
Aku sangat panik, dan tidak tahu harus melakukan apa lagi, sebab setelah aku memeriksanya berkali kali nama gruf itu tetap sama dan tidak berubah aku pun segera menghubungi admin di dalam gruf itu yang aku sendiri pun tidak tahu dia siapa sebenarnya sebab tidak ada foto profil di akunnya dan tidak ada nama di nomornya sehingga aku tidak tahu siapa dia.
Namun aku tetap menelponnya dengan perasaan was-was tidak menentu, aku menunggu dia mengangkat telpon ku sambil mengigit kukut di jempol tanganku, sambil berdiri dan terus berjalan mondar mandir di samping ranjangku merasa tidak nyaman.
"Aishh.....ayo dong angkat...angkat...." Gerutu terus merasa cemas,
Hingga khirnya dia mengangkat panggilanku juga dan aku segera mengatakan keluhan ku karena aku pikir saat itu mungkin saja mereka salah memasukkan aku ke dalam gruf tersebut atau keliru lainnya.
"Hallo kak aku ingin bertanya sesuatu mengenai gruf chat kampus yang kakak buat" ucapku mengatakannya,
"Siapa kau?" Tanya nya dengan simpel.
Nama suaranya terdengar begitu datar dan aku merasa suaranya pamiliar di telingaku namun aku tidak bisa memikirkan mengenai masalah suara itu aku hanya memikirkan kepada masalah ku yang utama, aku pun segera mengatakan namaku kepadanya.
"Aku...namaku Talita Dwi Putri aku ingin bertanya apa kakak tidak keliru memasukkan aku ke dalam gruf fakultas desain grafis soalnya aku mendaftar untuk desainer bukan desain bangunan" ucapku mengatakannya.
Lama tidak ada jawaban darinya dan itu membuatku semakin panik tidak menentu.
"Hallo kak...kakak...kak..bagaimana apa kau salah memasukan ku?" Tanyaku lagi menunggu jawaban darinya,
"Tidak ....kamu memang mendaftar untuk fakultas ini tadi pagi, mungkin kamu yang salah memasukkan daftar datamu jadi saya dan tim tidak bisa membantu" ucapnya lalu langsung mematikan telpon begitu saja,
__ADS_1
"Ehh, hallo kak...kak tunggu" teriakku namun semua sudah terlambat.
Aku sangat kesal saat dia menutup telpon ku secepat tadi padahal aku belum selesai bicara dengannya namun aku juga sangat frustasi sebab aku melakukan kesalahan fatal pada masa depanku sendiri, aku hanya bisa menangis dan menjatuhkan tubuhku ke ranjang dengan lesu, sebab semua sudah menjadi bubur aku harus menunggu pendaftaran tahun depan dan itu akan membuatku tertinggal satu tahun jika aku tetap ingin masuk ke fakultas desain.
"Hiks...hiks...oh tuhan ada apa ini sebenarnya aku tidak pernah belajar tentang arsitektur bagaimana aku bisa kuliah di bidang ini, sialan huaaaa....." Gerutuku meratapi nasib sendiri.
Aku menangis sejadi jadinya dan terus menangis sepanjang hari hingga ibuku pulang dari pekerjaannya dan dia melihat aku yang menangis sangat parah di kamarku seorang diri.
Aku tahu dia sangat mencemaskanku dan menghampiriku secara langsung.
"Ya ampun Talita ada apa denganmu sayang?, Kenapa kamu menangis seperti orang yang putus asa?" Tanya ibuku sambil mengelus pundakku berkali-kali,
"Hhuaaa...ibu aku bukan putus asa lagi tapi benar-benar putus harapan mulai sekarang, hiks...hiks...." Balasku yang masih tidak berhenti menangis.
Namun hatinya yang utuh hanyalah untukku dia masih tetap membantuku seperti ini dan aku menyukai caranya bekerja banting tulang untuk aku dan kebutuhan rumah setiap hari, aku juga ingin membantunya dan melakukan pekerjaan agar bisa menghasilkan uang untuk kami berdua.. meskipun ibu tidak pernah memintaku untuk bekerja tapi aku selalu ingin me.bantunya bagaimana aku bisa tega melihat dia pulang selalu larut malah dan bahkan jadwal tidurnya sudah tidak sebaik dulu, aku menyayangi dia dan tidak ingin sesuatu yang tidak di inginkan terjadi padanya makanya aku ingin membantu dia dalam hal perekonomian kami yang tengah sulit akhir-akhir ini.
