
Aku segera bergegas kembali ke kelas dan menghampiri Alvaro meminta penjelasan darinya.
"Hah... Hah... Hah... Alvaro" ucapku dengan nafas menderu karena berlari terburu buru,
"Ini minum dan duduk lah dulu, baru bicara padaku" ucap Alvaro sambil memberikanku sebotol air mineral.
Aku mengambil dan tidak meminumnya, setelah sedikit tenang dan menormalkan nafasku aku langsung saja bertanya pada Alvaro karena sudah tidak sabar dan sangat penasaran.
"Alvaro kau jawab aku dengan jujur, apa kau kesiangan tadi karena menemui kak Bara dan setuju masuk tim basket?" Tanyaku dengan menatap serius,
"Heh.. jangan menatapku begitu, lagian memangnya kenapa jika itu benar" balas Alvaro yang membuatku gemas karena dia bertele tele,
"Aishh... Ayolah Alvaro jangan bertele tele jawab yang benar iya atau tidak" ucapku yang sudah tidak sabar,
"Iya... Apa kau puas sekarang" jawab Alvaro membuatku kaget sampai mulutku terbuka dan mata yang melotot tak menyangka,
"Ahaha... Kau bohong kan masa sih, bukannya kau tidak mau yah?" Balasku lagi dan masih tidak percaya,
"Kalau kau tidak percaya ya sudah, yang pasti mulai besok aku akan mulai berlatih setiap istirahat bersama mereka, lihat saja besok kalo masih tidak percaya" ucap Alvaro membuatku percaya sekarang.
Bel masuk berbunyi dan aku langsung membuka buku mata pelajaran berikutnya, aku ingin bertanya lebih jauh pada Alvaro tapi sialnya pembelajaran sudah dimulai dan aku tidak bisa mengintrogasi Alvaro lagi, aku berusaha menahan keheranan ku sampai jam pulang sekolah, namun lagi lagi Alvaro sudah pergi lebih dulu dan Audy yang datang ke kelas mengajakku untuk segera pulang dengan tergesa gesa.
"Eh... Eh.. ehh Audy ada apa pelan pelan" ucapku dengan berjalan ditarik oleh Audy,
"Cepat naik Talita, aku akan pindah hari ini dan kau harus membantuku berbenah aku mau kau ikut denganku ke rumah baru agar kau tau alamat rumahku" ucap Audy yang membuatku kaget,
"APA?, KAU PINDAH SEKARANG?," Teriakku tak menyangka,
__ADS_1
"Aishh... Kenapa kau sekaget itu" ucap Audy,
"Tentu saja aku kaget apa kau harus pindah mendadak sekali seperti ini, aku pikir kau akan pindah saat kenaikan kelas nanti" balasku,
"Ayahku mempercepat pindahnya karena jika semakin lama maka pekerjaannya akan semakin menumpuk" jawab Audy dan aku diam seketika.
Aku sangat sedih dan tidak bisa melakukan banyak hal untuk menahan Audy, sekarang waktunya sudah tiba, mulai besok aku akan pergi ke sekolah seorang diri dengan berjalan kaki dan harus bangun lebih pagi agar tidak kesiangan sampai di sekolah, sarapan di rumah sendiri dan tidak ada tempat bercerita, aku sangat benci perasaan kesepian seperti ini.
Setelah percakapan singkat tadi aku terus saja diam dan sesampainya di kediaman Audy kedua orang tuanya menyambutku dengan ramah seperti biasanya, aku pun ikut masuk ke dalam kamar Audy dan membantunya memasukkan barang ke dalam koper, aku sama sekali tak berbicara dengan Audy sampai Audy sendiri yang mengeluarkan suara lebih dulu.
"Talita ayolah kenapa kau diam sedari tadi" ucap Audy sambil mendekatiku,
"Tidak papa Audy aku hanya sedikit sedih karena kita akan berjauhan" jawabku jujur,
"Jangan sedih Talita, aku akan sering mengunjungimu, dan kau juga harus sering datang ke kota oke" ucap Audy dan ku balas dengan anggukan.
Siang sudah berlalu digantikan dengan malam gelap dan jalanan juga tidak seramai sebelumnya aku tak sengaja melewati kompleks perumahan tempatku tinggal dulu, tepatnya sekarang rumah itu sudah dihuni oleh ayah dan istri barunya, melihat jalanan itu membuatku kembali mengingat pertemuan terakhir dengan ayah aku memalingkan pandangan dan berusaha menyembunyikan perasaanku dari Audy, sampai tak terasa akhirnya kami tiba di rumah baru milik Audy.
