
Aku memeluk ibuku dengan erat dan tersenyum penuh dengan kelembutan terhadapnya, dia juga membalas senyumanku dengan mengusap lembut pucuk kepalaku.
"Haiiss...kau memang bisa saja membuat ibumu ini tersanjung, terimakasih ya sayang ibu sangat menyayangimu tapi kami tidak perlu terus menjaga ibu seperti apa yang kamu katakan kamu harus menikah dan bahagia, jangan cemaskan ibu" balas ibuku,
"Baiklah, kalau begitu tidak boleh merasa kesal lagi, aku sudah lapar ayo kita memasak mie instan, aku akan pergi ke luar untuk membeli makanan penutup, ibu siapkan mie nya ya" ucapku sambil segera pergi keluar dari rumah.
Tidak butuh waktu lama untuk aku sampai di toko swalayan dan disaat aku tengah membeli beberapa makanan penutup aku tidak sengaja melihat Alvaro yang tengah mengantri di kasir, awalnya aku merasa ragu dengan penglihatan ku tetapi disaat aku sudah mendekatinya dan mengucek mataku beberapa kali aku mulai sangat yakin dengan apa yang aku lihat.
"Aahhh, apa itu Alvaro?" Ucapku bertanya tanya penuh dengan keheranan,
"Benar itu dia, aku harus mengikutinya agar tahu kemana dia pergi selama ini" ucapku sambil diam-diam memperhatikan dia dari kejauhan.
Aku segera mengembalikan barang belanjaanku dan tidak jadi membeli apapun di toko tersebut, ku ikuti dia hingga sebuah mobil berhenti di hadapan Alvaro dan betapa kagetnya aku melihat orang yang mengemudi mobil tersebut adalah kak Veri.
"Ayo naik ayah sudah menunggu kedatangan mu" ajak kak Veri dari dalam mobil setelah menurunkan kaca mobilnya.
Aku kaget bukan main dan langsung menutup mulutku yang terbuka saking syok nya melihat pemandangan tersebut, aku sama sekali tidak menyangka jika mereka ternyata saling mengenal satu sama lain, ku lihat Alvaro langsung masuk ke dalam mobil itu dan aku segera berlari menghentikan taxi untuk terus mengikutinya.
Sayangnya mobil yang dikemudikan oleh kak Veri terlalu cepat, sehingga taxi yang ku tumpangi tidak bisa mengejar mobil tersebut, aku pun hanya bisa menggerutu kesal dan meminta sang supir untuk membalikkan mobil kembali ke apartemen tempatku tinggal.
"Aishh....kita malah kehilangan jejaknya, sial" gerutuku kesal,
"Sekarang kita akan kemana nona?" Tanya sang supir,
"Kembali ke apartemen pak" balasku menjawabnya.
Aku segera keluar dari mobil dan berjalan dengan lesu tanpa semangat serta wajah yang tertunduk dengan murung, aku mulai mengetuk pintu apartemen hingga tidak lama ibu mulai membukakannya.
"Eh, sayang kenapa kamu pulang dengan wajah kusut seperti itu, lalu dimana makanan penutupnya?" Tanya ibuku yang membuatku tersadar,
__ADS_1
"Astaga....maafkan aku Bu, tadi ada sedikit masalah, jadi aku lupa tidak membeli makanan penutupnya" balasku yang baru teringat soal makanan tersebut.
Saking fokusnya mengejar Alvaro aku sampai lupa dengan niat awalku keluar dari rumah yakni untuk mencari makanan penutup, aku justru malah kembali tanpa membawa apapun dan aku langsung meminta maaf karena merasa bersalah, untunglah ibuku baik hati sehingga dia tidak memarahiku.
"Hmmm...ya sudahlah tidak masalah kita makan mie nya saja, ayo cepat ambil mangkuk mu" ajak ibuku dan aku segera menurutinya.
Kami pun hanya menikmati mie tersebut dengan sebuah telur mata sapi diatasnya dengan minuman dingin bersoda serta beberapa timun yang tersedia disana, rasanya menikmati mie instan bersama ibu adalah sebuah kebahagiaan sederhana yang sangat aku nikmati malam ini, walaupun sebelumnya aku merasa kesal sebab gagal mengikuti Alvaro dan kak Veri tetapi berkat mie pasakan ibuku, semua rasa kecewa dan kekesalan di dalam diriku langsung menghilang sedikit demi sedikit, rasanya sangat nikmat sekali menyeruput mie di malam hari dengan ditemani orang yang paling kita sayangi di dunia ini, meskipun keluarga kami tidak lengkap dan tidak seharmonis dahulu, tetapi setidaknya kami masih bisa saling menyayangi satu sama lain.
"Eumm....ibu, rasanya sangat enak kau memang koki terbaik sepanjang masa haha" ucapku memuji masakannya,
"Huuh kau memuji ibu hanya karena masakan mie instan dimana semua orang bisa melakukannya, tetapi ketika ibu memasak daging kenapa kau tidak pernah mau mencobanya?" Tanya ibuku menyindir.
Aku yang merasa tersinggung langsung saja terbatuk beberapa kali dan hampir saja tersedak, sampai segera meneguk air dengan cepat.
"Ohok....ohok...ohok....air...air...gluk...gluk...glukk" aku yang segera menghabiskan segelas air penuh hanya dengan beberapa tegukan saja.
