Terbelenggu Dua Rasa

Terbelenggu Dua Rasa
Ternyata


__ADS_3

Aku duduk di halte bus dengan wajah cemberut dan kesal, berkali kali mendengus kesal menunggu bus yang tak kunjung datang sampai akhirnya bus itu tiba, aku senang dan segera menaiki bus itu dengan terburu buru karena banyak juga orang orang yang ikut berdesakan masuk ke dalam bus, aku sedikit kesal karena tidak mendapatkan tempat duduk, alhasil aku hanya bisa berdiri dan terus terombang ambing ke depan dan belakang saat bus melaju.


Ku lihat ada seorang pria yang duduk tepat di depanku dia mengenakan Hoodie hitam dengan ciput yang menutupi hampir seluruh wajahnya, ku lihat pria itu seperti tertidur karena kepalanya yang bersender ke jendela bus, aku ingin sekali duduk di kursi itu awalnya juga ku pikir aku bisa masuk lebih dulu dan mendapatkan tempat duduk itu tapi sayangnya kursi di depan pria itu sudah lebih dulu di dapatkan oleh seorang ibu ibu yang rempong, jelas aku tidak bisa berdebat dengannya untuk memperebutkan satu kursi saja.


Perjalanan dari desa ke kota bukan waktu yang sebentar dan mungkin aku akan sampai di desa tepat pukul tiga atau empat subuh, dan aku harus terus berdiri di bus selama itu tentu saja aku tidak akan kuat, perjalanan sudah setengah jalan dan beberapa orang juga sudah turun namun masih belum ada tempat duduk yang kosong tanganku sudah sangat pegal begitu juga dengan kakiku.


Sampai ketika bus mengerem mendadak di lampu merah karena ada orang yang menyebrang terburu buru, membuatku hampir saja terjatuh ke samping karena terdorong oleh seorang pria dewasa yang ikut menyeretku, namun untunglah ada pria berhoodie hitam yang memegang pinggangku dengan tangannya sehingga aku tidak jatuh.


"Ahh... Terimakasih sudah membantuku" ucapku kepada pria itu,


Pria itu hanya mengangguk dan dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun, aku sedikit heran dan setelah aku perhatikan aku mulai merasa pria itu seperti tidak asing, caranya memegang pinggangku tadi aku seperti pernah merasakannya dan hoodie yang dia kenakan aku seperti tidak aneh dengan hoodie itu, coraknya sangat mirip sekali dengan seorang pria yang pernah aku temui sebelumnya.


"Pria... Ini... Aahhh... Aku ingat apa dia orang yang pernah memberiku obat saat aku pertama kali ke desa" gumamku mulai mengingat.


"Tapi apa benar itu dia?, atau sebaiknya aku bertanya untuk memastikan" gumamku merasa bingung.


Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya pada pria itu.


"Ehkk... Permisi apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyaku sembari menegur pria itu,


"Idiot kau masih ingat itu kan, hah menjengkelkan" ucap pria itu yang membuatku semakin yakin.


Saat mendengar ucapan pria itu aku sangat yakin dia adalah pria misterius yang duduk bersampingan denganku di bus saat pertama kali aku ke desa, karena kesal pria itu selalu memanggilku idiot, aku menjambak ciputnya sambil ku lihat wajahnya.

__ADS_1


"KA... Kau... Ternyata pria itu, dan yang membuat tas ku putus itu kau... Ahhh benar benar sial" ucapku kaget saat tau ternyata pria itu Alvaro dan dia adalah orang yang sama selama ini.


"Iya itu aku, memangnya kenapa?" Jawab Alvaro dengan membenarkan hoodie nya,


"Wah... Wah... Kau ini aishhh... Minggir aku mau duduk!!" Ucapku kesal dan tak habis pikir.


Karena itu Alvaro jadi tentu saja aku berani menyuruhnya menyingkir dan bergantian tempat duduk denganku, bukankah dia pria harusnya dia mempersilahkan wanita untuk duduk kan, jadi aku tidak salah dalam hal ini.