Ayah bahkan sudah lama tidak bertemu denganku ku pikir dia mungkin sibuk dengan istri barunya itu sehingga aku juga tidak mau mengganggu keluarga barunya, selain ibu yang masih mau menampungku di dalam tempat tinggalnya, tidak ada lagi yang bisa menerima orang sepertiku.
Aku bangkit terduduk dan langsung memeluk ibuku dengan erat serta suara yang masih terisak.
"Hiks...hiks...ibu maafkan aku mungkin aku sudah gagal sekarang maafkan aku ibu aku harus menunda kuliahku terlebih dahulu" ucapku dalam pelukannya.
__ADS_1
Ibu sangat kaget hingga dia membelalakkan matanya sempurna dan dia segera mendorong tubuhku dari pelukannya dengan cepat, dan perbuatannya tadi tidak pernah terjadi sebelumnya sehingga itu juga membuatku sedikit kaget.
"Talita apa yang kamu katakan kenapa kamu harus menunda kuliahku ibu sudah membayar semua biaya kuliahmu ke kampus baru saja, jadi kau tidak bisa berhenti kuliah dan menunggu tahun depan, kau harus kuliah tahun ini" ucap ibu membuatku sangat kaget ketika mendengarnya,
"AA..apa?, Ibu sudah membayar biaya kuliahku?, Bu kenapa kamu melakukannya aku kan sudah bilang aku akan membiayai diriku sendiri, aku akan mencari kerja sampingan di part time" balasku dengan nada suara yang cukup tinggi,
"Talita sudahlah jangan menjadi keras kepala seperti ayahmu, ibu ini ibumu dan ibu bertanggung jawab penuh atas kehidupanmu saat ini dan di masa yang akan datang, ibu juga yakin kamu memahami maksud ibu, sebaiknya kamu fokus dengan pelajaranmu dan tunjukkan saja pada ibu bahwa kamu mampu dengan pilihanmu sendiri" ucap ibuku memberitahuku.
Aku kembali sedih ketika mengingat hal itu lagi dan aku segera bicara jujur kepada ibuku agar dia bisa mengijinkan aku untuk menunda dahulu kuliahku dan memilih mengundurkan diri dari universitas ternama itu.
"Memangnya kenapa pula kamu tidak ingin kuliah kesana bukankah sebelumnya kamu terlihat begitu antusias karena di terima kuliah disana?, Kenapa sekarang menjadi berubah tiba-tiba seperti ini?" Tanya ibuku dengan menaikkan alisnya menatap ke arahku.
Aku sebenarnya sangat ragu untuk mengatakan yang sebenarnya karena aku takut ibuku akan marah besar namun mau bagaimanapun aku tetap harus mengatakan semua kebenarannya sebelum ibu yang akan mengetahuinya lebih dulu dan aku justru akan terlibat masalah yang lebih besar jika dia mengetahui hal licik di kepalaku.
"E..eumm...begini Bu aku sepertinya tadi salah memasukkan data diriku di kampus seharusnya aku masuk fakultas desain tapi malah masuk fakultas desain arsitektur, sehingga aku sangat kaget ketika melihat namaku ada di dalam gruf itu" ucapku yang mengatakan semuanya.
Ku pikir awalnya ibuku akan marah tapi ternyata dia hanya tertawa mendengar cerita dariku bahkan ibuku tertawa sangat puas sambil menepuk pahanya sendiri beberapa kali untuk menghentikan tawanya.
"Ahaha...apa kamu salah jurusan ya ampun Talita kamu ini ada-ada saja, padahal kamu tidak buta kenapa kamu tidak membaca dahulu semuanya hah?" Tanya balik ibuku dengan nada yang cukup tinggi tapi dia terus menertawakan nasibku yang sial ini.
"Eughh....ibu...kenapa kau malah tertawa disaat putrimu menderita seperti ini" gerutuku kepadanya,
__ADS_1
"Memangnya kenapa jika seorang perempuan menjadi arsitek, sudahlah itu kan juga kesalahanmu seharusnya kamu harus mau menerima semua itu dan lagi pula bukankah cita-citamu sejak kecil memang membuat desain dinamis arsitektur yah, kenapa sekarang impianmu berubah" balas ibuku sambil menggelengkan kepala.