"Astaga....Talita kamu ini kenapa sih bisa sampai seperti ini, sudah ayo tenangkan dirimu ibu kan hanya bercanda" ucap ibuku sambil mengusap mengusap lembut tanganku.
"Haduhh...ibu ucapanmu itu sungguh membuat aku tersinggung sekali, makanya aku sampai tersedak seperti tadi, hah...untung saja air minumnya dekat" ucapku sambil memegangi leherku merasakan tenggorokan yang terasa panas.
Tentu saja aku merasa tidak nyaman dan panas di dalam tenggorokanku karena mie yang aku makan memiliki kuah sangat pedas sebelumnya aku merasa kuah itu sangat nikmat karena aku tenang emosi dan makanan pedas sangat cocok untuk kita yang tengah emosi seperti ini namun jika dibuat hampir tersedak seperti tadi rasanya sangat tidak nyaman dan menyakitkan.
Aku langsung kembali menghabiskan minuman sodaku untuk meringankan rasa pedasnya di tenggorokan, semuanya terasa sangat panas tapi setelah meminum semuanya itu jauh lebih baik.
"Aahhhh...aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang" ucapku mulai merasa lega.
Sedangkan ibu terlihat menahan tawa dan melihatku dengan tatapan yang cukup membuatku kesal serta menaikkan ujung bibirku.
"Sudahlah Talita apa kau mau menyimpan dendam pada ibuku sendiri?" Ucap ibuku sambil tersenyum menatap ke arahku,
__ADS_1
"Haduhhh...ibu kau ini memang benar-benar, sudah ahh aku mau istirahat" ucapku sambil bangkit berdiri membawa piring bekas makanku ke dapur lalu segera masuk ke dalam kamar.
Hingga ke esokan paginya ini adalah hari kedua aku masuk sebagai mahasiswa angkatan baru dan sialnya aku bangun pukul setengah delapan hanya ada waktu setengah jam dimana aku harus sudah tiba di aula universitas untuk upacara penyambutan mahasiswa baru.
"Astaga...aku sudah sangat terlambat, aishh...ibu kenapa kau tidak membangunkanku!" Teriakku sambil bergegas terperanjat dari ranjang.
Aku langsung mengganti pakaianku, menyikat gigi dan segera mengikat rambutku sambil berlari keluar dan menjinjing tas slempang milikku bahkan aku memakai sepatu sambil berjalan terburu-buru, ku lihat ibu sudah tidak berada di rumah dan aku langsung segera mengunci pintunya, aku benar-benar kesiangan kali ini dan sangat berantakan.
Aku tidak memeriksa pakaian yang aku kenakan dengan benar dan langsung saja menghentikan taxi yang lewat secepatnya hingga ketika sampai di kampus hanya tersisa waktu lima menit lagi sehingga aku harus berlari secepat yang aku bisa untuk sampai ke aula tepat waktu.
"Aduhh ....semoga masih sempat, jika sampai aku terlambat aishh....aku akan menjadi tontonan publik dan di tertawakan oleh semua orang, jangan....itu tidak boleh sampai terjadi" ucapku menggerutu sendiri sambil berlari sekencang yang aku bisa.
Sialnya disaat aku terburu-buru seperti itu, seakan perjalan menuju ke aula begitu sulit dengan banyaknya mahasiswa lama yang menongkrong di pinggir koridor sehingga menghalangi jalanku bahkan ada juga beberapa orang yang berjalan beriringan sampai menutupi hampir seluruh bagian jalan disana.
"Aishh.... merepotkan, MINGGIR!" teriakku sangat kencang dan mereka semua seketika langsung menyingkir dari jalanan dengan wajah yang kaget.
Aku tidak perduli lagi meski mereka merutuki aku dan memarahiku habis-habisan, yang terpenting saat ini adalah tujuanku tercapai, sampai akhirnya aku bisa tiba di aula tepat waktu dan segera masuk ke dalam barisan yang paling belakang bergabung dengan mahasiswa baru lainnya.
Dengan nafas terengah-engah dan aku tertunduk memegangi lututku yang terasa lemas serta keringat bercucuran di seluruh dahiku membuat aku sangat haus dan kelelahan.
"Hah....hah....hah....huuh, untunglah ini masih sempat tapi kenapa disini sangat panas aduhh ini pasti karena aku berlari terlalu kencang, hah...hah...lelah sekali" gerutuku sambil mengibaskan pakaian yang aku kenakan.
Sampai tidak lama kemudian para panitia mahasiswa baru tiba dari pintu belakang, dan mereka berjalan melewatiku, aku langsung berdiri dengan tegak menatap lurus kedepan dan berusaha untuk bersikap normal layaknya mahasiswa lain yang sudah berdiri disana sejak lama.
Tapi ku lihat ada seseorang yang berjalan ke arahku dan itu adalah si Fasya sialan dia malah berdiri tidak tahu tengah melakukan apa dibelakang tubuhku yang saat itu aku tengah berbatik dengan tegak.
"Kau... Apa kau niat untuk datang ke kampus?" Tanyanya tiba-tiba membuatku keheranan,
"A..apa yang kau tanyakan tentu saja aku niat makanya aku ada disini sekarang!" Balasku dengan sedikit membentak.
__ADS_1
Aku lupa saat itu aku tengah berada di kampus sehingga suaraku yang cukup tinggi membuat beberapa mahasiswa baru dan panitia yang ada disana memalingkan pandangan kecurigaan kepadaku yang cukup menyeramkan.