
Malam itu aku terus menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama lewat telpon dengan kak Bara, sikap hangat dan karakternya yang lembut membuatku tidak bisa berpaling darinya, setelah menelpon dan banyak berbicara dengan kak Bara kini aku semakin yakin bahwa aku sungguh menyukainya, walau terkadang perasaanku sedikit aneh ketika berhadapan dengan Alvaro.
Malam itu kak Bara juga mengajakku untuk berlibur bersama dengannya juga kak Nandito dan kak Vera, namun aku belum menyetujuinya karena mengingat acara liburan mereka akan mereka adakan di sebuah villa mewah pribadi milik keluarga kak Bara yang terkenal dengan kekayaannya, entah kenapa aku merasa sedikit minder dan kecil hati, pasalnya aku bukan Talita yang dulu lagi, sekarang aku bahkan tak punya cukup uang untuk membeli beberapa perlengkapan seandainya ikut berlibur dengan mereka.
Lelah memikirkan ajakan dari kak Bara aku memutuskan untuk tidur hingga ke esokan paginya aku terbangun tepat pukul sembilan pagi, aku bangun dan segera membereskan rumah, selagi masih banyak waktu luang aku memutuskan memasak lalu menaruh makanan untuk sarapan di dalam lemari barulah aku pergi berolahraga joging untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhku.
Rasanya sangat menyenangkan dan cukup menenangkan jiwa serta pikiran aku berlari beberapa putaran di sekitar desa dan pergi ke tepi sungai untuk beristirahat sembari menikmati sejuknya suasana di sana, terakhir kali aku mengunjungi sungai itu ketika aku sedih dan Audy yang memberitahuku mengenai tempat itu, mengingat semuanya aku jadi merindukan Audy.
Setelah beristirahat dan keringatku sudah turun aku kembali ke rumah dan membersihkan tubuhku lalu sarapan seorang diri di meja makan, saat tengah menikmati makanan ponselku berdering dan ternyata itu adalah panggilan dari Audy, aku segera mengangkatnya.
"Hallo...Audy bagaimana kabarmu?" Tanyaku dengan antusias,
"Aku baik baik saja Talita, bagaimana denganmu?" Jawab Audy dan menanyakan balik kabarku,
"Aku juga baik baik saja, hanya sedikit kesepian karena kamu tidak di sampingku" jawabku dengan jujur.
Aku sangat merasa kehilangan setelah kepergian Audy namun setidaknya aku masih bisa berkomunikasi dengan baik lewat telpon dengannya, sehingga bisa mengobati rasa rinduku pada Audy.
"Talita jangan bicara begitu, tenang saja nanti siang aku akan mengunjungimu bersiaplah oke" ucap Audy penuh semangat,
Mendengar Audy akan mengunjunginya nanti siang, Talita kaget dan dia kebingungan karena pukul dua siang nanti dia harus kembali bekerja di restoran sedangkan Audy belum mengetahui mengenai pekerjaanku, aku bingung bagaimana caranya untuk menyembunyikan semua pekerjaanku padanya.
__ADS_1
"A... Audy sebenarnya nanti siang aku ada urusan, jadi mungkin tidak bisa berlama lama denganmu, tapi aku sangat ingin bertemu denganmu, bagiamana kalau aku saja yang menemuimu aku bisa pergi ke rumahmu sekarang juga" ucapku berusaha memberikan usulan,
"Ya sudah segeralah datang aku menunggumu" jawab Audy yang ternyata mempercayaiku begitu saja.
Panggilan telpon diantara aku dan Audy berakhir dan aku segera menghabiskan sarapanku lalu bersiap siap pergi menemui Audy, aku naik menggunakan bus untuk menghemat pengeluaran ku sampai mendapatkan gajih pertama di bulan depan, saat duduk di dalam bus pikiranku terus memikirkan masalah ajakan kak Bara untuk berlibur bersama, aku mungkin bisa saja mencari tambahan uang agar bisa ikut berlibur namun aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku di restoran terlibih ini adalah bulan pertama aku bekerja aku jelas tidak bisa mengajukan cuti di bulan pertama.
"Apa sebaiknya aku menolak dengan halus ajakan kak Bara yah, sebaiknya aku mengatakannya segera pada kak Bara agar dia tidak banyak berharap" ucapku memutuskan.
