakukan, aku memang harus memberikan dia sedikit palajaran meski sebenarnya aku sangat merindukan dia dan ingin memeluknya dengan erat.


Setiap kali melihatnya aku selalu ingin memeluk dia dan kembali berjalan bersamanya, menaiki motor sport nya seperti dulu dan mengebut dengannya, itu sangat menyenangkan walau aku tahu itu berbahaya.


Dulu aku sangat benci padanya karena dia selalu kasar dan mengemudi motor dengan sangat cepat dia juga beberapa kali membuat aku hampir jantungan karena mengemudikan motornya sangat kencang bak pembalap di jalan raya yang penuh dengan kendaraan.

__ADS_1


Tetapi setelah aku memikirkannya lagi sekarang, aku baru sadar bahwa semua kenangan yang aku benci dulu, sekarang malah menjadi kenangan paling indah dan paling aku rindukan.


Aku tidak ingin melupakan sedikitpun kenanganku bersama Alvaro dan dia selalu memiliki tempat khusus di dalam hatiku, hingga sampai di kampus aku masih terus saja memikirkan dia meski beberapa kali berpapasan dengannya aku terus berpura-pura tidak melihat ya dimanapun kamu saling berpapasan.


"Dia.... Kenapa dia juga ada di sini, aishh menyebalkan" gerutuku pelan.


Aku segera pergi dari kantin dan langsung pulang saat itu juga karena aku takut akan bertemu lagi dengan Alvaro ataupun dengan Fasya yang selalu menjadi biang kerok di hidupku, tapi disaat aku hendak pulang, Fasya sudah menungguku di samping mobilnya sambil mengenakan pakaian mewah dan kacamata hitam yang dia kenakan.


"Wahh ...sedang apa anak sialan itu berdiri disana, apa dia menungguku yah?" Gerutuku memikirkan.


Saat itu juga aku lihat Alvaro tengah memarkirkan motornya dan aku tidak bisa berpikir panjang saat itu, aku langsung berlari kecil menghampiri Alvaro dan aku langsung naik ke atas motornya sambil memaksa dia untuk memberikan helm kepadaku.


"Heh, cepat berikan helmnya padaku....aishhh..ayo cepat berikan!" Ucapku mendesaknya karena dia malah diam termenung melihat ke arahku dengan kedua alis yang dia naikkan bersamaan.


"Kau yakin mau menaikkan motor orang yang membuatmu kecewa ini?" Tanyanya begitu saja.


Aku sungguh merasa tertekan dia sepertinya memang sengaja membalikkan ucapanku saat itu dan aku berusaha menahan emosiku karena hanya dialah yang bisa membantu aku untuk lolos dari si Fasya sialan itu.


"Alvaro aku akan memberikanmu kesempatan ke dua asalkan tolong berikan helmnya kepadaku segera, sebelum aku akan menendangmu!" Ucapku dengan tegas kepadanya.


Akhirnya dia tersenyum padaku dan segera memasangkan helm itu pada kepalaku, aku merasa tenang sekarang dan menyuruh Alvaro agar segera melajukan motornya dengan cepat.


"Alvaro dengarkan aku, saat melewati pria di pinggir mobil itu kau harus melajukan motornya dengan sangat cepat, dan jika mobil tersebut mengejar kita kau jangan biarkan dia bisa menghentikannya kau harus membawa aku pergi menghindari orang gila itu, apa kau mengerti!" Ucapku memberi tahunya,

__ADS_1


"Baiklah, ayo bersiap-siap" ucapnya sambil menarik kedua tanganku dan melingkarkan ya di pinggang dia dalam sekejap.


__ADS_2