"Tidak, ini tempat duduk ku!" Jawab Alvaro dengan tegas,


"Ayolah Al, kau ini pria atau banci sih, masa kau tidak mau mengalah dengan perempuan, kaki ku sangat pegal, izinkan aku duduk sebentar saja" balasku memohon,


Namun sepertinya aku salah jika berharap Alvaro akan merasa iba dan memberikan kursinya padaku, dia pria dingin berhati batu dan keras kepala, sama sekali tak menggubris ucapanku dan malah memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela.


"Euhh... Minggir Alvaro aku hanya ingin duduk sebentar" teriakku memaksa,


Tapi tenagaku yang tidak seberapa sama sekali tidak membuat Alvaro bergerak sedikitpun dari tempat duduknya, justru malah aku terhempas karena bus mengerem dan tak sengaja malah duduk di atas paha Alvaro.


Suasana menjadi canggung dan aku refleks membelalakkan kedua mataku sempurna, lalu aku langsung bangkit dan merapikan pakaianku, aku gugup dan merasa malu karena banyak orang yang menatap ke arahku juga Alvaro saat itu.


Hingga akhirnya Alvaro bangkit dan mau mengalah memberikan kursinya padaku.


"Ayo duduk saja, aku akan berdiri" ucap Alvaro yang tiba tiba berubah pikiran,

__ADS_1


Aku pun segera duduk dengan nyaman dan tersenyum kecil sebagai tanda terimakasih padanya.


Sekarang posisiku nyaman dan aku bisa beristirahat di dalam bus sambil menunggu tiba di tempat tujuan dengan begitu aku tidak akan mengantuk di sekolah karena kurang tidur, mulutku sudah menguap beberapa kali sampai akhirnya mataku tertutup rapat dan kepalaku bersender ke jendela bus, aku tidur dengan nyenyak sampai lupa kalau masih ada Alvaro yang berdiri di sampingku.


****


Alvaro yang melihat Talita tidur dengan nyenyak dan kepalanya terhantuk ke jendela dia segera melepaskan hoodie yang dia pakai dan dijadikan sanggahan untuk kepala Talita agar tidak terhantuk ke kaca jendela bus, tanpa Talita tau sebenarnya Alvaro selalu memperhatikan dia dan menjaganya dari belakang, bahkan di saat pertama kali bertemu Alvaro sudah membantu Talita dengan memberinya obat dan mengikuti Talita hingga dia sampai di depan rumah milik neneknya, iya Alvaro lah orang misterius ber hoodie hitam yang selama ini selalu mengatai Talita idiot.


Awalnya Alvaro sengaja menyembunyikan dirinya karena dia tidak mau sampai Talita tau kalau selama ini Alvaro selalu memperhatikan dia dari kejauhan Alvaro juga takut nantinya Talita mengira dia menguntit selama ini, karena semua pertemuannya selama ini benar benar unsur ketidak sengajaan, bahkan tadi saja Alvaro kaget saat menyadari Talita masuk ke dalam bus yang dia tumpangi dan malah berdiri di samping kursi yang dia dudukki.


Alvaro sebelumnya berniat untuk sembunyi dan sengaja memakai kupluk hoodie untuk menutupi wajahnya agar tidak di ketahui oleh Talita namun rupanya rencana dia gagal justru Talita malah membongkar semua rahasia dia selama ini, dan ternyata responnya juga biasa biasa saja, Alvaro sedikit tenang dan dia tidak perlu khawatir lagi dengan rahasia yang dia sembunyikan sebelumnya.


Hingga beberapa saat kemudian Alvaro segera turun karena tujuannya sudah sampai, dia terburu buru turun dari bus hingga lupa dengan hoodie nya.


"Aishh... Hoodie itu, arghhh dia pasti akan ke gr ran" ucap Alvaro mendengus kesal,


Malas memikirkannya Alvaro segera pergi menuju rumah dan meminta pada Argo untuk mengambil hoodie miliknya kepada Talita saat itu juga.


"Argo kau ambil hiodie hitam ku pada Talita" ucap Alvaro memberi perintah,


"Sekarang?" Tanya Argo,


"Memangnya kapan, ya sekarang Argoo" ucap Alvaro gemas dengan Argo yang masih bertanya,

__ADS_1


Argo pun segera pergi karena dia tidak mau mendapatkan tatapan tajam dari Alvaro.


__ADS_2