Walau aku sangat ingin berlibur namun keadaan perekonomian yang memaksaku untuk sedikit hemat juga bersabar membuatku harus rela menerima semuanya. Aku berencana akan mengatakan semua itu secara langsung pada kak Bara tepat ketika aku pulang dari Audy, di dalam bus aku terus menatap pemandangan kota yang begitu ramai banyak kendaraan berlalu lalang hingga mataku tak sengaja melihat Alvaro yang berdiri di pinggir jalan sambil memegangi motornya.
"Hah, bukankah itu Alvaro?, Kenapa dia mendorong motornya?" Ucapku penasaran.
Karena penasaran aku memutuskan untuk turun di tempat itu dan segera berjalan ke belakang menghampiri Alvaro, aku menyapanya dan langsung menanyakan masalah motornya.
"Talita baguslah ada kau, cepat kemari bantu aku mendorong motor ini" ucap Alvaro meminta bantuanku,
"Aishh...apa yang akan aku dapatkan jika membantumu?" Tanyaku bernegosiasi,
"Apapun yang kau inginkan, cepat bantu aku, ini berat sekali" ujar Alvaro dan aku langsung setuju meski aku sendiri belum tau apa yang akan aku pinta dari Alvaro nantinya,
"Baiklah...euhhhhh....sial kenapa ini berat sekali" gerutuku kesal sambil mendorong motor sport milik Alvaro,
__ADS_1
Saat aku mulai membantu mendorong motornya, ternyata motor ini sangatlah berat aku bahkan merasa seperti kehilangan banyak energi dan langsung lapar ketika mendorong motor itu, padahal baru beberapa meter saja aku mendorongnya.
Keringat bercucuran di dahiku dan aku tak sempat mengusapnya aku terus fokus mendorong motor Alvaro sampai aku mulai merasa frustasi karena tujuan Alvaro tak kunjung sampai juga.
"Aishh...Alvaro sampai kapan kita akan mendorong motormu ini?" Tanyaku dengan kesal,
"Sampai kita menemukan pom bensin" jawab Alvaro yang membuat mataku membulat sempurna tak habis pikir,
"Jadi maksudmu?, Sepeda motormu yang bagus ini kehabisan bensin?" Bentakku sambil melepaskan tanganku yang memegang motor Alvaro,
"Iya, memangnya kenapa?, kau sampai terkejut begitu" Jawab Alvaro tanpa rasa bersalah,
"Hah?....haha...kau benar benar lucu, bagaimana bisa kau lupa mengisi bensin sepeda motor yang selalu kau gunakan setiap hari...hah...kau benar benar konyol" ucapku sambil memegangi keningku yang mulai terasa pusing.
Ini sudah sangat jauh dari tempat pertama aku membantu Alvaro mendorong motornya, tapi pom bensin sama sekali belum terlihat, aku sudah hampir menyerah dan dehidrasi karena kelelahan terus mendorong motor sialan itu.
"Aduhh...Alvaroo...bisakah kita istirahat dulu, kakiku rasanya mau patah" ucapku mengeluh,
"Ya sudah kita istirahat di sini saja" jawab Alvaro dan aku langsung duduk lemas di bahu jalan.
Aku merentangkan kakiku dan merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhku, rasanya lumayan sejuk untuk menghilangkan dahaga di tubuhku, saat aku duduk beristirahat ku lihat Alvaro pergi menyebrangi jalan dan entah membeli apa ke sebuah kios warung kecil.
__ADS_1
Aku sudah tidak bisa memperhatikannya rasa lelah benar benar sudah membunuh sekujur tubuhku, kakiku yang baru sembuh sejak terkilir kemarin di acara pertandingan basket demi membujuk Alvaro kini mulai teras ngilu lagi, dan saat kulihat pergelangan kakiku sepertinya kembali sedikit bengkak.
"Ahh...dia yang menjadi alasan aku begini, dia yang menyembuhkan dan kini dia juga yang membuat kakiku kambuh lagi...ahh aku selalu saja bernasib buruk saat bertemu dia, lain kali aku akan mengabaikannya jika bertemu di manapun" gerutuku sambil memijat kakiku yang pegal.