Kami turun dari mobil dan melihat rumah baru itu lebih besar dari rumah Audy di desa, lingkungan di sana juga begitu sehat dan menyenangkan, aku saja terpukau dengan rumah itu.
"Ternyata rumah baru Audy berdekatan dengan rumahku dulu, bagaimana ini" gumamku dalam hati,
"Talita ayo masuk, kenapa kau melamun" ucap Audy yang membangunkanku dari lamunan,
"Ah.. iya aku masuk sekarang" jawabku sambil berjalan masuk mengikuti Audy.
Ku lihat Audy dan ibunya begitu senang dengan rumah baru mereka dan Audy juga mengajakku berkeliling di sana, jujur aku juga sangat suka dengan dekor rumah itu, semuanya minimalis dan berwarna putih bersih aku pikir Audy pasti akan betah dan nyaman tinggal di rumah itu.
__ADS_1
Saat Audy mengajakku untuk makan dahulu sebelum pulang, aku menolaknya dengan lembut karena melihat jam yang sudah sangat larut.
"Talita ayolah makan dulu baru kau pulang" ucap Audy membujukku"
"Sebenarnya aku ingin tapi jika aku makan dahulu nanti ketinggalan bus, sulit mencari bus jurusan ke desa di jam segini, maaf ya Audy" jawabku jujur.
Akhirnya Audy pun memperbolehkan ku untuk pulang, segera aku berpamitan pada mereka dan beranjak pergi dari sana, saat kembali melewati jalanan menuju rumah entah kenapa kakiku seakan bergerak sendiri mengikuti jalan itu sampai aku tiba di depan gerbang rumahku yang dulu, ku tatap rumah mewah itu dan aku hembuskan nafas dengan lesu.
"Ahhh... Ayolah Talita kenapa kau malah ke sini, ini bukan lagi rumahmu, dasar sial" ucapku pelan sambil memukul kepalaku sendiri.
Saat hendak berbalik tiba tiba aku melihat mobil ayah melaju hendak masuk ke dalam rumah aku tak sempat kabur atau bersembunyi sehingga harus berhadapan dengan ayah juga ibu tiriku itu.
"Talita kenapa kau di sini ayo masuk" ucap ayah menegurku,
"Tidak ayah aku hanya berjalan jalan saja, kebetulan temanku membeli rumah baru sekitar sini" jawab ku dan hendak pergi.
Sayangnya tanganku ditahan oleh ibu tiriku itu, dan dia memintaku untuk tinggal sebentar di rumah.
"Talita ayo masuk dulu, kebetulan ibu membawa makanan kesukaanmu ini sup ayam, ayo makan dulu di dalam" ucap ibu tiriku dengan ramah,
"Terimakasih tante, aku makan sup nya nanti dirumahku sendiri saja" jawabku sambil ku ambil sup ayam di dalam kantung plastik yang dipegang ibu tiriku itu.
Aku pergi dengan tergesa gesa dan mengabaikan teriakan ayah yang terus memanggilku agar berhenti, aku belum siap untuk menerima ibu tiri dan aku mengambil sup ayam itu karena aku lapar daripada aku harus membeli makanan di luar lebih baik aku ambil saja darinya itu juga tidak akan mengurangi hartanya.
Setelah berjalan agak jauh dari daerah sana dan aku sampai di halte bus aku duduk menunggu bus jurusan ke desa saat itu jam menunjukkan pukul 8 malam dan aku merasa masih ada dua bus lagi yang akan lewat untuk jurusan ke desaku, tapi anehnya sudah hampir setengah jam aku duduk menunggu di sana bus itu tidak datang juga, karena tidak tahan menahan pipis, aku memutuskan untuk pergi ke toilet umum yang ada di sebrang jalan lebih dulu, dan sialnya lagi saat aku sudah menyebrang bus jurusan ke desa tiba dan aku terlewatkan.
"Aishh.... Sial benar benar sial kenapa aku dilewatkan, bus sialan" gerutuku kesal.
__ADS_1
Aku terburu buru masuk ke dalam toilet dan membereskan urusanku, setelah itu aku kembali menunggu bus dengan sabar dan tidak beranjak kemanapun karena takut melewatkan bus lagi.